- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
103K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1084
2. Dua Pria Itu
Menurut yang pernah kubaca, Bob Marley pernah berkata,
"True love is never easy... If he's easy, it means he's not the one..."
Aku hidup selama 24 tahun, berpegang teguh pada keyakinan itu.
Sebut saja sahabatku, Vega dan Milo.
Butuh 3 tahun bagi mereka dan pertengkaran hebat hingga akhirnya menyadari bahwa mereka mencintai satu sama lain.
Ingat dongeng The Little Mermaid, di mana sang putri mati-matian mendapatkan pangerannya hingga rela menukar suara dengan kakinya?
Aku selalu berharap, bahwa jika kita 'mengejar' cinta, pasti suatu saat akan tercapai.
Tapi kenyataan naas yang menimpaku kemarin meruntuhkan persepsiku.
I mean, if He loves Victoria's Secret Angels, or Coco Rocha type...
Aku bisa berusaha mati-matian agar menjadi secantik dan seseksi mereka.
But he loves men!!
For God's sake, I can't and won't change myself to be a guy!
Sammy, guy whom I like, is too hard to reach.
Dan resmilah siang ini aku sama sekali tidak berkonsentrasi pada pekerjaanku karena memikirkan hal itu.
"Hey...Chery! You look awful...kenapa?"
Penyebab kerisauanku itupun bertanya dengan polosnya, without any idea bahwa DIA lah penyebab tampangku sekusut koran poskota bekas edisi tahun lalu.
"Enggak Sam... Pusing aja kerjaan." Aku berkelit. "Apa gue cuti pulang lebih awal ya? Gue mulai gak enak badan..."
Yang kali ini, aku jujur!
Memang hati yang tidak tenang secara sinkron akan membuat fisik ikut nge-drop.
"Yuk, gue anter aja." Sammy bangkit dan merogoh kunci motor dari tasnya.
"Err..thank you, but no thank you." Aku menolak cepat. "Gue masih sanggup nyetir. Lagian kalo' gue nebeng elo, motor gue ditaro di mana?"
Itu adalah alasan tercepat dan terpandai yang bisa terlintas di otakku.
Untungnya Sammy bukan tipikal cowok yang suka memaksa.
Alhasil, aku melenggang di lobi kantor bersiap pulang.
Hampir kelupaan, aku berbelok ke ruang kerja Pak Grandy, untuk meminta ijin.
Kalau boleh dihitung dari skala 1-10, ke-tidak-ingin-an aku bertatap muka dengan Pak Grandy saat ini ada di skala 13!
Menggelikan, tapi sejak kemarin yang kuimajinasikan adalah Sammy berjalan bergandengan tangan dengan Pak Grandy menyambut perasaannya.
Please, God! Kalau sampai itu terjadi, jangan biarkan sepasang mataku ini menyaksikannya.
Jika sampai aku melihatnya, tidak tanggung, aku yakin bisa demam 41 derajat hingga step, disertai mimpi buruk sebulan penuh.
"Permisi pak..." Aku mengetuk pintu ruang Pak Grandy perlahan.
"Masuk..."
Saat aku membuka pintu, tampak Pak Grandy dengan lengan kemeja digulung sedang memperhatikan glassboard berisi mind-mapping buatannya untuk project IRX Company, perusahaan asing yang ingin rebranding menggunakan jasa kami.
"Kenapa Cher?" Pak Grandy menyapaku akrab.
"Pak, saya mau ijin pulang lebih awal..." Aku tidak berbasa-basi. "Kondisi saya kurang enak badan..."
"O ya?" Pak Grandy tampak terkejut.
Beliau maju beberapa langkah dan menatapku dari dekat.
"Memang, warna mukamu agak pucat, Cher..."
Benarkah? Beruntungnya aku kalau begitu.
Aku tidak usah berakting lemah lunglai jika memang kebetulan wajahku tampak 'sakit'.
"Saya antar ke dokter, mau?"
Lagi-lagi tawaran mengantar...
Memangnya ada apa sih' dengan para pria di bumi hari ini, yang bersikap kelewat gentleman?
Terlebih, kedua-duanya adalah ajakan dari orang yang paling tidak ingin kulihat saat ini.
"Enggak Pak. Saya istirahat di rumah aja." Aku menolak. "Bukan penyakit yang perlu digede-gedein kok Pak..."
"Tapi, kamu kan sebentar lagi akan jadi junior graphic leader. Kalau sampai serius penyakitmu, gimana?"
Enggak mungkin, bapaaakkk!!! Saya kan' cuma ngarang alesannn!!
Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi kewarasanku masih memegang kendali.
"Saya akan ke dokter nanti sendiri..."
"Kamu baru saya ijinkan pulang, jika mau saya antar ke dokter. Gimana?"
Aku mengangkat alis setinggi-tingginya.
What the hell with this guy?
I mean,...bukan sekali ini aku ngobrol dengannya di kantor
Tentu saja tidak pernah membicarakan hal pribadi selain kerjaan.
Sikapnya seperti ini terhadapku, baru kali ini kulihat.
Maksudku, bukannya seorang bos harusnya lebih berwibawa dan bijaksana?
Bukan main ancam-ancaman dengan karyawan bak anak kecil, hanya untuk memastikan aku benar-benar check-up?
I'm smart enough to know that he's planning something, tapi entah apa itu.
Tidak punya pilihan lain agar bisa pulang awal,
Aku mengiyakan tawarannya dan memutuskan untuk naik angkutan umum menuju pulang dari rumah sakit saja.
"True love is never easy... If he's easy, it means he's not the one..."
Aku hidup selama 24 tahun, berpegang teguh pada keyakinan itu.
Sebut saja sahabatku, Vega dan Milo.
Butuh 3 tahun bagi mereka dan pertengkaran hebat hingga akhirnya menyadari bahwa mereka mencintai satu sama lain.
Ingat dongeng The Little Mermaid, di mana sang putri mati-matian mendapatkan pangerannya hingga rela menukar suara dengan kakinya?
Aku selalu berharap, bahwa jika kita 'mengejar' cinta, pasti suatu saat akan tercapai.
Tapi kenyataan naas yang menimpaku kemarin meruntuhkan persepsiku.
I mean, if He loves Victoria's Secret Angels, or Coco Rocha type...
Aku bisa berusaha mati-matian agar menjadi secantik dan seseksi mereka.
But he loves men!!
For God's sake, I can't and won't change myself to be a guy!
Sammy, guy whom I like, is too hard to reach.
Dan resmilah siang ini aku sama sekali tidak berkonsentrasi pada pekerjaanku karena memikirkan hal itu.
"Hey...Chery! You look awful...kenapa?"
Penyebab kerisauanku itupun bertanya dengan polosnya, without any idea bahwa DIA lah penyebab tampangku sekusut koran poskota bekas edisi tahun lalu.
"Enggak Sam... Pusing aja kerjaan." Aku berkelit. "Apa gue cuti pulang lebih awal ya? Gue mulai gak enak badan..."
Yang kali ini, aku jujur!
Memang hati yang tidak tenang secara sinkron akan membuat fisik ikut nge-drop.
"Yuk, gue anter aja." Sammy bangkit dan merogoh kunci motor dari tasnya.
"Err..thank you, but no thank you." Aku menolak cepat. "Gue masih sanggup nyetir. Lagian kalo' gue nebeng elo, motor gue ditaro di mana?"
Itu adalah alasan tercepat dan terpandai yang bisa terlintas di otakku.
Untungnya Sammy bukan tipikal cowok yang suka memaksa.
Alhasil, aku melenggang di lobi kantor bersiap pulang.
Hampir kelupaan, aku berbelok ke ruang kerja Pak Grandy, untuk meminta ijin.
Kalau boleh dihitung dari skala 1-10, ke-tidak-ingin-an aku bertatap muka dengan Pak Grandy saat ini ada di skala 13!
Menggelikan, tapi sejak kemarin yang kuimajinasikan adalah Sammy berjalan bergandengan tangan dengan Pak Grandy menyambut perasaannya.
Please, God! Kalau sampai itu terjadi, jangan biarkan sepasang mataku ini menyaksikannya.
Jika sampai aku melihatnya, tidak tanggung, aku yakin bisa demam 41 derajat hingga step, disertai mimpi buruk sebulan penuh.
"Permisi pak..." Aku mengetuk pintu ruang Pak Grandy perlahan.
"Masuk..."
Saat aku membuka pintu, tampak Pak Grandy dengan lengan kemeja digulung sedang memperhatikan glassboard berisi mind-mapping buatannya untuk project IRX Company, perusahaan asing yang ingin rebranding menggunakan jasa kami.
"Kenapa Cher?" Pak Grandy menyapaku akrab.
"Pak, saya mau ijin pulang lebih awal..." Aku tidak berbasa-basi. "Kondisi saya kurang enak badan..."
"O ya?" Pak Grandy tampak terkejut.
Beliau maju beberapa langkah dan menatapku dari dekat.
"Memang, warna mukamu agak pucat, Cher..."
Benarkah? Beruntungnya aku kalau begitu.
Aku tidak usah berakting lemah lunglai jika memang kebetulan wajahku tampak 'sakit'.
"Saya antar ke dokter, mau?"
Lagi-lagi tawaran mengantar...
Memangnya ada apa sih' dengan para pria di bumi hari ini, yang bersikap kelewat gentleman?
Terlebih, kedua-duanya adalah ajakan dari orang yang paling tidak ingin kulihat saat ini.
"Enggak Pak. Saya istirahat di rumah aja." Aku menolak. "Bukan penyakit yang perlu digede-gedein kok Pak..."
"Tapi, kamu kan sebentar lagi akan jadi junior graphic leader. Kalau sampai serius penyakitmu, gimana?"
Enggak mungkin, bapaaakkk!!! Saya kan' cuma ngarang alesannn!!
Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi kewarasanku masih memegang kendali.
"Saya akan ke dokter nanti sendiri..."
"Kamu baru saya ijinkan pulang, jika mau saya antar ke dokter. Gimana?"
Aku mengangkat alis setinggi-tingginya.
What the hell with this guy?
I mean,...bukan sekali ini aku ngobrol dengannya di kantor
Tentu saja tidak pernah membicarakan hal pribadi selain kerjaan.
Sikapnya seperti ini terhadapku, baru kali ini kulihat.
Maksudku, bukannya seorang bos harusnya lebih berwibawa dan bijaksana?
Bukan main ancam-ancaman dengan karyawan bak anak kecil, hanya untuk memastikan aku benar-benar check-up?
I'm smart enough to know that he's planning something, tapi entah apa itu.
Tidak punya pilihan lain agar bisa pulang awal,
Aku mengiyakan tawarannya dan memutuskan untuk naik angkutan umum menuju pulang dari rumah sakit saja.
0