- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1064
Epilogue - This day I`ll Cherish
Vega menatap keluar jendela kamar hotel yang berhiaskan gorden tipis berwarna putih.
Chery sedang merapikan gaun putih yang dikenakan oleh Vega.
Ya...hari ini adalah hari pernikahannya.
Beberapa orang berkata, usia ideal untuk menikah adalah 25
Tapi jika kita sudah menemukan soulmate di usia 22, mengapa harus menunggu?
"Vega..." Marco, papanya masuk ke dalam ruangan dengan mengenakan jas lengkap yang rapi. "Kamu kelihatan cantik, persis mamamu..."
Mata Marco tampak berkaca-kaca saat mengatakannya.
Vega hanya tersenyum dan menyentuh tangan ayahnya.
"Pasti mamamu ikut memberikan berkat dari surga ya..."
"Iya, pa."
Chery pun yang sedari tadi sedang membenahi gaun pengantin Vega, berjalan keluar ruangan,
memberikan privasi untuk keluarga berbicara 4 mata.
"Pa,...dulu gimana rasanya ketika bareng mama? Ehm,... Bukan mau ngungkit-ungkit. Tapi kata papa, mama sudah sakit sejak sebelum menikah kan?"
Marco berdeham, berusaha mengatur kata-kata yang tepat.
"Setiap hari papa lewati dengan mamamu, seolah hari terakhir kami. Bikin kenangan seindah-indahnya, dan jangan sampai ada penyesalan saat
kehilangan satu dengan lainnya." Marco memperhatikan Vega dalam balutan gaun pengantinnya. "Tapi memang nggak mudah... Maka itu, apakah kamu siap menjalani hidup dengan Milo, meskipun keadaannya..."
"Vega siap, pa. Lagipula Milo nggak pincang. Selama 2 tahun lebih terapi, Milo udah bisa jalan normal perlahan. Hanya, mungkin dia nggak bisa berlari...atau terlalu capek seperti orang biasa. Ada beberapa hal yang nggak boleh dia lakukan sebebas orang biasa." Vega menjelaskan panjang lebar,
membela Milo. "Bagi Vega yang penting, dia satu-satunya orang yang Vega pingin lewati seumur hidup bareng."
Marco paham betul keputusan Vega karena dia pernah ada di posisi yang sama.
Akhirnya Marco hanya mengelus punggung anaknya sambil berlalu keluar dari ruangan.
Di ruangan lain, Milo sedang menatap dirinya sendiri di kaca.
Ditatap jas berwarna silver yang dia kenakan lengkap.
Kaki kirinya sudah bisa digerakkan senormal mungkin.
Dan kini, hari pernikahan yang sudah ditunggu-tunggu olehnya.
"You look great."
Milo menoleh ke samping dan melihat Reira di sana, berdiri dalam balutan gaun warna peach.
Jujur, Reira tetp cantik seperti biasa.
Tapi kekaguman yang dulu pernah ada, sudah sirna.
"I know you don't want to see me." Reira bergumam pahit. "Tapi hari ini aku akan berangkat ke New York... Tinggal permanen di sana. Jadi sebelum
berangkat, I wanna say goodbye to you."
Hati nurani Milo tergerak, dan berbalik menatap Reira.
Milo tersenyum kecil sebagai salam perpisahan.
Jika dipikir, bagaimanapun juga Milo pernah peduli terhadap Reira.
Mereka pernah dekat.
"I wish you good luck, and have a great life."
"It won't be great without you..."
"Hahahah..." Milo menimpalinya dengan tawa renyah.
"Vega is really lucky to have you."
"Enggak." Milo meralat omongan Reira. "I am lucky to have her."
Reira yang memahami maksud perkataan Milo, hanya tersenyum tulus, dan melambaikan tangan kemudian keluar dari ruangan.
Sesaat kemudian, Milo keluar dari sana dan turun ke ballroom tempat resepsi akan diadakan.
Milo standby sambil menunggu aba-aba dari Wedding Organizer.
Dari pintu, kemudian Vega masuk sambil sedikit mengangkat roknya yang panjang.
Nafas Milo tertahan melihat penampilan Vega yang begitu luar biasa cantiknya hari ini.
Pipinya merona berhias warna pink kemerahan.
Dandanan di matanya sederhana, dengan bulu mata lentik dan sapuan eyeshadow berwarna tanah.
Melengkapi keseluruhan tatanannya, rambut Vega disanggul ke belakang dan dibiarkan menjuntai panjang di ujungnya.
Gaun Vega rancangan Vega Wang bergaya klasik dengan payet menghiasi bagian bustier hingga ke rok belakangnya.
Veil transparan tersemat di kepalanya, menutupi wajah Vega di baliknya.
"Sweetheart... You're absolutely stunning. Kamu cantik sekali..." Milo memuji Vega habis-habisan.
"Thanks. Kamu juga keren pake jas itu." Vega salah tingkah tidak tahu harus melantunkan pujian macam apa.
Dan akhirnya resepsi pun dimulai. Milo mengapit tangan Vega di lengannya.
Dengan iringan lagu "Beautiful In White" dari Shane Filan, mereka memasuki ruang resepsi.
Cahaya lampu sorot menerangi jalan mereka
Disaksikan oleh ratusan pasang mata,
Milo dan Vega mengikat janji setianya.
Satu sama lain, tidak akan pernah tergantikan oleh apapun juga
-----------------------
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live, I'll love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now to my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight...
Chery sedang merapikan gaun putih yang dikenakan oleh Vega.
Ya...hari ini adalah hari pernikahannya.
Beberapa orang berkata, usia ideal untuk menikah adalah 25
Tapi jika kita sudah menemukan soulmate di usia 22, mengapa harus menunggu?
"Vega..." Marco, papanya masuk ke dalam ruangan dengan mengenakan jas lengkap yang rapi. "Kamu kelihatan cantik, persis mamamu..."
Mata Marco tampak berkaca-kaca saat mengatakannya.
Vega hanya tersenyum dan menyentuh tangan ayahnya.
"Pasti mamamu ikut memberikan berkat dari surga ya..."
"Iya, pa."
Chery pun yang sedari tadi sedang membenahi gaun pengantin Vega, berjalan keluar ruangan,
memberikan privasi untuk keluarga berbicara 4 mata.
"Pa,...dulu gimana rasanya ketika bareng mama? Ehm,... Bukan mau ngungkit-ungkit. Tapi kata papa, mama sudah sakit sejak sebelum menikah kan?"
Marco berdeham, berusaha mengatur kata-kata yang tepat.
"Setiap hari papa lewati dengan mamamu, seolah hari terakhir kami. Bikin kenangan seindah-indahnya, dan jangan sampai ada penyesalan saat
kehilangan satu dengan lainnya." Marco memperhatikan Vega dalam balutan gaun pengantinnya. "Tapi memang nggak mudah... Maka itu, apakah kamu siap menjalani hidup dengan Milo, meskipun keadaannya..."
"Vega siap, pa. Lagipula Milo nggak pincang. Selama 2 tahun lebih terapi, Milo udah bisa jalan normal perlahan. Hanya, mungkin dia nggak bisa berlari...atau terlalu capek seperti orang biasa. Ada beberapa hal yang nggak boleh dia lakukan sebebas orang biasa." Vega menjelaskan panjang lebar,
membela Milo. "Bagi Vega yang penting, dia satu-satunya orang yang Vega pingin lewati seumur hidup bareng."
Marco paham betul keputusan Vega karena dia pernah ada di posisi yang sama.
Akhirnya Marco hanya mengelus punggung anaknya sambil berlalu keluar dari ruangan.
Di ruangan lain, Milo sedang menatap dirinya sendiri di kaca.
Ditatap jas berwarna silver yang dia kenakan lengkap.
Kaki kirinya sudah bisa digerakkan senormal mungkin.
Dan kini, hari pernikahan yang sudah ditunggu-tunggu olehnya.
"You look great."
Milo menoleh ke samping dan melihat Reira di sana, berdiri dalam balutan gaun warna peach.
Jujur, Reira tetp cantik seperti biasa.
Tapi kekaguman yang dulu pernah ada, sudah sirna.
"I know you don't want to see me." Reira bergumam pahit. "Tapi hari ini aku akan berangkat ke New York... Tinggal permanen di sana. Jadi sebelum
berangkat, I wanna say goodbye to you."
Hati nurani Milo tergerak, dan berbalik menatap Reira.
Milo tersenyum kecil sebagai salam perpisahan.
Jika dipikir, bagaimanapun juga Milo pernah peduli terhadap Reira.
Mereka pernah dekat.
"I wish you good luck, and have a great life."
"It won't be great without you..."
"Hahahah..." Milo menimpalinya dengan tawa renyah.
"Vega is really lucky to have you."
"Enggak." Milo meralat omongan Reira. "I am lucky to have her."
Reira yang memahami maksud perkataan Milo, hanya tersenyum tulus, dan melambaikan tangan kemudian keluar dari ruangan.
Sesaat kemudian, Milo keluar dari sana dan turun ke ballroom tempat resepsi akan diadakan.
Milo standby sambil menunggu aba-aba dari Wedding Organizer.
Dari pintu, kemudian Vega masuk sambil sedikit mengangkat roknya yang panjang.
Nafas Milo tertahan melihat penampilan Vega yang begitu luar biasa cantiknya hari ini.
Pipinya merona berhias warna pink kemerahan.
Dandanan di matanya sederhana, dengan bulu mata lentik dan sapuan eyeshadow berwarna tanah.
Melengkapi keseluruhan tatanannya, rambut Vega disanggul ke belakang dan dibiarkan menjuntai panjang di ujungnya.
Gaun Vega rancangan Vega Wang bergaya klasik dengan payet menghiasi bagian bustier hingga ke rok belakangnya.
Veil transparan tersemat di kepalanya, menutupi wajah Vega di baliknya.
"Sweetheart... You're absolutely stunning. Kamu cantik sekali..." Milo memuji Vega habis-habisan.
"Thanks. Kamu juga keren pake jas itu." Vega salah tingkah tidak tahu harus melantunkan pujian macam apa.
Dan akhirnya resepsi pun dimulai. Milo mengapit tangan Vega di lengannya.
Dengan iringan lagu "Beautiful In White" dari Shane Filan, mereka memasuki ruang resepsi.
Cahaya lampu sorot menerangi jalan mereka
Disaksikan oleh ratusan pasang mata,
Milo dan Vega mengikat janji setianya.
Satu sama lain, tidak akan pernah tergantikan oleh apapun juga
-----------------------
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live, I'll love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now to my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight...
Diubah oleh jumpingworm 24-09-2013 23:04
0