Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.8K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1061
43. Last Chapter - End of Destination
Vega duduk di ruang tunggu tepat di depan Unit Gawat Darurat.
Dia meremas jari-jarinya sendiri dengan gusar.
Sejak dibawa ke dalam UGD, sudah hampir satu jam berlalu dan masih belum ada kabar dari dokter di dalamnya.
Untuk sekarang, Vega hanya bisa menunggu kabar.

"Ve..." mendadak Chery datang setengah berlari menghampiri Vega.

Dari belakangnya, muncul August juga yang kemudian memaksakan diri untuk tersenyum.
Situasinya jauh lebih awkward ketimbang kemarin.
Vega memang meminta Chery untuk datang ke sini.
Sebab jika dirinya sendirian menunggui Milo, rasanya Vega akan panik.

"Boleh kita ke sana sebentar?" August mengajak Vega ke sebuah pintu yang mengarah ke beranda.

Sepertinya memang dibuat udara terbuka untuk orang yang ingin merokok di area rumah sakit.
Meskipun dilarang, tapi tetap saja peraturan pada akhirnya dibuat untuk dilanggar, kan?
Vega mengangguk dan mengikuti August dari belakang.

"Vega... kamu harus janji sama aku, enggak marah sama Chery ya..." August membuka pembicaraan. "Chery udah cerita semuanya ke aku."

Vega seolah sudah menduga, cepat atau lambat hal ini akan terjadi.
Tapi ada sedikit rasa kesal pada dirinya sendiri, mengapa August harus tahu dari orang lain dan bukan atas kejujuran Vega sendiri.

"Aku...akan ngelepas kamu..." August berkata dengan berat.

"Maksud kamu?"

"Yang kamu inginkan sesungguhnya, bukan aku. Tapi Milo."

Deg!
Vega tidak mampu berkelit.

"Aku sendiri nggak yakin..." Vega bergumam. "Aku selama ini seneng ngelewatin waktu bareng kamu. Everyday has been great."

"Aku ini memang orangnya menyenangkan, Ve... To you, to my friends, and everyone. Tapi bukan itu intinya seorang pacar..." August mengelus rambut Vega perlahan. "Aku

mau jadi satu-satunya orang yang kamu pikirin mulai dari bangun tidur, hingga terlelap. Bikin kamu nervous hanya dengan ketemu aku, dan bikin kamu gelisah kalo aku

ngobrol dengan cewek lain. Dan semua itu di hati kamu, adalah tempatnya Milo..."

Rambut Vega yang disentuh oleh August terasa hangat.
Baru kali ini Vega melihat sosok lain dari August.
Ternyata meskipun sering tertawa-tawa dan tanpa beban, tapi hari ini Vega melihat sosok August yang lain.
Tatapan matanya tajam mengarah lurus ke mata Vega menembus jantungnya.

Kebaikan hati August membuat Vega meneteskan air mata.
Baru disadari betapa teganya Vega terhadap August.
Yang diinginkannya hanyalah cinta dari Vega, tapi justru itu yang paling sulit diberikannya.

"Kita masih tetap bisa temenan Ve... Aku pun masih sayang dan cinta sama kamu. Tapi aku akan menjaga jarak... agar kamu bisa lebih jernih mendengarkan suara hati

kamu sendiri."

August untuk terakhir kalinya memeluk Vega dan meletakkan kepalanya di dada August.
Vega bisa mendengar detak jantung August yang berdebar-debar, tapi tangannya yang merengkuh Vega sedikit bergetar.
Pasti August sedang sangat memaksakan dirinya sendiri untuk tegar.
Tapi kemudian August melepaskan pelukannya dan berjalan lemah kembali ke dalam.

Tinggal Vega sendirian di beranda dengan angin berhembus kencang.
Air mata mengalir di pipinya, mengaburkan pandangan.

"Maaf August... I can't be the one for you..."

Vega masih terisak saat Chery ikut keluar dan memanggil Vega dengan setengah panik, mengatakan bahwa Milo telah siuman.
Ngebut, Vega berlari ke depan ruang UGD di mana ranjang Milo sedang dibawa oleh dokter ke luar, menuju ruang perawatan siaga.
Vega duduk di samping ranjang sambil menatap Milo yang terbaring lemah.
Milo berbalik memperhatikan Vega yang penampilannya kuyu.

"Permisi..." seorang dokter masuk dan berdiri di kaki ranjang. "Saudara...Milo?"

"Iya, betul dok." Vega mewakili menjawab.

"Dari hasil pemeriksaan, anda baru saja mengalami serangan jantung ringan. Milo punya kebiasaan merokok berat?"

Milo hanya bungkam sambil mengangguk pelan.

"Dan, dik Milo juga mungkin sering minum alkohol, atau stress 2-3 bulan terakhir ini? Boleh coba saya lakukan tes kecil?"

Dokter tersebut menghampiri Milo dan menyentuh tangan kanannya yang tidak tertusuk infus.

"Kalau saya sentuh di sini, terasa sakit?" dokter tersebut menyentuh pembuluh nadi Milo.

"Enggak, Dok."

"Kalau di sini?" gantian dokter tersebut berpindah ke tangan satunya.

"Enggak..."

"Hmm... coba Dek Milo gerakkan alis kiri dan kanan, serta pipi. Saya ingin mengetes refleks muka."

Milo melakukan sesuai yang diperintahkan.
Vega menarik nafas lega karena sejauh ini semua berjalan lancar.

"Tapi dok..." Milo mengerutkan dahinya. "Kaki kiri saya... dari tadi coba saya gerakkan, tapi..."

Dokter tersebut langsung berpindah ke bagian kaki dan menggerakkan pergelangan kaki Milo.
Tidak ada tanda-tanda perlawanan, tapi kaki Milo lemas tidak bergerak.

"Dik Milo... saya akan mengawasi perkembangan kaki kiri ini selama 1x24 jam. Jika dalam 24 jam bisa digerakkan kembali, berarti ini sekedar Transient Ischemic

Attack, atau gejala ringan. Tapi kalau setelah 24 jam masih tetap seperti ini... kemungkinan dik Milo terkena hemiplegia... atau bisa dibilang, stroke parsial."

Mendengar kata-kata tersebut, Vega langsung terhenyak.

"Stroke, dokter? Tapi Milo kan' umurnya belum sampai 20..."

"Pola hidup, stress, dan aktivitas yang tidak memadai dapat menyebabkan stroke bahkan di usia muda. Saya yakin, sebelumnya pernah terjadi sesak nafas, atau nyeri

pada area saraf dan jantung, kan?"

"Iya, dok..." Milo membenarkan omongan dokternya.

"Tapi, kita semua berharap yang terbaik. Dan kami tim dokter pun akan berusaha yang terbaik. Saya akan kirim suster sebentar lagi untuk memberikan obat dan beberapa

suntikan untuk melancarkan aliran darah di saraf kaki. Hingga 24 jam ke depan, jangan putus harapan dulu ya..."

Dokter tersebut pamit keluar dari ruangan, meninggalkan Vega sendirian dengan Milo.
Milo hanya menatap ke langit-langit dengan tatapan letih sekali.
Vega semakin tidak tega melihat Milo runtuh seperti ini.
Tapi di saat seperti ini, Vega yakin bahwa Milo membutuhkan dukungan sepenuhnya.

Dengan memaksakan diri, Vega mengembangkan senyuman dan melihat Milo.
Akhirnya Milo mengalihkan pandangan dan sepertinya terkejut campur kaget melihat raut wajah Vega yang cerah.

"Gue yakin, pasti ini cuma false alarm..." Vega berusaha menenangkan Milo dengan mengelus tangan kirinya.

"Vega... gue nggak apa kok. Sebentar lagi nyokap gue juga dateng nungguin..." Milo seolah mengusir Vega dengan halus. "August pasti lagi nungguin..."

"Gue udah putus sama August."

Milo terdiam mendengar kalimat Vega.

"Kita kayak sepasang idiot, yang muter-muter sampe pindah ke New York... kembali ke sini, berantem lagi... tapi pada akhirnya..." Vega tersedak kalimatnya sendiri

karena terlalu menggebu-gebu berbicara. "Pada akhirnya gue sadar... sejak dulu yang gue suka cuma elo Milo. Gue sayang sama elo...orang pertama yang ngebuka hati

gue, dan membuat gue merasa jadi bagian dari seseorang."

Vega merapikan rambut yang jatuh menutupi matanya karena menunduk.

"Maafin gue yang egois... berkali-kali nutup hati gue, dan menyangkal. Tapi setelah hampir kehilangan elo, dan gue takut banget...kehilangan elo untuk selamanya. Gue

baru sadar bahwa cuma elo yang bisa bikin hidup gue seperti roller coaster begini..."

"It's funny..." Milo tertawa kecil. "Because i've felt the same since 3 years ago..."

Milo meraih jemari Vega dan menggenggamnya.

"Tapi, gue yang sekarang bukan laki-laki sempurnya, Ve... Gue berkemungkinan besar bakal jadi orang cacat, dan bikin elo malu..."

"Gue nggak akan pernah ngerasa malu. Gue justru bangga, karena meskipun fisik elo nggak sempurna, tapi elo adalah orang yang gue sayang dan gue cintai dengan tulus."

Vega meyakinkan Milo. "So, please...jangan pernah pergi lagi dan ninggalin gue, janji?"

Milo bangkit duduk perlahan dari posisinya.
Dengan tangan masih menggenggam jemari Vega, ditatapnya wanita yang disayanginya itu.

"I will never let go of you anymore." Milo membelai rambut Vega, dan mengusap ujung matanya yang sedikit basah karena air mata. "I Love You..."

Milo mencium Vega perlahan di dahinya.
Vega merasakan bibir Milo yang hangat menyentuh dahinya.
Kemudian ciuman itu turun ke pipinya, yang merona kemerahan.
Dan bibir Milo mendekat ke bibir Vega.

Begitu dekat, hingga jantung Vega berdegup kencang dan nafasnya tidak beraturan.
Vega merasa gugup dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Whoaaa...!" mendadak suara Chery menyeruak dari samping.

Kaget setengah mati, Vega langsung mundur dan mendorong Milo ke belakang.
Milo juga terkejut dan pura-pura memalingkan wajah ke arah jendela.

"Am I interrupting something?" Chery meledek jahil. "Gilee...untung yang masuk gue duluan, bukan suster yang mau nyuntik Milo..."

"Mendingan susternya kali,...nggak bakal ngeledekin kita sepanjang tahun..." Milo pura-pura menggerutu.

"Ciehhh Vega..." Chery yang baru saja diperingatkan, langsung memulai aksi ceng-ceng-an nya. "Akhirnya yeee..."

"Apaan sih Cher..." Vega yang salting tidak bisa menyembunyikan senyuman penuh artinya.

Sinar matahari sore menembus jendela rumah sakit.
Cahaya kekuningan itu memantul di rambut Milo yang kecoklatan.
Vega melihat mata itu,...masih sama dan semakin bersinar sejak pertama dilihatnya dulu.
Ya,...inilah kebahagiaannya yang selama ini dia cari.
Bersama Milo...
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.