Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.9K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1053
41. Moment of Truth
"Vega...elo mesti ambil keputusan dong..." Chery menasehati dengan suara sepelan mungkin.

Momen seperti ini adalah momen paling langka dalam hidup Vega.
Karena Chery mampu berbicara tanpa berteriak, heboh, atau lebay.
Tapi mengingat situasi sekarang, sesi curhatan Vega tentang August... Sejujurnya Vega senang karena Chery mampu menanggapinya dengan dewasa.

"Gue nggak tahu mesti gimana Cher... Udah sekeras apapun gue berusaha, tetap nggak ada petunjuknya. Perasaan gue seneng, happy, dan fun bareng August. But that's it. Enggak ada deg-deg-an, jealous,..."

"Gue tau, elo butuh tempat bersandar..." Chery meraih tangan Vega yang mendingin akibat banyak pikiran. "Tapi kasihan August juga kan... Ini bukan soal sepupu gue atau bukan, tapi dari sudut pandang gue pun, August udah berusaha banget lho untuk memaklumi elo."

"Hati nggak bisa dipaksain, Cher..." Vega mencoba membela diri.

"Lalu kenapa pada awalnya elo terima ajakan August? Mestinya elo tolak aja, jangan mau jadi pacarnya..."

Vega menggigit bibirnya sendiri.
Jika ditanya mengapa, pastilah jawabannya untuk melarikan diri.
Tapi baru sekarang Vega sadari bahwa memulai hubungan baru saat masih terjebak di luka lama, sama saja dengan menggali kuburan yang baru.

"... Vega?" suara lain memanggil dari hadapan Vega yang sedang menunduk.

Saat mengangkat kepala, berdirilah Reira di sana.
Vega agak shock dan membatu beberapa detik, sebelum berdiri dan mensejajarkan posisinya dengan Reira.

"Ya?"

Chery ikut bangkit berdiri.
Entah karena emosi, sama terkejutnya, atau apapun yang jelas Vega tidak berkonsentrasi kepada gerakan Chery yang kasar ketika bangkit berdiri.

"Gue perlu ngomong...empat mata." Reira meminta dengan nada agak sopan.

"Kalo mau ngomong sama Vega, wajib ada ENAM mata, yaitu mata gue!" Chery menyeruak.

Vega tidak bisa mengelak, sebab dia sependapat dengan Chery.
Dalam keadaan tidak stabil seperti ini, keberadaan Chery seolah tonggaknya berpegangan.
Pasrah, Reira akhirnya ikut duduk di sisi yang bersebrangan dengan mereka.

"Pertama...gue mau bilang sorry..." Reira memulai kalimatnya. "Hari ini, hari terakhir gue ke kampus... and, you're also here... jadi menurut gue this is the time to finish everything."

"Enggak ada yang pernah dimulai diantara kita. Kalo ini membicarakan urusan elo dengan Milo, dan anything you do privately, maaf-maaf aja ya...kita nggak tertarik." Chery sebagai juru bicara, maju menantang.

"Justru ini ada hubungannya banget Vega..." Reira menyisirkan poninya dengan jari ke arah belakang. "Gue mau ngaku, bahwa yang ngirim email itu... ya maksudnya email berisi video yang nggak pantes itu... gue pelakunya."

"Gue udah bisa menduga kok." Vega menjawab santai. "Tapi kenapa harus dipermasalahkan sekarang? Toh..."

"Itu bermasalah BANGET buat gue,...karena isi email itu bohong."

Vega menghentikan kalimatnya dan memandang fokus ke wajah Reira, seolah berkata "maksud lo?"

"Gue jealous, Ve... bener-bener nggak terima... selama setengah tahun deket dengan Milo, mencoba ngejar sosok Milo agar mau ngelihat gue sedikit aja...itu susah banget. Tapi kehadiran elo, yang cuma sekilas bisa bikin Milo bener-bener berubah. Seolah everything in his head is about you, and never been me..."

Vega terhenyak dan mencoba mengatur nafasnya.

"Jadi gue blackmail dia... gue ancem kalo dia nggak mau,.. you know... have sex with me, gue akan ngadu yang enggak-enggak ke tante gue. Misalnya Milo affair dengan elo, akhirnya mutusin gue,..." Reira menelan ludah. "Dan gue bohongin elo...bahwa Milo berencana manfaatin elo untuk bales dendam doang. Kenyataannya, gue yang jahat. Gue yang pingin bales dendam karena Milo memilih elo, bukan gue..."

Vega berfikir keras dan mencoba menganalisa isi otaknya yang berhamburan.

"Tapi sejak e-mail itu,... gue nggak bisa sekalipun ngehubungin Milo." nada Reira berubah khawatir. "Bertha,...Milo's Mom bilang kalo Milo nggak karuan. Overworked, dan sering mabuk. Padahal, gue lebih memilih Milo untuk maki-maki gue, marahin atas sikap gue udah ngadu ke elo yang enggak-enggak..."

"Jadi, maksud elo mau Vega untuk bujukin Milo biar nggak merajuk kayak anak kecil?" Chery menimpali.

"Honestly, iya..." Reira tertunduk sambil mengatakannya. "Gue nggak tahu harus minta tolong siapa lagi. Mungkin kalo Vega yang ngomong, Milo akan dengerin..."

Vega langsung bangkit berdiri dan menjauh dari sana.
Chery menyusulnya sambil tergopoh-gopoh.

"Mau ke mana Ve?"

"Gue harus selesaiin ini dengan Milo sekarang. Biar gue sendiri aja Cher..." Vega setengah berlari ke parkiran motor dan melambai kepada Chery.

Otak Vega serasa kosong mendadak.
Satu hal yang dia tahu, dia harus segera berbicara dengan Milo saat itu juga.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di benaknya.
Mengapa Milo tidak memberi tahu Vega soal blackmail-nya Reira?
Mengapa Milo jadi mabuk-mabukan begini?
Dan, mengapa rasa bersalah mengiris hati Vega dengan begitu pedihnya setelah mendengar kejadian yang sebenarnya dari Reira?

Diraihnya handphone dan ditekan nama Milo.
Ajaibnya, nama itu masih di sana.
Vega berkali-kali mencoba menghapus contact tersebut namun dia selalu mengurungkan niat.
Kini Vega bersyukur tidak melakukannya.

Nada dering menandakan teleponnya tersambung.
Tidak sampai deringan kedua, telepon itu diangkat tergesa-gesa oleh Milo.

"Vega?!" suaranya terdengar sangat terkejut.

"... hai Milo." Vega canggung. "Umm,...lagi ngapain?"

"Aku... maksudnya, gue... enggak. Lagi bengong aja. Ada apa ya?" nada Milo sudah lebih tenang dibandingkan tadi.

Perasaan menggelitik membuncah di dada Vega.
Mendengar suara Milo yang sekian lama tidak didengarnya dari seberang sana.
Seolah berbicara persis di telinganya.
Mata Vega jadi berkaca-kaca, namun dia tetap fokus pada tujuannya.

"Boleh kita ketemuan di Cheese Cake Factory?" Vega bertanya tanpa berfikir.

"...kenapa harus di sana?"

"Gue pingin nyelesaiin apa yang pernah kita mulai dulu. Dan ini bener-bener penting, jadi please... boleh kita ketemu?" Vega tanpa sadar mengatakan 'tolong' sebagai lampiasan kekalutannya.

"I'll be there in 5 minutes." Milo langsung mengiyakan tanpa basa-basi.

Vega menutup sambungan telepon genggam itu perlahan, dan meletakkan handphone di dahinya.

"I hope everything goes well..." Vega berbicara sendirian.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.