Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
103.2K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.3KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1046
39. Topeng
Vega melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sudah 30 menit menunggu, Vega masih belum menemukan sosok August di sana.
Dilirik handphonenya yang tidak ada tanda-tanda missed call atau apapun dari August.
Dengan menghela nafas panjang, Vega menatap ujung sepatunya.

Bukan yang pertama kalinya janjian dengan August membuatnya harus menunggu.
Tapi Vega sudah memakluminya.
Sejak setengah tahun pacaran, memang sudah begini sifat August sejak awal.
Suka seenaknya, rebel, dan terkesan cuek.

Tapi August selalu terlihat ceria.
Dia mampu melakukan hal-hal seru, dan setiap kali jalan bareng selalu menyenangkan.
Walau Vega sering disibukkan oleh kegiatannya membantu restoran ayahnya, sehingga mereka jarang bertemu.

"Cintaaa..." terdengar suara August dari belakangnya. "Soriiii... lama ya?"

Vega memalingkan wajah dan menemukan August memegang bahunya dengan raut wajah cerianya.

"Enggak, baru sampe kok." Vega berbohong.

"Oh ya? Untunglah... aku pikir aku telat lagi..." August duduk di sebelahnya. "Telat bangun tadi..."

Vega menimpalinya dengan tawa datar.
Dia melirik rambut August yang masih basah.
Sepertinya memang tadi dia buru-buru kemari sampai lupa mengeringkan rambut.

"Kita jalan yuk, kamu mau ke mana cinta?"

"Augustt...." Vega menekankan nada. "Aku nggak suka dipanggil ituuu..."

"Kenapa? Kan' aku cinta sama kamu..." August merengek. "Malahan kamu nggak pernah bilang cinta sama aku."

"Kita kan' bukan anak SD lagi..." Vega berdalih. "Lucu aja kalo' masih gombal-gombalan gitu deh..."

August hanya bisa diam menimpali sikap introvert Vega.
Memang, harus diakuinya sangat sulit menembus pertahanan Vega.
Masih ingat setengah tahun yang lalu Vega mendadak meng-iyakan ajakan August berpacaran.
Keadaannya sangat parah dan terpuruk hingga ke dasar.

Baik Vega maupun Chery tidak ada yang buka mulut apa penyebabnya.
August juga enggan mengorek lebih lanjut, takut merusak suasana diantara mereka.

"Hari ini, nongkrong di cafe?"

Vega terdiam sesaat.
Cafe..mengingatkan dia kepada saat terakhir kali pergi bertemu Milo.
Sesaat sebelum hujan...
Mendadak perut Vega terasa mual memikirkannya.
Mengapa hal seperti itu bisa terlintas sekarang?

"Enggak, lagi gak mau hangout di cafe. Ke toko buku aja yuk?" Vega mengusulkan.

"...oke." August menjawab singkat tanpa banyak basa basi.

Sesampainya mereka di toko buku, Vega menyusuri rak-rak berisi buku import dari luar negeri.
Ada buku tentang desain arsitektur, logo, hingga branding.
Jurusan yang ditekuninya memang tidak berkutat di teori, tapi langsung kepada praktek membuat layout atau desain sesuatu.
Tapi sepertinya tidak ada salahnya memiliki beberapa buku koleksi yang mendukung.

"August... buku ini bagus gak?" Vega menoleh saat bertanya dan mendapat August tidak ada di sana.

2 rak di sebelahnya, terlihat August sedang mengobrol dengan seorang cewek seumurannya.
Dia tertawa-tawa dan sebaliknya pula cewek itu.
Sepertinya mereka terlihat akrab.

Tidak ingin mengganggu, Vega hanya melihat dari kejauhan dan membuka-buka buku di tangannya.
Setelah asyik mengobrol, selang 5 menit kemudian August menoleh dan melambai kepada cewek itu.
Dia menghampiri Vega sambil berlari kecil.

"August... buku ini bagus gak?" Vega menunjukkan buku itu ke depan August.

August mengambil buku itu, dan melihat sampulnya.
Beberapa kali membaliknya, sebelum mengangguk-angguk setuju.

"Lumayan...isinya nggak ngebosenin. Banyak contoh yang bisa jadi inspirasi di dalemnya."

Vega tersenyum puas, dan memasukkan buku itu ke dalam kantong belanjanya.

"Kamu nggak penasaran tadi aku ngobrol sama siapa?" August memulai topik.

"Hm?" Vega bergumam tanpa menoleh. "Enggak, kenapa?"

"Ooo..." August mengangguk-angguk dalam diam.

"Temen kamu?"

"Enggak, baru kenalan tadi." August menjelaskan pendek.

"Okay..."

Vega kembali menarik sebuah buku dari rak, kemudian meneliti isi di dalamnya.

"Kamu marah?" August menyelidiki.

"Enggak. Kenapa?"

"Sama sekali nggak marah?"

Vega menatap August sambil mengerutkan alis. "Memangnya seharusnya aku marah? Untuk apa aku marah-marah tanpa sebab?"

"Tentu ada sebabnya..." August menghela putus asa. "Aku ngobrol lama, asik, ketawa-ketawa dengan cewek yang baru aku kenal. Seharusnya kamu marah..."

"Jadi, tadi itu sengaja untuk bikin aku marah?" Vega bertanya polos. "Mungkin karena dibuat-buat, jadinya nggak kena buat aku."

August mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi.

"Bukan itu maksud aku... Maksudnya, kalo memang kamu sayang, atau setidaknya punya perasaan khusus sama aku, kamu akan jealous! Bakal marah, sebel, atau apalah..."

August menjelaskan blak-blakan. "Heii...aku ini pacar kamu lhoo,..yang flirting dengan cewek lain saat ngedate sama kamuuu... masa' kamu cuek aja?"

"Kalo begitu aku akan marah dan jealous seandainya terjadi lagi hal semacam itu." Vega mulai bete diceramahi. "Aku nggak pernah punya pacar. Aku nggak tahu gimana

harus bersikap..."

"Hal seperti itu nggak perlu diajarkan, Vega."

August memanggil Vega dengan namanya, berarti ini hal serius.

"Setengah tahun kita pacaran, kamu nggak pernah bersikap manis ke aku. Enggak pernah ngerasa memiliki aku, atau menginginkan lebih. Pacaran kita cuma sekedar status!

Selalu aku yang berusaha lebih untuk kamu..."

"Aku nggak pernah minta kamu untuk berusaha buat aku. Lagipula, aku bersedia kok' nungguin kamu yang telat setiap kali kita pergi. Masih belum cukup buat kamu?"

"Enggak. Aku pinginnya kamu berusaha lebih baik dari itu. Dibandingkan aku yang pontang panting ngadepin sikap kamu yang dingin, rasanya aku pantes untuk mendapat

perlakuan lebih." August menekankan nadanya.

Vega menutup buku di tangannya dan menatap lurus ke arah August.

"Jadi, mau kamu apa?" Nada Vega sedikit menantang, pertanda mulai kehilangan kesabaran.

"Aku mau kamu cerita, apa yang terjadi sebenernya. Nggak mungkin kamu mau pacaran sama aku karena memang suka sama aku. Kenyataannya, kamu NGGAK suka sama aku kan? At

least aku berhak tahu yang sebenernya..."

Vega terhenyak dan menggigit bibir bawahnya.
Otaknya buntu,...terlalu buntu untuk menjawab pertanyaan dari August.

"Vega..? Tolong cerita ke aku, apa yang terjadi hingga kamu mau nerima ajakan pacaran aku, setengah tahun yang lalu meskipun kamu nggak suka sama aku??"
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.