Foreword
Thread ini berisi kumpulan cerpen yang aku buat.
Alasan aku membuat thread ini adalah berbagi pengalamanku dalam menulis cerita, dan tentu saja, mendapat saran dan kritik dari pembaca, karena saran dan kritik adalah cambuk dan dorongan terbaik agar penulis berusaha lebih baik dari sebelumnya. Aku menerima segala macam saran dan kritik, baik yang pedas maupun yang manis, jadi, silahkan tulis apa yang kalian pikirkan dengan jujur
Akhir kata, selamat membaca, semoga kalian menikmatinya :3
Ah, mencoba membuat cerita berbau Shojo atas permintaan teman yang fetish megane
Spoiler for Si Pria dan Gadis Berbicara tentang Kacamata:
Si Pria dan Gadis Berbicara Tentang Kacamata
Di satu ruangan yang terletak di gedung lama sekolah, terdapat satu ruang tempat aku dan seniorku bersantai. Ruang yang diterangi mentari senja ini penuh dengan buku-buku. Rak buku dan lantai dipenuhi oleh novel, komik, antologi, kumpulan essay, dan lain-lain. Aku menghabiskan waktu sepulang sekolah di ruangan ini, membaca buku dari koleksi yang ada. Bacaan hari ini adalah Phantom of the Opera.
Aku sedang serius membaca saat tiba-tiba seniorku memanggil.
“Menurutmu, apakah kacamata itu memiliki atribut sihir?”
Pertanyaan yang benar-benar tiba-tiba dan tidak terduga. Aku menaruh buku yang sedang kubaca. Berpikir sejenak, lalu mengangkat bahu.
“Entah, kenapa tiba-tiba kamu bertanya hal yang aneh seperti itu?”
“Aku sedang membaca komik Superman,” ucapnya sambil menunjukkan komik yang dia bawa. Di sampulnya, terdapat sosok Clark Kent, si tokoh utama, yang melepas kacamatanya. “Begitu dia memakai kacamata, tidak ada yang tahu kalau dia itu Clark Kent, rasanya aneh, kan? Hanya dengan kacamata, identitas seseorang menjadi tidak diketahui.”
Aku ingin menjawabnya dengan alasan itu hanya ada di komik! Tapi, kalau dipikir-pikir, bukannya baru-baru ini ada koruptor yang menyamar dengan memakai kacamata dan baru ketahuan setelah dilakukan analisis menggunakan komputer? Di lain waktu, ada juga cerita tentang perempuan yang tiba-tiba menjadi populer setelah dia melepas kacamata. Mengingat itu, entah kenapa membuat topik ini jadi menarik. Biar kucoba kuladeni.
“Seperti topeng? Atau mungkin, kita mengidentifikasi seseorang dari matanya? Jika kita memakai kacamata, maka kita melihat mata orang lain melalui lensa kacamata itu dulu, mungkin itu bisa membuat seseorang jadi terlihat berbeda?”
Dia terlihat menimbang-nimbang jawabanku.
“Hmm, tapi apakah itu benar? Bagaimana kalau aku mencoba memakai kacamata, apakah aku akan terlihat berbeda?”
“Entah, bagaimana kalau kau coba?
“Ide bagus! Aku akan coba memakai kacamata!” jawabnya semangat. Dia berdiri, lalu pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan aku sendiri.
...
Aku menghela nafas. Saatnya aku pulang.
-Besok harinya, di ruangan yang sama-
“Lihat! Bagaimana menurutmu?” ujar si senior sambil menunjukkan dirinya yang memakai kacamata. Kacamatanya berbentuk oval, dengan bingkai berwarna merah pekat.
Aku memperhatikannya dengan seksama. Entah kenapa, terdapat aura yang berbeda yang timbul dari dirinya. Aku tidak tahu harus berkata apa...
“Hei? Bagaimana menurutmu? Apakah aku terlihat berbeda?” tanyanya
sambil merapikan posisi kacamatanya dengan mengangkat bingkai memakai jari telunjuknya. Entah kenapa, tindakannya itu membuat jantungku berdebar.
“Ah, kau tahu, di Lord of the Flies, kacamata merupakan simbol kekuatan? Lalu, tahukan kau kalau ada game yang tokoh utamanya memakai kacamata untuk bisa melihat dalam kabut? Lalu...”
“Halo!? Aku bukan ingin tahu tentang trivia kacamata, aku ingin tahu tentang pendapatmu soal aku yang memakai kacamata!?” ucapnya dengan sewot.
“Berbeda saja tidak cukup, ayo, deskripsikan dengan lebih detil!”
perintahnya sambil mendekatkan wajahnya.
Dekat! Terlalu dekat!
Aku bisa mencium bau bunga lavender dari parfum yang dikenakannya. Bau itu membuat pikiranku menjadi semakin semrawut.
“Ah, sesuatu yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata seorang manusia?” jawabku asal.
“Bisa lebih detil? Kalau seperti itu, entah kenapa seperti mendeskripsikan sesuatu yang berasal dari Eldricht,” ucapnya sambil menggembungkan pipinya.
Aku menghela nafas.
“Baiklah, aku menyerah, kau terlihat lebih...cantik? Erotis?” jawabku dengan pandangan menghadap ke arah jendela.
“Hmm...jadi kau suka perempuan yang berkacamata, ya?”
“Ternyata iya, aku juga baru tahu sekarang...”
Dia berjalan mundur, lalu duduk di kursi yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri.
“Menurutmu, sebaiknya aku memakai kacamata atau tidak?” tanyanya.
Aku jadi bingung dibuatnya.
“Err...bukannya lebih baik memakai kacamata saat dibutuhkan saja? Kalau kau rabun dekat atau jauh, kurasa wajar kalau kau memakai kacamata, tapi kalau tidak...” Aku berhenti sejenak, untuk menyusun kata-kata yang ingin kuasmpaikan. Aku ,engambil nafas panjang, lalu kembali melanjutkan. “...Eh, lupakan apa yang baru saja kukatakan, tolong pakai terus kacamatanya!”
“Kalau begitu tidak jadi kupakai,” ucapnya enteng sambil melepas kacamatanya.
“Hakim, aku minta naik banding!”
“Permintaaan ditolak!”
Ah, tampaknya aku tidak berhasil membuatnya memakai kacamata.
“Tapi...”aku menoleh ke arahnya. “...aku pakai kacamata atau tidak, aku tetap saja aku, kan?” tanyanya dengan wajah serius.
“Tentu saja,” jawabku tegas.
“Itu saja sudah cukup, kan?”
“Ya, itu saja sudah cukup.”
Dia tersenyum mendengar jawabanku.
“Hari sudah sore, aku mau pulang dulu.”
Dia berjalan ke arah pintu keluar, lalu memutar badannya.
“Sampai bertemu besok,” ucapnya dengan senyum yang manis.
Spoiler for Author note:
Eh, ngomong2 si author pernah diminta lepas kacamata saat periksa identitas di bandara, so yeah, tampaknya kacamata memang punya efek memalsukan identitas :V
Eldritch http://en.wiktionary.org/wiki/eldritch
From Middle English eldrich, from earlier elrich, equivalent to Old English el- (“foreign, strange, uncanny”) (see else ) + rīċe (“realm, kingdom”) (see rich ); hence “of a strange country, pertaining to the Otherworld”; compare Old English ellende "in a foreign land, exiled" (compare German Elend "penury, distress" and Dutch ellende "misery"), Runic Norse alja-markir "foreigner".
Adjective
eldritch (comparative more eldritch, superlative most eldritch)