Kaskus

Story

OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)

Spoiler for Segelas Es Kosong:


Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:


Quote:



Quote:


Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
amdar07Avatar border
fahmibusterAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.1K
1.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
OblOOOOOOOAvatar border
TS
OblOOOOOOO
#10
Dalam Dirinya ada Diriku - Bagian III

"Atau—di kosan kamu aja?" Tanya Karin.

Hmm, gue berpikir sejenak. Sebenernya kalau sudah sampai kosan, gue bakal malas untuk angkat kaki kemana pun. Cukup di kosan gue aja sudah ramai. Ramai dengan teriakan temen sekelas gue yang hobi nebeng di kosan dan anak-anak fakultas lain. emoticon-Big Grin

"Orang lain aja, cii~?" Ujar gue sok imut. emoticon-Malu (S)

"Haaa… Bagaaasss, tolonginnn atulah!" Responnya tak kalah imut emoticon-Cape d... (S), entah kenapa nasib gue seperti ini.

Ya, sebagai seorang cowok, saat itu perasaan gue adalah senang. Selain gue dilirik oleh junior gue dan beberapa temen gue lainnya saat ngobrol akrab dengan Karin, gue juga diajak ke kosannya.

emoticon-Malu (S) Semakin gue membayangkan, semakin gue senang. Dalam hati, gue bertanya-tanya, "Apa ya yang akan terjadi nanti di kamar?" emoticon-Genit

Detik-detik berlalu bersama menghilangnya awan. Matahari somplak tadi sudah redup menanggalkan keangkuhannya. Kegelapan mulai menyelimuti Jatinangor. Selepas Maghrib, gue berangkat menuju Childo, kosan termewah pada masanya, dan kebetulan tempat itu deket dengan kosan gue.

"Blok B, kamar… hmm... ini!" Gue memasuki Blok B dan mengetuk kamar yang ada di depan gue itu.

"Iya, sebentar… Siapa?" Suara dari dalam itu bertanya kepada gue. Namun belum sempat gue menjawab, pintu itu terbuka.

emoticon-Malu (S) Dag… dig… dug... Seperti sebuah mikrofon, suara detak jantung gue keras terdengar seiring dengan terbukanya pintu itu.

"Eh emoticon-Gila siapa?"

"emoticon-Nohope Loh, ini bukan kamarnya Karin, teh?" Ujar gue ketika melihat another gadis cantik di balik pintu itu. Berbeda, namun serupa. emoticon-Malu

"Bagas! He he! Maaf, ya! emoticon-Big Grin Disini aja ngerjainnya di ruang tamu." Tiba-tiba Karin datang dari arah samping.

"Temen kamu Rin?"

"Iya, maaf ya teh." Ujar Karin sambil tersenyum.

Gue duduk di sofa ruang tamu. Kosan itu layaknya rumah yang dibagi per blok. Masing-masing rumah memiliki ruang tamu untuk mengerjakan tugas bareng-bareng. Gue pernah mengantar junior gue yang kebetulan tinggal di Childo juga, hanya saja beda blok.

Ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita, gue pun tak berdaya. Meski gue harus duduk di ruang tamu untuk mengerjakan desain poster. Seperti kegiatan formal saja. emoticon-Cape d... (S)

"Udah lu bikin belum desain kasarnya?" Ujar gue memulai pembicaraan.

"Udah, tunggu bentar ya!" Karin pun masuk ke dalam kamarnya. Gue memperhatikannya dari tempat gue duduk. Gue penasaran yang mana kamarnya Karin.

Dia masuk ke dalam kamar paling pojok, berjarak 2 kamar setelah kamar teteh tadi. Selang beberapa waktu gue menunggu, Karin tak kunjung muncul dari kamarnya.

emoticon-Bingung (S) Apakah Karin terkena Roomnesia? Sebuah penyakit ketika memasuki ruangan, akan lupa dengan hal yang akan dia lakukan?

Ataukah, Karin merasa pegal dan tidur sejenak?

Ataukah, Karin memancing gue agar… emoticon-Embarrassment

Entahlah, yang penting lebih sepuluh menit gue menunggunya. Gue bosan, dan gue mulai berjalan mendekati pintu kamarnya. Hendak mengetuk dan memanggilnya keluar.

Sesampainya di depan pintu itu, gue mendekatkan kuping gue. Mana tau ada suara dari dalam yang bisa gue dengarkan yang menandakan Karin masih hidup emoticon-norose.

Namun tak ada suara. emoticon-Bingung (S)

Jujur ini pertama kalinya gue ke kosan cewek sendirian. Gue bingung harus ngapain. Lalu gue berniat memperlakukan hal yang sama ketika gue ke kosan teman cowok gue.

"Rin, lama--," gue mengangkat gagang pintu itu dan mendorongnya.

"Eh, maaf-maaf Gas!"

Karin sedang duduk di atas kasurnya sambil memeluk kedua lututnya dan menghadap laptop, tiba-tiba berpaling dan menutup laptopnya seketika.

emoticon-Bingung (S) Apa yang dilakukan Karin?

Apa dia menonton film ehem untuk memanaskan busi sebelum ehem dengan gue? emoticon-Genit

Pikiran jorok gue mulai tumbuh, apalagi ketika ia memalingkan badannya dan menunjukkan pinggulnya yang aduhai, pahanya yang mulus, dan bajunya yang menceplak. Namun, semua bayangan gue terhenti ketika gue melihat dia nyatanya sedang menyeka matanya dan menghirup ingus.

emoticon-Bingung (S) Apakah dia menangis?

"Kenapa lu?" Tanya gue penasaran.

"Hah? Nggak apa-apa, Gas." Ujarnya

Perlahan gue melangkah masuk ke kamarnya yang berukuran 3X3 meter, kecil ya, tapi fasilitasnya mewah. Gue mulai mendekat. Gue masukkan tangan gue ke dalam saku celana gue. Menghilangkan nervous yang semakin menjadi-jadi ketika melihat sesosok gadis duduk di kasur sambil memeluk lutut. Lampu kamarnya sedikit remang-remang. Namun gue nggak terlintas sedikit pun prasangka kalau dia manusia atau bukan.

Gue melihat sekeliling. Banyak sekali sticky notes, poster-poster, foto, dan ada time schedule juga. Karena melihat situasi, gue nggak berani melihat lebih dekat.

Hening dalam beberapa saat, hingga dia mulai angkat bicara. Gue sedari tadi berdiri di belakangnya.

"Maaf, Gas, aku ngerepotin kamu, kan?" Suara Karin yang parau efek dari tangisannya, mengagetkan gue.

"Nggak apa-apa, kok." Ujar gue.

Hening lagi seolah dia sedang merangkai kata-kata.

"Aku banyak yang mesti dikerjain Gas, makanya aku minta tolong kamu." emoticon-Berduka (S) Dia melanjutkan kembali terisak.

Gue menatapnya dari posisi berdiri. Gue nggak berani duduk di sampingnya, atau pun merangkulnya. Gila! Nervous banget saat itu. Gue nggak tau mesti gimana. emoticon-Thinking emoticon-Shutup

"Yaudah, sini gue bantu. Elah gitu aja nangis. Gue ketus bukan karena ngerasa direpotin emoticon-Bingung (S)" Jawab gue.

Dia langsung mengangkat kepalanya yang tadinya menunduk, menatap gue tajam dengan kondisi mata yang berlinang air.

"Kamu nggak tahu rasanya jadi aku, disuruh ini disuruh itu. Aku pengin banget nolak kayak kamu, tegas, cuma aku takut." Lanjutnya sambil terisak, lalu menunduk lagi. Intonasinya yang tadi yang meninggi berubah lagi menjadi rendah.

"Takut apa?" Tanya gue.

Gue menerka-nerka dalam kepala.

"...." Karin hanya menggeleng.

Gue masih memandanginya. Lama, ketika gue telah meresapi apa yang katakan.

"Takut nggak dianggap? Takut nggak punya teman?" Ujar gue menebak.

Karin langsung menerawang ke depan. Sepertinya apa yang gue duga itu benar.

Saat itu yang gue pikirkan adalah, gue pengin menyampaikan kalau gue juga pernah merasakan hal yang sama. Bahkan kadang sampai saat ini. Gue ingin bercerita banyak tentang banyak pengalaman dan pelajaran hidup yang gue alami untuk kondisi ini.

"Tolak aja Rin lain kali, kalau lu emang nggak bisa atau nggak mau. Enggak usah takut. Kalau mereka mohon-mohon, dipikirin lagi. Apakah lu sibuk atau punya waktu? Atau bisa dinego nggak biar nggak terlalu memberatkan. Kalau enggak bisa sama sekali, minta maaf aja tegas gitu, bilang, ‘gue nggak bisa’ atau cari alasan lain.” Ujar gue.

"Gue, juga pernah ngerasain kayak gitu Rin. Mungkin sampai sekarang masih. Tapi gue mulai sebal, dan mencoba terus nolak dengan halus, Alhamdulillah, gue tenang-tenang aja sekarang."

”Kalau masalah gue nolak permintaan lu awalnya emang karena gue nggak mood, dan kita juga baru kenal tapi lu udah minta bantuan lagi aja. Cuma, karena kemarin aura mata lu berapi-api, gue jadi semangat juga bantuin.”

”Gue nggak tau apa masalahnya, siapa yang nyuruh-nyuruh lu sampai lu tertekan kayak gini.”

"Kalau yang nyuruh itu temen lu, berarti sama aja kayak lu punya temen cuma karena ada maunya doang. Rugi Rin. Nggak perlu punya banyak temen, kalau gue, temen satu orang aja udah lebih cukup. Satu orang teman lebih kuat dari seribu musuh."

Gue duduk berlutut di hadapannya. Untuk mencoba eye-contact dengannya. Pengin rasanya gue menyeka air mata yang mengalir di pipinya itu. Hanya saja, gue nggak punya keberanian. Di saat itu gue pengin memeluk dia, mengelus rambutnya, memberikan support. Namun, gue tetep nggak bisa.

"Udah, nangis boleh, tapi jangan lama-lama, ya emoticon-Big Grin Gue tunggu di luar, ya." Tutup gue.

Gue melangkah keluar, meninggalkan tatapan Karin. Kemudian gue menutup pintu.
Diubah oleh OblOOOOOOO 11-11-2021 12:10
dannda17
dannda17 memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.