- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1043
38. Ruined
Milo sedang terduduk di kamarnya, sesekali melirik jam dinding yang berdetak perlahan.
Diputar-putar handphone yang ada dalam genggaman tangannya.
"Sms...jangan...sms...jangan..." Milo bergumam kepada dirinya sendiri.
Bimbang, tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Sesungguhnya Milo sendiri tidak bisa berhenti memikirkan apa yang sudah dia lakukan kepada Vega di mobil saat hujan itu.
Kepingan hatinya berkata bahwa perbuatannya kurang ajar dan melewati batas.
Tapi rasa suka dan sayang kepada Vega yang dipendamnya selama ini, mengisyaratkan hanya kebahagiaan.
Mendadak handphone Milo berdering membuatnya sedikit terlonjak dari kursi.
Nama Chery tertera di sana.
"Cher.. kenap..."
"GILA LO YA!!!" langsung Chery membentak tanpa ampun. "Kita perlu ketemuan SEKARANG!"
Milo agak shock, dan tidak mampu berkata-kata.
Mulutnya hanya mengatup-ngatup seperti ikan koi kehabisan nafas.
"Soal apa ya?" Milo masih antara bingung dan kaget.
"Milo..." berganti suara Vega yang lebih rendah dan dia hafal. "Gue enggak tahu rumah elo, jadi boleh elo ke rumah gue sekarang? Penting..."
Suara Vega terdengar lirih.
Seketika logika Milo berhenti berputar, dan tanpa bertanya lebih lanjut dia mengambil jaket dan menstarter mobil menuju rumah Vega.
Dia hafal jalanan itu di luar kepala seolah baru kemarin terakhir kali dia datang ke sana.
Sesampainya di depan pagar rumah Vega, Milo menghentikan mobilnya.
Milo turun dari mobil dan memencet bel rumah Vega.
Tidak butuh beberapa lama hingga pintu pagar itu terbuka dengan sendirinya.
Sepertinya kini pagarnya sudah diganti menjadi otomatis.
Milo setengah berlari, masuk dan menyusuri arah menuju kamar Vega.
Sambil mengatur nafas, Milo mengetuk pintu kamar Vega.
Terdengar suara langkah cepat dari dalam, menandakan kamar itu belum berubah penghuninya.
"Vega..." Milo memanggil perlahan ketika melihat wanita yang disukainya itu muncul dengan sepasang mata sembab.
"Milo ya Ve?!" Suara Chery menyambar dari belakangnya.
Vega mengangguk pelan kemudian kembali menatap Milo dengan tatapan berat.
Chery muncul sesaat kemudian, tapi kemudian keluar dari kamar seolah memberi ruang bagi Vega dan Milo berbicara empat mata.
Pintu tertutup, dan Vega duduk di sisi ranjang sementara Milo mengikuti di sisi yang lain.
Suasana masih hening diantara mereka.
Tidak ada yg memulai pembicaraan, dan masing-masing terlalu blank untuk memulai.
"Maaf manggil elo ke sini dadakan..." Vega akhirnya buka suara.
"Elo kenapa nangis Ve?"
"Gue boleh tanya sesuatu?" Vega memotong dengan pertanyaan lainnya. "Elo masih suka sama gue?"
Pertanyaan itu bagai skakmat bagi Milo, tapi sudah sejauh ini rasanya tidak ada yang perlu ditutupi lagi.
"Iya, gue nggak bisa bohong... Enggak bisa mungkir lagi. Gue emang sejak dulu masih suka, dan hingga sekarang masih sayang sama elo." Milo menjelaskan panjang lebar.
"Makanya soal ciuman itu..."
"Reira gimana?" Vega memotong.
"She is out of my life. Dan just so you know, gue enggak pernah berniat serius dengan dia. Cuma, temen bisnis nyokap itu tantenya Reira, jadi..."
"3 tahun... Elo udah berubah segini banyak ya..."
Milo mengerutkan alis "Maksud elo?"
Vega menarik nafas dalam-dalam, dan menatap Milo dengan raut muka serius.
"Elo nggak pernah serius dengan Reira, still...elo have sex with her?"
Milo terhenyak dan pupil matanya melebar.
Bagaimana Vega bisa tahu hal semacam itu?
Dan dari reaksinya, Vega yakin dia mengenai jackpot.
"Itu...cuma sekali, yang pertama dan terakhir. Dan yang terjadi waktu itu bukan seperti yang elo pikirkan. Gue sama Reira udah putus saat itu..."
"That's the point, Milo. Bahkan lebih parah. Dengan yang bukan pacar pun, elo bisa dengan santainya..." Kalimat Vega terhenti. "Dan elo berharap gue percaya bahwa
selama 3 tahun udah lewat, elo masih nyimpen perasaan untuk gue?"
Milo tidak mampu membalas kalimat Vega.
Sejujurnya, dia sendiri merasa konyol terhadap dirinya sendiri.
Entah berapa puluh bahkan ratus wanita yang sudah 'one night stand' dengannya.
Tapi hanya satu ciuman dengan Vega saja mampu membuatnya tidak karuan.
Apa itu namanya kalau bukan cinta?
"Mungkin sejak kenal wanita-wanita di New York, wajar elo berhubungan badan bebas dengan siapapun...." Vega menekankan kalimatnya pada kata siapapun. "Tapi tolong
jangan samain gue dengan mereka. Kalo memang masih dendam atas penolakan gue yang kejam ke elo, fine. Elo boleh benci gue atau apapun juga. Bahkan gue bersedia bayar
biaya sakit hati elo. Asalkan please... Jangan coba untuk tidurin gue sebagai balas dendam."
Milo shock bukan main.
Apa yang terjadi dengan Vega?
Apa yang dilihat, atau didengarnya?
Seburuk itukah sosok Milo di matanya?
Dia mengakui, memang perbuatannya tidur dengan Reira setelah mereka putus sangat tidak wajar bagi Vega.
Tapi dia melakukan itu atas permintaan Reira.
Tidak pernah sedetikpun terbesit di benak Milo untuk ... Apa? Meniduri Vega demi balas dendam?!
Malahan, Milo bersedia menukar apapun di dunia ini, agar Vega membuka hatinya itu sudah cukup.
Tidak mungkin Milo berniat sekotor itu...
Tapi rasanya percuma menjelaskan kepada Vega.
Untuk membuka mulut saja rasanya sangat berat bagi Milo.
Dirinya yang sekarang bagai kuman di mata Vega.
Terlihat dari tatapan penuh amarah dan kekecewaan tersebut.
Menyerah, Milo bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
Sempat diliriknya Vega dari sudut matanya.
Hatinya tergoda untuk memberi pembelaan,
Tapi pada akhirnya bibir Milo terkunci rapat dan dia keluar kamar dengan luka menganga di dasar hatinya.
Saat membuka pintu, dilihatnya Chery sedang duduk di sofa dengan cemas.
Segera Chery berlari kecil melewati Milo.
"Barusan ada yang ngirim email ke Vega... Isinya video sextape elo sama Reira." Chery mencibir saat melewati bahu Milo. "Thanks untuk siapapun yang ngirim... Vega jadi
nggak kena perangkap balas dendam elo..."
Secepatnya, Milo angkat kaki dari rumah tersebut dan masuk ke dalam mobilnya.
Dibantingnya pintu mobil keras-keras dan dia melaju sekencang kencangnya.
Emosi, kecewa, putus asa, semua bercampur menjadi satu.
Satu hal yang dia tahu, tidak ada lagi kesempatan baginya untuk bersama Vega, bahkan mungkin sekedar berbicara dengannya.
Ya,...semuanya sudah hancur berkeping-keping.
Diputar-putar handphone yang ada dalam genggaman tangannya.
"Sms...jangan...sms...jangan..." Milo bergumam kepada dirinya sendiri.
Bimbang, tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Sesungguhnya Milo sendiri tidak bisa berhenti memikirkan apa yang sudah dia lakukan kepada Vega di mobil saat hujan itu.
Kepingan hatinya berkata bahwa perbuatannya kurang ajar dan melewati batas.
Tapi rasa suka dan sayang kepada Vega yang dipendamnya selama ini, mengisyaratkan hanya kebahagiaan.
Mendadak handphone Milo berdering membuatnya sedikit terlonjak dari kursi.
Nama Chery tertera di sana.
"Cher.. kenap..."
"GILA LO YA!!!" langsung Chery membentak tanpa ampun. "Kita perlu ketemuan SEKARANG!"
Milo agak shock, dan tidak mampu berkata-kata.
Mulutnya hanya mengatup-ngatup seperti ikan koi kehabisan nafas.
"Soal apa ya?" Milo masih antara bingung dan kaget.
"Milo..." berganti suara Vega yang lebih rendah dan dia hafal. "Gue enggak tahu rumah elo, jadi boleh elo ke rumah gue sekarang? Penting..."
Suara Vega terdengar lirih.
Seketika logika Milo berhenti berputar, dan tanpa bertanya lebih lanjut dia mengambil jaket dan menstarter mobil menuju rumah Vega.
Dia hafal jalanan itu di luar kepala seolah baru kemarin terakhir kali dia datang ke sana.
Sesampainya di depan pagar rumah Vega, Milo menghentikan mobilnya.
Milo turun dari mobil dan memencet bel rumah Vega.
Tidak butuh beberapa lama hingga pintu pagar itu terbuka dengan sendirinya.
Sepertinya kini pagarnya sudah diganti menjadi otomatis.
Milo setengah berlari, masuk dan menyusuri arah menuju kamar Vega.
Sambil mengatur nafas, Milo mengetuk pintu kamar Vega.
Terdengar suara langkah cepat dari dalam, menandakan kamar itu belum berubah penghuninya.
"Vega..." Milo memanggil perlahan ketika melihat wanita yang disukainya itu muncul dengan sepasang mata sembab.
"Milo ya Ve?!" Suara Chery menyambar dari belakangnya.
Vega mengangguk pelan kemudian kembali menatap Milo dengan tatapan berat.
Chery muncul sesaat kemudian, tapi kemudian keluar dari kamar seolah memberi ruang bagi Vega dan Milo berbicara empat mata.
Pintu tertutup, dan Vega duduk di sisi ranjang sementara Milo mengikuti di sisi yang lain.
Suasana masih hening diantara mereka.
Tidak ada yg memulai pembicaraan, dan masing-masing terlalu blank untuk memulai.
"Maaf manggil elo ke sini dadakan..." Vega akhirnya buka suara.
"Elo kenapa nangis Ve?"
"Gue boleh tanya sesuatu?" Vega memotong dengan pertanyaan lainnya. "Elo masih suka sama gue?"
Pertanyaan itu bagai skakmat bagi Milo, tapi sudah sejauh ini rasanya tidak ada yang perlu ditutupi lagi.
"Iya, gue nggak bisa bohong... Enggak bisa mungkir lagi. Gue emang sejak dulu masih suka, dan hingga sekarang masih sayang sama elo." Milo menjelaskan panjang lebar.
"Makanya soal ciuman itu..."
"Reira gimana?" Vega memotong.
"She is out of my life. Dan just so you know, gue enggak pernah berniat serius dengan dia. Cuma, temen bisnis nyokap itu tantenya Reira, jadi..."
"3 tahun... Elo udah berubah segini banyak ya..."
Milo mengerutkan alis "Maksud elo?"
Vega menarik nafas dalam-dalam, dan menatap Milo dengan raut muka serius.
"Elo nggak pernah serius dengan Reira, still...elo have sex with her?"
Milo terhenyak dan pupil matanya melebar.
Bagaimana Vega bisa tahu hal semacam itu?
Dan dari reaksinya, Vega yakin dia mengenai jackpot.
"Itu...cuma sekali, yang pertama dan terakhir. Dan yang terjadi waktu itu bukan seperti yang elo pikirkan. Gue sama Reira udah putus saat itu..."
"That's the point, Milo. Bahkan lebih parah. Dengan yang bukan pacar pun, elo bisa dengan santainya..." Kalimat Vega terhenti. "Dan elo berharap gue percaya bahwa
selama 3 tahun udah lewat, elo masih nyimpen perasaan untuk gue?"
Milo tidak mampu membalas kalimat Vega.
Sejujurnya, dia sendiri merasa konyol terhadap dirinya sendiri.
Entah berapa puluh bahkan ratus wanita yang sudah 'one night stand' dengannya.
Tapi hanya satu ciuman dengan Vega saja mampu membuatnya tidak karuan.
Apa itu namanya kalau bukan cinta?
"Mungkin sejak kenal wanita-wanita di New York, wajar elo berhubungan badan bebas dengan siapapun...." Vega menekankan kalimatnya pada kata siapapun. "Tapi tolong
jangan samain gue dengan mereka. Kalo memang masih dendam atas penolakan gue yang kejam ke elo, fine. Elo boleh benci gue atau apapun juga. Bahkan gue bersedia bayar
biaya sakit hati elo. Asalkan please... Jangan coba untuk tidurin gue sebagai balas dendam."
Milo shock bukan main.
Apa yang terjadi dengan Vega?
Apa yang dilihat, atau didengarnya?
Seburuk itukah sosok Milo di matanya?
Dia mengakui, memang perbuatannya tidur dengan Reira setelah mereka putus sangat tidak wajar bagi Vega.
Tapi dia melakukan itu atas permintaan Reira.
Tidak pernah sedetikpun terbesit di benak Milo untuk ... Apa? Meniduri Vega demi balas dendam?!
Malahan, Milo bersedia menukar apapun di dunia ini, agar Vega membuka hatinya itu sudah cukup.
Tidak mungkin Milo berniat sekotor itu...
Tapi rasanya percuma menjelaskan kepada Vega.
Untuk membuka mulut saja rasanya sangat berat bagi Milo.
Dirinya yang sekarang bagai kuman di mata Vega.
Terlihat dari tatapan penuh amarah dan kekecewaan tersebut.
Menyerah, Milo bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
Sempat diliriknya Vega dari sudut matanya.
Hatinya tergoda untuk memberi pembelaan,
Tapi pada akhirnya bibir Milo terkunci rapat dan dia keluar kamar dengan luka menganga di dasar hatinya.
Saat membuka pintu, dilihatnya Chery sedang duduk di sofa dengan cemas.
Segera Chery berlari kecil melewati Milo.
"Barusan ada yang ngirim email ke Vega... Isinya video sextape elo sama Reira." Chery mencibir saat melewati bahu Milo. "Thanks untuk siapapun yang ngirim... Vega jadi
nggak kena perangkap balas dendam elo..."
Secepatnya, Milo angkat kaki dari rumah tersebut dan masuk ke dalam mobilnya.
Dibantingnya pintu mobil keras-keras dan dia melaju sekencang kencangnya.
Emosi, kecewa, putus asa, semua bercampur menjadi satu.
Satu hal yang dia tahu, tidak ada lagi kesempatan baginya untuk bersama Vega, bahkan mungkin sekedar berbicara dengannya.
Ya,...semuanya sudah hancur berkeping-keping.
0