- Beranda
- Stories from the Heart
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
...
TS
OblOOOOOOO
.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)
![.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)](https://s.kaskus.id/images/2018/01/25/2511688_201801250912110005.png)
Spoiler for Segelas Es Kosong:
Spoiler for Halaman Belakang Buku 1 & 2:
Quote:
Quote:
Quote:
Polling
0 suara
Di Buku terakhir, siapakah yang akan menjadi pendamping Bagas di akhir cerita?
Diubah oleh OblOOOOOOO 15-11-2021 21:40
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
13
131.7K
1.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
OblOOOOOOO
#4
Ternyata Dia adalah Wanita!
Senin, 12 September 2011
Sudut Pandang Bagas
Hari-hari perkuliahan gue lalui dengan biasa. Dibawa bebas aja. Membebaskan semua penat dalam pikiran, seperti tugas-tugas, proposal acara, laporan pertanggung jawaban dan segala macamnya. Kebanyakan orang, hal-hal semacam itu dibawa kepikiran, ngerasa tertekan. Ditambah lagi ada senyum dan suara canda tawa dari teman-teman sekelas gue yang koplak bin ajaib telah ikut mendramatisir kehidupan gue nan flat dan berdebu.
Kerjaan gue sehari-hari monoton. Mulai dari bangun pagi, sholat, berangkat kuliah, istirahat, ngerumpi, main capsa, pulang, mandi, internetan, bikin tugas kalau emang ada, terus tidur. Kalau pengin begadang, gue begadang dan besoknya otomatis gue nggak akan kuliah karena ngantuk berat, walau paginya kamar kosan gue sudah digedor oleh Ihsan atau Fadhli, teman sekosan gue.

Pun, pagi ini. Pagi dimana gue mulai masuk kuliah kembali setelah 2 hari vakum karena begadang. Entah apa yang terjadi di kampus, gue nggak peduli. Yang gue pedulikan adalah bagaimana gue bisa pinjam catatan teman gue yang rajin nyatet

Namun si embun yang lengket di tanaman kosan gue pagi ini, entah kenapa seolah-olah memberikan gue napas harapan yang sudah lama gue pengin hirup. Lama—gue menatap si embun yang nempel di tanaman yang bergoyang itu. Kemudian ada yang seolah berbisik dalam diri gue, bahwasanya hari ini akan ada hal baik yang datang buat gue.
Sesampainya di kampus, gue duduk bersama teman-teman kelas seperti biasa. Sambil menunggu datangnya dosen, para cowok biasanya bercerita tentang bola semalam, atau tentang kejombloan masing-masing sambil menghisap berbatang-batang rokok.
Lalu, tiba-tiba Uje menghampiri gue.
"Gas, gue bisa minta tolong nggak?"
Katanya, sambil mengaktifkan mode memelasnya seperti biasa. Cowok metroseksual yang ceweknya bak model, pipinya yang tembem dan bibirnya yang pink. Serta raut wajahnya yang lemas membuat gue nggak paham lagi gimana menolak itu permintaan tolong. Sebagai Bagas yang budiman, hati nurani gue nggak tega melihat teman yang butuh pertolongan.
"Apaan Je?"
"Lu kan jago desain nih, tolong desain-in gue poster dong, buat acara BEM." Ujarnya.
"Kontennya apa aja? Entar kalau ada waktu gue desainin," jawab gue. Gue bukan menolak untuk membuatkan poster itu sekarang, namun gue lagi ogah sibuk. Grafik kemalasan gue yang sedang rendah banget karena 2 hari vakum, tiba-tiba dipaksa berimajinasi membuat poster untuk acara Universitas, rasanya berat banget.
"Yaudah, nanti abis kuliah bisa gak?"
"Liat nanti, Je"
Gue menghembuskan napas sesak yang tertahan. Bersama asap rokok yang masih tersisa di paru-paru gue, napas itu membeku dihadapan gue. Membentuk sebuah alunan vektor abstrak dan gue langsung tiba-tiba dapat ide.
Sembari di kelas pun gue masih berimajinasi gimana bikin posternya Uje. Gue udah dapet bayangan background dari poster tersebut, namun semua tergantung konten yang bakal dikasih. Jika nggak sesuai, gue harus mengulang berimajinasi. Namun kadang, inspirasi nggak bakal datang secepat yang pertama kali datang. Itulah yang kadang membuat gue kesal kala membuat poster.

Kelas pertama pun selesai. Karena gue mahasiswa tahun ketiga, dan SKS gue dikit, gue dan yang lain masih punya 3 jam untuk menunggu kelas berikutnya. Kami pun segera angkat kaki menuju kantin lalu ke ruang himpunan. Biasanya kami internetan dengan WiFi kampus yang kecepatannya sampai di 100 kbps aja sudah senang, namun kali ini ada aktifitas lain yaitu main kartu!

Permainan Capsa di Facebook telah merubah kebiasaan kami, terkhususnya anak cowok, yang biasa streaming, sekarang beralih ke permainan kartu. Entah apapun itu jenisnya, selagi ada yang mengajari kami cara bermain, maka kami akan mainkan.
Namun di tengah sengitnya permainan, Uje yang tadinya tidak ada di ruang himpunan datang menghampiri gue.
"Gas, gimana poster?"
"Hmm, entar malem aja deh Je. Besok gue kasih, ya!"
"Aduh, tolongin dong, Gas. Orangnya nungguin hari ini, gue udah di tagihin."
Fvck! Kacrut, bisik hati gue. Dia minta tolong kenapa dia malah maksa. Gue mau marah cuma gue nggak pemarah dan nggak bisa marah. Mau nurutin si Uje, nanti malah kebaikan gue dimanfaatin terus. Namun ada sebuah pepatah Minang dari bokap gue yang akan selalu teringat. Sebuah pepatah yang mengandung kunci bertahan hidup di perantauan.
”Jan takuik jo jariah nan balabiah. Jangan takut dengan jerih yang berlebih.”
Kalimat itu terpatri di benak gue. Jangan takut dengan kebaikan yang berlebih.
Seketika permainan itu selesai, gue langsung mengambil tas dan mengeluarkan laptop.
"Kontennya apa aja Je?" Tanya gue dengan senyuman bulat.
"Aduh, lupa gue tadi. Ikut gue deh Gas, ketemu sama orangnya aja langsung, yok."
Gue mendengus sejenak, namun gue pikir itu salah. Seakan gue menunjukkan ketidak-ikhlasan hati gue dalam menolong, tapi capek aja. Capek deh.
"Dimana?" Tanya gue sambil mengaitkan tali sepatu.
"Ayok, ikut aja!"
Gue jalan bareng Uje. Tapi entah kenapa ketika gue berjalan disamping Uje, gue malah jadi merasa rendah diri, ya. Gue yang berpenampilan apa adanya jalan di samping cowok macam Uje? Ketiban banget.

Namun apa daya, karena ini ciptaan Tuhan. Gue nggak jelek. Walaupun nggak ada juga yang ngakuin gue ganteng. Gue good-looking, ya, karena semua ciptaan Tuhan itu rupawan. Hanya saja, andaikan gue lebih stylish dan berpenampilan sedikit rapi, mungkin gue bisa mengimbangi Uje, dikejar cewek-cewek, jadi idola.

"Mana orangnya? Belum dateng nih." Uje ngedumel sendiri. Dia lalu mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi orang tersebut.
Sembari Uje menghubungi orang tersebut, gue pun mulai mengeluarkan laptop gue di teras itu. Teras kampus yang beratap. Gazebo, istilahnya.
Tangan gue mulai asik menari di atas Photoshop. Sambil menudungi sinar matahari yang menyilaukan pandangan gue ke laptop. Sesaat gue mulai asik menggambar, seseorang datang dari arah belakang.
"Je, gimana?"

Awalnya gue nggak peduli orang itu mau datang apa kagak. Kalau dia nggak nyapa gue, gue nggak bakal jawab. Namun, mendengar suara itu lembut seperti dentingan angin, kepala gue nggak tahan untuk menoleh ke belakang. Refleks, gue penasaran soalnya. Karena dalam bayangan gue, orang yang akan kami temui itu adalah cowok.

Buset. Entah senang atau nervous gue saat melihat cewek itu. Sesosok manusia yang gue idam-idamkan. Tipe gue banget. Apa ini embun yang tadi pagi memberikan gue feeling yang menyegarkan?"Nih Bagas, temen gue yang bikinin poster. Dia jago Photoshop-nya, bla... bla... bla.…" Si Uje asik berbacot ria seperti biasanya.
Teknik Uje dalam pengenalan dan pendekatan sangatlah bagus, baik itu terhadap cowok maupun cewek. Gue akui dan gue acungi jempol. Namun semakin lama kita mengenalnya, Uje akan terlihat seperti orang suka cari muka atau penjilat. Namun karena gue menganggapnya teman, gue mencoba untuk tidak berpikir demikian. Hanya saja, hampir semua teman gue yang punya teman dan berteman sama Uje, mendukung fakta yang gue sampaikan tadi.
Gue mencermati gadis itu setengah sadar
. Gue selami bola matanya. Lalu gue memalingkan muka setelah gue sesak napas tenggelam di palung khayal. Gue kembali menatap laptop gue yang berdebu. 
Menghilangkan nervous, gue mencoba membersihkan layar laptop gue yang berdebu dengan lengan panjang sweater gue.
"Kontennya apa aja nih, Mam?" Sapa gue biar ada alasan buat melirik wajahnya.

"Eh elu, kenalan dulu! Nggak sopan!" Timpal Uje, menepis tangan gue yang sedari tadi memegang keyboard gemetaran.
Gadis itu pun tersenyum. Mungkin dia sadar gue nervous. Ah mungkin ini cowok jarang ngelihat cewek cakep. Cuma sebisa mungkin gue nggak memperlihatkannya. Mungkin hanya dengan kepedean sambil bertatap mata, gue bisa membuat nervous gue seolah menghilang.
Sembari menelan air ludah yang menggumpal di mulut, gue kembali melirik wajahnya dan menjulurkan tangan.
"Samudera Mabagas."
"Karina Dwiyanti."

Gadis itu tersenyum. Gue pura-pura kembali mengabaikan.
"Jadi, kontennya apa aja?"
Diubah oleh OblOOOOOOO 20-11-2021 19:18
dannda17 memberi reputasi
2

![.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)](https://s.kaskus.id/images/2019/05/12/2511688_20190512083535.jpg)

Timbullah sebuah ide, cabe rawit yang gue pegang, semuanya gue masukin ke mulutnya, gue kekep pake tangan dan gue tarik hidungnya. Dan gue langsung ngacir

biar lebih banyak bapernya ![.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)](https://s.kaskus.id/images/2018/01/25/2511688_201801250913370673.png)

![.[[SINCE 2013]]. Kimi ga Katta: Having You (Trilogi)](https://s.kaskus.id/images/2019/05/12/2511688_20190512093202.jpg)