- Beranda
- The Lounge
HORROR 40 HARI DI KAMPUNG HALAMAN
...
TS
jalak pengkor
HORROR 40 HARI DI KAMPUNG HALAMAN
Halo Agan dan Aganwati semuanya, semoga semua sehat dan dalam lindungan Tuhan.
Ane mau cerita pengalaman horror yg ane alamin selama 40 hari tinggal di kampung halaman ane.
Beritanya masuk koran dan tipi gan.
Berita di koran PR
Di Indosiar
UPDATE
BAGIAN DUA
BAGIAN TIGA
BAGIAN EMPAT
BAGIAN LIMA
Ane mau cerita pengalaman horror yg ane alamin selama 40 hari tinggal di kampung halaman ane.
Quote:
Waktu itu ane lagi liburan di kampung halaman ane di desa CKY, CCLK kab. Bandung. Desa CKY ini terkenal di kalangan paraktisi beladiri Silat dan Maenpo sunda sebagai kampong Jawara, dikarenakan banyak menghasilkan Jawara Silat dan Maenpo (pada jaman dulu), sehingga desa ini relatif aman.
Salah satu Jawara Silat terakhir yg wafat di desa tersebut tiada lain adalah almarhum Paman ane yg sudah berusia lanjut. Dan semenjak wafatnya beliau, desa tersebut jadi tidak aman, jadi banyak alay-alay, pemuda-pemudi yang mabuk-mabukkan, tawuran, judi togel, sampai gerombolan geng motor.
Tapi cerita ane bukan terjadi pada masa Paman ande sudah wafat, melainkan saat beliau masih hidup.
Awal kisahnya waktu itu tanggal 22 Januari 2010, hari jumat. Ane baru pulang jalan-jalan dari BIP di Bandung. Pas sampai di jalanan depan gang rumah Paman ane, ane melihat banyak mobil polisi dan warga berkerumun. Ane kira ada acara pawai Silat atau ada acara kondangan, makanya ane cuek langsung ke rumah.
Pas di rumah, Tante ane cerita kalo ada saudara jauh yg baru saja wafat dibunuh ketika Shalat jumat sedang berlangsung. Terus terang, gw ga kenal sama korban yg merupakan saudara jauh (ibunya korban adalah sepupunya nenek gw). Kejadiannya berlangsung dirumah korban, ketika para warga prianya sedang melaksanakan Shalat Jumat.
Motifnya karena masalah hutang piutang, jadi si tersangka yg seorang warga pendatang yg juga mantan atlit Karate. Jadi almarhum tante gw itu dibunuh karena menolak meminjamkan hutang, karena hutang yg sebelumnya belum dibayar dan sudah terlanjur menumpuk. Karena emosi, korban dibunuh.
Esoknya, almarhum dimakamkan di makam keluarga yg lokasinya di tepat sebelah rumah Paman gw. Celakanya, setelah selesai dimakamkan, para pengantar jenazah meninggalkan tikar bekas menutup jenazah, dan di tikar itu masih ada sisa percikan darah.
Menjelang maghrib, orang2 pada mulai masuk ke rumah, asli sepi banget. Di tambah hujan rintik-rintik plus mati lampu sampai jam 11 malam.
Kamar tidur ane tepat disamping makam, bayangin aja gimana horornya. Malam itu ane tidur bertiga sama 2 orang sepupu ane. Sekitar jam 3 shubuh, sepupu ane minta ditemenin ke toilet utk BAB. Masalahnya toiletnya bukan di dalam rumah, tapi di luar rumah yakni di pekarangan, otomatis ane harus keluar rumah menuju pekarangan.
Karena sepupu ane ketakutan, sambil BAB pintu di toilet ga ditutup, dan ane ngisep rokok di depan pintu toilet sambil celingukan kanan-kiri.
Pas sudah selesai BAB, sepupu ane ngerasa ada yg manggil-manggil minta tolong. Ane juga denger suara itu, tapi Cuma samar-samar. Karena ane berdua udah ketakutan, langsung ngibrit ke dalam rumah dan langsung ke kamar, celakanya suara itu malah makin terdengar jelas di kamar. Akhirnya kami pindah tidur ke ruang keluarga.
Besoknya, ibu-ibu di warung pada ngobrolin tentang suara “minta tolong” itu. Ane kira Cuma ane yg denger, ternyata tetangga yang lain banyak juga yg dengar.
BERSAMBUNG KE BAGIAN 2
Salah satu Jawara Silat terakhir yg wafat di desa tersebut tiada lain adalah almarhum Paman ane yg sudah berusia lanjut. Dan semenjak wafatnya beliau, desa tersebut jadi tidak aman, jadi banyak alay-alay, pemuda-pemudi yang mabuk-mabukkan, tawuran, judi togel, sampai gerombolan geng motor.

Tapi cerita ane bukan terjadi pada masa Paman ande sudah wafat, melainkan saat beliau masih hidup.
Awal kisahnya waktu itu tanggal 22 Januari 2010, hari jumat. Ane baru pulang jalan-jalan dari BIP di Bandung. Pas sampai di jalanan depan gang rumah Paman ane, ane melihat banyak mobil polisi dan warga berkerumun. Ane kira ada acara pawai Silat atau ada acara kondangan, makanya ane cuek langsung ke rumah.
Pas di rumah, Tante ane cerita kalo ada saudara jauh yg baru saja wafat dibunuh ketika Shalat jumat sedang berlangsung. Terus terang, gw ga kenal sama korban yg merupakan saudara jauh (ibunya korban adalah sepupunya nenek gw). Kejadiannya berlangsung dirumah korban, ketika para warga prianya sedang melaksanakan Shalat Jumat.
Motifnya karena masalah hutang piutang, jadi si tersangka yg seorang warga pendatang yg juga mantan atlit Karate. Jadi almarhum tante gw itu dibunuh karena menolak meminjamkan hutang, karena hutang yg sebelumnya belum dibayar dan sudah terlanjur menumpuk. Karena emosi, korban dibunuh.
Esoknya, almarhum dimakamkan di makam keluarga yg lokasinya di tepat sebelah rumah Paman gw. Celakanya, setelah selesai dimakamkan, para pengantar jenazah meninggalkan tikar bekas menutup jenazah, dan di tikar itu masih ada sisa percikan darah.
Menjelang maghrib, orang2 pada mulai masuk ke rumah, asli sepi banget. Di tambah hujan rintik-rintik plus mati lampu sampai jam 11 malam.
Kamar tidur ane tepat disamping makam, bayangin aja gimana horornya. Malam itu ane tidur bertiga sama 2 orang sepupu ane. Sekitar jam 3 shubuh, sepupu ane minta ditemenin ke toilet utk BAB. Masalahnya toiletnya bukan di dalam rumah, tapi di luar rumah yakni di pekarangan, otomatis ane harus keluar rumah menuju pekarangan.
Karena sepupu ane ketakutan, sambil BAB pintu di toilet ga ditutup, dan ane ngisep rokok di depan pintu toilet sambil celingukan kanan-kiri.
Pas sudah selesai BAB, sepupu ane ngerasa ada yg manggil-manggil minta tolong. Ane juga denger suara itu, tapi Cuma samar-samar. Karena ane berdua udah ketakutan, langsung ngibrit ke dalam rumah dan langsung ke kamar, celakanya suara itu malah makin terdengar jelas di kamar. Akhirnya kami pindah tidur ke ruang keluarga.
Besoknya, ibu-ibu di warung pada ngobrolin tentang suara “minta tolong” itu. Ane kira Cuma ane yg denger, ternyata tetangga yang lain banyak juga yg dengar.
BERSAMBUNG KE BAGIAN 2
Beritanya masuk koran dan tipi gan.
Berita di koran PR
Di Indosiar
UPDATE
BAGIAN DUA
BAGIAN TIGA
BAGIAN EMPAT
BAGIAN LIMA
Diubah oleh jalak pengkor 13-09-2013 12:43
0
143K
Kutip
1.3K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jalak pengkor
#630
Quote:
Back TO THE TOPIC. Pengalaman ini murni gw alamin sendiri beserta kawan gw yg bernama Balki, Enjang dan Dikdik. Waktu itu masih gw ingat malam minggu, gw ama teman2 gw abis pulang latihan maenpo bareng anak-anak tarung drajat di GOR cicalengka. Jarak dari Gor sampai cikuya Cuma 500 meter (kurang lebih).
Nah temen gw yang namanya dikdik emang rada sompral (sombong) orangnya dalam arti tertentu, bukan sombong sok kaya, sok ganteng dsbnya, tapi sok berani, suka nantang2 yg seharusnya ga boleh dia tantang. Badannya dia emang jangkung besar, dgn tinggi 186 cm dan postur tubuh yg jadi (karena doski sering ke gym).
dia juga sering keluar masuk hotel prodeo setempat karena sering berkelahi dgn preman-preman pasar atau dgn penduduk kampong sekitar karena masalah sepele. Malah pernah ribut sama balki gara-gara rokok sebatang.
Nah, ceritanya abis pulang latihan jam 10 malam, kami nongkrong dulu di warkop dekat stasiun kereta, masing2 dari kami membicarakan soal kejadian2 aneh pasca pembunuhan tersebut, nah si dikdik ini rada songong, “ku aing jejek beungeutna lamun eta jurig bijil (bakalan gw injak muka itu setan kalo dia muncul”, begitu kata dia.
Kami nasehatin dia jgn sok sompral, kalo kejadian repot urusannya. Makin malam udara makin dingin, dan kami memutuskan pulang lewat sabah dan melalui depan rumah korban.
Yg bikin ane jengkel, pas did pan rumah korban, si dikdik ngomong “sok atuh lawan aing lamun didinya wani mah (ayo lawan gw kalo lo (si jurig) berani)”, “sst, eling dik, tong sompral (sadar dik, jgn sombong)” kata balki, si dikdik malah ngejawab “ah maneh mah borangan, piraku ku jurig sieun (kamu penakut, masa sama setan takut)”.
Pas kami mau melanjutkan perjalanan, belum sampai beberapa langkah, si balki berhenti mendakak, dari raut mukanya ketakutan, saya bertanya ke dia “kunaon bal? (kenapa bal?”, “ji, tingali eta nu di luhureun pohon naon? (ji lihat apa itu yg diatas pohon)”
sontak kami berempat melihat keatas pohon yg ditunjuk balki, kami semua langsung spontan lari termasuk dikdik yg ketinggalan di belakang. Jalan setapak disitu banyak yg bercabang, jadi kami berlari mengikuti orang terdepan, yakni balki. Saat sampai di pertigaan gang, balki belok kanan duluan dan kami ikuti. Sebelum kami sempat belok, si balki udah balik lagi “tong liwat ditu, jurigna bijil deui (jgn lewat situ, jurignya muncul disitu)”. Otomatis kami banting setir putar arah ngikutin balki. Si dikdik saking paniknya sampe lari sambil megang celana training si Enjang karena takut ditinggalin sampai kedodoran dan jatuh berdua.
Habis itu kami berhenti di dekat langgar (mushola), dengan harapan si jurig ga ngikutin karena takut sama tempat ibadah. Belum sempat kami istirahat terdengar suara cekikikan, kami pun spontan celingukan.
Tahu-tahunya si dikdik lari duluan setelah dia melihat ada sosok perempuan berwajah pucat di belakang saya. Saya pun juga ikut lari melwati gang-gang lainnya. Kami terus berlari samapi bertemu dgn Mang Iwan dan Mang Utay yg lagi ngeronda.
“kenapa pada lari-larian tengah malam? Kaya yg habis ketemu setan aja?”, Tanya mang utay.
si dikdik langsung ngomong “tadi ketemu jurig kang, di kejar-kejar”, mang utay ga percaya “jgn becanda, udah pada pulang sana, mamang mau ngeronda lagi”
Habis itu mang utay dan mang iwan pergi, dan kami baru menyadari kalo Enjang ga bersama kami, kami jadi khawatir, Cuma mau balik lagi juga takut. Akhirnya kami memutuskan ke rumah Enjang, siapa tahu dia udah sampe rumah.
Kami jalan sambil pegangan tangan masing-masing sambil lihat kanan-kiri depan-belakang. Tiap ada gang kami berhenti dulu utk mengintip sambil baca doa. Jika dirasa aman kami lewat jalan itu, jika terasa meragukan kami lewat jalan lain.
Akhirnya kami sampai di rumah enjang, dan mengetuk pintu rumah enjang, si enjang udah ada didalam lagi minum air putih. Terus kami cerita kejadian yg baru kami alamin pada orangtua Enjang, malam itu kami menginap dirumah enjang.
Nah temen gw yang namanya dikdik emang rada sompral (sombong) orangnya dalam arti tertentu, bukan sombong sok kaya, sok ganteng dsbnya, tapi sok berani, suka nantang2 yg seharusnya ga boleh dia tantang. Badannya dia emang jangkung besar, dgn tinggi 186 cm dan postur tubuh yg jadi (karena doski sering ke gym).
dia juga sering keluar masuk hotel prodeo setempat karena sering berkelahi dgn preman-preman pasar atau dgn penduduk kampong sekitar karena masalah sepele. Malah pernah ribut sama balki gara-gara rokok sebatang.
Nah, ceritanya abis pulang latihan jam 10 malam, kami nongkrong dulu di warkop dekat stasiun kereta, masing2 dari kami membicarakan soal kejadian2 aneh pasca pembunuhan tersebut, nah si dikdik ini rada songong, “ku aing jejek beungeutna lamun eta jurig bijil (bakalan gw injak muka itu setan kalo dia muncul”, begitu kata dia.
Kami nasehatin dia jgn sok sompral, kalo kejadian repot urusannya. Makin malam udara makin dingin, dan kami memutuskan pulang lewat sabah dan melalui depan rumah korban.
Yg bikin ane jengkel, pas did pan rumah korban, si dikdik ngomong “sok atuh lawan aing lamun didinya wani mah (ayo lawan gw kalo lo (si jurig) berani)”, “sst, eling dik, tong sompral (sadar dik, jgn sombong)” kata balki, si dikdik malah ngejawab “ah maneh mah borangan, piraku ku jurig sieun (kamu penakut, masa sama setan takut)”.
Pas kami mau melanjutkan perjalanan, belum sampai beberapa langkah, si balki berhenti mendakak, dari raut mukanya ketakutan, saya bertanya ke dia “kunaon bal? (kenapa bal?”, “ji, tingali eta nu di luhureun pohon naon? (ji lihat apa itu yg diatas pohon)”
sontak kami berempat melihat keatas pohon yg ditunjuk balki, kami semua langsung spontan lari termasuk dikdik yg ketinggalan di belakang. Jalan setapak disitu banyak yg bercabang, jadi kami berlari mengikuti orang terdepan, yakni balki. Saat sampai di pertigaan gang, balki belok kanan duluan dan kami ikuti. Sebelum kami sempat belok, si balki udah balik lagi “tong liwat ditu, jurigna bijil deui (jgn lewat situ, jurignya muncul disitu)”. Otomatis kami banting setir putar arah ngikutin balki. Si dikdik saking paniknya sampe lari sambil megang celana training si Enjang karena takut ditinggalin sampai kedodoran dan jatuh berdua.
Habis itu kami berhenti di dekat langgar (mushola), dengan harapan si jurig ga ngikutin karena takut sama tempat ibadah. Belum sempat kami istirahat terdengar suara cekikikan, kami pun spontan celingukan.
Tahu-tahunya si dikdik lari duluan setelah dia melihat ada sosok perempuan berwajah pucat di belakang saya. Saya pun juga ikut lari melwati gang-gang lainnya. Kami terus berlari samapi bertemu dgn Mang Iwan dan Mang Utay yg lagi ngeronda.
“kenapa pada lari-larian tengah malam? Kaya yg habis ketemu setan aja?”, Tanya mang utay.
si dikdik langsung ngomong “tadi ketemu jurig kang, di kejar-kejar”, mang utay ga percaya “jgn becanda, udah pada pulang sana, mamang mau ngeronda lagi”
Habis itu mang utay dan mang iwan pergi, dan kami baru menyadari kalo Enjang ga bersama kami, kami jadi khawatir, Cuma mau balik lagi juga takut. Akhirnya kami memutuskan ke rumah Enjang, siapa tahu dia udah sampe rumah.
Kami jalan sambil pegangan tangan masing-masing sambil lihat kanan-kiri depan-belakang. Tiap ada gang kami berhenti dulu utk mengintip sambil baca doa. Jika dirasa aman kami lewat jalan itu, jika terasa meragukan kami lewat jalan lain.
Akhirnya kami sampai di rumah enjang, dan mengetuk pintu rumah enjang, si enjang udah ada didalam lagi minum air putih. Terus kami cerita kejadian yg baru kami alamin pada orangtua Enjang, malam itu kami menginap dirumah enjang.
0
Kutip
Balas