- Beranda
- Supranatural
Abad Akhir Ramalan Jayabaya ! Munculnya satrio piningit !
...
TS
IIyafimovichII
Abad Akhir Ramalan Jayabaya ! Munculnya satrio piningit !
hmmmm ... sori2 gan klo ane 
maklum , seorang newbie yang mencoba buat thread yang bermutu !!
ane ga minta yang ijo2 . .. cukup yang penting kita sama2 share aja !
dan memahami apa yang ada !
okeh ga usah basa basi lagi .
ini dia jreng.... jreng .....
Prabu Jayabaya adalah Raja Kerajaan Kediri yang terkenal sakti dan berilmu tinggi, konon beliau adalah titisan Betara Wishnu, sang Pencipta Kesejahteraan di Dunia, yang akan menitis selama tiga kali. Beliau memerintah Kerajaan Kediri pada sekitar tahun 400-an Masehi. Beliau mampu meramalkan berbagai kejadian yang akan datang yang ditulis oleh beliau dalam bentuk tembang-tembang Jawa yang terdiri atas 21 pupuh berirama Asmaradana, 29 pupuh berirama Sinom, dan 8 pupuh berirama Dhandanggulo. Kitab ini dikenal dengan nama Kitab Musarar.
Ramalan Jayabaya dibagi dalam 3 zaman yang masing-masing berlangsung selama 700 tahun, yaitu Zaman Permulaan (Kali-swara), Zaman Pertengahan (Kali-yoga) dan Zaman Akhir (Kali-sangara).
Yang menarik dari ramalan Jayabaya adalah ramalan Zaman Akhir (Kali-sangara) dari tahun Masehi 1401 sampai dengan tahun 2100, karena kita dapat membuktikannya dengan catatan sejarah Indonesia /Jawa dalam periode tersebut.
Ramalan Jayabaya dalam periode Akhir tersebut cukup akurat dalam meramalkan bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan Jawa (Indonesia), naik-turunnya para Raja-raja dan Ratu-ratunya atau Pemimpinnya, yang terbagi dalam tiap seratus tahun sejarah, yaitu Kala-jangga (1401-1500 Masehi), Kala-sakti (1501-1600 M), Kala-jaya (1601-1700 M), Kala-bendu (1701-1800 M), Kala-suba (1801-1900 M), Kala-sumbaga (1901-2000), dan Kala-surasa (2001-2100 M).
Munculnya Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Indonesia, Pendiri Republik Indonesia dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000) diramalkan secara cukup akurat. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang memakai kopiah warna hitam (kethu bengi), sudah tidak memiliki ayah (yatim) dan bergelar serba mulia (Pemimpin Besar Revolusi). Sang Raja kebal terhadap berbagai senjata (selalu lolos dari percobaan pembunuhan), namun memiliki kelemahan mudah dirayu wanita cantik, dan tidak berdaya terhadap anak-anak kecil yang mengelilingi rumah beliau (mundurnya beliau karena demo para pelajar dan mahasiswa). Sang Raja sering mengumpat orang asing sebagai lambang bahwa beliau sangat anti Imperialisme. Dalam tembang Jawa berbunyi: Ratu digdaya ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda, nanging apese mungsuh setan thuyul ambergandhus, bocah cilik-cilik pating pendhelik ngrubungi omah surak-surak kaya nggugah pitik ratu atine cilik angundamana bala seberang sing doyan asu.
Bung Karno bergelar Panglima Tertinggi ABRI, siapa yang menentangnya bisa celaka, menyerang tanpa pasukan, sakti tanpa pusaka, dan menang perang tanpa merendahkan lawannya, kaya tanpa harta, benderanya merah-putih. Beliau meninggal dalam genggaman manusia. Dalam tembang Jawa berbunyi: sing wani bakal wirang, yen nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji apa-apa, lamun menang tanpa ngasorake liyan, sugih tan abebandhu, umbulane warna jenang gula klapa. Patine marga lemes.
Naik-turunnya Preside RI ke-2 Suharto juga secara jelas diramalkan oleh Prabu Jayabaya pada Bagian Akhir tembang Jawa butir 11 sampai 16 sebagai berikut: Ana jalmo ngaku-aku dadi ratu duwe bala lan prajurit negara ambane saprowulan panganggone godhong pring anom atenger kartikapaksi nyekeli gegaman uleg wesi pandhereke padha nyangklong once gineret kreta tanpa turangga nanging kaobah asilake swara gumerenggeng pindha tawon nung sing nglanglang Gatotkaca kembar sewu sungsum iwak lodan munggah ing dharatan. Tutupe warsa Jawa lu nga lu (wolu / telu sanga wolu / telu) warsa srani nga nem nem (sanga nenem nenem) alangan tutup kwali lumuten kinepung lumut seganten.
Beliau muncul sebagai Pemimpin yang didukung oleh Angkatan Bersenjata RI (darat, udara dan laut), berlambang Kartikapaksi, memakai topi baja hijau (tutup kwali lumuten) pada tahun 1966. Zaman pemerintahan Presiden Suharto (Orde Baru) berlangsung selama 30 tahun, dan menurut Jayabaya ada tiga raja yang menguasai tanah Jawa /Indonesia saat itu sebagai lambang kekuasaan dari tiga kekuatan politik: Golkar-Parpol-ABRI. Ketiga kekuatan itu menghilang saat Pak Harto mundur, karena saling berselisih. Setelah itu tidak ada lagi raja yang disegani, dan para Bupat Manca Negara (luar Jawa) berdiri sendiri-sendiri (otonom).
Setelah lenyapnya kekuasaan tiga raja tersebut diatas, Jayabaya meramalkan datangnya seorang Pemimpin baru dari negeri seberang, yaitu dari Nusa Srenggi (Sulawesi), ialah Presiden BJ Habibie.
Ramalan Jayabaya bagi Indonesia setelah tahun 2001 Indonesia akan menjadi sebuah negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera sebagai akhir dari Ramalan Jayabaya (Kala-surasa, 2001-2100 M), zaman yang tidak menentu (Kalabendu) berganti dengan zaman yang penuh kemuliaan, sehingga seluruh dunia menaruh hormat. Akan muncul seorang Satriya Piningit sebagai Pemimpin baru Indonesia dengan ciri-ciri sudah tidak punya ayah-ibu, namun telah lulus Weda Jawa, bersenjatakan Trisula yang ketiga ujungnya sangat tajam, sbb:
Mula den upadinem sinatriya iku wus tan abapa, abibi, lola, wus pupus weda Jawa mung angendelake trisula, landepe trisula sing pucuk gegawe pati utawa untang nyawa, sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda.
Ramalan selanjutnya adalah:
Inilah jalan bagi yang selalu ingat dan waspada! Agar pada zaman tidak menentu bisa selamat dari bahaya atau jaya-baya, maka jangan sampai keliru dalam memilih pemimpin. Carilah sosok Pemimpin yang bersenjatakan Trisula Weda pemberian dewa. Bila menyerang tanpa pasukan, kalau menang tidak menghina yang lain. Rakyat bersukaria karena keadilan Tuhan telah tiba. Rajanya menyembah rakyat yang bersenjata Trisula Weda; para pendetapun menghargainya. Itulah asuhannya Sabdopalon yang selama ini menanggung rasa malu tetapi akhirnya termasyhur- karena segalanya tampak terang benderang. Tidak ada lagi yang mengeluh kekurangan; itulah pertanda bahwa zaman tidak menentu telah usai berganti zaman penuh kemuliaan, sehingga seluruh dunia pun menaruh hormat.
Di zaman modern abad ke-21 saat ini dengan berbagai persenjataan modern dan alat tempur yang canggih, mulai dari senjata nuklir, roket, peluru kendali, dan lain-lainnya, maka senjata Trisula Weda mungkin bukanlah senjata dalam arti harafiah, tetapi adalah senjata dalam arti kiasan, tiga kekuatan yang mebuat seorang Pemimpin disegani segenap Rakyatnya. Bisa saja itu adalah tiga sifat-sifat sang Pemimpin, seperti: Benar, Lurus, Jujur (bener, jejeg, jujur) seperti yang diungkapkan dalam tembang-tembang Ramalan Jayabaya.
Demikian pula tentang sosok sang Pemimpin yang digambarkan sebagai Satriya Piningit, bukanlah seseorang yang tiba-tiba muncul, tetapi Ia adalah seorang Pemimpin Indonesia yang sifatnya tidak mau menonjolkan diri, tetapi Ia bekerja tanpa pamrih, menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan bangsa dan negara. Sudah ada langkah-langkahnya yang nyata yang dapat ditelusuri dalam kehidupannya sehari-hari.
Mungkinkah Sang Satria Piningit ini muncul dalam waktu dekat untuk mengantarkan Indonesia kepada Cita-cita para Pendiri Bangsa sebagaimana tercantum dalam Mukadimah UUD 1945, yaitu negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera bagi segenap Rakyat Indonesia.
Siapakah gerangan sang Satriya Piningit ini? Silahkan ditanggapi.
maju trus
aku akan selalu mendukung mu dan selalu mencintai mu !!
(indonesia akan jaya pada pemimpinya yang ke -7 !! )
dah siapakah dia ???

maklum , seorang newbie yang mencoba buat thread yang bermutu !!
ane ga minta yang ijo2 . .. cukup yang penting kita sama2 share aja !
dan memahami apa yang ada !
okeh ga usah basa basi lagi .
ini dia jreng.... jreng .....
Prabu Jayabaya adalah Raja Kerajaan Kediri yang terkenal sakti dan berilmu tinggi, konon beliau adalah titisan Betara Wishnu, sang Pencipta Kesejahteraan di Dunia, yang akan menitis selama tiga kali. Beliau memerintah Kerajaan Kediri pada sekitar tahun 400-an Masehi. Beliau mampu meramalkan berbagai kejadian yang akan datang yang ditulis oleh beliau dalam bentuk tembang-tembang Jawa yang terdiri atas 21 pupuh berirama Asmaradana, 29 pupuh berirama Sinom, dan 8 pupuh berirama Dhandanggulo. Kitab ini dikenal dengan nama Kitab Musarar.
Ramalan Jayabaya dibagi dalam 3 zaman yang masing-masing berlangsung selama 700 tahun, yaitu Zaman Permulaan (Kali-swara), Zaman Pertengahan (Kali-yoga) dan Zaman Akhir (Kali-sangara).
Yang menarik dari ramalan Jayabaya adalah ramalan Zaman Akhir (Kali-sangara) dari tahun Masehi 1401 sampai dengan tahun 2100, karena kita dapat membuktikannya dengan catatan sejarah Indonesia /Jawa dalam periode tersebut.
Ramalan Jayabaya dalam periode Akhir tersebut cukup akurat dalam meramalkan bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan Jawa (Indonesia), naik-turunnya para Raja-raja dan Ratu-ratunya atau Pemimpinnya, yang terbagi dalam tiap seratus tahun sejarah, yaitu Kala-jangga (1401-1500 Masehi), Kala-sakti (1501-1600 M), Kala-jaya (1601-1700 M), Kala-bendu (1701-1800 M), Kala-suba (1801-1900 M), Kala-sumbaga (1901-2000), dan Kala-surasa (2001-2100 M).
Munculnya Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Indonesia, Pendiri Republik Indonesia dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000) diramalkan secara cukup akurat. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang memakai kopiah warna hitam (kethu bengi), sudah tidak memiliki ayah (yatim) dan bergelar serba mulia (Pemimpin Besar Revolusi). Sang Raja kebal terhadap berbagai senjata (selalu lolos dari percobaan pembunuhan), namun memiliki kelemahan mudah dirayu wanita cantik, dan tidak berdaya terhadap anak-anak kecil yang mengelilingi rumah beliau (mundurnya beliau karena demo para pelajar dan mahasiswa). Sang Raja sering mengumpat orang asing sebagai lambang bahwa beliau sangat anti Imperialisme. Dalam tembang Jawa berbunyi: Ratu digdaya ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda, nanging apese mungsuh setan thuyul ambergandhus, bocah cilik-cilik pating pendhelik ngrubungi omah surak-surak kaya nggugah pitik ratu atine cilik angundamana bala seberang sing doyan asu.
Bung Karno bergelar Panglima Tertinggi ABRI, siapa yang menentangnya bisa celaka, menyerang tanpa pasukan, sakti tanpa pusaka, dan menang perang tanpa merendahkan lawannya, kaya tanpa harta, benderanya merah-putih. Beliau meninggal dalam genggaman manusia. Dalam tembang Jawa berbunyi: sing wani bakal wirang, yen nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji apa-apa, lamun menang tanpa ngasorake liyan, sugih tan abebandhu, umbulane warna jenang gula klapa. Patine marga lemes.
Naik-turunnya Preside RI ke-2 Suharto juga secara jelas diramalkan oleh Prabu Jayabaya pada Bagian Akhir tembang Jawa butir 11 sampai 16 sebagai berikut: Ana jalmo ngaku-aku dadi ratu duwe bala lan prajurit negara ambane saprowulan panganggone godhong pring anom atenger kartikapaksi nyekeli gegaman uleg wesi pandhereke padha nyangklong once gineret kreta tanpa turangga nanging kaobah asilake swara gumerenggeng pindha tawon nung sing nglanglang Gatotkaca kembar sewu sungsum iwak lodan munggah ing dharatan. Tutupe warsa Jawa lu nga lu (wolu / telu sanga wolu / telu) warsa srani nga nem nem (sanga nenem nenem) alangan tutup kwali lumuten kinepung lumut seganten.
Beliau muncul sebagai Pemimpin yang didukung oleh Angkatan Bersenjata RI (darat, udara dan laut), berlambang Kartikapaksi, memakai topi baja hijau (tutup kwali lumuten) pada tahun 1966. Zaman pemerintahan Presiden Suharto (Orde Baru) berlangsung selama 30 tahun, dan menurut Jayabaya ada tiga raja yang menguasai tanah Jawa /Indonesia saat itu sebagai lambang kekuasaan dari tiga kekuatan politik: Golkar-Parpol-ABRI. Ketiga kekuatan itu menghilang saat Pak Harto mundur, karena saling berselisih. Setelah itu tidak ada lagi raja yang disegani, dan para Bupat Manca Negara (luar Jawa) berdiri sendiri-sendiri (otonom).
Setelah lenyapnya kekuasaan tiga raja tersebut diatas, Jayabaya meramalkan datangnya seorang Pemimpin baru dari negeri seberang, yaitu dari Nusa Srenggi (Sulawesi), ialah Presiden BJ Habibie.
Ramalan Jayabaya bagi Indonesia setelah tahun 2001 Indonesia akan menjadi sebuah negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera sebagai akhir dari Ramalan Jayabaya (Kala-surasa, 2001-2100 M), zaman yang tidak menentu (Kalabendu) berganti dengan zaman yang penuh kemuliaan, sehingga seluruh dunia menaruh hormat. Akan muncul seorang Satriya Piningit sebagai Pemimpin baru Indonesia dengan ciri-ciri sudah tidak punya ayah-ibu, namun telah lulus Weda Jawa, bersenjatakan Trisula yang ketiga ujungnya sangat tajam, sbb:
Mula den upadinem sinatriya iku wus tan abapa, abibi, lola, wus pupus weda Jawa mung angendelake trisula, landepe trisula sing pucuk gegawe pati utawa untang nyawa, sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda.
Ramalan selanjutnya adalah:
Inilah jalan bagi yang selalu ingat dan waspada! Agar pada zaman tidak menentu bisa selamat dari bahaya atau jaya-baya, maka jangan sampai keliru dalam memilih pemimpin. Carilah sosok Pemimpin yang bersenjatakan Trisula Weda pemberian dewa. Bila menyerang tanpa pasukan, kalau menang tidak menghina yang lain. Rakyat bersukaria karena keadilan Tuhan telah tiba. Rajanya menyembah rakyat yang bersenjata Trisula Weda; para pendetapun menghargainya. Itulah asuhannya Sabdopalon yang selama ini menanggung rasa malu tetapi akhirnya termasyhur- karena segalanya tampak terang benderang. Tidak ada lagi yang mengeluh kekurangan; itulah pertanda bahwa zaman tidak menentu telah usai berganti zaman penuh kemuliaan, sehingga seluruh dunia pun menaruh hormat.
Di zaman modern abad ke-21 saat ini dengan berbagai persenjataan modern dan alat tempur yang canggih, mulai dari senjata nuklir, roket, peluru kendali, dan lain-lainnya, maka senjata Trisula Weda mungkin bukanlah senjata dalam arti harafiah, tetapi adalah senjata dalam arti kiasan, tiga kekuatan yang mebuat seorang Pemimpin disegani segenap Rakyatnya. Bisa saja itu adalah tiga sifat-sifat sang Pemimpin, seperti: Benar, Lurus, Jujur (bener, jejeg, jujur) seperti yang diungkapkan dalam tembang-tembang Ramalan Jayabaya.
Demikian pula tentang sosok sang Pemimpin yang digambarkan sebagai Satriya Piningit, bukanlah seseorang yang tiba-tiba muncul, tetapi Ia adalah seorang Pemimpin Indonesia yang sifatnya tidak mau menonjolkan diri, tetapi Ia bekerja tanpa pamrih, menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan bangsa dan negara. Sudah ada langkah-langkahnya yang nyata yang dapat ditelusuri dalam kehidupannya sehari-hari.
Mungkinkah Sang Satria Piningit ini muncul dalam waktu dekat untuk mengantarkan Indonesia kepada Cita-cita para Pendiri Bangsa sebagaimana tercantum dalam Mukadimah UUD 1945, yaitu negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera bagi segenap Rakyat Indonesia.
Siapakah gerangan sang Satriya Piningit ini? Silahkan ditanggapi.
maju trus

aku akan selalu mendukung mu dan selalu mencintai mu !!
(indonesia akan jaya pada pemimpinya yang ke -7 !! )
dah siapakah dia ???
0
340.9K
1.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Supranatural
15.9KThread•14.2KAnggota
Tampilkan semua post
yodhayasa
#1312
Serat Centhini:
Prabu Parikshit Satria Pinandhita sejak lahir sudah membawa talenta dan kemampuan luar biasa dalam hal ilmu agama, kesaktian, joyokawijayan, olah kanuragan (beladiri), kawaskitan lahir batin yg sangat tinggi, arif bijaksana, luhur budi pekertinya (sebagai warisan dari ibunya).
Satria Pinandhita memiliki keahlian dlm bidang tatanegara, politik, hingga kesenian misalnya beksa atau menari, seni tembang jawa, dan pandai pula dalam tataboga.
Sejak masih di dlm kandungan rahim ibu, badan halus/ruhnya, sudah digembleng oleh para leluhur eyang-eyangnya sendiri dari kalangan priyayi dan bangsawan (garis keturunan dari sang ibu) yang dahulu menjadi Natapraja Ratu Gung Binatara.
Dengan materi pelajaran meliputi ilmu kesaktian, kedigjayaan, tatanegara, hukum, politik, ekonomi, kesenian (menari dan tembang), memasak. Materi pelajarannya termasuk di antaranya serat Wulang Reh, Wulang Sunu, sejarah, berbagai macam suluk, kitab Wedhatama, Babad Centini, Pangreh Praja dan masih sekian banyak lagi kitab-kitab Jawa masa lampau hingga lulus semuanya karena terlalu sederhana.
Keluhuran budipekerti Satria Pinandhita diperoleh dari kakeknya Drona yang telah banyak sekali mengajarkan tentang keluhuran budi pekerti dan kebersihan hati sejak masih di dalam kandungan.
Juga dikatakan satria pinandhita itu punya 2 saudara satu pria satu wanita. saya punya dua saudara, kelahirankembali walangsungsang dan rara santang.
Kedua saudara saya tidak tertarik mengurusi kepemerintahan secara mendalam, keduanya ada pekerjaan masing-masing sebagai bisnisman dan kepala keperawatan. sesuai bait dalam serat centhini “yang satu jenius” yang satu lagi “berbakat dalam bidang medis”.
Syair Raja Samagama:
5 lapis praktek religius:
Lapis luar (kulit): Berusaha tak jahat.
Lapis bagian dalam: Berusaha maju.
Lapis lebih dalam: Tantra (tehnik-tehnik terbaik dalam hidup)
Lapis terdalam: Meditasi.
Tanpa lapis: Kosong.
Untuk bisa menciptakan pikiran yang tanpa jeda dari kebaikan, SP masuk ke lapis lebih dalam yaitu berusaha maju. Menjadi “raja yang tak batal wudhu.”
Tapi saat ia naik tahta, ia berada di lapis “Tantra” sebagai satria pinandhita sinisihan wahyu, memimpin negara sekaligus mengajar agama. Dan saat ia sendiri, ia tentu tenggelam dalam lapis meditasi. Tapi ia belum bisa ke lapis terakhir yaitu tanpa lapis, karena ia masih di dunia, jadi masih perlu memakai “isi”.
Ronggowarsito:
- “Nuli sinalinan mulyaning panjenengan Nata ing kono harjaning tanah Jawa ; wus ilang memalaning bumi, amarga sinapih tekaning Ratu Ginaib, wijiling utama den arani Ratu Amisan, karana luwih dama miskin.” (Kemudian diganti (zaman) kemuliaan Sri Raja dan kesejahteraan tanah Jawa ; sudah hilang penyakitnya dunia, karena datangnya Raja yang digaibkan, keturunan golongan mulia, diberi julukan “Raja semua golongan”, karena bermurah hati kepada (golongan) miskin.)
- “Adege tanpa sarat sedawir, ngadam makdum Panjenengan Nata.” (Menjadi pemimpin tanpa perlu lewat pemilu, sebagai Pemimpin Kerohanianlah kedudukan Beliau sebagai Raja.)
- “Kedatone Sonya ruri, tegese sepi tanpa sarana apa-apa ora ana kara-kara.” (Ada satu masa dimana beliau hidup dalam keadaan kurang.)
- “Duk masih kineker dening Pangeran kesampar kesandung akeh wong ketambuhan.” (Saat masih dipingit oleh Buddha, keadaannya masih seperti orang biasa, banyak orang tidak bisa menduga akan menjadi apa.)
- “Karsaning Suksma kinarya buwana balik.” (Kehendak Yang Maha Gaib semuanya dibalikkan. Lemah jadi kuat, biasa jadi sakti, yang orang tak mengira.)
- “Jumeneng Ratu Pinandita, adil paramarta, lumuh mring arta, kasbut “Sultan Herucakra”.” (Menjadi ‘Raja Kerohanian’, adil ramah tamah, tidak mementingkan harta benda, dijuluki “Sultan Herucakra”)
- “Parandene mungsuhe pada rereb sirep kabeh.” (Meskipun begitu musuhnya semuanya agak takut; terhenti semua.)
- “Kang nedya mungsuh kabarubuh.” (Yang hendak memusuhi jatuh.)
- “Tekane sing prau kintir, anake mbok randa kasihan, melas asih mung priyangga.” (Datangnya dengan kapal yang ikut arus (laut), anak janda kasihan pantas dibelaskasihani, hanya sendirian. Ada juga yang menafsirkan arti anak janda kasihan ikut arus adalah si kembar nakula-sadewa, tapi bait-bait yang mendukung mereka kurang banyak dan terlalu kabur, karena itu tetap saja Parikshit yang naik jadi raja.)
Jayabaya:
“selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu) akan ada dewa tampil berbadan manusia berparas seperti Batara Kresna berwatak seperti Baladewa bersenjata trisula wedha tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar hutang nyawa bayar nyawa hutang malu dibayar malu”.
- “Dan ingatlah keharuman air wangi nanti akan bertahan selama 500 tahun dan 4 jaman,” kata Sabdo Palon dulu. Lawang Sapto Ngesthi Aji menunjuk 1978. 4 jaman = 4 x 8 tahun = 32 tahun, jika ditambah 1978 menjadi tahun 2010. “Dan ingatlah kebenaran kata-kata hamba saat Merapi meletus laharnya mengalir ke Yogya“, kata Sabdo Palon dulu. 2010 lalu Merapi meletus dan laharnya ke Yogya, tak ke Magelang sepertibiasanya, karena di Yogyalah berdiam SPnya.
- Muka SP sawomatang, seperti anak-anak, dan mudah menghukum orang. Bertenaga mutiara Trishula Veda di tangan kanannya (sebelum dikeluarkan berwujud senjata). Kemunculannya sebelum tutup 2011 ini.
- Dibantu dua raja lainnya,
Raja Parikshit bertugas menentukan benarsalah, membuat undang-undang, mensweeping masyarakat.
Raja Ashoka bertugas terus memberi tuntunan pada masyarakat dan mengkonsepkan tatadunia baru.
Raja Alexander bertugas menyatukan keberagaman tapi juga meragamkan lagi jika perlu.
- “Perang, bencana, lan sapanunggalane. Kabeh tedak ing negeri iki. Iki kang kinaran Pendhawa Boyong. Tukule Parikesit. Tan busana narendra utawa ksatrian prajurit.” Pandawa Lima (Yudhistira tentang ramalan sp, Bhima tentang agama buddha, Karna tentang tatadunia, Arjuna tentang perang, Nakula Sadewa tentang senjata) sebelumnya sudah banyak bicara disana-sini juga mengasah pikiran, sekarang saat keluarnya Parikshit.
Perlu diketahui bahwa kali ini bukan Kaurava yang menjadi lawan tapi kesalahan, pembodohan, dan kemunafikan itulah musuh Negara Katumaya.
- Di jaman saya, segalanya berubah, misalnya jika dijaman Anda yang banyak orang islam kalo dijaman saya yang banyak orang buddhist, indonesia saat ini meminjam tanah majapahit ini harus dikembalikan, kesalahan-kesalahan orang harus dibayar.
“Asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur sebelah timurnya bengawan berumah seperti Raden Gatotkaca berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda.”
Bait ini menggambarkan dunungane, keberadaan orang yang jadi sp itu besok munculnya ternyata dia berasal dari sebelah timur gunung lawu. Ditimurnya lagi ada sungai. Jadi orang yang jadi sp itu berasal antara gunung lawu dan sungai brantas.
“Banyak orang digigit nyamuk mati, banyak orang digigit semut mati, banyak suara aneh tanpa rupa, pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar tak kelihatan, tak berbentuk yang memimpin adalah putra Batara Indra, bersenjatakan trisula wedha, para asuhannya menjadi perwira perang, jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna tanpa azimat.”
Banyak orang langsung lemas mendengar nama SP disebut, tak mau salah berbuat. Orang sakithati dikritik SP. Pandawa dan Parikshit membuat blog, berbicara dengan memanfaatkan internet. Jin-jin di belakang orang-orang lalu kompak mendukung SP. Kebijakannya benar, bijak, cinta. Yang diasuh bukannya berdamai tapi memang khusus untuk perang. Tiap orang seperti SP, perang tanpa mengajak teman dan tanpa jimat.
“bergelar pangeran perang, kelihatan berpakaian kurang pantas, namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak, yang menyembah arca terlentang cina ingat suhu-suhunya dan mendapat perintah, lalu melompat ketakutan”.
Karena setiap ada masalah selalu terpecahkan, SP lalu dipanggil Pangeran Perang. Pakaiannya biasa saja, tapi bisa mengatasi masalah orang. Umat buddhist lalu pergi ke Cina karena takut menjadi korban penyebaran Agama Buddhi oleh SP.
“putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti menguasai seluruh ajaran (ngelmu) memotong tanah Jawa kedua kali mengerahkan jin dan setan seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda tajamnya tritunggal nan suci benar, lurus, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong.”
SP masih ada keturunan dari Sunan Lawu. Jika dulu pulau jawa dibabat jadi Islam, sekarang dibabat jadi Buddhi. Dengan bantuan wahyu yang turun padanya, ia (Sabdo Palon) mendirikan Katumaya di pulau Jawa. Didampingi istri-istrinya (Naya Genggong).
“tiap bulan Sura sambutlah kumara yang sudah tampak menebus dosa, dihadapkan ke sang Maha Kuasa, masih muda sudah dipanggil orang tua, warisannya Aji Gatotkaca Sejuta”.
Pertamakali dilantik jadi SP adalah pada suro 2010, tepat setelah Merapi meletus. Ia lalu membersihkan diri sehingga ia tak bisa menjadi Buddha, tapi menjadi Jedi, sehingga ia bisa menjadi raja yang baik tanpa harus kehilangan kemampuan seksualnya. Biksu tak bisa jadi raja karena cenderung mengalah, sedang raja yang bukan jedi masih bisa untuk jahat dan semena-mena.
Meski wajahnya seperti anak-anak tapi ia juga dipanggil “orangtua”. Sifatnya murahhati karena suka berbagi ilmu.
Sejak itu, setiap suro ia selalu kemasukan energy Force yang besar sehingga setiap suro ia selalu diberi upeti wanita oleh rakyat Katumaya. Dihadapkan dan ditunjukkan tubuhnya seperti apa.
“ludahnya ludah api sabdanya sakti (terbukti) yang membantah pasti mati baik orang tua muda termasuk bayi, orang yang tidak berdaya, minta apa saja pasti terpenuhi, penjadian sabdanya cepat, beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya, tidak mau dihormati orang setanah Jawa tetapi hanya memilih beberapa saja.”
Ucapan SP jika dipercaya yang mempercayainya akan untung sekali, sedang yang meragukannya habis, kadang-kadang sampai satu keluarga. Anakbuahnya cuma sebagian orang jawa saja, lebihbanyak orang dari luar.
“oleh sebab itu carilah satria itu yatim piatu, tak berpaman dan bibi, sudah lulus weda Jawa, hanya berpedoman trisula, ujung trisulanya sangat tajam membawa maut atau utang nyawa, yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan”.
SP punya kebijakan trisula veda dengan memanfaatkan info yang terdapat pada senjata trishula veda. Dalam keadaan damai yang keluar kebijakannnya, dalam keadaan perang yang keluar senjatanya. Dan itu tanda bahwa dia putera batara indera, bahwa dia pemimpin tunggal/raja dunia dan mahluk halus.
Siluman seluruh mahluk halus sangat takut dengan pusaka tsb, seandainya sedikit saja tersentuh ujungnya trisula Weda yang paling tengah maka mereka akan musnah. Disetiap ujung trisula weda itu masing-masing merupakan penjelmaan dari dewa.
“pantang bila diberi, hati mati dapat terkena kutukan, senang menggoda dan minta secara nista.”
Solusinya segala pemberian harus berupa upeti. Minta secara nista ini bukan pura-pura, karena itulah saya tak tulis bait lengkapnya agar hal ini diperhatikan.
“Jangan heran, jangan bingung itulah putranya Batara Indra yang sulung dan masih kuasa mengusir setan, ada manusia yang bisa bertemu tapi ada manusia yang belum saatnya, jangan iri dan kecewa itu bukan waktu anda.”
Prabu Parikshit disebut putra dewa Indra yang paling sulung, karena anak yang paling lama dilatih dari kelahiran demi kelahirannya.
Cepat lambatnya Satria Pinandhita muncul ditengah-tengah masyarakat tergantung cepat-lambatnya terjemahan jangka-jangka pujangga tanah jawa diketahui masyarakat. Semakin cepat jangka diketahui semakin cepat pula Satria Pinandhita muncul.
Satria Pinandhita terdapat dalam jangka, nanti bekerja juga pakai jangka. Sistem ramalan dan bekerjanya juga pakai jangka untuk menata kegiatan-kegiatan di Indonesia dan didunia.
Satrio Pinandhita dan Ratu Adil cuma orang biasa saja, cuma saja selama ini orang-orang tak mengerti jika mereka akan jadi Ratu Adil Satria Pinandhita.
Satrio Pinandhita mengakui dirinya Satria Pinandhita cuma saat memakai topeng.
Kejadian seperti ini berlangsung selama beberapa tahun, kemungkinan kurang lebih tiga tahun. Kejadian ini diterangkan dalam jangka pewayangan lampahan “samba sebit”.
Satria Pinandhita disaat memakai topeng hanya membahas jangka tanah jawa. Dalam jangka diceritakan Raden Samba disaat tidak memakai topeng membahas yang sesuai dengan pemikiran masyarakat. Dalam jangka diceritakan ratu yang berbendera klaras (kang selaras). Dalam pewayangan diceritakan Udrayana.
Menyampaikan pidato dengan cara kadang bertopeng kadang tidak bertopeng, dengan cara beda penampilan, dalam jangka diceritakan ratu sakembaran[B].
[B]bersambung....
Prabu Parikshit Satria Pinandhita sejak lahir sudah membawa talenta dan kemampuan luar biasa dalam hal ilmu agama, kesaktian, joyokawijayan, olah kanuragan (beladiri), kawaskitan lahir batin yg sangat tinggi, arif bijaksana, luhur budi pekertinya (sebagai warisan dari ibunya).
Satria Pinandhita memiliki keahlian dlm bidang tatanegara, politik, hingga kesenian misalnya beksa atau menari, seni tembang jawa, dan pandai pula dalam tataboga.
Sejak masih di dlm kandungan rahim ibu, badan halus/ruhnya, sudah digembleng oleh para leluhur eyang-eyangnya sendiri dari kalangan priyayi dan bangsawan (garis keturunan dari sang ibu) yang dahulu menjadi Natapraja Ratu Gung Binatara.
Dengan materi pelajaran meliputi ilmu kesaktian, kedigjayaan, tatanegara, hukum, politik, ekonomi, kesenian (menari dan tembang), memasak. Materi pelajarannya termasuk di antaranya serat Wulang Reh, Wulang Sunu, sejarah, berbagai macam suluk, kitab Wedhatama, Babad Centini, Pangreh Praja dan masih sekian banyak lagi kitab-kitab Jawa masa lampau hingga lulus semuanya karena terlalu sederhana.
Keluhuran budipekerti Satria Pinandhita diperoleh dari kakeknya Drona yang telah banyak sekali mengajarkan tentang keluhuran budi pekerti dan kebersihan hati sejak masih di dalam kandungan.
Juga dikatakan satria pinandhita itu punya 2 saudara satu pria satu wanita. saya punya dua saudara, kelahirankembali walangsungsang dan rara santang.
Kedua saudara saya tidak tertarik mengurusi kepemerintahan secara mendalam, keduanya ada pekerjaan masing-masing sebagai bisnisman dan kepala keperawatan. sesuai bait dalam serat centhini “yang satu jenius” yang satu lagi “berbakat dalam bidang medis”.
Syair Raja Samagama:
5 lapis praktek religius:
Lapis luar (kulit): Berusaha tak jahat.
Lapis bagian dalam: Berusaha maju.
Lapis lebih dalam: Tantra (tehnik-tehnik terbaik dalam hidup)
Lapis terdalam: Meditasi.
Tanpa lapis: Kosong.
Untuk bisa menciptakan pikiran yang tanpa jeda dari kebaikan, SP masuk ke lapis lebih dalam yaitu berusaha maju. Menjadi “raja yang tak batal wudhu.”
Tapi saat ia naik tahta, ia berada di lapis “Tantra” sebagai satria pinandhita sinisihan wahyu, memimpin negara sekaligus mengajar agama. Dan saat ia sendiri, ia tentu tenggelam dalam lapis meditasi. Tapi ia belum bisa ke lapis terakhir yaitu tanpa lapis, karena ia masih di dunia, jadi masih perlu memakai “isi”.
Ronggowarsito:
- “Nuli sinalinan mulyaning panjenengan Nata ing kono harjaning tanah Jawa ; wus ilang memalaning bumi, amarga sinapih tekaning Ratu Ginaib, wijiling utama den arani Ratu Amisan, karana luwih dama miskin.” (Kemudian diganti (zaman) kemuliaan Sri Raja dan kesejahteraan tanah Jawa ; sudah hilang penyakitnya dunia, karena datangnya Raja yang digaibkan, keturunan golongan mulia, diberi julukan “Raja semua golongan”, karena bermurah hati kepada (golongan) miskin.)
- “Adege tanpa sarat sedawir, ngadam makdum Panjenengan Nata.” (Menjadi pemimpin tanpa perlu lewat pemilu, sebagai Pemimpin Kerohanianlah kedudukan Beliau sebagai Raja.)
- “Kedatone Sonya ruri, tegese sepi tanpa sarana apa-apa ora ana kara-kara.” (Ada satu masa dimana beliau hidup dalam keadaan kurang.)
- “Duk masih kineker dening Pangeran kesampar kesandung akeh wong ketambuhan.” (Saat masih dipingit oleh Buddha, keadaannya masih seperti orang biasa, banyak orang tidak bisa menduga akan menjadi apa.)
- “Karsaning Suksma kinarya buwana balik.” (Kehendak Yang Maha Gaib semuanya dibalikkan. Lemah jadi kuat, biasa jadi sakti, yang orang tak mengira.)
- “Jumeneng Ratu Pinandita, adil paramarta, lumuh mring arta, kasbut “Sultan Herucakra”.” (Menjadi ‘Raja Kerohanian’, adil ramah tamah, tidak mementingkan harta benda, dijuluki “Sultan Herucakra”)
- “Parandene mungsuhe pada rereb sirep kabeh.” (Meskipun begitu musuhnya semuanya agak takut; terhenti semua.)
- “Kang nedya mungsuh kabarubuh.” (Yang hendak memusuhi jatuh.)
- “Tekane sing prau kintir, anake mbok randa kasihan, melas asih mung priyangga.” (Datangnya dengan kapal yang ikut arus (laut), anak janda kasihan pantas dibelaskasihani, hanya sendirian. Ada juga yang menafsirkan arti anak janda kasihan ikut arus adalah si kembar nakula-sadewa, tapi bait-bait yang mendukung mereka kurang banyak dan terlalu kabur, karena itu tetap saja Parikshit yang naik jadi raja.)
Jayabaya:
“selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu) akan ada dewa tampil berbadan manusia berparas seperti Batara Kresna berwatak seperti Baladewa bersenjata trisula wedha tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar hutang nyawa bayar nyawa hutang malu dibayar malu”.
- “Dan ingatlah keharuman air wangi nanti akan bertahan selama 500 tahun dan 4 jaman,” kata Sabdo Palon dulu. Lawang Sapto Ngesthi Aji menunjuk 1978. 4 jaman = 4 x 8 tahun = 32 tahun, jika ditambah 1978 menjadi tahun 2010. “Dan ingatlah kebenaran kata-kata hamba saat Merapi meletus laharnya mengalir ke Yogya“, kata Sabdo Palon dulu. 2010 lalu Merapi meletus dan laharnya ke Yogya, tak ke Magelang sepertibiasanya, karena di Yogyalah berdiam SPnya.
- Muka SP sawomatang, seperti anak-anak, dan mudah menghukum orang. Bertenaga mutiara Trishula Veda di tangan kanannya (sebelum dikeluarkan berwujud senjata). Kemunculannya sebelum tutup 2011 ini.
- Dibantu dua raja lainnya,
Raja Parikshit bertugas menentukan benarsalah, membuat undang-undang, mensweeping masyarakat.
Raja Ashoka bertugas terus memberi tuntunan pada masyarakat dan mengkonsepkan tatadunia baru.
Raja Alexander bertugas menyatukan keberagaman tapi juga meragamkan lagi jika perlu.
- “Perang, bencana, lan sapanunggalane. Kabeh tedak ing negeri iki. Iki kang kinaran Pendhawa Boyong. Tukule Parikesit. Tan busana narendra utawa ksatrian prajurit.” Pandawa Lima (Yudhistira tentang ramalan sp, Bhima tentang agama buddha, Karna tentang tatadunia, Arjuna tentang perang, Nakula Sadewa tentang senjata) sebelumnya sudah banyak bicara disana-sini juga mengasah pikiran, sekarang saat keluarnya Parikshit.
Perlu diketahui bahwa kali ini bukan Kaurava yang menjadi lawan tapi kesalahan, pembodohan, dan kemunafikan itulah musuh Negara Katumaya.
- Di jaman saya, segalanya berubah, misalnya jika dijaman Anda yang banyak orang islam kalo dijaman saya yang banyak orang buddhist, indonesia saat ini meminjam tanah majapahit ini harus dikembalikan, kesalahan-kesalahan orang harus dibayar.
“Asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur sebelah timurnya bengawan berumah seperti Raden Gatotkaca berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda.”
Bait ini menggambarkan dunungane, keberadaan orang yang jadi sp itu besok munculnya ternyata dia berasal dari sebelah timur gunung lawu. Ditimurnya lagi ada sungai. Jadi orang yang jadi sp itu berasal antara gunung lawu dan sungai brantas.
“Banyak orang digigit nyamuk mati, banyak orang digigit semut mati, banyak suara aneh tanpa rupa, pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar tak kelihatan, tak berbentuk yang memimpin adalah putra Batara Indra, bersenjatakan trisula wedha, para asuhannya menjadi perwira perang, jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna tanpa azimat.”
Banyak orang langsung lemas mendengar nama SP disebut, tak mau salah berbuat. Orang sakithati dikritik SP. Pandawa dan Parikshit membuat blog, berbicara dengan memanfaatkan internet. Jin-jin di belakang orang-orang lalu kompak mendukung SP. Kebijakannya benar, bijak, cinta. Yang diasuh bukannya berdamai tapi memang khusus untuk perang. Tiap orang seperti SP, perang tanpa mengajak teman dan tanpa jimat.
“bergelar pangeran perang, kelihatan berpakaian kurang pantas, namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak, yang menyembah arca terlentang cina ingat suhu-suhunya dan mendapat perintah, lalu melompat ketakutan”.
Karena setiap ada masalah selalu terpecahkan, SP lalu dipanggil Pangeran Perang. Pakaiannya biasa saja, tapi bisa mengatasi masalah orang. Umat buddhist lalu pergi ke Cina karena takut menjadi korban penyebaran Agama Buddhi oleh SP.
“putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti menguasai seluruh ajaran (ngelmu) memotong tanah Jawa kedua kali mengerahkan jin dan setan seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda tajamnya tritunggal nan suci benar, lurus, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong.”
SP masih ada keturunan dari Sunan Lawu. Jika dulu pulau jawa dibabat jadi Islam, sekarang dibabat jadi Buddhi. Dengan bantuan wahyu yang turun padanya, ia (Sabdo Palon) mendirikan Katumaya di pulau Jawa. Didampingi istri-istrinya (Naya Genggong).
“tiap bulan Sura sambutlah kumara yang sudah tampak menebus dosa, dihadapkan ke sang Maha Kuasa, masih muda sudah dipanggil orang tua, warisannya Aji Gatotkaca Sejuta”.
Pertamakali dilantik jadi SP adalah pada suro 2010, tepat setelah Merapi meletus. Ia lalu membersihkan diri sehingga ia tak bisa menjadi Buddha, tapi menjadi Jedi, sehingga ia bisa menjadi raja yang baik tanpa harus kehilangan kemampuan seksualnya. Biksu tak bisa jadi raja karena cenderung mengalah, sedang raja yang bukan jedi masih bisa untuk jahat dan semena-mena.
Meski wajahnya seperti anak-anak tapi ia juga dipanggil “orangtua”. Sifatnya murahhati karena suka berbagi ilmu.
Sejak itu, setiap suro ia selalu kemasukan energy Force yang besar sehingga setiap suro ia selalu diberi upeti wanita oleh rakyat Katumaya. Dihadapkan dan ditunjukkan tubuhnya seperti apa.
“ludahnya ludah api sabdanya sakti (terbukti) yang membantah pasti mati baik orang tua muda termasuk bayi, orang yang tidak berdaya, minta apa saja pasti terpenuhi, penjadian sabdanya cepat, beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya, tidak mau dihormati orang setanah Jawa tetapi hanya memilih beberapa saja.”
Ucapan SP jika dipercaya yang mempercayainya akan untung sekali, sedang yang meragukannya habis, kadang-kadang sampai satu keluarga. Anakbuahnya cuma sebagian orang jawa saja, lebihbanyak orang dari luar.
“oleh sebab itu carilah satria itu yatim piatu, tak berpaman dan bibi, sudah lulus weda Jawa, hanya berpedoman trisula, ujung trisulanya sangat tajam membawa maut atau utang nyawa, yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan”.
SP punya kebijakan trisula veda dengan memanfaatkan info yang terdapat pada senjata trishula veda. Dalam keadaan damai yang keluar kebijakannnya, dalam keadaan perang yang keluar senjatanya. Dan itu tanda bahwa dia putera batara indera, bahwa dia pemimpin tunggal/raja dunia dan mahluk halus.
Siluman seluruh mahluk halus sangat takut dengan pusaka tsb, seandainya sedikit saja tersentuh ujungnya trisula Weda yang paling tengah maka mereka akan musnah. Disetiap ujung trisula weda itu masing-masing merupakan penjelmaan dari dewa.
“pantang bila diberi, hati mati dapat terkena kutukan, senang menggoda dan minta secara nista.”
Solusinya segala pemberian harus berupa upeti. Minta secara nista ini bukan pura-pura, karena itulah saya tak tulis bait lengkapnya agar hal ini diperhatikan.
“Jangan heran, jangan bingung itulah putranya Batara Indra yang sulung dan masih kuasa mengusir setan, ada manusia yang bisa bertemu tapi ada manusia yang belum saatnya, jangan iri dan kecewa itu bukan waktu anda.”
Prabu Parikshit disebut putra dewa Indra yang paling sulung, karena anak yang paling lama dilatih dari kelahiran demi kelahirannya.
Cepat lambatnya Satria Pinandhita muncul ditengah-tengah masyarakat tergantung cepat-lambatnya terjemahan jangka-jangka pujangga tanah jawa diketahui masyarakat. Semakin cepat jangka diketahui semakin cepat pula Satria Pinandhita muncul.
Satria Pinandhita terdapat dalam jangka, nanti bekerja juga pakai jangka. Sistem ramalan dan bekerjanya juga pakai jangka untuk menata kegiatan-kegiatan di Indonesia dan didunia.
Satrio Pinandhita dan Ratu Adil cuma orang biasa saja, cuma saja selama ini orang-orang tak mengerti jika mereka akan jadi Ratu Adil Satria Pinandhita.
Satrio Pinandhita mengakui dirinya Satria Pinandhita cuma saat memakai topeng.
Kejadian seperti ini berlangsung selama beberapa tahun, kemungkinan kurang lebih tiga tahun. Kejadian ini diterangkan dalam jangka pewayangan lampahan “samba sebit”.
Satria Pinandhita disaat memakai topeng hanya membahas jangka tanah jawa. Dalam jangka diceritakan Raden Samba disaat tidak memakai topeng membahas yang sesuai dengan pemikiran masyarakat. Dalam jangka diceritakan ratu yang berbendera klaras (kang selaras). Dalam pewayangan diceritakan Udrayana.
Menyampaikan pidato dengan cara kadang bertopeng kadang tidak bertopeng, dengan cara beda penampilan, dalam jangka diceritakan ratu sakembaran[B].
[B]bersambung....
0