- Beranda
- The Lounge
Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]
...
TS
perrika
Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]
![Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]](https://s.kaskus.id/images/2013/08/27/5548225_20130827082831.jpg)
Quote:
Quote:
![Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]](https://s.kaskus.id/images/2013/08/27/5548225_20130827083012.gif)
![Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]](https://s.kaskus.id/images/2013/08/30/5548225_20130830095737.gif)
![Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]](https://s.kaskus.id/images/2013/09/01/5548225_20130901065639.png)
Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]
Medan Merdekaatau Lapangan Merdeka adalah lapangan besar yang terletak di tengah Jakarta, Indonesia. Lapangan ini dikelilingi berbagai kantor dan bangunan penting seperti Istana Merdeka, Mahkamah Agung, serta berbagai kantor kementerian negara. Di tengah Medan Merdeka terdapat Monumen Nasional. Lebar Medan Merdeka membentang sejauh satu kilometer. Pada masa kolonial Hindia Belanda lapangan ini disebut Koningsplein (Lapangan Raja).
Quote:
Quote:
SEJARAH :
Spoiler for Sejarah:
Pada akhir abad ke-18 ketika pemerintahan Hindia Belanda memindahkan pusat pemerintahannya dari Batavia lama (kini kawasan Jakarta Kota) ke Weltevreden (kini Jakarta Pusat), mereka membangun beberapa bangunan penting termasuk fasilitas lapangan. Dua lapangan utama di Weltevreden adalah Buffelsveld dan Waterloopein (kini Lapangan Banteng). Lapangan mulai dibangun pada masa pemerintahan Daendels di awal abad ke-19, Waterloopein menjadi lapangan utama yang digunakan untuk parade dan upacara. Lapangan Waterloopein dijadikan warga kota sebagai tempat berkumpul pada sore hari untuk bersosialisasi dan berkuda, sementara itu Buffelsveld (lapangan kerbau) pada 1809 dinamakan Champs de Mars oleh Daendels yang sangat dipengaruhi Perancis, dan digunakan sebagai lapangan untuk latihan militer. Pada 1818 pada masa pemerintahan Inggris di Hindia di bawah pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles, lapangan ini diubah namanya menjadi Koningsplein (Lapangan Raja) sejak Gubernur Jenderal mulai menghuni istana barunya di dekat lapangan itu, kini istana itu menjadi Istana Merdeka. Pemerintah kolonial membangun berbagai fasilitas olahraga seperti jalur atletik dan stadion di Koningsplein. Penduduk pribumi menamai lapangan itu "Lapangan Gambir", konon berdasarkan banyaknya pohon gambir di tempat itu. Lapangan Gambir menjadi lokasi Pasar Gambir, sebuah Pasar Malam besar yaitu pekan raya yang dimulai untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina pada 1906. Sejak tahun 1921 Pasar Gambir menjadi perhelatan tahunan dan menjadi pendahulu dari Pekan Raya Jakarta. Nama lapangan ini tetap sama yaitu Koningsplein atau Lapangan Gambir selama masa kolonial Hindia Belanda hingga pasa pendudukan Jepang pada 1942.
Pada masa Penjajahan Jepang, lapangan ini diganti namanya menjadi "Lapangan Ikada"' (singkatan dari "Ikatan Atletik Djakarta"). Konon pada awalnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia direncanakan digelar di Lapangan Ikada, namun karena kondisi saat itu tidak memungkinkan maka pembacaan proklamasi dialihkan ke sebuah rumah di Jalan Pegangsaan (kini Jalan Proklamasi lokasi menjadi Tugu Proklamasi). Pada 19 September 1945, Sukarno menyampaikan pidatonya di Lapangan Ikada. Pidatonya yang menyarakan kemerdekaan Indonesia dan menentang kolonialisme, imperialisme, dan penjajahan ini disampaikan di depan Rapat Akbar yang dihadiri banyak massa. Sukarno mengganti nama Lapangan Ikada menjadi "Medan Merdeka". Sukarno menginginkan rakyat Indonesia yang baru saja merdeka memiliki sesuatu simbol yang menjadi kebanggaan bangsa, sebuah monumen untuk memperingati perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Maka ia memprakarsai pembangunan Monumen Nasional (Monas) pada 1961. Bangunan stadion dan lintasan atletik di lapangan ini dibongkar untuk memberi tempat bagi pembangunan monumen ini. Medan Merdeka dilintasi oleh empat jalan silang diagonal yang membentuk silang "X" dengan Monas berdiri tepat ditengahnya. Jalan ini disebut "Jalan Silang Monas" yang membagi Taman Medan Merdeka menjadi empat bagian: Utara, Timur, Selatan, dan Barat.
Taman Medan Merdeka Utara, Timur, dan Barat tetap berfungsi sebagai taman, sementara Taman Medan Merdeka Selatan dibangun menjadi kompleks bangunan untuk pameran yang digunakan sebagai lokasi Pekan Raya Jakarta dari tahun 1968 hingga 1992, sementara sudut barat daya Taman Medan Merdeka Selatan dijadikan "Taman Ria Jakarta".
Desain dan rancangan tapak taman tetap sama sejak dekade 70-an hingga pertengahan dekade 90-an. Mulai pertengahan tahun 90-an pemugaran Medan Merdeka mulai berlangsung hingga tahun 2000-an hingga menjadi kondisi seperti saat ini. Tujuan pemugaran ini adalah untuk mengembalikan fungsi Taman Medan Merdeka sebagai kawasan terbuka hijau. Pada awal dekade 90-an Arena Pekan raya Jakarta dan Taman Ria Monas di Medan Merdeka Selatan dibongkar dan dikembalikan menjadi ruang terbuka hijau. Jalan Silang Monas yang pada awalnya berfungsi sebagai lalu lintas kota kini tertutup bagi kendaraan bermotor seiring pembangunan pagar di sekeliling Medan Merdeka.
Pada masa Penjajahan Jepang, lapangan ini diganti namanya menjadi "Lapangan Ikada"' (singkatan dari "Ikatan Atletik Djakarta"). Konon pada awalnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia direncanakan digelar di Lapangan Ikada, namun karena kondisi saat itu tidak memungkinkan maka pembacaan proklamasi dialihkan ke sebuah rumah di Jalan Pegangsaan (kini Jalan Proklamasi lokasi menjadi Tugu Proklamasi). Pada 19 September 1945, Sukarno menyampaikan pidatonya di Lapangan Ikada. Pidatonya yang menyarakan kemerdekaan Indonesia dan menentang kolonialisme, imperialisme, dan penjajahan ini disampaikan di depan Rapat Akbar yang dihadiri banyak massa. Sukarno mengganti nama Lapangan Ikada menjadi "Medan Merdeka". Sukarno menginginkan rakyat Indonesia yang baru saja merdeka memiliki sesuatu simbol yang menjadi kebanggaan bangsa, sebuah monumen untuk memperingati perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Maka ia memprakarsai pembangunan Monumen Nasional (Monas) pada 1961. Bangunan stadion dan lintasan atletik di lapangan ini dibongkar untuk memberi tempat bagi pembangunan monumen ini. Medan Merdeka dilintasi oleh empat jalan silang diagonal yang membentuk silang "X" dengan Monas berdiri tepat ditengahnya. Jalan ini disebut "Jalan Silang Monas" yang membagi Taman Medan Merdeka menjadi empat bagian: Utara, Timur, Selatan, dan Barat.
Taman Medan Merdeka Utara, Timur, dan Barat tetap berfungsi sebagai taman, sementara Taman Medan Merdeka Selatan dibangun menjadi kompleks bangunan untuk pameran yang digunakan sebagai lokasi Pekan Raya Jakarta dari tahun 1968 hingga 1992, sementara sudut barat daya Taman Medan Merdeka Selatan dijadikan "Taman Ria Jakarta".
Desain dan rancangan tapak taman tetap sama sejak dekade 70-an hingga pertengahan dekade 90-an. Mulai pertengahan tahun 90-an pemugaran Medan Merdeka mulai berlangsung hingga tahun 2000-an hingga menjadi kondisi seperti saat ini. Tujuan pemugaran ini adalah untuk mengembalikan fungsi Taman Medan Merdeka sebagai kawasan terbuka hijau. Pada awal dekade 90-an Arena Pekan raya Jakarta dan Taman Ria Monas di Medan Merdeka Selatan dibongkar dan dikembalikan menjadi ruang terbuka hijau. Jalan Silang Monas yang pada awalnya berfungsi sebagai lalu lintas kota kini tertutup bagi kendaraan bermotor seiring pembangunan pagar di sekeliling Medan Merdeka.
Quote:
RANCANGAN :
Spoiler for rancangan:
Rancangan Medan Merdeka pada dasarnya mengikuti pola tapak awal yang telah dibuat sejak dekade 60-an, yakni persilangan jalan diagonal yang membagi Medan Merdeka menjadi empat bagian serta ditengahnya berdiri Monas. Pemugaran pada pertengahan dekade 90-an adalah untuk persiapan upacara peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka pada 1995. Renovasi ini terus berlangsung hingga dekade 2000-an.
Renovasi ini dirancang untuk menjauhkan jalan melingkar dari dasar Monas, hal ini karena saat itu dikhawatirkan getaran dari kendaraan yang melintas akan merusak fondasi Monas. Akan tetapi kemudian diputuskan bahwa kendaraan bermotor dilarang untuk memasuki kawasan Medan Merdeka sekitar Monas. Jalan aspal di sekeliling Monas diganti dengan jalan dari susunan batu alam bergaya Perancis dan menciptakan plaza (lapangan) luas di sekeliling monumen.
Medan Merdeka terdiri atas dua zona:
Terdapat empat taman di Medan Merdeka sesuai arah mata angin:
Renovasi ini dirancang untuk menjauhkan jalan melingkar dari dasar Monas, hal ini karena saat itu dikhawatirkan getaran dari kendaraan yang melintas akan merusak fondasi Monas. Akan tetapi kemudian diputuskan bahwa kendaraan bermotor dilarang untuk memasuki kawasan Medan Merdeka sekitar Monas. Jalan aspal di sekeliling Monas diganti dengan jalan dari susunan batu alam bergaya Perancis dan menciptakan plaza (lapangan) luas di sekeliling monumen.
Medan Merdeka terdiri atas dua zona:
- Taman Medan Merdeka.Pada zona ini terdapat pohon pelindung besar, taman, kolam pantulan serta air mancur. Zona ini membentang dari pagar pembatas di tepi Medan Merdeka hingga lajur pejalan kaki di sekeliling Taman Medan Merdeka.
- Ruang Agung. Ini adalah kawasan yang bertujuan memperkuat kesan keagungan saat memandang Monumen Nasional. Tidak boleh ada pohon besar atau hambatan visual lainnya di zona ini. Zona ini membentang dari jalur pejalan kaki yang melingkari Monas hingga ke bangunan Monumen Nasional. Zona ini terdiri dari lapangan rumput, plaza dari susunan batu, serta taman di sekeliling Monas yang dipenuhi bunga dan tanaman hias beraneka warna.
Terdapat empat taman di Medan Merdeka sesuai arah mata angin:
- Taman Medan Merdeka Utara. Pintu masuk ke terowongan yang akan membawa pengunjung ke Monas terletak di Taman Medan Merdeka Utara. Patung Pangeran Diponegoro tengah menunggang kuda dan patung dada pujangga Indonesia Chairil Anwar juga terletak di taman ini.
- Taman Medan Merdeka Timur. Stasiun Gambir terletak di kawasan taman ini. Kolam pantul dan patung Kartini sumbangan pemerintah Jepang yang semula terletak di depan Taman Suropati, Menteng, kini terletak di taman ini.
- Taman Medan Merdeka Selatan. Sebuah patung pembawa bendera bernuansa nasionalistik terletak disini. Di sudut tenggara terdapat kandang rusa tutul. Di Taman Medan Merdeka Selatan terdapat pohon langka dan unik yang menjadi simbol yang mewakili 33 Provinsi di Indonesia. Lapangan parkir IRTI, kedai cinderamata dan warung makan untuk pengunjung Monas juga terletak di kawasan ini.
- Taman Medan Merdeka Barat. Atraksi air mancur "menari" yang disinari lampu beraneka warna terdapat di Taman Medan Merdeka Barat. Pertunjukan air mancur dengan iringan musik ini digelar tiap malam akhir pekan.
Quote:
Picture
![Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]](https://s.kaskus.id/images/2013/09/01/5548225_20130901073305.JPG)
Monumen Nasional berdiri di tengah Lapangan Merdeka, Jakarta.
![Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]](https://s.kaskus.id/images/2013/09/01/5548225_20130901073315.jpg)
Peta Medan Merdeka pada 1965
![Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]](https://s.kaskus.id/images/2013/09/01/5548225_20130901073638.jpg)
Pesawat pembom KNIL terbang di atas Koningsplein Batavia sekitar tahun 1930-an
Spoiler for picture:
Spoiler for pict1:
Monumen Nasional berdiri di tengah Lapangan Merdeka, Jakarta.
Spoiler for pict2:
![Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]](https://s.kaskus.id/images/2013/09/01/5548225_20130901073315.jpg)
Peta Medan Merdeka pada 1965
Spoiler for pict3:
![Sejarah Medan Merdeka dan Rencana Perubahannya [UPDATE]](https://s.kaskus.id/images/2013/09/01/5548225_20130901073638.jpg)
Pesawat pembom KNIL terbang di atas Koningsplein Batavia sekitar tahun 1930-an
Bapak Soekarno pernah berkata "JAS MERAH"yang dimana artinya adalah JANGAN LUPAKAN SEJARAH, Menurut agan/aganwati apakah pantas kita melupakan sejarah dengan cara mengganti nama sebuah simbol perjuangan pahlawan-pahlawan Indonesia dulu?? Yuk liat cuplikan PRO dan KONTRA yang ada di Page selanjutnya.....


[CENTER]LANJUTAN[/CENTER]
Quote:
MY OTHER THREAD
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 3 suara
Setuju kah juragan dengan pergantian nama Jalan Medan Merdeka ??
SETUJU !!!
33%
TIDAK !!!
67%
TIDAK PEDULI !!!
0%
Diubah oleh perrika 01-09-2013 20:13
0
2.9K
Kutip
13
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
perrika
#1
Quote:
RENCANA PERGANTIAN NAMA
Spoiler for Nama:
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo akan mengajukan penggantian nama jalan di kawasan Istana Negara kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ini merupakan usulan dari Panitia 17.
"Nanti Panitia 17 menyampaikan kepada Gubernur. Kemudian, Gubernur membuat surat dan menyampaikannya kepada Presiden RI," kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), di Padang, Sabtu (31/8).
Menurut dia, Tim panitia 17 mengusulkan Jalan Medan Merdeka Utara diubah menjadi Jalan Soekarno, "Jalan Medan Merdeka Selatan diusulkan menjadi Jalan Hatta, Jalan Merdeka Timur menjadi Jalan Soeharto, dan Jalan Merdeka Barat diubah menjadi Jalan Ali Sadikin," ujar dia.
Namun, yang telah disepakati panitia untuk diajukan kepada Presiden, hanya dua yakni Jalan Merdeka Utara menjadi Jalan Soekarno dan Jalan Merdeka Selatan diubah menjadi Jalan Hatta Sedangkan, dua nama jalan sisanya masih kontroversi beberapa pihak.
"Mengenai nama Bang Ali Sadikin dan Pak Soeharto masih kontroversial. Kita fokus dulu pada Bung Karno dan Pak Hatta," kata Jokowi.
Dia mengatakan, saat ini penggunaan nama Soekarno-Hatta sebagai nama jalan di Jakarta masih dibahas Panitia 17. "Rencananya pada awal September 2013, perubahan nama jalan ini akan disosialisasikan ke masyarakat luas," kata dia.
Menurut dia, kalau nama-nama jalan itu diubah, dampaknya akan berupa penyesuaian kode pos, kop surat dan lain-lain.
"Ini akan berpengaruh. Itu konsekuensinya, namun yang jelas pemerintah akan menyosialisasikan nama-nama jalan baru itu," ungkap dia.
Target pada tanggal 10 November, tambah Jokowi, Jalan Merdeka Utara dan Jalan Merdeka Selatan diresmikan menjadi Jalan Bung Karno (di Merdeka Utara) dan Bung Hatta (di Merdeka Selatan).
Dia menambahkan, rencana penggantian nama-nama jalan tersebut dengan pertimbangan untuk menghargai jasa-jasa para pahlawan nasional, serta bertujuan sebagai sarana rekonsiliasi.
"Kita ingin membangun sebuah rekonsiliasi melalui nama-nama pahlawan itu. Saya setuju. Sekarang, rencana ini masih dimatangkan," kata dia.
SUMBER
"Nanti Panitia 17 menyampaikan kepada Gubernur. Kemudian, Gubernur membuat surat dan menyampaikannya kepada Presiden RI," kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi), di Padang, Sabtu (31/8).
Menurut dia, Tim panitia 17 mengusulkan Jalan Medan Merdeka Utara diubah menjadi Jalan Soekarno, "Jalan Medan Merdeka Selatan diusulkan menjadi Jalan Hatta, Jalan Merdeka Timur menjadi Jalan Soeharto, dan Jalan Merdeka Barat diubah menjadi Jalan Ali Sadikin," ujar dia.
Namun, yang telah disepakati panitia untuk diajukan kepada Presiden, hanya dua yakni Jalan Merdeka Utara menjadi Jalan Soekarno dan Jalan Merdeka Selatan diubah menjadi Jalan Hatta Sedangkan, dua nama jalan sisanya masih kontroversi beberapa pihak.
"Mengenai nama Bang Ali Sadikin dan Pak Soeharto masih kontroversial. Kita fokus dulu pada Bung Karno dan Pak Hatta," kata Jokowi.
Dia mengatakan, saat ini penggunaan nama Soekarno-Hatta sebagai nama jalan di Jakarta masih dibahas Panitia 17. "Rencananya pada awal September 2013, perubahan nama jalan ini akan disosialisasikan ke masyarakat luas," kata dia.
Menurut dia, kalau nama-nama jalan itu diubah, dampaknya akan berupa penyesuaian kode pos, kop surat dan lain-lain.
"Ini akan berpengaruh. Itu konsekuensinya, namun yang jelas pemerintah akan menyosialisasikan nama-nama jalan baru itu," ungkap dia.
Target pada tanggal 10 November, tambah Jokowi, Jalan Merdeka Utara dan Jalan Merdeka Selatan diresmikan menjadi Jalan Bung Karno (di Merdeka Utara) dan Bung Hatta (di Merdeka Selatan).
Dia menambahkan, rencana penggantian nama-nama jalan tersebut dengan pertimbangan untuk menghargai jasa-jasa para pahlawan nasional, serta bertujuan sebagai sarana rekonsiliasi.
"Kita ingin membangun sebuah rekonsiliasi melalui nama-nama pahlawan itu. Saya setuju. Sekarang, rencana ini masih dimatangkan," kata dia.
SUMBER
Quote:
PRO DAN KONTRA PERGANTIAN NAMA
Spoiler for kontra:
Di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, presiden pertama RI Soekarno menyelipkan harapan besar kepada bangsa ini. Kemerdekaan. Nama jalan ini merupakan simbolisasi kebanggaan bangsa atas kemerdekaan yang direbut dengan perjuangan, bukan pemberian Jepang atau pun penjajah lainnya.
Puluhan tahun berselang, kini Medan Merdeka terancam berganti nama. Kepada Gubernur DKI Jakarta Jokowi, sejumlah tokoh non-institusional yang tergabung dalam Panitia 17 mengusulkan pergantian nama jalan itu. Mereka memboyong 4 nama tokoh sebagai pengganti Medan Merdeka.
4 Nama jalan yang akan diubah itu, yakni Medan Merdeka Utara menjadi Jalan Soekarno, Medan Merdeka Selatan menjadi Jalan Mohammad Hatta, Medan Merdeka Timur menjadi Jalan Ali Sadikin, dan Jalan Medan Merdeka Barat menjadi Jalan Soeharto.
Ketua Panitia 17, Jimly Asshiddique mengatakan, penggunaan nama Soekarno dan 3 nama lainnya sebagai nama jalan merupakan bentuk penghargaan pada tokoh-tokoh itu.
"Maka diusulkan nama Bung Karno dan Bung Hatta. Karena penegasan mereka berdua sebagai pahlawan baru tahun lalu, selama ini memang nama Bung Karno masa Orba sering dihindari. Sehingga usulan perubahan nama jalan ini terkait dengan perkembangan politik," kata Jimly usai pertemuan bersama ketua MPR dan Jokowi di Gedung MPR, Jumat 30 Agustus 2013 kemarin.
Jas Merah
Rencana ini pun dinilai tak menghargai sejarah, tanpa mempedulikan makna di balik penamaan jalan itu. Wakil Sekjen Partai Amanat Nasional Teguh Juwarno pun tergiang pada Jas Merah Bung Karno. Sementara Soekarno sendiri yang memberi identitas Medan Merdeka di sudut Ibukota itu.
"Presiden Soekarno mengingatkan 'jas merah', jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Jadi nama Medan Merdeka punya nilai sejarah yang panjang. Jadi gagasan untuk mengubah itu menurut saya kontraproduktif," ujar Teguh.
Teguh pun mengajak semua pihak untuk tak mengganggu Gubernur Jokowi dan Wagub Ahok dengan rencana pergantian nama ini. Karena masih banyak masalah Ibukota yang harus ditangani keduanya. Menurutnya, penghormatan terbaik yang bisa dilakukan kepada bapak pendiri bangsa Soekarno-Hatta adalah dengan menghidupkan dan menjalankan nilai-nilai kebangsaan serta nasionalisme mereka.
"Untuk apa? Jangan kita ganggu Jokowi-Ahok yang sedang berkonsentrasi benahi Jakarta dengan gagasan yang malah menyita energi dan bisa menimbulkan kontroversi," tutur Teguh.
Senada dengan Teguh Juwarno, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera Mahfudz Sidiq pun menilai ide penggantian nama Jalan Medan Merdekan tak penting. Yang terpenting saat ini menurut Mahfudz yakni bagaimana memecahkan penyakit kronis Jakarta, kemacetan.
"Enggak penting ide itu. Atasi kemacetan Jakarta itu yang diharapkan masyarakat, bukan ganti nama jalan," tegas Mahfudz kepada Liputan6.com.
Sementara itu, Jokowi mengaku, setuju dengan usulan Panitia 17. Namun dia baru menyetujui 2 di antara 4 usulan nama tokoh pengganti Medan Merdeka. Keduanya yakni Jalan Merdeka Utara dan Jalan Merdeka Selatan yang diusulkan diganti menjadi Jalan Ir Soekarno dan Jalan Mohammad Hatta.
"Setuju. Menurut saya baik. Ya penghargaan terhadap pahlawan. Kemudian, kita ini ingin membangun sebuah rekonsiliasi (perbaikan) lewat nama-nama itu," ujar Jokowi di Balaikota, Jakarta.
Soekarno-Hatta vs Soeharto
Di sisi lain, penggantian nama Jalan Medan Merdeka dinilai baik oleh Sejarawan dari Universitas Indonesia, JJ Rizal. 2 Tokoh yang diusulkan, yakni Soekarno dan Hatta dinilai sangat layak diabadikan menjadi sebuah nama jalan. Namun tak demikian dengan pemilihan nama mantan Presiden Soeharto.
"Kalau namanya diganti jadi nama Soekarno dan Hatta sangat baik. Bisa menjadi simbolisasi kita menghargai peran besar mereka yang telah menjadikan Jakarta Kota Juang. Tapi kalau di dalamnya ada nama Soeharto, itu kecelakaan," ucap JJ Rizal kepada Liputan6.com, Sabtu (31/8/2013).
"Soekarno-Hatta itu sosok keteladanan yang baik, sementara Soeharto itu tiran. Yang satu lagi orang besar, perumus negara (Soekarno-Hatta). Satunya lagi hantu yang berbahaya sekali," ujarnya.
Cita-cita kemerdekaan yang terangkum dalam nama Soekarno-Hatta akan terkhianati jika disandingkan dengan Soeharto. Oleh karena itu, Rizal menilai sang penggagas nama tokoh pengganti Jalan Medan Merdeka tak mengenal sejarah.
Sementara itu, Ketua DPR Marzuki Alie memberikan dukungannya pada 4 tokoh yang diusulkan sebagai nama jalan itu, termasuk Soeharto. Menurutnya, setiap bangsa Indonesia harus bisa berpikir positif atas apa yang pernah dilakukan oleh para founding father bangsa Indonesia. Termasuk jasa mantan Presiden Soeharto atas pembangunannya untuk Indonesia.
"Manusia ada salah, biasa. Kita semua harus jadi orang pemaaf," ujar Marzuki.
Pada masa kolonial Belanda Jalan Medan Merdeka bernama Koningsplein atau Lapangan Raja. Namun saat penjajahan Jepang, nama ini berganti menjadi Lapangan Ikada.
Segera setelah Indonesia merdeka, Soekarno mengganti nama jalan itu menjadi Medan Merdeka. Tepat di tengahnya berdirilah Tugu Monumen Nasional (Monas).
SUMBER
Puluhan tahun berselang, kini Medan Merdeka terancam berganti nama. Kepada Gubernur DKI Jakarta Jokowi, sejumlah tokoh non-institusional yang tergabung dalam Panitia 17 mengusulkan pergantian nama jalan itu. Mereka memboyong 4 nama tokoh sebagai pengganti Medan Merdeka.
4 Nama jalan yang akan diubah itu, yakni Medan Merdeka Utara menjadi Jalan Soekarno, Medan Merdeka Selatan menjadi Jalan Mohammad Hatta, Medan Merdeka Timur menjadi Jalan Ali Sadikin, dan Jalan Medan Merdeka Barat menjadi Jalan Soeharto.
Ketua Panitia 17, Jimly Asshiddique mengatakan, penggunaan nama Soekarno dan 3 nama lainnya sebagai nama jalan merupakan bentuk penghargaan pada tokoh-tokoh itu.
"Maka diusulkan nama Bung Karno dan Bung Hatta. Karena penegasan mereka berdua sebagai pahlawan baru tahun lalu, selama ini memang nama Bung Karno masa Orba sering dihindari. Sehingga usulan perubahan nama jalan ini terkait dengan perkembangan politik," kata Jimly usai pertemuan bersama ketua MPR dan Jokowi di Gedung MPR, Jumat 30 Agustus 2013 kemarin.
Jas Merah
Rencana ini pun dinilai tak menghargai sejarah, tanpa mempedulikan makna di balik penamaan jalan itu. Wakil Sekjen Partai Amanat Nasional Teguh Juwarno pun tergiang pada Jas Merah Bung Karno. Sementara Soekarno sendiri yang memberi identitas Medan Merdeka di sudut Ibukota itu.
"Presiden Soekarno mengingatkan 'jas merah', jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Jadi nama Medan Merdeka punya nilai sejarah yang panjang. Jadi gagasan untuk mengubah itu menurut saya kontraproduktif," ujar Teguh.
Teguh pun mengajak semua pihak untuk tak mengganggu Gubernur Jokowi dan Wagub Ahok dengan rencana pergantian nama ini. Karena masih banyak masalah Ibukota yang harus ditangani keduanya. Menurutnya, penghormatan terbaik yang bisa dilakukan kepada bapak pendiri bangsa Soekarno-Hatta adalah dengan menghidupkan dan menjalankan nilai-nilai kebangsaan serta nasionalisme mereka.
"Untuk apa? Jangan kita ganggu Jokowi-Ahok yang sedang berkonsentrasi benahi Jakarta dengan gagasan yang malah menyita energi dan bisa menimbulkan kontroversi," tutur Teguh.
Senada dengan Teguh Juwarno, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera Mahfudz Sidiq pun menilai ide penggantian nama Jalan Medan Merdekan tak penting. Yang terpenting saat ini menurut Mahfudz yakni bagaimana memecahkan penyakit kronis Jakarta, kemacetan.
"Enggak penting ide itu. Atasi kemacetan Jakarta itu yang diharapkan masyarakat, bukan ganti nama jalan," tegas Mahfudz kepada Liputan6.com.
Sementara itu, Jokowi mengaku, setuju dengan usulan Panitia 17. Namun dia baru menyetujui 2 di antara 4 usulan nama tokoh pengganti Medan Merdeka. Keduanya yakni Jalan Merdeka Utara dan Jalan Merdeka Selatan yang diusulkan diganti menjadi Jalan Ir Soekarno dan Jalan Mohammad Hatta.
"Setuju. Menurut saya baik. Ya penghargaan terhadap pahlawan. Kemudian, kita ini ingin membangun sebuah rekonsiliasi (perbaikan) lewat nama-nama itu," ujar Jokowi di Balaikota, Jakarta.
Soekarno-Hatta vs Soeharto
Di sisi lain, penggantian nama Jalan Medan Merdeka dinilai baik oleh Sejarawan dari Universitas Indonesia, JJ Rizal. 2 Tokoh yang diusulkan, yakni Soekarno dan Hatta dinilai sangat layak diabadikan menjadi sebuah nama jalan. Namun tak demikian dengan pemilihan nama mantan Presiden Soeharto.
"Kalau namanya diganti jadi nama Soekarno dan Hatta sangat baik. Bisa menjadi simbolisasi kita menghargai peran besar mereka yang telah menjadikan Jakarta Kota Juang. Tapi kalau di dalamnya ada nama Soeharto, itu kecelakaan," ucap JJ Rizal kepada Liputan6.com, Sabtu (31/8/2013).
"Soekarno-Hatta itu sosok keteladanan yang baik, sementara Soeharto itu tiran. Yang satu lagi orang besar, perumus negara (Soekarno-Hatta). Satunya lagi hantu yang berbahaya sekali," ujarnya.
Cita-cita kemerdekaan yang terangkum dalam nama Soekarno-Hatta akan terkhianati jika disandingkan dengan Soeharto. Oleh karena itu, Rizal menilai sang penggagas nama tokoh pengganti Jalan Medan Merdeka tak mengenal sejarah.
Sementara itu, Ketua DPR Marzuki Alie memberikan dukungannya pada 4 tokoh yang diusulkan sebagai nama jalan itu, termasuk Soeharto. Menurutnya, setiap bangsa Indonesia harus bisa berpikir positif atas apa yang pernah dilakukan oleh para founding father bangsa Indonesia. Termasuk jasa mantan Presiden Soeharto atas pembangunannya untuk Indonesia.
"Manusia ada salah, biasa. Kita semua harus jadi orang pemaaf," ujar Marzuki.
Pada masa kolonial Belanda Jalan Medan Merdeka bernama Koningsplein atau Lapangan Raja. Namun saat penjajahan Jepang, nama ini berganti menjadi Lapangan Ikada.
Segera setelah Indonesia merdeka, Soekarno mengganti nama jalan itu menjadi Medan Merdeka. Tepat di tengahnya berdirilah Tugu Monumen Nasional (Monas).
SUMBER
Diubah oleh perrika 01-09-2013 19:30
0
Kutip
Balas