Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1031
36. Butterflies
Milo memutar-mutar handphone di tangannya.
Diletakkan handphone itu di atas meja, kemudian diambil lagi.
Dia menenangkan dirinya sendiri, sebelum akhirnya menekan nama Chery di daftar kontaknya.
Sesaat, nada dering berbunyi kemudian suara Chery yang tinggi terdengar dari seberang sana.

"Milo?! Kenapa nelpon gue??"

Milo agak terhenyak mendapat nada suara tinggi, berdeham sesaat sebelum mengutarakan maksudnya.

"Ehm...elo lagi di rumah Vega?"

"Enggak. Lagi sama nyokap gue, makan bakmi ayam di Pasar Baru. Kenapa?"

Milo menahan tawa sedikit, sebelum membayangkan hiperbolanya Chery dan mamanya yang sama-sama Chickenholic itu mengisi meja penuh dengan aneka hidangan ayam.

"Um,...gue mau minta tolong sedikit." suara Milo tertahan. "Punya nomor telepon Vega?"

"Elo udah yakin??" Chery langsung menyeletuk. "Pertanyaan gue kemarin itu, elo udah punya jawabannya?"

"Satu hal yang gue tau, gue kangen banget banget banget sama Vega. Jadi please, boleh gue minta tolong elo ngasih nomer telepon Vega ke gue, biar gue bisa ngomong langsung

sama orangnya?"

"Ngapain minta nomer gue, Milo?"

Milo langsung terhenyak dan bergumam tanpa suara dengan mulutnya, 'oh my God!'
Tidak salah lagi, barusan itu suara Vega.
Sialan, Chery penipu!
Katanya dia sedang makan bakmi dengan mamanya di Pasar Baru??

"Eh....Vega ya?" Milo pura-pura blo'on. "Katanya Chery lagi makan sama nyokapnya?"

"Iya, tapi nyokapnya lagi ke WC. Gue yang ngangkatin teleponnya." Vega terdengar kalem. "Tangan Chery belepotan saus ayam mentega, ini lagi mau cuci tangan."

"Lho, jadi telepon gue di loudspeaker?!" Milo makin gelagapan.

"Iya..."

Milo menepok jidatnya sendiri, menahan rasa malu yang sudah tidak tertahankan lagi.
Ingin rasanya dia melompat ke dalam sumur yang paling dalam.
Dia megatakan 'kangen' berkali-kali dengan suara yang cukup keras hingga bisa didengar langsung oleh orangnya.
Ah...tidak mungkin ada peristiwa lain yang lebih memalukan daripada ini.

"Milo?" Vega memanggilnya lagi, membuat jantung Milo makin tidak karuan. "Elo masih di sana?"

"I,...Iya Vega. Gue masih hadir. Err,...maksudnya masih ada."

Vega cekikikan mendengar jawabannya.
Runtuhlah sudah benteng kekerenannya.
Tapi tanpa sadar Milo ikut tertawa geli karenanya.
Berusaha mengumpulkan rasa malu yang masih tersisa, Milo bertanya sekali lagi.

"Gue boleh minta nomer handphone elo, biar bisa ngobrol lewat sms aja tanpa harus di loudspeaker ke seluruh restoran?"

"...ehmm....Okay."

Vega menjawab singkat kemudian telepon sepertinya dioper kembali ke Chery.
Kali ini Milo cukup yakin bahwa teleponnya sudah tidak di loudspeaker, karena suara Chery cukup tajam dan jelas.

"Ciehh...Milo!!" Chery langsung meledek tanpa ampun. "Aduhhh,...gue hampir mati ngakak nih!"

"Sialan..." Milo menggerutu. "Lagian elo rese, pake nanya yang soal kemarin segala!"

"Ya elo tinggal jawab Iya aja, susah amat!" Chery protes tidak terima disalahkan. "Ngapain pake bilang kangen-kangen an!"

Kalah bersilat lidah, Milo akhirnya undur diri dan menutup teleponnya.
Beberapa saat kemudian masuk sms dari nomer baru, berbunyi sebuah kalimat singkat.

"Ini nomer gue."

Milo tersenyum mantap, kemudian menyimpan nomor Vega ke dalam handphonenya.
Setelah memulai dengan awalan yang salah, Milo jadi kembali ke nol lagi, harus memulai percakapan yang lebih bermutu dengan Vega.
Tapi...apa?
Otak dan kepala Milo serasa blank.

"Ikut hangout bareng aja habis ini." menyusul sms dari Chery masuk ke inboxnya.

Milo menimbang-nimbang sesaat, lalu mengirim sms balasan.

"Boleh. Ketemu di mana?"

"CO3 Hayam Wuruk aja. Gue sama Vega lagi mau cabut ke sana." Chery membalas.

Milo mengambil kunci mobilnya, kemudian menyalakan mobil dan berjalan ke CO3.
Cafe yang terletak di jalan Hayam Wuruk bernuansa modern dan cozy itu sempat dilewatinya beberapa kali.
Tapi karena pada dasarnya client perusahaan ibunya lebih suka bertemu di daerah selatan, maka Milo tidak pernah masuk ke sana.

Ketika sampai di sana, CO3 tidak terlalu ramai.
Milo segera mengambil kursi yang terletak agak di ujung, namun menatap lurus ke arah pintu masuk.
Nuansa merah cabai dan hitam elegan memenuhi seluruh ruangan.
Musik akustik mengalun dari speaker yang terdapat di beberapa pojok ruangan.

Hiasan sederhana dari cermin mendominasi dinding cafe dengan setiap kursi terbuat dari sofa dan berpartisi kayu.
Milo cukup menyukai suasana homey dari keseluruhan kafe, meskipun menggunakan warna merah yang berani.
Beberapa saat kemudian Chery dan Vega memasuki CO3 nyaris bersamaan.

Milo sempat merasakan jantungnya sedikit melompat melihat Vega yang mengenakan tube top berwarna hitam berlapis kemeja chiffon warna satin.
Kali ini rambutnya yang ikal kecoklatan tampak menjuntai dikepang ke samping.
Memperlihatkan telinganya yang mengenakan anting bermata kristal kecil yang manis.

Milo agak terkesima melihat sosok kewanitaan yang merupakan perubahan drastis sejak Vega SMP.
Dulu semua pakaian Vega selalu kebesaran dan tidak pernah memanjangkan rambutnya.
Membuat Milo menyadari betapa waktu telah berlalu.
Dan jarak diantaranya semakin jauh dari Vega dalam kurun waktu tersebut.

"Vega...!" Milo melambaikan tangan.

Pemilik nama tersebut langsung menoleh dan tersenyum simpul ke arah Milo.
Chery berjalan lebih dulu dan duduk tepat di hadapan Milo.

"So....here's the lover boy..." Chery menaikkan sebelah alisnya.

Milo mengunci bibirnya rapat-rapat, teringat lagi kebodohannya tadi di telepon.

"Tenang aja, Vega juga santai kok..." Chery berusaha menenangkan.

"Iya, tapi elo-nya yang rese..." Milo mencibir.

"Mau pesen minuman, Cher?" Vega yang baru duduk mengambil posisi di sebelah Chery, bersebrangan dengan Milo.

"Biasa. Chocolate mint, sama boleh deh...chicken croissant..."

"Gilaaa...kita kan' baru makan bakmi ayam!" Vega mengerlingkan mata.

"Gue doyan banget croissant di sini..." Chery merajuk.

Vega hanya mengangkat bahu dan memesankan kepada pelayannya.
Dia sendiri memesan jus jeruk dan Milo memutuskan untuk mengganjal perutnya dengan Banana Smoothie.

"Banana smoothie?" Vega berkomentar seolah tidak percaya.

"Enak kok. Mau coba?" Milo menyodorkan sedotan di gelasnya tersebut.

Vega menggeleng pelan dan menolak dengan halus.
Tapi Milo memajukan gelasnya ke hadapan Vega, hingga dia terpaksa meneguknya.
Sedikit whipped cream menempel di sudut bibir Vega.
Milo refleks mengulurkan tissue untuk menghapusnya.

"Gue serasa nyamuk dehhh...." Chery menggerutu sambil cekikikan.

Milo berdeham salah tingkah, kemudian kembali membuang pandangan ke langit-langit kafe.

"Vega...gue rasa elo mesti let it all out." Chery mengusulkan.

"Maksudnya apa ya?"

"... yaaa,,,. Pokoknya hari ini, anggep aja kita balik ke masa SMP. We can make jokes, ngobrol, gosip, apa aja deh..." Chery kelihatan putus asa menjelaskan. "Aww...c'mon! Dulu

enggak sesusah itu kita ngobrol, kan?"

"Sekarang pun enggak susah kok." Vega menjawab cepat. "Tapi, gue nggak tahu apa yang harus diobrolin."

"Arghh...." Chery tampak semakin stress. "Oh iya, Milo! How is New York? Cerita ayo..."

Milo yang sedari tadi jadi pendengar setia, tersadar dari lamunannya.

"Well,.... yang jelas New York,... kota yang gede banget."

Sebelum menuturkan penjelasan yang lebih bodoh lagi, Milo berusaha fokus.
Sebenarnya tujuannya hanyalah memulai langkah awal dengan Vega secara perlahan.
Bahwa seiring waktu, Dia bisa menemukan dirinya yang dulu lagi ketika bertemu dan berbicara dengannya.
Milo akan menemukan jejak dirinya sendiri yang hilang tertelan waktu dan ego ketika usia 15 tahunnya.

"New York,... sepi. Enggak ada kalian." Milo melanjutkan kalimatnya dengan hati-hati.

Dia sedikit menekankan kata 'kalian' pada nada suaranya.
Untuk memastikan dia tidak membuat Vega salah tingkah.
Meski pada kenyataannya, Milo tidak berhenti memikirkan Vega selagi di sana.

"Makanya, sok-sok an pindah sihh..." Chery yang tidak peka situasi, menyelamatkannya kali ini. "Elo ada rencana balik ke sana?"

Milo menggeleng dengan cepat.

"Gue malah berencana kuliah di sini. Dan,...enggak akan kemana-mana lagi."

Milo menunggu reaksi Vega yang sedari tadi hanya menatapnya dan menjadi 'penonton' setia.
Kecewa, karena Vega tidak memberikan respon yang berarti.
Hanya mengangguk-angguk kosong sambil memainkan jarinya di dekat gelas berisi es jeruk itu.
Mendadak Chery bangkit dari kursinya dan menerima telepon yang berdering.
Sesaat kemudian, dia menenteng tasnya.

"Sori ya guys...gue ditunggu Samuel. Dia bilang lagi di rumah sakit, kena usus buntu..."

"...Samuel?" Milo bertanya heran sambil melirik ke arah Vega.

"...gebetan." Vega setengah berbisik dengan frekuensi super kecil.

Chery segera menghilang dari sana, meninggalkan Milo duduk membisu dengan Vega.
Milo sesekali mencuri pandangan ke arah Vega yang tampak sedikit gugup juga.

"Hey,... are you okay?" Milo berusaha mencairkan suasana.

"I don't think so." Vega tersenyum tipis. "Gue enggak tahu harus ngobrol apa..."

"Mau gue anter balik aja?" Milo menawarkan diri.

Vega tampak agak terkejut mendengar pertanyaan Milo.
Tapi dari sisi Milo sendiri, dia ingin memberikan jarak bagi Vega.
Takut Vega masih merasa risih berduaan saja dengannya.
Mendapatkan nomor handphonenya, untuk sekarang sebenarnya sudah cukup bagi Milo sebagai langkah awal.

Vega akhirnya mengangguk dan mengikuti Milo berjalan ke luar CO3.
Tapi, ternyata hujan menyambar cukup deras di luar.
Milo menatap langit yang kelabu dan mobilnya yang sialnya, diparkir cukup jauh dari pintu masuk.
Milo baru berpikir untuk menembus hujan saat Vega mengeluarkan payung dari tasnya.

Mereka berdua berjalan di bawah payung yang ukurannya sedikit kecil digunakan untuk 2 orang tersebut.
Tapi untuk mencegah Vega terguyur hujan, Milo merapatkan tangannya di samping lengan Vega kemudian merangkulnya.
Langkah demi langkah, menghindari kubangan air, akhirnya mereka tiba di depan pintu mobil.

Milo baru mengeluarkan kunci mobil dari sakunya, saat Vega sedikit menjerit terpekik.
Payung yang digunakan mereka, tertiup angin kencang dan tertekuk ke arah atas.
Seketika, air hujan mengguyur Milo dan Vega dari ujung rambut hingga ke kakinya.
Dalam kepanikan, Vega berusaha mengembalikan bentuk payung tersebut ke posisi semula, sementara Milo berusaha keras membuka lubang kunci pintu mobil.

"Milo...kuncinya..." Vega berusaha membuka mata di tengah guyuran hujan yang mengalir ke kelopak matanya.

"Susahh..." Milo juga tidak kalah paniknya dan berkali-kali salah mengarahkan kuncinya.

Pada akhirnya pintu mobil berhasil terbuka dan secepat kilat mereka duduk di dalam mobil.
Dengan nafas terengah-engah karena berhasil lolos dari kepanikan, tawa menyembur diantara mereka.
Milo menertawakan penampilannya sendiri yang seperti orang tolol.
Percuma dia mengenakan baju keren, jam tangan, atau sepatu favoritnya.

pada akhirnya Milo basah kuyup seperti kucing tercebur ke dalam got.
Ditengoknya Vega yang juga kebasahan dan tertawa-tawa.
Sudah lama tidak dilihatnya, tawa Vega yang begitu lepas.
Dalam hati, Milo bersyukur kejadian bodoh semacam ini terjadi diantara mereka.

"Gimana nih baliknya...basah kuyup?" Milo akhirnya bertanya.

"Ya, mau gimana lagi..." Vega mengangkat bahu. "Sini, rambutnya keringin dulu..."

Vega mengambil tisu dari box yang ada di dalam mobil.
Dia mengambil 3 lembar kemudian menyeka dahi dan rambut Milo dengan tekunnya

"Kita bakal masuk angin gak ya...?" Vega menertawakan dirinya sendiri.

Milo menatap lekat-lekat Vega yang sedang sibuk mengeringkan rambut Milo itu.
Sementara air masih menetes dari ujung rambut di dekat telinganya.
Sekelibat, Milo merasakan adrenalinnya berpacu tiga kali lebih cepat.
Jarak wajah Vega hanya dua jengkal darinya.

Dengan otak yang tidak mampu berpikir jernih, mungkin karena konslet terkena air hujan,
Suara gemuruh air menabrak kaca depan mobil,
Dan udara dingin mobil,
Dengan tangan kirinya, Milo meraih tangan Vega dengan lembut yang sedang menyeka dahinya.

Vega menghentikan kegiatan yang sedang dilakukannya, dan baru sadar bahwa Milo sedang memperhatikannya.
Sepersekian detik kemudian, tangan kanan Milo menyentuh tengkuk Vega.
Dan dengan posisi menyamping, Milo memajukan wajahnya ke depan.

Milo merasakan saat itu juga nafas Vega yang tertahan.
Pada saat itu juga bibirnya menyentuh bibir Vega dengan lembut.
Perlahan, dengan mata yang tertutup, namun Milo bisa merasakannya.
Seolah seribu pasang kupu-kupu terbang di dalam tubuhnya.

Sensasi manis itu...ketika dia mencium Vega yang sejak dulu disayanginya.
Kini Milo resmi, jatuh cinta kepada Vega.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.