- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#1024
34. Birthday
Vega sedang duduk melamun di teras rumahnya.
Ayahnya baru saja pergi ke Hong Kong untuk rapat direksi.
Dia baru berencana akan masuk ke dalam rumah ketika handphonenya bergetar.
Terpampang nama August di sana.
"Iya...kenapa?" Vega bertanya tanpa basa basi ketika mengangkat telepon tersebut.
"Temenin gue jalan yuk!" August juga mengajak tanpa basa basi.
Terdapat nada jeda sesaat dan Vega pun berfikir dalam diam
"Sama siapa aja?"
"Kita berdua doang."
"Ngapain pergi berdua doang?" Vega langsung enggan.
"Hari ini...ulang tahun gue." August menjawab pelan.
Vega menoleh kalender di layar handphonenya.
Terpampang tanggal 31 Agustus di sana.
"Elo ultah tanggal berapa?" Vega bertanya memastikan.
"Tanggal 31. Tepat akhir bulan."
Vega menimbang-nimbang sesaat.
Ragu-ragu kalau ini keputusan yang tepat.
Melihat sepak terjang August beberapa waktu lalu saat MaKrab di Bandung, terlihat agak agresif.
Terang saja Vega tidak terlalu suka dengan cara August berinteraksi.
Tapi, kalau soal ulang tahun...
Vega sendiri yang hampir tidak pernah merayakan ulang tahunnya, sejujurnya tidak penting
Namun sudah menjadi tata krama untuk menghormati permintaan khusus seseorang pada hari kelahirannya.
"Ya udah...gue temenin. Mau ke mana?" Vega akhirnya pasrah.
"Taman Anggrek aja ya...?" August mengajak antusias.
"...enggak ke Emporium Pluit aja? Lebih enak buat jalan kayaknya..."
"Gue mau main ice skating. Boleh kan?"
"Hmm.... oke deh." Vega menyetujui permintaan August pada akhirnya.
Sesaat kemudian, Vega berganti pakaian dan bersiap.
Dia mengenakan celana jeans panjang dengan baggy knitted sweater.
Sepatu ankle boots sepertinya terlihat santai untuk sekedar jalan.
rambutnya yang panjang itu digulung setengahnya dan dimasukkan ke dalam topi rajut sewarna dengan sweaternya.
Beberapa saat kemudian, Jazz milik August membunyikan klakson dan tiba di depan rumah.
Sepertinya August tidak kesulitan mencari rumahnya, sebab daerah Vega tidak banyak jalan kecil berliku.
"Yuk, naik." August menurunkan kaca mobil bagian penumpang tepat di sebelahnya.
Vega tanpa banyak bertanya langsung masuk dan memasang seat belt.
Mobil memasuki jalan tol yang tergolong lancar untuk hari kerja seperti ini.
"Udah makan, Ve?" August mencoba mencairkan suasana.
"Udah kok."
August kembali bungkam setelah menerima jawaban singkat dan padat dari Vega.
Sesampainya di tempat parkir, Vega dan August turun dari mobil.
Mereka naik lift yang terdapat di basement, dan tiba di lantai dasar.
Vega berjalan satu langkah di belakang August hingga tiba di lantai atas, area ice skating.
August membeli tiket untuk 2 orang, dan mereka berjalan masuk ke area penukaran sepatu.
Vega mengukur kakinya di papan yang disediakan, kemudian mengambil sepatu bernomor 37 sesuai ukurannya.
August mengulurkan sepasang kaus kaki dan sarung tangan yang dibelinya di counter tadi.
Seusai memakai sepatu dan mengikatnya dengan kencang, Vega memasuki ring skating yang baru selesai dilapisi esnya.
Setiap 2 jam sekali, diadakan pelapisan ulang es untuk menjaga kenyamanan pengunjung yang bermain di sana.
Vega dapat melihat embun keluar setiap kali dia menghembuskan nafas.
August meluncur perlahan di sebelahnya, sambil sesekali melihat ke arah Vega.
Sekilas, penampilan August dengan rambutnya yang berwarna ungu tampak kontras di tengah embun putih dan es di sekitarnya.
Kalau diperhatikan saat diam seperti ini, August terlihat keren juga.
Tapi Vega tidak bisa memungkiri bahwa August bukan tipe cowok idealnya.
August terlalu ramai dan terkesan berandal.
Di samping itu, dia terlalu mudah mengungkapkan isi kepalanya sehingga kadang sulit menyaring kalimat yang penting diucapkan dan tidak.
"Vega...ayo ke sini." August mengajak sambil mengulurkan tangan.
Spontan, Vega mengulurkan tangan dan memegang uluran tangan August.
August mengajak Vega meluncur ke area khusus murid skater yang dilarang dimasuki pengunjung biasa.
"August...entar diomelin kita..." Vega mengingatkan.
"Enggak, tenang aja..."
Vega gelisah, namun mengikuti August sambil diam saja
Terlihat seorang petugas mendekat ke arah mereka.
August tetap cuek dan asik meluncur di sana.
"August...." Vega memanggil saat petugas itu semakin mendekat.
Tapi petugas itu segera membelokkan arah dan tidak menegur mereka.
Vega mengerutkan dahi terheran-heran.
"Udah ...tenang aja Vega. Gue udah minta ijin untuk kita main di area sini..." August menjelaskan singkat.
"Rese....kenapa nggak bilang dari tadi? Gue kan ngeri diomelin sama penjaganya..." Vega merengut.
"Hehehe... ya abisnya, elo nggak nanya..." August membalas. "Tapi, thanks ya..."
"Buat?"
"Nemenin gue di hari ulang tahun gue."
Vega jadi salah tingkah sendiri.
Bukan perkara besar, tapi cara August mengatakannya seolah Vega telah melakukan sesuatu yang membahagiakannya.
Tatapan mata August sangat berbinar-binar dan tertuju lurus kepada Vega.
"Eh iya...sama sama..." Vega menjawab terbata-bata.
Karena salah tingkah, Vega melangkah di kaki yang salah dan spontan menukik ke belakang.
August yang berdiri dekat tepian, langsung menarik Vega agar tidak jatuh ke belakang.
Alhasil punggung August membentur besi pegangan yang terdapat di sekeliling ring.
Dahi Vega menabrak tepat di leher August dan tangannya mencengkeram bagian belakang baju August erat-erat.
Sekelibat, terhirup wangi parfum Bvlgari dari pakaian August, persis aroma di jaket hijau itu.
"August...gue pingin nanya..." Vega memberanikan diri. "Waktu itu, sekitar beberapa minggu lalu, gue ketiduran di kelas..."
Vega mundur agak menjauh sedikit.
Dia mencoba meluruskan pikirannya tanpa menghirup wangi bvlgari yang menggelitik sarafnya.
"Dan ketika bangun, ada jaket hijau nyelimutin gue..." Vega memperhatikan reaksi August yang menatapnya serius. "Itu, punya elo?"
August diam sesaat, kemudian tersenyum.
Vega melihat senyuman yang berbeda kali ini.
Bukan seringai nakal yang biasa dilemparkan August saat ingin menggodanya.
Bukan senyuman datar tanpa arti.
Justru sebaliknya, senyuman August kali itu diikuti tatapan mata yang lembut ke arahnya.
"Iya Vega,...itu punya gue."
Vega agak terkejut August mengaku secara langsung, meskipun lega di saat yang bersamaan.
"Kenapa elo taro di pundak gue waktu itu?"
"...karena, gue enggak mau cewek yang gue sukai tertidur di bawah sorot AC yang bikin menggigil..."
Sedetik, Vega terdiam terpaku.
Mencoba mencerna kalimat August masak-masak.
Tapi, tanpa perlu dipikirkan lebih jauh, August melanjutkan kalimatnya.
"Gue suka sama elo...gue sayang banget sama elo Vega...." August mengeratkan pegangannya pada tangan Vega. "Elo mau jadi pacar gue?"
Ayahnya baru saja pergi ke Hong Kong untuk rapat direksi.
Dia baru berencana akan masuk ke dalam rumah ketika handphonenya bergetar.
Terpampang nama August di sana.
"Iya...kenapa?" Vega bertanya tanpa basa basi ketika mengangkat telepon tersebut.
"Temenin gue jalan yuk!" August juga mengajak tanpa basa basi.
Terdapat nada jeda sesaat dan Vega pun berfikir dalam diam
"Sama siapa aja?"
"Kita berdua doang."
"Ngapain pergi berdua doang?" Vega langsung enggan.
"Hari ini...ulang tahun gue." August menjawab pelan.
Vega menoleh kalender di layar handphonenya.
Terpampang tanggal 31 Agustus di sana.
"Elo ultah tanggal berapa?" Vega bertanya memastikan.
"Tanggal 31. Tepat akhir bulan."
Vega menimbang-nimbang sesaat.
Ragu-ragu kalau ini keputusan yang tepat.
Melihat sepak terjang August beberapa waktu lalu saat MaKrab di Bandung, terlihat agak agresif.
Terang saja Vega tidak terlalu suka dengan cara August berinteraksi.
Tapi, kalau soal ulang tahun...
Vega sendiri yang hampir tidak pernah merayakan ulang tahunnya, sejujurnya tidak penting
Namun sudah menjadi tata krama untuk menghormati permintaan khusus seseorang pada hari kelahirannya.
"Ya udah...gue temenin. Mau ke mana?" Vega akhirnya pasrah.
"Taman Anggrek aja ya...?" August mengajak antusias.
"...enggak ke Emporium Pluit aja? Lebih enak buat jalan kayaknya..."
"Gue mau main ice skating. Boleh kan?"
"Hmm.... oke deh." Vega menyetujui permintaan August pada akhirnya.
Sesaat kemudian, Vega berganti pakaian dan bersiap.
Dia mengenakan celana jeans panjang dengan baggy knitted sweater.
Sepatu ankle boots sepertinya terlihat santai untuk sekedar jalan.
rambutnya yang panjang itu digulung setengahnya dan dimasukkan ke dalam topi rajut sewarna dengan sweaternya.
Beberapa saat kemudian, Jazz milik August membunyikan klakson dan tiba di depan rumah.
Sepertinya August tidak kesulitan mencari rumahnya, sebab daerah Vega tidak banyak jalan kecil berliku.
"Yuk, naik." August menurunkan kaca mobil bagian penumpang tepat di sebelahnya.
Vega tanpa banyak bertanya langsung masuk dan memasang seat belt.
Mobil memasuki jalan tol yang tergolong lancar untuk hari kerja seperti ini.
"Udah makan, Ve?" August mencoba mencairkan suasana.
"Udah kok."
August kembali bungkam setelah menerima jawaban singkat dan padat dari Vega.
Sesampainya di tempat parkir, Vega dan August turun dari mobil.
Mereka naik lift yang terdapat di basement, dan tiba di lantai dasar.
Vega berjalan satu langkah di belakang August hingga tiba di lantai atas, area ice skating.
August membeli tiket untuk 2 orang, dan mereka berjalan masuk ke area penukaran sepatu.
Vega mengukur kakinya di papan yang disediakan, kemudian mengambil sepatu bernomor 37 sesuai ukurannya.
August mengulurkan sepasang kaus kaki dan sarung tangan yang dibelinya di counter tadi.
Seusai memakai sepatu dan mengikatnya dengan kencang, Vega memasuki ring skating yang baru selesai dilapisi esnya.
Setiap 2 jam sekali, diadakan pelapisan ulang es untuk menjaga kenyamanan pengunjung yang bermain di sana.
Vega dapat melihat embun keluar setiap kali dia menghembuskan nafas.
August meluncur perlahan di sebelahnya, sambil sesekali melihat ke arah Vega.
Sekilas, penampilan August dengan rambutnya yang berwarna ungu tampak kontras di tengah embun putih dan es di sekitarnya.
Kalau diperhatikan saat diam seperti ini, August terlihat keren juga.
Tapi Vega tidak bisa memungkiri bahwa August bukan tipe cowok idealnya.
August terlalu ramai dan terkesan berandal.
Di samping itu, dia terlalu mudah mengungkapkan isi kepalanya sehingga kadang sulit menyaring kalimat yang penting diucapkan dan tidak.
"Vega...ayo ke sini." August mengajak sambil mengulurkan tangan.
Spontan, Vega mengulurkan tangan dan memegang uluran tangan August.
August mengajak Vega meluncur ke area khusus murid skater yang dilarang dimasuki pengunjung biasa.
"August...entar diomelin kita..." Vega mengingatkan.
"Enggak, tenang aja..."
Vega gelisah, namun mengikuti August sambil diam saja
Terlihat seorang petugas mendekat ke arah mereka.
August tetap cuek dan asik meluncur di sana.
"August...." Vega memanggil saat petugas itu semakin mendekat.
Tapi petugas itu segera membelokkan arah dan tidak menegur mereka.
Vega mengerutkan dahi terheran-heran.
"Udah ...tenang aja Vega. Gue udah minta ijin untuk kita main di area sini..." August menjelaskan singkat.
"Rese....kenapa nggak bilang dari tadi? Gue kan ngeri diomelin sama penjaganya..." Vega merengut.
"Hehehe... ya abisnya, elo nggak nanya..." August membalas. "Tapi, thanks ya..."
"Buat?"
"Nemenin gue di hari ulang tahun gue."
Vega jadi salah tingkah sendiri.
Bukan perkara besar, tapi cara August mengatakannya seolah Vega telah melakukan sesuatu yang membahagiakannya.
Tatapan mata August sangat berbinar-binar dan tertuju lurus kepada Vega.
"Eh iya...sama sama..." Vega menjawab terbata-bata.
Karena salah tingkah, Vega melangkah di kaki yang salah dan spontan menukik ke belakang.
August yang berdiri dekat tepian, langsung menarik Vega agar tidak jatuh ke belakang.
Alhasil punggung August membentur besi pegangan yang terdapat di sekeliling ring.
Dahi Vega menabrak tepat di leher August dan tangannya mencengkeram bagian belakang baju August erat-erat.
Sekelibat, terhirup wangi parfum Bvlgari dari pakaian August, persis aroma di jaket hijau itu.
"August...gue pingin nanya..." Vega memberanikan diri. "Waktu itu, sekitar beberapa minggu lalu, gue ketiduran di kelas..."
Vega mundur agak menjauh sedikit.
Dia mencoba meluruskan pikirannya tanpa menghirup wangi bvlgari yang menggelitik sarafnya.
"Dan ketika bangun, ada jaket hijau nyelimutin gue..." Vega memperhatikan reaksi August yang menatapnya serius. "Itu, punya elo?"
August diam sesaat, kemudian tersenyum.
Vega melihat senyuman yang berbeda kali ini.
Bukan seringai nakal yang biasa dilemparkan August saat ingin menggodanya.
Bukan senyuman datar tanpa arti.
Justru sebaliknya, senyuman August kali itu diikuti tatapan mata yang lembut ke arahnya.
"Iya Vega,...itu punya gue."
Vega agak terkejut August mengaku secara langsung, meskipun lega di saat yang bersamaan.
"Kenapa elo taro di pundak gue waktu itu?"
"...karena, gue enggak mau cewek yang gue sukai tertidur di bawah sorot AC yang bikin menggigil..."
Sedetik, Vega terdiam terpaku.
Mencoba mencerna kalimat August masak-masak.
Tapi, tanpa perlu dipikirkan lebih jauh, August melanjutkan kalimatnya.
"Gue suka sama elo...gue sayang banget sama elo Vega...." August mengeratkan pegangannya pada tangan Vega. "Elo mau jadi pacar gue?"
0