Kaskus

Story

avelsalvianeAvatar border
TS
avelsalviane
Tell me your dreams
karena thread ini dibuat malem hari jadi...

malem gan! numpang coret2 ya dimari. habis ngubek2 klonengan di old kaskus ternyata ketemu cerita yg di tulis sm temen gw. doi cewe dan minjem klonengan gw karna doi ga ngerti ngaskus. skrg pun doi uda ga ngaskus. harapan gw tulisan doi bisa menghibur temen2 disini. dan oh ya, ini cerita dibuat pas doi lg jatuh cinta nih kayaknya emoticon-Ngakak (S)jadi mgkn mirip2 serial cantik ya. but, sbg cerita cinta pendek mnrt gw cerita ini bagus. soooooo, happy reading!


all credits goes to you, si anak tukang beras.
cheers
emoticon-Peace

Quote:
Diubah oleh avelsalviane 01-08-2013 14:32
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
1.4K
23
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
avelsalvianeAvatar border
TS
avelsalviane
#12
#7

Seribu alasan berkecamuk di benak Vina tapi tak ada satu pun alasan yg masuk akal untuk pamit undur diri dari hadapan Karin. dan Max.

Vina hanya bisa duduk diam sambil memegangi sisi meja dengan gugup dan duduk tegak seakan kursi yg didudukinya sepanas bara api. pikir Vina untuk segera meninggalkan tempat itu sebelum Max mendapati Vina bergabung di reuni kecil mereka tetapi sampai detik ini belum terpikir juga alasan yg cukup masuk akal untuk pergi.

Sepersekian detik kemudian Max muncul dengan membawa 2 scoop es krim strawberry dingin dengan kedua tangannya.

"loh ada elu Vi, mau sekalian gua beliin es krim ga nih?" tanya Max santai.

"ahh?" jawab Vina, atau sbnrnya bukan jawaban tetapi hanya sebuah ekspresi bingung yg terbesit di wajahnya.

"mau engga?" tawar Max sekali lagi sambil memberikan salah satu dari es krim tersebut ke Karin yg tanpa disadari juga sedang menunggu jawaban dari Vina.

"ya, boleh deh. tapi gua beli sendiri aja." jawab Vina lancar setelah berdiam cukup lama, kebetulan mulutnya memang sedang mendambakan sedikit sensasi rasa manis dan dingin.

"ga usah gua aja yg beli. kalau pake card gua dapet diskon kok."

"ehh ga usah Max." ucap Vina tetapi Max tetap berjalan tanpa menghiraukan penolakan dari Vina

"Udah ga usah malu-malu Vi. masa malu-malu sama kita sih." ucap Vina setelah Max berada di luar jangkauan pembicaraan mereka berdua.

"hahaha iya-iya Rin."

mereka ngobrol sebentar tentang kejadian-kejadian di sekolah dan Max muncul dengan satu lagi scoop es krim coklat dengan taburan meyses dimana-dimana. tampaknya Max masih ingat rasa es krim kesukaan Vina.

"nih Vi." Max memberikan es krim yg baru saja di belinya untuk Vina yg tampak masih sedikit grogi

"iya, thanks Max."

Max duduk dan perlahan mulai bisa mengikuti alur pembicaraan antara Karin dan Vina. Vina merasa sangat akrab dengan mereka berdua, hal itu membuat Vina nyaman dan tidak merasa gugup ataupun grogi lagi. pikiran untuk pergi secepatnya sudah dibuangnya jauh-jauh, digantikan dengan suatu perasaan berkepanjangan yg membuat Vina ingin terus seperti ini, berdekatan dengan Max walaupun hanya sebagai teman.

tak lama kemudian, handphone Vina berbunyi. mamanya SMS, memperingatkan Vina untuk tidak pulang terlalu larut.

"emm, gue pulang dulu ya Karin, Max. nyokap gua ud nyuruh pulang nih."

"bareng aja sama kita, kita juga ud mau pulang kok Vi."

lagi2 Vina tidak tahu harus berbuat apa. berdekatan dengan Max memang membuat Vina nyaman dan senang, tapi mengingat betapa nyamannya Vina berada di dekat Max, menimbulkan perasaan super bersalah kepada Karin, pacar Max. terlepas dari semua itu, Vina memang tidak tahu harus pulang naik apa karna Nina pun sekarang ga tau ada dimana.

"ude gapapa ikut kita aja, lagian udah malem masa lu mau pulang sendirian." Max yg bicara kali ini.

"...." Vina diam tetapi mengisyaratkan 'ya' dengan mengubah arah kakinya melaju ke arah yg sama dengan Max dan Karin.

komplek rumah Karin dan mall tidak terlalu jauh. Vina memutuskan untuk turun di depan komplek rumah Karin dan pulang ke rumahnya naik taksi. Karin memaksa Vina untuk diantar oleh supirnya, tapi Vina bersikukuh ingin pulang naik taksi. Karin hanya bisa menyuruh Vina berjanji untuk hati-hari dan mengabari Karin setelah Vina sampai di rumah. Vina pun meng-'iya'-kannya.

Setelah sampai di rumah Karin.

"mau masuk dulu ga Max?" tanya Karin dari depan jendela mobil Max setelah Vina turun dari mobil.

"udah malem Rin, gua juga ud lumayan cape." jawab Max sambil nyengir entah kenapa.

"Oke deh, ude sampe rumah kabarin aku ya." Karin mengulurkan tangganya, ingin menggapai wajah Max dengan tangan kanan halusnya. Tahu tidak akan sampai, Max juga mencondongkan kepalanya ke arah tangan Karin terulur

"Lu tau ga Max? Gua bener-bener beruntung bisa milikin lo." ucap Karin setelah sukses menggapai wajah Max yg terlihat serius. Max menatap mata Karin tajam, jauh di lubuk hatinya, Max tidak ingin masa-masa seperti ini berlalu.

"Hahh. laen kali jangan ajak lu pergi malem-malem deh. angin malem bikin lu jadi cengeng." canda Max, tersenyum sambil memindahkan tangan Karin yg dingin dari pipinya menuju ke depan mulut Max sehingga Max dapat mengecup tangan Karin.

Tangan Karin mengepal dan dengan amat pelan meninju pipi kiri Max.

"inget jgn keluyuran ya! kalo uda sampe rumah kabarin gua." Karin menarik tangannya.

"iya bawel."

"...." Karin diam dan hanya mengangguk sambil tersenyum dan menunggu mobil Max hilang di kejauhan

Setelah itu, Karin masuk ke dalam rumah dengan langkah yg hanya dimiliki oleh orang terbahagia sedunia.

-mobil Max-

Just gonna stand there n watch me burn.
That's alright because I like the way it hurts.
Just gonna stand there n hear me cry.
That's alright because I love the way you lie.


Terdengar lantunan salah satu lagu dari album terbaru rapper asal Kansas favorit Max.

Max bersenandung kecil dengan suara lehernya saat membelokan mobilnya, belum jauh dari rumah Karin, Max melihat seseorang yg sepertinya dia kenal sedang berjalan.

"Vina?" Max bertanya pada dirinya sendiri.

Semakin dekat, semakin Max yakin bahwa orang itu adalah Vina. Max menghentikan mobilnya sementara Vina terkaget sekaligus takut. Max keluar dari mobil.

"Vina? lu kok jalan kaki? bknnya katanya lo naek taksi?" tanya Max.

"ya ampun Max! aduh lu bikin gua kaget." Vina mengusap dadanya. "iya, tadi gua mau naek taksi tp ga ada taksi. jadi gua jalan deh kali-kali di depan baru ada taksi."

"lu gila ya?? ini udah malem, bahaya jalan di jalanan sepi gini. gua anter lo deh sampe rumah." Max kesal setelah mendapati kenekatan Vina. dengan wajah dan kepolosan Vina, Vina mempunyai peluang raksasa untuk dijadikan sasaran kejahatan.

tanpa bisa melawan karna Vina juga tau kalau Max kesal atas tindakannya, Vina membuka pintu mobil Max dan duduk manis di kursi penumpang sementara Max mulai menancap gas.

Suasana terasa sangat panas walaupun malam itu mendung. Vina tidak tahu harus berbuat apa selain berkata, "Sory Max. gua ga maksud bikin lu kesel."

Max terdiam dan memandang Vina melalui sudut matanya tanpa menghiraukan permintaan maaf Vina. setidaknya sampai Max mendapati Vina mulai meneteskan air mata.

"Sory Max. gu...gue minta.. maaf.."

"loh kok lu nangis? ehh gapapa kali iya gua ga marah Vi. gua cuma ga mau lu kenapa-kenapa." Max tidak mempedulikan kalau-kalau Max menunjukan sedikit perasaannya yg sudah ada sejak SMP, perasaan yg mungkin sama dengan perasaan Vina walaupun tidak sekuat Vina, Max yakin perasaan itu masih hidup di hati Max sampai sekarang tanpa seorang pun pernah tau.

"iya." jawab Vina sesungukan.

Max menghentikan laju mobilnya dan mengambil sehelai tissue. Max mulai melakukan sesuatu yg tidak pernah Vina duga. Max menghapus air mata Vina.

"jangan nangis lagi ya Vi."

"...." Vina mengangguk pelan. malam itu akan menjadi malam yg indah Vina jika Vina tidak mengingat bahwa lelaki pujaannya adalah pacar dari teman baiknya.

Max mengeluarkan CD Eminem yg baru saja di beli dari CD player nya dan memasukkan CD lainnya.

Pencet sana pencet sini, sebuah lantunan gitar accoustic mulai terdengar. Max mulai menjalankan mobilnya lagi setelah menaruh kotak tissue di dekat Vina kalau-kalau Vina masih membutuhkan beberapa helai lagi untuk menghapus air yg mengalir dari matanya.

Vina mulai mengenal lagu yg terdengar setelah suara khas dari Phil Collins bisa dicerna oleh otak Vina yg sedang tidak karuan. You'll be in My Heart, lagu yg sering dinyanyikan Max untuk Vina dulu.

Max juga sama bingungnya dengan Vina. perasaannya yg sudah lama di kuburnya dalam-dalam dan berharap bisa segera hilang ternyata tak kunjung memudar. Max sangat mencintai Karin, tapi Vina adalah sosok perempuan yg membuat Max kuat dulu. jika dulu Max hampir jatuh ke dalam jurang kehancuran dan Karin yg membawa Max kembali ke jalan yg benar, Vina lah orang yg menahan Max untuk tetap berada di pinggir jurang agar tidak benar-benar terjatuh.

Karin terlalu penting di hidup Max, begitu pula Vina. dan Vina tidak tahu akan hal itu.

Vina terlalu sedih jika harus mengingat bahwa Max tidak akan pernah menjadi miliknya. terkadang hal itu membuat Vina melakukan hal-hal tanpa pernah dipikirkan terlebih dahulu. seperti memegang tangan Max yg sedang menggenggam transmisi manual sekarang.

Max kaget tetapi tidak melakukan penolakan apapun. Max membiarkan tangan Vina memegang tangan Max. sama halnya seperti Vina, Max juga terkadang melakukan hal-hal tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

"Aku sayang kamu Max." ucap Vina sambil meneteskan air matanya, merasa bersalah pada teman baiknya. tapi Vina sendiri tidak dapat menahan terpaan perasaan untuk mengungkapkan ganjalan hatinya selama ini.

"...." Max hanya bisa terdiam.
Diubah oleh avelsalviane 31-07-2013 13:56
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.