- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.8K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#996
29. Realita part 2
"...jadi sebenernya, selama ini kita marah-marahan kayak orang bego?" Milo tertawa terbahak-bahak.
Vega ikut tertawa melihat Milo.
Tidak ada yang lucu, menurutnya.
Tapi secercah kelegaan meresap di hatinya.
Seolah Milo yang dulu sudah kembali
"Tapi..." Vega melanjutkan. "Itu semua kejadian waktu kita SMP..."
Vega menelan kata-katanya sendiri dengan pahit.
Dia tidak ingin memberikan kesan yang salah kepada Milo bahwa dia sedang 'nembak; Milo.
Kalimatnya tadi murni hanya untuk meluruskan apa yang pernah terjadi.
Dia tidak ingin dicap 'memanfaatkan situasi' Milo yang baru saja single.
Tawa Milo terhenti saat mendengarnya.
"Iya, gue ngerti kok. Udah bertahun-tahun lewat, mana mungkin elo masih suka sama gue..." terdengar pilu di nada suara Milo. "Plus, si cowok berambut ungu itu.."
Vega merenyitkan alis.
"August itu sepupunya Chery. Temennya Reira kok."
Milo tampak sedikit terkejut.
Sepertinya sebelumnya dia tidak mengetahui fakta tersebut.
Namun kembali memasang wajah datar.
"Gue,...beberapa waktu lalu sempet ngeliat elo tidur di kelas."
"Kapan?"
"Waktu pengen jemput Reira..." Milo menjelaskan. "Elo ngigau....manggil nama gue."
Vega langsung menoleh cepat.
Seolah di jidatnya tertempel huruf berukuran raksasa 'YANG BENER?!'
"Emang waktu itu elo mimpi apa?" Milo menyelidiki.
Vega menggigit bibir dan memutar bola mata.
Dia berpikir keras, apakah harus diceritakan bahwa topik mimpinya adalah Milo?
"Gue...nggak mimpi apa-apa waktu itu."
"Bohong." Milo langsung memotong. "Tatap mata gue, Ve."
Justru mata berwarna biru itulah yang Vega hindari.
Karena dia tahu sekali bertabrakan tatapan dengannya, semua pertahanan Vega bisa runtuh.
"Ngapain gue bohong sama elo? Nggak ada untungnya..." Vega mencibir. "Gue aja nggak inget pernah ngigau manggil nama elo..."
Pasrah, Milo hanya mengangguk dan terdiam.
Sepertinya jika dilanjutkan Milo hanya merasa ke-GR-an sepihak.
"...terus rencana elo sama Reira gimana?" Vega bertanya mengalihkan topik.
Topik yang salah.
Milo kembali mengeraskan rahangnya.
"Ya gue udah putus. Mau ada rencana apa lagi?" terdengar nada kasar di cara bicaranya.
Lagi-lagi Vega menemukan satu sisi Milo yang baru.
Yang sejak dulu tidak pernah ditunjukkannya.
Milo jadi gampang emosi, sepertinya.
"Vega..." Milo menoleh kepadanya. "Mau kan kita temenan?"
Vega menaikkan alisnya.
"Pertanyaan itu familiar banget yaa..." mendadak dia tertawa geli sendiri. "Ya...kandidat pertama deh."
"Lho?" Milo memasang wajah bodoh. "Jadi selama ini, kita apa dong? Masa' gue kandidat pertama terus?"
"Eh iya, setelah Chery jadi kandidat kedua deh..." Vega menjulurkan lidah.
"Veegaaa!!!" Milo merajuk.
Tawa Vega membahana.
Ya, kali ini, untuk detik-detik ini saja, Vega benar-benar merasa bahagia.
Dia melupakan segala beban yang pernah dilaluinya,
Dan tertawa selepas-lepasnya
Bersama Milo.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di tempat lain, Reira sedang duduk di cafe bersama August.
Dia memesan segelas Caramello Frappe yang sedari tadi tidak disentuhnya sama sekali.
August mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya perlahan sambil sesekali melirik ke arah Reira yang mematung.
"August..." Reira membuka pembicaraan. "Kenapa Milo kayak gitu ya?"
"Mana gue tau." August menjawab cuek. "Elo bikin salah kali sama dia..."
"Gue tuh cuma sebel, Gus!" Reira menaikkan nada suaranya.
August sedikit mendengus mendengar Reira memenggal namanya dan membuatnya terdengar katrok.
"Tapi Reira... setau gue, elo itu punya harga diri tinggi, berduit, dan nggak kesusahan nyari cowok. Ngapain nge-stuck sama satu orang macem Milo?" August bertanya setengah nge-rap.
"...gue bener-bener suka sama dia. Meskipun umurnya lebih kecil dari gue, tapi sikapnya dewasa, berwibawa, dan dia bikin gue ngerasa dilindungi. Semua cowok yang lebih tua dari gue, cuma ngelihat gue sebagai trophy. Tapi Milo ngelihat gue seperti cewek biasa."
August mengunci bibirnya rapat-rapat.
Sedikit banyak August mengerti maksud perkataan Reira.
"Mungkin bukan tempatnya gue untuk ngomong,...tapi Chery itu sepupu gue." August menjawab.
"Chery...yang tadi jalan sama Vega?"
"Iya..."
"O iya, bener juga! Chery kan' temen SMA Milo juga! Gue baru inget, sehari sebelom putus gue sempet mergokin Chery lagi ngobrol sama Milo!"
"Justru itu yang pingin gue ceritain, Ra..." August melanjutkan. "Dulu banget,...duluuu.... Chery pernah cerita sama gue kalo Vega itu suka sama cowok dan cowok itu juga suka sama dia. Tapi karena salah paham, jadinya mereka ribut dan si cowok itu pindah ke New York. Kejadiannya persis pas kelulusan SMP."
Reira bungkam sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
Dari kaca cafe terlihat orang lalu-lalang.
Otak Reira berpikir keras, sebelum dia kemudian menjentikkan jarinya.
"Jadi, Milo sama Vega dulunya jadian?! Mereka...itu ex-??"
"Enggak. " potong August. "Hubungan tanpa status."
Reira terhenyak di kursinya.
"Berarti Vega penyebab Milo putus dari gue, dong!"
"Whoo...jangan main nge-cap dulu dong Ra. Elo berantem dan putus sama Milo, kan ngga ada hubungannya sama Vega!" August membela Vega sambil melipat tangannya. "Vega itu nggak mungkin ngerebut cowo-nya orang."
"Ngapain sih, elo belain Vega banget. Naksir sama dia??" Reira mencibir.
"Iya. Gue suka sama Vega. Dan gue yakin cewe yang gue suka itu nggak berbuat seperti yang elo tuduhkan."
Reira mendengus melampiaskan kekalahannya.
Dia tahu betul, tidak akan menang adu debat dengan August si kepala batu ini.
Walaupun serampangan, tapi August berpendirian keras.
Sambil mematikan rokoknya, August berjalan bangkit.
"Eh, mau ke mana?" Reira menahan August pergi.
"Udah selesai kan' elo curhatnya? Gue mau balik."
"Nggak sopan..." Reira manyun. "Ya udah, balik sana. Thanks ya buat infonya..."
August berbalik dan mendekati wajah Reira.
Ditatapnya mata Reira dalam-dalam.
"Gue tau, elo wanita yang smart. Jadi please jangan ngelakuin hal aneh-aneh ya. Kalo emang elo bener-bener tulus menganggap Milo berarti buat elo, jangan paksa Milo untuk balik sama elo kalo memang bikin dia gak bahagia." August menasehati panjang lebar.
"Emangnya elo nggak sakit hati kalo Vega direbut Milo?"
"Memang dia bukan milik gue kok. Bagaimana bisa dia direbut?" August tertawa renyah. "Tapi ketika waktunya tiba, kalo memang begitu seharusnya, pasti dia akan jadi milik gue. Saat itu terjadi, nggak akan gue biarkan seorang pun merebut dia dari gue."
Reira bergidik mendengar kalimat August yang terakhir.
Akhirnya dia hanya memandang August berjalan pergi dan menenteng jaket kulit miliknya.
Luka di dalam hati Reira masih menganga, tapi dia hanya menahan perihnya dalam diam.
"I Miss You, Milo..."
Vega ikut tertawa melihat Milo.
Tidak ada yang lucu, menurutnya.
Tapi secercah kelegaan meresap di hatinya.
Seolah Milo yang dulu sudah kembali
"Tapi..." Vega melanjutkan. "Itu semua kejadian waktu kita SMP..."
Vega menelan kata-katanya sendiri dengan pahit.
Dia tidak ingin memberikan kesan yang salah kepada Milo bahwa dia sedang 'nembak; Milo.
Kalimatnya tadi murni hanya untuk meluruskan apa yang pernah terjadi.
Dia tidak ingin dicap 'memanfaatkan situasi' Milo yang baru saja single.
Tawa Milo terhenti saat mendengarnya.
"Iya, gue ngerti kok. Udah bertahun-tahun lewat, mana mungkin elo masih suka sama gue..." terdengar pilu di nada suara Milo. "Plus, si cowok berambut ungu itu.."
Vega merenyitkan alis.
"August itu sepupunya Chery. Temennya Reira kok."
Milo tampak sedikit terkejut.
Sepertinya sebelumnya dia tidak mengetahui fakta tersebut.
Namun kembali memasang wajah datar.
"Gue,...beberapa waktu lalu sempet ngeliat elo tidur di kelas."
"Kapan?"
"Waktu pengen jemput Reira..." Milo menjelaskan. "Elo ngigau....manggil nama gue."
Vega langsung menoleh cepat.
Seolah di jidatnya tertempel huruf berukuran raksasa 'YANG BENER?!'
"Emang waktu itu elo mimpi apa?" Milo menyelidiki.
Vega menggigit bibir dan memutar bola mata.
Dia berpikir keras, apakah harus diceritakan bahwa topik mimpinya adalah Milo?
"Gue...nggak mimpi apa-apa waktu itu."
"Bohong." Milo langsung memotong. "Tatap mata gue, Ve."
Justru mata berwarna biru itulah yang Vega hindari.
Karena dia tahu sekali bertabrakan tatapan dengannya, semua pertahanan Vega bisa runtuh.
"Ngapain gue bohong sama elo? Nggak ada untungnya..." Vega mencibir. "Gue aja nggak inget pernah ngigau manggil nama elo..."
Pasrah, Milo hanya mengangguk dan terdiam.
Sepertinya jika dilanjutkan Milo hanya merasa ke-GR-an sepihak.
"...terus rencana elo sama Reira gimana?" Vega bertanya mengalihkan topik.
Topik yang salah.
Milo kembali mengeraskan rahangnya.
"Ya gue udah putus. Mau ada rencana apa lagi?" terdengar nada kasar di cara bicaranya.
Lagi-lagi Vega menemukan satu sisi Milo yang baru.
Yang sejak dulu tidak pernah ditunjukkannya.
Milo jadi gampang emosi, sepertinya.
"Vega..." Milo menoleh kepadanya. "Mau kan kita temenan?"
Vega menaikkan alisnya.
"Pertanyaan itu familiar banget yaa..." mendadak dia tertawa geli sendiri. "Ya...kandidat pertama deh."
"Lho?" Milo memasang wajah bodoh. "Jadi selama ini, kita apa dong? Masa' gue kandidat pertama terus?"
"Eh iya, setelah Chery jadi kandidat kedua deh..." Vega menjulurkan lidah.
"Veegaaa!!!" Milo merajuk.
Tawa Vega membahana.
Ya, kali ini, untuk detik-detik ini saja, Vega benar-benar merasa bahagia.
Dia melupakan segala beban yang pernah dilaluinya,
Dan tertawa selepas-lepasnya
Bersama Milo.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di tempat lain, Reira sedang duduk di cafe bersama August.
Dia memesan segelas Caramello Frappe yang sedari tadi tidak disentuhnya sama sekali.
August mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya perlahan sambil sesekali melirik ke arah Reira yang mematung.
"August..." Reira membuka pembicaraan. "Kenapa Milo kayak gitu ya?"
"Mana gue tau." August menjawab cuek. "Elo bikin salah kali sama dia..."
"Gue tuh cuma sebel, Gus!" Reira menaikkan nada suaranya.
August sedikit mendengus mendengar Reira memenggal namanya dan membuatnya terdengar katrok.
"Tapi Reira... setau gue, elo itu punya harga diri tinggi, berduit, dan nggak kesusahan nyari cowok. Ngapain nge-stuck sama satu orang macem Milo?" August bertanya setengah nge-rap.
"...gue bener-bener suka sama dia. Meskipun umurnya lebih kecil dari gue, tapi sikapnya dewasa, berwibawa, dan dia bikin gue ngerasa dilindungi. Semua cowok yang lebih tua dari gue, cuma ngelihat gue sebagai trophy. Tapi Milo ngelihat gue seperti cewek biasa."
August mengunci bibirnya rapat-rapat.
Sedikit banyak August mengerti maksud perkataan Reira.
"Mungkin bukan tempatnya gue untuk ngomong,...tapi Chery itu sepupu gue." August menjawab.
"Chery...yang tadi jalan sama Vega?"
"Iya..."
"O iya, bener juga! Chery kan' temen SMA Milo juga! Gue baru inget, sehari sebelom putus gue sempet mergokin Chery lagi ngobrol sama Milo!"
"Justru itu yang pingin gue ceritain, Ra..." August melanjutkan. "Dulu banget,...duluuu.... Chery pernah cerita sama gue kalo Vega itu suka sama cowok dan cowok itu juga suka sama dia. Tapi karena salah paham, jadinya mereka ribut dan si cowok itu pindah ke New York. Kejadiannya persis pas kelulusan SMP."
Reira bungkam sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
Dari kaca cafe terlihat orang lalu-lalang.
Otak Reira berpikir keras, sebelum dia kemudian menjentikkan jarinya.
"Jadi, Milo sama Vega dulunya jadian?! Mereka...itu ex-??"
"Enggak. " potong August. "Hubungan tanpa status."
Reira terhenyak di kursinya.
"Berarti Vega penyebab Milo putus dari gue, dong!"
"Whoo...jangan main nge-cap dulu dong Ra. Elo berantem dan putus sama Milo, kan ngga ada hubungannya sama Vega!" August membela Vega sambil melipat tangannya. "Vega itu nggak mungkin ngerebut cowo-nya orang."
"Ngapain sih, elo belain Vega banget. Naksir sama dia??" Reira mencibir.
"Iya. Gue suka sama Vega. Dan gue yakin cewe yang gue suka itu nggak berbuat seperti yang elo tuduhkan."
Reira mendengus melampiaskan kekalahannya.
Dia tahu betul, tidak akan menang adu debat dengan August si kepala batu ini.
Walaupun serampangan, tapi August berpendirian keras.
Sambil mematikan rokoknya, August berjalan bangkit.
"Eh, mau ke mana?" Reira menahan August pergi.
"Udah selesai kan' elo curhatnya? Gue mau balik."
"Nggak sopan..." Reira manyun. "Ya udah, balik sana. Thanks ya buat infonya..."
August berbalik dan mendekati wajah Reira.
Ditatapnya mata Reira dalam-dalam.
"Gue tau, elo wanita yang smart. Jadi please jangan ngelakuin hal aneh-aneh ya. Kalo emang elo bener-bener tulus menganggap Milo berarti buat elo, jangan paksa Milo untuk balik sama elo kalo memang bikin dia gak bahagia." August menasehati panjang lebar.
"Emangnya elo nggak sakit hati kalo Vega direbut Milo?"
"Memang dia bukan milik gue kok. Bagaimana bisa dia direbut?" August tertawa renyah. "Tapi ketika waktunya tiba, kalo memang begitu seharusnya, pasti dia akan jadi milik gue. Saat itu terjadi, nggak akan gue biarkan seorang pun merebut dia dari gue."
Reira bergidik mendengar kalimat August yang terakhir.
Akhirnya dia hanya memandang August berjalan pergi dan menenteng jaket kulit miliknya.
Luka di dalam hati Reira masih menganga, tapi dia hanya menahan perihnya dalam diam.
"I Miss You, Milo..."
Diubah oleh jumpingworm 18-12-2013 18:29
0