- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
103.2K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#989
28. Realita
Vega terbengong-bengong menatap Milo.
Sepertinya dia terkejut becampur heran melihat kehadiran Milo di sana.
Jangan ditanya, Milo sendiri juga tidak mampu menerjemahkan isi otaknya sekarang ini.
Yang dia tahu, terakhir kali dia merasa tidak terbebani, lepas, dan bebas adalah saat bersama Vega.
Maka, dalam perjalanan menuju makan siang, Milo langsung memutar setirnya dan menuju ke tempat Vega.
Antara gambling dan mencoba peruntungan, Milo berdiri di tempat yang pasti akan dilalui Vega jika berjalan pulang.
Bola mata Milo berputar dan melihat sosok Reira berdiri terpaku di sana, sama terkejutnya
"Yok balik. Udah kelar kan kuliahnya?"
"Ngapain gue pulang sama elo?" Vega menolak blak-blakan.
Seharusnya Milo sudah menduga hal ini.
Vega bukan tipe yang akan 'ikut saja' tanpa mengetahui duduk persoalan.
"Pokoknya gue dateng untuk jemput elo..." Milo berjalan maju dan menarik Vega perlahan untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Milo...!" Vega memprotes.
"Please...?" Milo berbisik tepat di telinga Vega.
Akhirnya Vega menyerah dan duduk di bangku samping penumpang.
Dia tidak berani mengangkat wajahnya, yang jelas Milo tahu karena
Reira masih melihat ke arahnya dengan bola mata hampir meloncat.
"MILO!!" Reira berteriak nyaring hingga suaranya setengah hilang.
Milo menelan ludah hingga tenggorokannya bergerak-gerak.
Dia menggulirkan bola mata ke arah Reira yang sedang meredam amarahnya hingga wajahnya memerah.
Reira berjalan mendekat dengan cepat.
"Maksud kamu apa?!"
"...maksud yang mana ya?" Milo pura-pura blo'on.
"Kita baru putus sehari, kamu langsung deketin Vega?!
KETERLALUAN kamu ya!!"
"...Reira..." Milo berusaha berbicara sepelan dan setenang mungkin. "Waktu kita masih jadian, aku nggak keberatan kamu posesif-in. Tapi sekarang udah putus, apa masih perlu kamu posesif juga?"
"Nggak masalah gimana?! Jelas-jelas kamu ngamuk waktu aku ngatur-ngatur soal relationship kamu sama cewek lain!" Reira menekankan kata 'lain' sambil mendelik ke arah Vega.
"... tapi bukan aku yang minta kita putus, kan?"
Kata-kata Milo menghujam tajam dan membuat bibir Reira terkunci.
Bibirnya hanya mengatup-ngatup tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Hanya matanya mulai berkaca-kaca.
Milo segera angkat kaki dan menyetir mobilnya pergi dari sana.
Vega kelihatan gelisah sepanjang jalan.
Milo juga menyetir tanpa arah.
"Sorry..." Milo meminta maaf. "Pasti situasinya tadi awkward banget ya?"
"Gue nggak akan terima maaf elo, sebelum elo jelasin apa yang sedang terjadi." Vega menjawab dengan gaya skak-mat.
"Gue kalut, Ve..." Milo menjawab polos.
Vega mengangkat sebelah alisnya.
"Kalut? Kenapa?"
Milo menepi dan menghentikan mobilnya.
Kebetulan mereka memasuki daerah pemukiman yang tidak terlalu ramai.
"Gue nggak ngerti. Yang jelas ada sesuatu yang mengganjal perasaan gue dan bikin gue pingin meledak."
Vega duduk terdiam dan bersandar di kursinya.
"...nggak sebaiknya elo bicarain sama Reira? Kenapa harus memperburuk keadaan dengan nyeret-nyeret gue?"
"Karena yang gue mau bukan Reira,...tapi elo."
"Hah?! Enggak salah?"
"Maksud gue... orang yang bisa gue ajak ngomong, jadi diri sendiri apa adanya, dan nggak nuntut macem-macem, yang gue tau ya cuma elo."
Vega mengedipkan bola matanya, terlihat sedang berpikir keras.
"Pasti elo mikir gue udah gila ya? Gak masuk akal?"
"Banget." Vega menjawab tanpa jeda. "Malah gue pikir, gue adalah orang yang bikin elo kesel..."
Milo tertawa renyah mendengar pernyataan Vega.
Sebab, hal itu juga benar adanya.
"Gue...udah maafin elo kok." Milo berusaha menghibur dirinya sendiri. "Jujur, waktu itu parah banget...gue bener-bener sakit hati karena elo."
"Gue juga sakit hati sama diri gue sendiri." Vega menimpali dengan tawa yang sama garingnya.
"O ya?" Milo mengangkat alis pura-pura heran.
Baginya, ini kesempatan untuk meluruskan apa yang selama ini mengganjal di benaknya.
Dan meluruskan fakta dengan dugaan.
"...soalnya gue dulu sebenernya...juga suka sama elo, Milo..."
Sepertinya dia terkejut becampur heran melihat kehadiran Milo di sana.
Jangan ditanya, Milo sendiri juga tidak mampu menerjemahkan isi otaknya sekarang ini.
Yang dia tahu, terakhir kali dia merasa tidak terbebani, lepas, dan bebas adalah saat bersama Vega.
Maka, dalam perjalanan menuju makan siang, Milo langsung memutar setirnya dan menuju ke tempat Vega.
Antara gambling dan mencoba peruntungan, Milo berdiri di tempat yang pasti akan dilalui Vega jika berjalan pulang.
Bola mata Milo berputar dan melihat sosok Reira berdiri terpaku di sana, sama terkejutnya
"Yok balik. Udah kelar kan kuliahnya?"
"Ngapain gue pulang sama elo?" Vega menolak blak-blakan.
Seharusnya Milo sudah menduga hal ini.
Vega bukan tipe yang akan 'ikut saja' tanpa mengetahui duduk persoalan.
"Pokoknya gue dateng untuk jemput elo..." Milo berjalan maju dan menarik Vega perlahan untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Milo...!" Vega memprotes.
"Please...?" Milo berbisik tepat di telinga Vega.
Akhirnya Vega menyerah dan duduk di bangku samping penumpang.
Dia tidak berani mengangkat wajahnya, yang jelas Milo tahu karena
Reira masih melihat ke arahnya dengan bola mata hampir meloncat.
"MILO!!" Reira berteriak nyaring hingga suaranya setengah hilang.
Milo menelan ludah hingga tenggorokannya bergerak-gerak.
Dia menggulirkan bola mata ke arah Reira yang sedang meredam amarahnya hingga wajahnya memerah.
Reira berjalan mendekat dengan cepat.
"Maksud kamu apa?!"
"...maksud yang mana ya?" Milo pura-pura blo'on.
"Kita baru putus sehari, kamu langsung deketin Vega?!
KETERLALUAN kamu ya!!"
"...Reira..." Milo berusaha berbicara sepelan dan setenang mungkin. "Waktu kita masih jadian, aku nggak keberatan kamu posesif-in. Tapi sekarang udah putus, apa masih perlu kamu posesif juga?"
"Nggak masalah gimana?! Jelas-jelas kamu ngamuk waktu aku ngatur-ngatur soal relationship kamu sama cewek lain!" Reira menekankan kata 'lain' sambil mendelik ke arah Vega.
"... tapi bukan aku yang minta kita putus, kan?"
Kata-kata Milo menghujam tajam dan membuat bibir Reira terkunci.
Bibirnya hanya mengatup-ngatup tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Hanya matanya mulai berkaca-kaca.
Milo segera angkat kaki dan menyetir mobilnya pergi dari sana.
Vega kelihatan gelisah sepanjang jalan.
Milo juga menyetir tanpa arah.
"Sorry..." Milo meminta maaf. "Pasti situasinya tadi awkward banget ya?"
"Gue nggak akan terima maaf elo, sebelum elo jelasin apa yang sedang terjadi." Vega menjawab dengan gaya skak-mat.
"Gue kalut, Ve..." Milo menjawab polos.
Vega mengangkat sebelah alisnya.
"Kalut? Kenapa?"
Milo menepi dan menghentikan mobilnya.
Kebetulan mereka memasuki daerah pemukiman yang tidak terlalu ramai.
"Gue nggak ngerti. Yang jelas ada sesuatu yang mengganjal perasaan gue dan bikin gue pingin meledak."
Vega duduk terdiam dan bersandar di kursinya.
"...nggak sebaiknya elo bicarain sama Reira? Kenapa harus memperburuk keadaan dengan nyeret-nyeret gue?"
"Karena yang gue mau bukan Reira,...tapi elo."
"Hah?! Enggak salah?"
"Maksud gue... orang yang bisa gue ajak ngomong, jadi diri sendiri apa adanya, dan nggak nuntut macem-macem, yang gue tau ya cuma elo."
Vega mengedipkan bola matanya, terlihat sedang berpikir keras.
"Pasti elo mikir gue udah gila ya? Gak masuk akal?"
"Banget." Vega menjawab tanpa jeda. "Malah gue pikir, gue adalah orang yang bikin elo kesel..."
Milo tertawa renyah mendengar pernyataan Vega.
Sebab, hal itu juga benar adanya.
"Gue...udah maafin elo kok." Milo berusaha menghibur dirinya sendiri. "Jujur, waktu itu parah banget...gue bener-bener sakit hati karena elo."
"Gue juga sakit hati sama diri gue sendiri." Vega menimpali dengan tawa yang sama garingnya.
"O ya?" Milo mengangkat alis pura-pura heran.
Baginya, ini kesempatan untuk meluruskan apa yang selama ini mengganjal di benaknya.
Dan meluruskan fakta dengan dugaan.
"...soalnya gue dulu sebenernya...juga suka sama elo, Milo..."
Diubah oleh jumpingworm 26-07-2013 00:41
0