- Beranda
- Stories from the Heart
I will marry you, but not you [based on true story]
...
TS
benedicta33
I will marry you, but not you [based on true story]
Halo Agan-agan, dan Sista-sita.
Saya mau berbagi pengalaman cerita saya selama 3 (tiga) tahun terakhir.
Karena saya newbie, jadi tolong dibantu kalau ada penulisan yang salah.
Saya tidak memberikan banyak peraturan, peraturan yang saya beri adalah
1. JANGAN SARA,
2. JANGAN KOMENTARIN PAKE KATA" KASAR.
3. TOLONG HARGAI PRIVACY SAYA SEBAGAI TS
4. KALAU BELUM DI UPDATE SABAR AJA, SAYA JUGA FOKUS SAMA RL SAYA
Saya membuat cerita per part, dan nama tokoh yang asli disamarkan, kecuali nama saya. Cerita ini mengandung 100% real (maap sedikit lebay hehehe
)
Maaf kalo ada kata" yang salah atau kurang berkenan. Saya sedang belajar menulis, saya sangat membutuhkan dan menghargai komentar kalian.
Terima kasih
Saya mau berbagi pengalaman cerita saya selama 3 (tiga) tahun terakhir.
Karena saya newbie, jadi tolong dibantu kalau ada penulisan yang salah.
Saya tidak memberikan banyak peraturan, peraturan yang saya beri adalah
1. JANGAN SARA,
2. JANGAN KOMENTARIN PAKE KATA" KASAR.
3. TOLONG HARGAI PRIVACY SAYA SEBAGAI TS
4. KALAU BELUM DI UPDATE SABAR AJA, SAYA JUGA FOKUS SAMA RL SAYA
Saya membuat cerita per part, dan nama tokoh yang asli disamarkan, kecuali nama saya. Cerita ini mengandung 100% real (maap sedikit lebay hehehe
)Maaf kalo ada kata" yang salah atau kurang berkenan. Saya sedang belajar menulis, saya sangat membutuhkan dan menghargai komentar kalian.
Terima kasih

Spoiler for Indeks:
Spoiler for New Life:
Spoiler for Why?:
Spoiler for Next Life:
Spoiler for Pergulatan Batin:
Spoiler for Panggilanku dan panggilanmu:
Spoiler for Masa Kelam:
Spoiler for Just you and me:
Diubah oleh benedicta33 12-06-2014 21:14
JabLai cOY dan anasabila memberi reputasi
2
158.8K
998
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
benedicta33
#264
Part 35
Dalam perjalan pun aku masih menangis. Entahlah, airmata ini mengalir begitu aja, tanpa bisa diajak kompromi. Dan hatiku tak bisa dijelaskan dengan kata". Rasanya semua yang mau aku tanyakan tercegat dileherku. Tau kan, rasanya??
Hendri terdiam. Mungkin benar apa kataku. Perjalanan menjadi seorang calon pastor itu gak gampang. Pertama kali 'melamar' aja harus di test psikologi, kesehatan, harus ada surat rekomendasi dari pastoral setempat, harus ada surat kelakuan baik dari RT, RW, dan pastor pembimbing. Kalo teset seleksi masuk, mereka diberi waktu 3 bulan untuk mengikuti 'live-in' bagaimana mereka merasakan kehidupan biara sehari-hari, bagaimana mereka mengenal doa, meditasi, baca alkitab. Bagaimana mereka mengenal hidup sederhana, mencoba menemukan arti kehidupan sebenarnya, sambil mengasah panggilan khususnya ini, bukan itu aja, kalo mereka berhasil di tahap ini, mereka dipindahkan ditempat lain dan mencoba suasana berbeda tapi sambil terus menerus berdoa. Lalu, kalo sudah 1 tahun lebih mereka bertahan di biara, mereka dikuliahkan S1 ilmu filsafat, setelah lulus mereka di di pindahkan kepedalaman, setelah dari tugasnya dipedalaman beres, mereka dikuliahkan lagi, untuk S2 ilmu teologi transformatif, jika mereka jenius tingkat dewa (lebaay), mereka di sekolahkan di Italy dan di tempatkan di sana. Jadi, tak salah kan, kalo aku memohon pada dia agar melanjutkan kehidupan sebelumnya?
Ya, Hendri terkejut. Mengira aku tidak akan melakukan hal ini. Hendri membuka kotak beludru merah itu dan melihat cincin pemberianku. Sepasang cincin manis berada ditempat itu. Dan Hendri menangis, entahlah aku jadi tambah menangis, karena baru pertama kali liat cowok nangis sih
Apakah Hendri tetap pada pendiriannya, ingin keluar, atau mengikuti saran Dicta yang berharap Hendri menjadi pastor??
*Bersambung*
Dalam perjalan pun aku masih menangis. Entahlah, airmata ini mengalir begitu aja, tanpa bisa diajak kompromi. Dan hatiku tak bisa dijelaskan dengan kata". Rasanya semua yang mau aku tanyakan tercegat dileherku. Tau kan, rasanya??
Quote:
Hendri terdiam. Mungkin benar apa kataku. Perjalanan menjadi seorang calon pastor itu gak gampang. Pertama kali 'melamar' aja harus di test psikologi, kesehatan, harus ada surat rekomendasi dari pastoral setempat, harus ada surat kelakuan baik dari RT, RW, dan pastor pembimbing. Kalo teset seleksi masuk, mereka diberi waktu 3 bulan untuk mengikuti 'live-in' bagaimana mereka merasakan kehidupan biara sehari-hari, bagaimana mereka mengenal doa, meditasi, baca alkitab. Bagaimana mereka mengenal hidup sederhana, mencoba menemukan arti kehidupan sebenarnya, sambil mengasah panggilan khususnya ini, bukan itu aja, kalo mereka berhasil di tahap ini, mereka dipindahkan ditempat lain dan mencoba suasana berbeda tapi sambil terus menerus berdoa. Lalu, kalo sudah 1 tahun lebih mereka bertahan di biara, mereka dikuliahkan S1 ilmu filsafat, setelah lulus mereka di di pindahkan kepedalaman, setelah dari tugasnya dipedalaman beres, mereka dikuliahkan lagi, untuk S2 ilmu teologi transformatif, jika mereka jenius tingkat dewa (lebaay), mereka di sekolahkan di Italy dan di tempatkan di sana. Jadi, tak salah kan, kalo aku memohon pada dia agar melanjutkan kehidupan sebelumnya?
Quote:
Ya, Hendri terkejut. Mengira aku tidak akan melakukan hal ini. Hendri membuka kotak beludru merah itu dan melihat cincin pemberianku. Sepasang cincin manis berada ditempat itu. Dan Hendri menangis, entahlah aku jadi tambah menangis, karena baru pertama kali liat cowok nangis sih

Quote:
Apakah Hendri tetap pada pendiriannya, ingin keluar, atau mengikuti saran Dicta yang berharap Hendri menjadi pastor??
*Bersambung*
0
