TS
WongGunungJati
"Babad Tanah Cirebon"
Fatahillah itu Bukan Sunan Gunung Jati
Kerajaan dan Keraton yang pernah ada di wilayah Cirebon
Kesultanan yang masih ada di Cirebon

Pesantren di Cirebon yang Memiliki Nilai Historis Tinggi
Untuk lebih jelasnya silahkan lihat di Page 4
Untuk Tambahannya silahkan lihat di bawah di post 4
Spoiler for Fatahillah itu Bukan Sunan Gunung Jati:
Agan/sista tahu tentang Sunan Gunung Jatiatau Fatahillah ?
ane lihat di beberapa buku sejarah adik ane, Fatahillah itu adalah Sunan Gunung Jati. ane sebagai warga asli sana pengen ngelurusin aja..
Siapakah Sunan Gunung Jati ?
ini fotonya sunan Gunung Jati (Ilustrasi)
terus ini sekilas tentang Fatahillah
Buat Fatahillah belum ditemukan fotonya
Ini Denah Komplek Pemakaman Gunung Sembung.

Makam :
1. Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah)
2. Tubagus Pasai Fatahillah / Faletehan
3. Syarifah Muda’im (Nyi Rara Santang)
4. Nyi Gede Sembung ( Nyi Qurausyin)
5. Nyi Mas Tepasari
6. Pangeran Cakrabuana ( Mbah Kuwu Cerbon)
7. Nyi Ong Tien
8. Pangeran Dipati Cirebon I (Pangeran Swarga)
9. Pangeran Jakalelana
10. Pangeran Pasarean
11. Ratu Mas Nyawa
12. Pangeran Sedang Lemper
13. Pangeran Sultan Panembahan Ratu
14. Adipati Keling
15. Komplek Pangeran SIndang Garuda
16. Sultan Raja Syamsudin (Sultan Sepuh I)
17. Ki Gede Bungko
18. Komplek Adipati Anom Carbon (Pangeran Mas)
19. Komplek Sultan Mo. Badaridin
20. Komplek Sultan Jamaluddin
21. Komplek Nyi Mas Rarakerta
22. Komplek Sultan Moh. Badaridin
23. Komplek Panembahan Ratu Sasangkan
24. Adipati Awangga (Arya Kamuning)
25. Komplek Sultan Mandurareja
26. Komplek Sultan Moh. Tajul Arifin
27. Komplek Sultan Nurbuwat
28. Komplek Sultan Sena Moh. Jamiuddin
29. Komplek Sultan Saifuddin Matangaji
segituh penjelasan dari ane.
ane lihat di beberapa buku sejarah adik ane, Fatahillah itu adalah Sunan Gunung Jati. ane sebagai warga asli sana pengen ngelurusin aja..
Siapakah Sunan Gunung Jati ?
Spoiler for Sunan Gunung Jati:
Sebagaimana diketahui bahwa pernikahan Nyi Rara Santangatau Syarifah Muda’im, puteri Prabu Siliwangi yang menikah dengan Maulana Ishaq Syarif Abdillah, penguasa kota Isma’illiyah Saudi Arabia telah dikaruniai dua orang putera, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sejak kanak-kanak, keduanya telah diperintahkan ayahnya agar menimba ilmu sepenuh-penuhnya dari ulama-ulama yang terkenal di Timur Tengah. Dengan demikian kemungkinan terjadi antara keduanya berlainan memilih guru mereka masing-masing. Adapun ulama-ulama terkenal yang menjadi guru Syarif Hidayatullah diantaranya Syekh Tajmudin Al Kubro dan Syekh Ataillah Syadzali. Selain ilmu agama dan ilmu sosial, mereka berdua juga belajar ilmu Tasawuf dari ulama-ulama Baghdad.
Pada saat usia Syarif Hidayatullah berusia sekitar dua puluh tahunan, ayahnya Syarif Abdillah meninggal dunia, maka sebagai putera tertua Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan sebagai Amir (penguasa) Kota Isma’illiyah. Akan tetapi karena Syarif Hidayatullah sudah bertekad untuk melaksanakan harapan ibunya untuk menjadi ulama di daerah ibunya yaitu di Negeri Caruban (Cirebon sekarang), maka beliau melimpahkan jabatan amir tersebut kepada adiknya, Syarif Nurullah.
Beberapa bulan setelah pengangkatan Syarif Nurullah sebagai amir kota Isma’illiyah, ibunya Syarifah Muda’im dan dan Syrif Hidayatullah pergi meninggalkannya untuk pulang ke tanah Jawa. Di Jawa tepatnya di Negeri Caruban, yang jadi penguasa saat itu adalah kakaknya ibunya yaitu Raden Walangsungsang atau biasa disebutMbah Kuwu Cirebon atau Pangeran Cakrabuana. Maka kedatangan mereka disambut dengan meriah dan mereka berdua dipekenankan tinggal di daerah pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan ajaran Islam sebagai penerus Pangguron Islam Gunung Jati. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan puterinya, Nyi Ratu Pakungwati. Selanjutnya, pada taun 1479, karena usianya yang sudah semakin uzur, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaannya atas Negeri Caruban kepada menantunya, Syarif Hidayatullah. Sejak saat itulah tampuk kepemimpinan penyebaran ajaran Islam di Nagari Caruban berada di pundak Syarif Hidayatullah.
Mendengar bahwa di wilayah Pajajaran, agama Islam berkembang pesat setelah Nagari Caruban dipimpin oleh seorang mubaligh dari Kota Isma’illiya Arab Saudi, yaitu Syarif Hidayatullah, maka Raden Patah yang saat itu menjadi Sultan Demak pertama bersama para mubalig lainnya yang sudah bergelar Sunan menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah sebagai penyebar ajaran Islam di tanah Pasundan dan bergelar Sayyidin Panatagama Islam atau Sunan. Karena daerah tempat Syarif Hidayatullah menyebarkan ajaran islam di Pangguron Gunung Jati maka dia diberi gelar sebagai Sunan Gunung Jati
. Pada saat usia Syarif Hidayatullah berusia sekitar dua puluh tahunan, ayahnya Syarif Abdillah meninggal dunia, maka sebagai putera tertua Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan sebagai Amir (penguasa) Kota Isma’illiyah. Akan tetapi karena Syarif Hidayatullah sudah bertekad untuk melaksanakan harapan ibunya untuk menjadi ulama di daerah ibunya yaitu di Negeri Caruban (Cirebon sekarang), maka beliau melimpahkan jabatan amir tersebut kepada adiknya, Syarif Nurullah.
Beberapa bulan setelah pengangkatan Syarif Nurullah sebagai amir kota Isma’illiyah, ibunya Syarifah Muda’im dan dan Syrif Hidayatullah pergi meninggalkannya untuk pulang ke tanah Jawa. Di Jawa tepatnya di Negeri Caruban, yang jadi penguasa saat itu adalah kakaknya ibunya yaitu Raden Walangsungsang atau biasa disebutMbah Kuwu Cirebon atau Pangeran Cakrabuana. Maka kedatangan mereka disambut dengan meriah dan mereka berdua dipekenankan tinggal di daerah pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan ajaran Islam sebagai penerus Pangguron Islam Gunung Jati. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan puterinya, Nyi Ratu Pakungwati. Selanjutnya, pada taun 1479, karena usianya yang sudah semakin uzur, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaannya atas Negeri Caruban kepada menantunya, Syarif Hidayatullah. Sejak saat itulah tampuk kepemimpinan penyebaran ajaran Islam di Nagari Caruban berada di pundak Syarif Hidayatullah.
Mendengar bahwa di wilayah Pajajaran, agama Islam berkembang pesat setelah Nagari Caruban dipimpin oleh seorang mubaligh dari Kota Isma’illiya Arab Saudi, yaitu Syarif Hidayatullah, maka Raden Patah yang saat itu menjadi Sultan Demak pertama bersama para mubalig lainnya yang sudah bergelar Sunan menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah sebagai penyebar ajaran Islam di tanah Pasundan dan bergelar Sayyidin Panatagama Islam atau Sunan. Karena daerah tempat Syarif Hidayatullah menyebarkan ajaran islam di Pangguron Gunung Jati maka dia diberi gelar sebagai Sunan Gunung Jati
Spoiler for sunan gunung jati:
terus ini sekilas tentang Fatahillah
Spoiler for Fatahillah:
Fatahillahatau Faletehan atau Kyai Fathullah atau yang biasa disebut sebagai Tubagus Pasai adalah seorang ulama dari Pasai, Aceh yang ikut mengungsi dari penjajahan Portugis di daerah Pasai tersebut. Fatahillah ini ikut dalam pasukan Dipati Unus yang pulang dari penyerangan ke Malaka melawan Portugis. Selain menyelamatkan diri dari penjajahan Portugis, kedatangannya ke Demak juga untuk ikut serta dalam membantu penyebaran agama Islam di tanah Jawa seperti yang diharapkan oleh ayahnya, Maulana Makhdar Ibrahim, ulama asal Gujarat.
Sebagai putera seorang ulama yang terbilang tinggi ilmu agama dan ilmu sosialnya, maka kehadiran Fatahillah di tengah-tengah Kesultanan Demak sebagai pusat pengembangan ajaran Islam merupakan harapan baik dalam mengemban tugas suci bersama para mubaligh lainnya yang masih ada.
Sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya bahwa Demak akan mengirim pasukannya ke Cirebon untuk bersama-sama mempertahankan Pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis, maka oleh Raden Patah diangkatlah Fatahillah sebagai Panglima Pasukan Demak yang berangkat ke Cirebon. Dari Cirebon inilah, tentara Demak bersama-sama tentara dari Cirebon menuju Sunda Kelapa tetap dibawah pimpinan Fatahillah. Kenyataannya sampai disana pasukan Fatahillah tidak hanya berhadapan dengan Portugis, tapi juga berhadapan dengan pasukan Pajajaran. Namun demukian pada akhirnya pasukan Pajajaran dan Portugis dapat dipukul mundur dan Portugis pun terusir dari Sunda Kelapa pada tahun 1522. Oleh Fatahillah nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta (sekarang Jakarta). Atas keberhasilannya tersebut, Fatahillah diberi amanah untuk memimpin Sunda Kelapa.
Akan tetapi karena keinginannya untuk menetap di Cirebon dan penggilan untuk memimpin pasukan dalam penyebaran agama Islam di beberapa daerah, maka sebagai pemimpin di Sunda Kelapa hanya beberapa bulan saja dan kepemimpinannya itu diserahkan kepada Ki Bagus Angke (Tubagus Angke) sebagai Bupati Jayakarta. Sejak saat itu Fatahillah bergelar Kyai Bagus Pasai. Sepulangnya dari penaklukan beberapa daerah ke Cirebon, oleh Sunan Gunung Jati, Fatahillah dinikahkan dengan puterinya Ratu Wulung Ayu. Fatahillah wafat dua tahun setelah wafatnya Sunan Gunung Jati yaitu pada tahun 1570 dan dimakamkan tepat disamping makam Sunan Gunung Jati.
Sebagai putera seorang ulama yang terbilang tinggi ilmu agama dan ilmu sosialnya, maka kehadiran Fatahillah di tengah-tengah Kesultanan Demak sebagai pusat pengembangan ajaran Islam merupakan harapan baik dalam mengemban tugas suci bersama para mubaligh lainnya yang masih ada.
Sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya bahwa Demak akan mengirim pasukannya ke Cirebon untuk bersama-sama mempertahankan Pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis, maka oleh Raden Patah diangkatlah Fatahillah sebagai Panglima Pasukan Demak yang berangkat ke Cirebon. Dari Cirebon inilah, tentara Demak bersama-sama tentara dari Cirebon menuju Sunda Kelapa tetap dibawah pimpinan Fatahillah. Kenyataannya sampai disana pasukan Fatahillah tidak hanya berhadapan dengan Portugis, tapi juga berhadapan dengan pasukan Pajajaran. Namun demukian pada akhirnya pasukan Pajajaran dan Portugis dapat dipukul mundur dan Portugis pun terusir dari Sunda Kelapa pada tahun 1522. Oleh Fatahillah nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta (sekarang Jakarta). Atas keberhasilannya tersebut, Fatahillah diberi amanah untuk memimpin Sunda Kelapa.
Akan tetapi karena keinginannya untuk menetap di Cirebon dan penggilan untuk memimpin pasukan dalam penyebaran agama Islam di beberapa daerah, maka sebagai pemimpin di Sunda Kelapa hanya beberapa bulan saja dan kepemimpinannya itu diserahkan kepada Ki Bagus Angke (Tubagus Angke) sebagai Bupati Jayakarta. Sejak saat itu Fatahillah bergelar Kyai Bagus Pasai. Sepulangnya dari penaklukan beberapa daerah ke Cirebon, oleh Sunan Gunung Jati, Fatahillah dinikahkan dengan puterinya Ratu Wulung Ayu. Fatahillah wafat dua tahun setelah wafatnya Sunan Gunung Jati yaitu pada tahun 1570 dan dimakamkan tepat disamping makam Sunan Gunung Jati.
Buat Fatahillah belum ditemukan fotonya
Spoiler for Fatahillah:
Satu hal yang sangat disayangkan adalah bahwa untuk dibuktikan kebenarannya kita bisa membuktikan bahwa Fatahillah adalah bukan Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah adalah dengan adanya makam Fatahillah/Tubagus Pasai disamping makam Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati. Pihak yang berwenang di komplek pemakaman itu tidak mengizinkan sembarang orang untuk memasukinya, melainkan harus ada izin tertulis yang menandakan bahwa seseorang itu mempunyai garis keturunan ke atasnya sampai kepada Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah
.
Ini Denah Komplek Pemakaman Gunung Sembung.
Spoiler for Denah Komplek Pemakaman Gunung Sembung:

Makam :
1. Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah)
2. Tubagus Pasai Fatahillah / Faletehan
3. Syarifah Muda’im (Nyi Rara Santang)
4. Nyi Gede Sembung ( Nyi Qurausyin)
5. Nyi Mas Tepasari
6. Pangeran Cakrabuana ( Mbah Kuwu Cerbon)
7. Nyi Ong Tien
8. Pangeran Dipati Cirebon I (Pangeran Swarga)
9. Pangeran Jakalelana
10. Pangeran Pasarean
11. Ratu Mas Nyawa
12. Pangeran Sedang Lemper
13. Pangeran Sultan Panembahan Ratu
14. Adipati Keling
15. Komplek Pangeran SIndang Garuda
16. Sultan Raja Syamsudin (Sultan Sepuh I)
17. Ki Gede Bungko
18. Komplek Adipati Anom Carbon (Pangeran Mas)
19. Komplek Sultan Mo. Badaridin
20. Komplek Sultan Jamaluddin
21. Komplek Nyi Mas Rarakerta
22. Komplek Sultan Moh. Badaridin
23. Komplek Panembahan Ratu Sasangkan
24. Adipati Awangga (Arya Kamuning)
25. Komplek Sultan Mandurareja
26. Komplek Sultan Moh. Tajul Arifin
27. Komplek Sultan Nurbuwat
28. Komplek Sultan Sena Moh. Jamiuddin
29. Komplek Sultan Saifuddin Matangaji
segituh penjelasan dari ane.
Spoiler for sumber:
Buku Sunan Gunung Jati: Sekitar Komplek Makam dan Sekilas Riwayatnya, karya Hasan Basyari dan beberapa sumber
Kerajaan dan Keraton yang pernah ada di wilayah Cirebon
Spoiler for Kerajaan dan Keraton yang pernah ada di wilayah Cirebon:
Spoiler for 1. Kerajaan Indraprahasta:
1. Kerajaan Indraprahasta
Kerajaan Indraprahasta merupakan kerajaan yang terletak di daerah sekitar Cirebon Girang atau Cirebon Selatan (sekaran Kabupaten Cirebon). Lokasi keratonnya meliputi Desa Sarwadadi Kecamatan Sumber (sekarang). Wilayahnya meliputi Cimandung, Kerandon Cirebon Girang di Kecamatan Cirebon Selatan. Kerajaan ini didirikan pada tahun 363 oleh Maharesi Sentanu. Maharesi ini merupakan pengungsi yang berasal dari lembah sungai Gangga (India), yang terusir akibat peperangan negerinya melawan Kerajaan Samudragupta Maurya.
Raja-raja yang pernah berkuasa adalah :
1.Maharesi Sentanu (363 – 398)
Raja Indraprahasta pertama ini bergelar Praburesi Indraswara Sakala Kretabuwana. Maharesi Sentanu menikah dengan Dewi Indari (puteri ketiga dari Raja Salakanagara yaitu Dewawarman VIII)
2. Jayasatynagara (398 – 421)
Raja ini adalah raja Indraprahasta ke-2 dan merupakan putera sulung dari pasangan Maharesi Sentanu dan Dewi Indari. Di masa kekuasaan Jayasatyanagara, tepatnya pada tahun 399, Kerajaan Indraprahasta ditundukan oleh Purnawarman (Raja Tarumanagara ke-3) dan akhirnya menjadi kerajaan bawahan dari Tarumanagara. Permaisuri Jayastyanagara bernama Ratna Manik (puteri Wisnubumi / raja kerajaan Malabar). Dari pernikahan dengan Ratna Manik, mereka dikaruniai anak yang bernama Wiryabanyu.
3. Prabu Wiryabanyu (421 – 444)
Beliau diangkat sebagai raja Indraprahasta ke-3. Kekuasaan Prabu Wiryabanyu sejaman dengan kekuasaan Wisnuwarman di Tarumanagara. Prabu Wiryabanyu, memiliki permaisuri yang bernama Nilem Sari (dari Kerajaan Manukrawa). Dari pernikahannya itu, Prabu Wiryabanyu memperoleh anak yang bernama Suklawatidewi dan Warmadesaji. Suklawatidewi akhirnya diperistri oleh Wisnuwarman, kelak dari pernikahan ini lahirlah raja Tarumanagara selanjutnya yang bernama Indrawarman. Sedangkan Warmadesaji menjadi penerus tahta Indraprahasta
4. Prabu Warmadesaji (444 – 471)
Merupakan raja Indraprahasta ke-4. Beliau memiliki putera yang bernama Rakhariwangsa, yang meneruskan kepemimpinannya
5. Prabu Rakhariwangsa ( 471 – 507 )
Merupakan raja Indraprahasta ke-5. Beliau memiliki permaisuri yang berasal dari Sanggarung, dari pernikahannya ini, beliau memiliki puteri yang bernama Rasmi. Karena itulah, penerus tahta Indraprahasta selanjutnya jatuh pada suami dari Rasmi yaitu Tirtamanggala
6. Prabu Tirta Manggala ( 507 – 526 )
Merupakan raja Indraprahasta ke-6. Beliau merupakan suami dari Rasmi (puteri Prabu Rakhariwangsa). Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai 2 orang putera yang bernama Astadewa dan Jayagranagara.
7. Prabu Astadewa ( 526 – 540 )
Merupakan raja Indraprahasta ke-7. Beliau merupakan putera sulung dari Tirtamanggala. Dari pernikahannya, beliau memiliki putera yang bernama Padmayasa, yang menggantikan kedudukannya
8. Prabu Jayagranagara ( 540 – 546 )
Merupakan raja Indraprahasta ke-8. Beliau merupakan anak ke-2 dari Tirtamanggala. Ketika Padmayasa telah cukup umur, maka tahtanya kembali diserahkan pada keponakannya.
9. Prabu Padmayasa ( 546 – 590 ), masa lahirnya Nabi Muhammad SAW. Tahun 571 M
Merupakan raja Indraprahasta ke-9. Beliau memiliki putera yang bernama Andhabuana
10. Prabu Andhabuana ( 590 – 636) menjelang berakhir masa kekuasaannya Nabi Muhammad SAW. Wafat, sekitar tahun 632 M
Merupakan raja Indraprahasta ke-10. Beliau memiliki putera yang bernama Wisnumurti.
11. Prabu Wisnumurti (636 – 661)
Merupakan raja Indraprahasta ke-11. Raja ini memiliki puteri yang bernama Ganggasari, kemudian puterinya ini diperistri oleh Linggawarman (Raja Tarumangara terakhir). Dari pernikahan puterinya tersebut, maka selanjutnya akan menurunkan keturunan raja-raja pada 2 kerajaan besar di Nusantara, yaitu Kerajaan Sunda dan Sriwijaya.
Sedangkan anaknya yang ke-2 bernama Tunggulnagara, yang kemudian meneruskan tahta Indraprahasta
12. Prabu Tunggulnagara (611 – 707)
Merupakan raja Indraprahasta ke-12. Beliau memiliki putera yang bernama Padmahariwangsa.
13. Prabu Resi Padmahariwangsa (707 – 719)
Padmahariwangsa adalah raja Indraprahasta ke-13. Disaat beliau berkuasa, kekuasaan Kerajaan Tarumanagara telah dibagi dua kepada Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dimana sungai Citarum sebagai batasnya. Dengan demikian Kerajaan Indraprahasta yang awalnya merupakan kerajaan bawahan Tarumanagara otomatis menjadi bawahan Kerajaan Galuh, karena lokasi Indraprahasta berada di sebelah timur Citarum
Resi Padmahariwangsa memiliki 3 orang anak yaitu Citrakirana, Wiratara, dan Ganggakirana, WIratara lah yang meneruskan kekuasaan Prabu Prmahariwangsa.
14. Prabu Wiratara (719 - 726)
Wiratara dinobatkan menjadi raja Indraprahasta ke-14, karena kakak sulungnya telah menikah dengan Purbasora dan menjadi raja Kerajaan Galuh
Hubungan kerjasama Indraprahasta dengan Galuh saat terjadinya kudeta yang dilakukan Purbasora kepada Bratasenawa akhirnya berdampak buruk bagi Kerajaan Indraprahasta.
Wiratara yang saat terjadinya kudeta bertindak sebagai salah satu senapati pembela Purbasora akhirnya harus berhadapan dengan pasukan Sanjaya (anak Bratasenawa) yang telah berhasil merebut kembali Galuh dan membunuh Purbasora pada tahun 726. Kerajaan Indraprahasta akhirnya hancur di luluh lantakan oleh Sanjaya yang saat itu juga telah menjadi raja Kerajaan Sunda. Wiratara selaku raja ikut tewas dalam pertempuran tersebut.
Akhirnya di masa kekuasaan Wiratara, Kerajaan Indraprahasta hancur, dimana keraton dan seluruh pembesar kerajaan beserta penduduknya binasa tanpa sisa seakan-akan di wilayah tersebut tak pernah ada kerajaan yang pernah berdiri. Bekas kawasan Kerajaan Indraprahasta, kemudian oleh Sanjaya diberikan kepada Adipati Kosala (Raja Kerajaan Wanagiri).
Kerajaan Indraprahasta merupakan kerajaan yang terletak di daerah sekitar Cirebon Girang atau Cirebon Selatan (sekaran Kabupaten Cirebon). Lokasi keratonnya meliputi Desa Sarwadadi Kecamatan Sumber (sekarang). Wilayahnya meliputi Cimandung, Kerandon Cirebon Girang di Kecamatan Cirebon Selatan. Kerajaan ini didirikan pada tahun 363 oleh Maharesi Sentanu. Maharesi ini merupakan pengungsi yang berasal dari lembah sungai Gangga (India), yang terusir akibat peperangan negerinya melawan Kerajaan Samudragupta Maurya.
Raja-raja yang pernah berkuasa adalah :
1.Maharesi Sentanu (363 – 398)
Raja Indraprahasta pertama ini bergelar Praburesi Indraswara Sakala Kretabuwana. Maharesi Sentanu menikah dengan Dewi Indari (puteri ketiga dari Raja Salakanagara yaitu Dewawarman VIII)
2. Jayasatynagara (398 – 421)
Raja ini adalah raja Indraprahasta ke-2 dan merupakan putera sulung dari pasangan Maharesi Sentanu dan Dewi Indari. Di masa kekuasaan Jayasatyanagara, tepatnya pada tahun 399, Kerajaan Indraprahasta ditundukan oleh Purnawarman (Raja Tarumanagara ke-3) dan akhirnya menjadi kerajaan bawahan dari Tarumanagara. Permaisuri Jayastyanagara bernama Ratna Manik (puteri Wisnubumi / raja kerajaan Malabar). Dari pernikahan dengan Ratna Manik, mereka dikaruniai anak yang bernama Wiryabanyu.
3. Prabu Wiryabanyu (421 – 444)
Beliau diangkat sebagai raja Indraprahasta ke-3. Kekuasaan Prabu Wiryabanyu sejaman dengan kekuasaan Wisnuwarman di Tarumanagara. Prabu Wiryabanyu, memiliki permaisuri yang bernama Nilem Sari (dari Kerajaan Manukrawa). Dari pernikahannya itu, Prabu Wiryabanyu memperoleh anak yang bernama Suklawatidewi dan Warmadesaji. Suklawatidewi akhirnya diperistri oleh Wisnuwarman, kelak dari pernikahan ini lahirlah raja Tarumanagara selanjutnya yang bernama Indrawarman. Sedangkan Warmadesaji menjadi penerus tahta Indraprahasta
4. Prabu Warmadesaji (444 – 471)
Merupakan raja Indraprahasta ke-4. Beliau memiliki putera yang bernama Rakhariwangsa, yang meneruskan kepemimpinannya
5. Prabu Rakhariwangsa ( 471 – 507 )
Merupakan raja Indraprahasta ke-5. Beliau memiliki permaisuri yang berasal dari Sanggarung, dari pernikahannya ini, beliau memiliki puteri yang bernama Rasmi. Karena itulah, penerus tahta Indraprahasta selanjutnya jatuh pada suami dari Rasmi yaitu Tirtamanggala
6. Prabu Tirta Manggala ( 507 – 526 )
Merupakan raja Indraprahasta ke-6. Beliau merupakan suami dari Rasmi (puteri Prabu Rakhariwangsa). Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai 2 orang putera yang bernama Astadewa dan Jayagranagara.
7. Prabu Astadewa ( 526 – 540 )
Merupakan raja Indraprahasta ke-7. Beliau merupakan putera sulung dari Tirtamanggala. Dari pernikahannya, beliau memiliki putera yang bernama Padmayasa, yang menggantikan kedudukannya
8. Prabu Jayagranagara ( 540 – 546 )
Merupakan raja Indraprahasta ke-8. Beliau merupakan anak ke-2 dari Tirtamanggala. Ketika Padmayasa telah cukup umur, maka tahtanya kembali diserahkan pada keponakannya.
9. Prabu Padmayasa ( 546 – 590 ), masa lahirnya Nabi Muhammad SAW. Tahun 571 M
Merupakan raja Indraprahasta ke-9. Beliau memiliki putera yang bernama Andhabuana
10. Prabu Andhabuana ( 590 – 636) menjelang berakhir masa kekuasaannya Nabi Muhammad SAW. Wafat, sekitar tahun 632 M
Merupakan raja Indraprahasta ke-10. Beliau memiliki putera yang bernama Wisnumurti.
11. Prabu Wisnumurti (636 – 661)
Merupakan raja Indraprahasta ke-11. Raja ini memiliki puteri yang bernama Ganggasari, kemudian puterinya ini diperistri oleh Linggawarman (Raja Tarumangara terakhir). Dari pernikahan puterinya tersebut, maka selanjutnya akan menurunkan keturunan raja-raja pada 2 kerajaan besar di Nusantara, yaitu Kerajaan Sunda dan Sriwijaya.
Sedangkan anaknya yang ke-2 bernama Tunggulnagara, yang kemudian meneruskan tahta Indraprahasta
12. Prabu Tunggulnagara (611 – 707)
Merupakan raja Indraprahasta ke-12. Beliau memiliki putera yang bernama Padmahariwangsa.
13. Prabu Resi Padmahariwangsa (707 – 719)
Padmahariwangsa adalah raja Indraprahasta ke-13. Disaat beliau berkuasa, kekuasaan Kerajaan Tarumanagara telah dibagi dua kepada Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dimana sungai Citarum sebagai batasnya. Dengan demikian Kerajaan Indraprahasta yang awalnya merupakan kerajaan bawahan Tarumanagara otomatis menjadi bawahan Kerajaan Galuh, karena lokasi Indraprahasta berada di sebelah timur Citarum
Resi Padmahariwangsa memiliki 3 orang anak yaitu Citrakirana, Wiratara, dan Ganggakirana, WIratara lah yang meneruskan kekuasaan Prabu Prmahariwangsa.
14. Prabu Wiratara (719 - 726)
Wiratara dinobatkan menjadi raja Indraprahasta ke-14, karena kakak sulungnya telah menikah dengan Purbasora dan menjadi raja Kerajaan Galuh
Hubungan kerjasama Indraprahasta dengan Galuh saat terjadinya kudeta yang dilakukan Purbasora kepada Bratasenawa akhirnya berdampak buruk bagi Kerajaan Indraprahasta.
Wiratara yang saat terjadinya kudeta bertindak sebagai salah satu senapati pembela Purbasora akhirnya harus berhadapan dengan pasukan Sanjaya (anak Bratasenawa) yang telah berhasil merebut kembali Galuh dan membunuh Purbasora pada tahun 726. Kerajaan Indraprahasta akhirnya hancur di luluh lantakan oleh Sanjaya yang saat itu juga telah menjadi raja Kerajaan Sunda. Wiratara selaku raja ikut tewas dalam pertempuran tersebut.
Akhirnya di masa kekuasaan Wiratara, Kerajaan Indraprahasta hancur, dimana keraton dan seluruh pembesar kerajaan beserta penduduknya binasa tanpa sisa seakan-akan di wilayah tersebut tak pernah ada kerajaan yang pernah berdiri. Bekas kawasan Kerajaan Indraprahasta, kemudian oleh Sanjaya diberikan kepada Adipati Kosala (Raja Kerajaan Wanagiri).
Spoiler for 2. Kerajaan Wanagiri:
2. Kerajaan Wanagiri
Lokasi kerajaan ini kira-kira terletak di sekitar Kecamatan Palimanan (wilayah Cirebon sekarang). Kata Wanagiri sendiri diambil dari kata “Wana” yang berarti hutan dan “giri” yang berarti gunung, jadi kemungkinan besar dalam wilayah Wanagiri saat itu terdapat gunung dan juga hutan-hutan.
Raja pertama nya adalah Adipati Kosala. Beliau merupakan suami dari Ganggakirana (puteri bungsu dari Padmahariwangsa / raja Indraprahasta ke-13.
Pada perkembangan selanjutnya, tepatnya pada abad ke-15, Kerajaan Wanagiri dibagi menjadi empat kerajaan, yaitu Kerajaan Cirebon Girang, Kerajaan Japura, Kerajaan Surantaka, dan Kerajaan Sing Apura. Pemekaran wilayah ini hingga saat ini belum diketahui alasannya secara pasti.
Lokasi kerajaan ini kira-kira terletak di sekitar Kecamatan Palimanan (wilayah Cirebon sekarang). Kata Wanagiri sendiri diambil dari kata “Wana” yang berarti hutan dan “giri” yang berarti gunung, jadi kemungkinan besar dalam wilayah Wanagiri saat itu terdapat gunung dan juga hutan-hutan.
Raja pertama nya adalah Adipati Kosala. Beliau merupakan suami dari Ganggakirana (puteri bungsu dari Padmahariwangsa / raja Indraprahasta ke-13.
Pada perkembangan selanjutnya, tepatnya pada abad ke-15, Kerajaan Wanagiri dibagi menjadi empat kerajaan, yaitu Kerajaan Cirebon Girang, Kerajaan Japura, Kerajaan Surantaka, dan Kerajaan Sing Apura. Pemekaran wilayah ini hingga saat ini belum diketahui alasannya secara pasti.
Spoiler for 3. Kerajaan Cirebon Girang:
3. Kerajaan Cirebon Girang
Kerajaan Cirebon Girang didirikan oleh Ki Gedeng Kasmaya(anak sulung dari Prabu Bunisora / raja Sunda ke-32)., Pusat kerajaan ini lokasinya bekas dari lokasi pusat Kerajaan Wanagiri. Kerajaan ini terletak di lereng gunung Ciremai, atau tepatnya di Kecamatan Palimanan, kabupaten Cirebon (sekarang).
Perubahan dari Wanagiri menjadi Cirebon Girang setelah Ki Gedeng Kasmaya memiliki anak pertama bernama Ki Gedeng Cirebon Girang hasil pernikahannya dengan Ratna Kirana, Puteri Prabu Gangga Permana
Kerajaan Cirebon Girang hanya diperintah oleh 2 raja saja, diantaranya :
1. Ratu Dewata yang juga disebut Ki Gedeng Kasmaya.
2. Ki Gedeng Cirebon Girang
Berakhirnya Kerajaan Cirebon Girang diperkirakan tahun 1445 M. Kemudian setelah Pangeran Walangsungsang diangkat menjadi Kuwu Carbon II dengan gelar Pangeran Cakrabuwana menggantikan Ki Danusela, tahun 1447 M, wilayah Cirebon Girang disatukan dibawah kekuasaan Kuwu Carbon II, pada tahun 1454 diangkat oleh Raja Pajajaran menjadi Tumenggung dengan gelar Sri Mangana
Kerajaan Cirebon Girang didirikan oleh Ki Gedeng Kasmaya(anak sulung dari Prabu Bunisora / raja Sunda ke-32)., Pusat kerajaan ini lokasinya bekas dari lokasi pusat Kerajaan Wanagiri. Kerajaan ini terletak di lereng gunung Ciremai, atau tepatnya di Kecamatan Palimanan, kabupaten Cirebon (sekarang).
Perubahan dari Wanagiri menjadi Cirebon Girang setelah Ki Gedeng Kasmaya memiliki anak pertama bernama Ki Gedeng Cirebon Girang hasil pernikahannya dengan Ratna Kirana, Puteri Prabu Gangga Permana
Kerajaan Cirebon Girang hanya diperintah oleh 2 raja saja, diantaranya :
1. Ratu Dewata yang juga disebut Ki Gedeng Kasmaya.
2. Ki Gedeng Cirebon Girang
Berakhirnya Kerajaan Cirebon Girang diperkirakan tahun 1445 M. Kemudian setelah Pangeran Walangsungsang diangkat menjadi Kuwu Carbon II dengan gelar Pangeran Cakrabuwana menggantikan Ki Danusela, tahun 1447 M, wilayah Cirebon Girang disatukan dibawah kekuasaan Kuwu Carbon II, pada tahun 1454 diangkat oleh Raja Pajajaran menjadi Tumenggung dengan gelar Sri Mangana
Spoiler for 4. Keraton SIngapura/Mertasinga:
4. Keraton SIngapura/Mertasinga
Keraton SIngapura ini memiliki pusat pemerintahan di daerah Mertasinga (desa Mertasinga sekarang), sekitar 4 kilometer utara dari makam Gunung Jati.
Pemimpin yang dikenal antara lain Surawijaya Sakti dan yang terakhir Ki Ageng Tapaatau Ki Jumajan Jati. Kerajaan Singapura mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Ki Jumajan Jati atau dikenal dengan Ki Ageng Tapa. Pada tahun 1401 M, berdasarkan catatan sejarah yang ditulis oleh P. Arya Carbon Raja Giyanti (P Roliya Martakusuma), pelabuhan Muara Jati mendapat kunjungan armada besar dari China yang dipimpin oleh Cheng Ho.
Selama Cheng Ho di wilayah kerajaan SIngapura ini dibangunlah Mercusuar untuk mempermudah dalam mengontrol pelabuhan Muara Jati. Setelah dibangun mercusuar tersebut, makin ramailah pelabuhan Muara Jati sehingga terkenal di seantero Jawa sampai mancanegara.
Mengenai runtuhnya kerajaan ini belum ada catatan khusus, oleh karena itu masih dalam penelitian
Keraton SIngapura ini memiliki pusat pemerintahan di daerah Mertasinga (desa Mertasinga sekarang), sekitar 4 kilometer utara dari makam Gunung Jati.
Pemimpin yang dikenal antara lain Surawijaya Sakti dan yang terakhir Ki Ageng Tapaatau Ki Jumajan Jati. Kerajaan Singapura mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintahan Ki Jumajan Jati atau dikenal dengan Ki Ageng Tapa. Pada tahun 1401 M, berdasarkan catatan sejarah yang ditulis oleh P. Arya Carbon Raja Giyanti (P Roliya Martakusuma), pelabuhan Muara Jati mendapat kunjungan armada besar dari China yang dipimpin oleh Cheng Ho.
Selama Cheng Ho di wilayah kerajaan SIngapura ini dibangunlah Mercusuar untuk mempermudah dalam mengontrol pelabuhan Muara Jati. Setelah dibangun mercusuar tersebut, makin ramailah pelabuhan Muara Jati sehingga terkenal di seantero Jawa sampai mancanegara.
Mengenai runtuhnya kerajaan ini belum ada catatan khusus, oleh karena itu masih dalam penelitian
Spoiler for 5. Kerajaan Japura:
5. Kerajaan Japura
Kerajaan ini meliputi wilayah Kecamatan Astana Japura, Sindanglaut dan Ciledug (masuk ke dalam wilayah Kabupaten Cirebon sekarang). Wilayah Japura tidak terlalu luas seperti Galuh atau Sunda, mengingat Japura adalah kerajaan di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.
Raja yang terkenal dari kerajaan ini adalah Prabu Amuk Marugul (putra Haliwungan / Prabu Susuk Tunggal, Raja Sunda ke-34). Kesaktianya mengantar dirinya hingga menjadi fiinalis dalam sebuah sayembara memperebutkan Nyi Mas Subang Larang. Namun kesaktian yang dimilikinya tak mampu mengalahkan Prabu Jayadewata Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi) sehingga Prabu Jayadewata lah yang berhasil menikahi Nyi Mas Subang Larang.
Akhir dari kerajaan Japura ketika terjadi pertempuran sengit dengan kerajaan Singapura untuk memperebutkan pelabuhan Japura yang waktu itu seramai pelabuhan Sunda Kelapa. Dalam pertempuran itu, kerajaan Japura kalah dan harus merelakan kerajaannya diambil alih oleh Kerajaan Singapura. an demikian berakhirlah riwayat dari Kerajaan Japura.
Kerajaan ini meliputi wilayah Kecamatan Astana Japura, Sindanglaut dan Ciledug (masuk ke dalam wilayah Kabupaten Cirebon sekarang). Wilayah Japura tidak terlalu luas seperti Galuh atau Sunda, mengingat Japura adalah kerajaan di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.
Raja yang terkenal dari kerajaan ini adalah Prabu Amuk Marugul (putra Haliwungan / Prabu Susuk Tunggal, Raja Sunda ke-34). Kesaktianya mengantar dirinya hingga menjadi fiinalis dalam sebuah sayembara memperebutkan Nyi Mas Subang Larang. Namun kesaktian yang dimilikinya tak mampu mengalahkan Prabu Jayadewata Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi) sehingga Prabu Jayadewata lah yang berhasil menikahi Nyi Mas Subang Larang.
Akhir dari kerajaan Japura ketika terjadi pertempuran sengit dengan kerajaan Singapura untuk memperebutkan pelabuhan Japura yang waktu itu seramai pelabuhan Sunda Kelapa. Dalam pertempuran itu, kerajaan Japura kalah dan harus merelakan kerajaannya diambil alih oleh Kerajaan Singapura. an demikian berakhirlah riwayat dari Kerajaan Japura.
Kesultanan yang masih ada di Cirebon
Spoiler for Kesultanan yang masih ada di Cirebon:
Spoiler for 1. Keraton Kanoman:

Spoiler for 2. Kasepuhan:
Spoiler for Kacirebonan:
Pesantren di Cirebon yang Memiliki Nilai Historis Tinggi
Spoiler for Pesantren di Cirebon yang Memiliki Nilai Historis Tinggi:
Spoiler for 1. Pesantren Babakan Ciwaringin:
Spoiler for 2. Pesantren Buntet:
Spoiler for 3. Pesantren Kempek:
Spoiler for 4. Pesantren Benda Kerep:
Untuk lebih jelasnya silahkan lihat di Page 4
Untuk Tambahannya silahkan lihat di bawah di post 4
Diubah oleh WongGunungJati 22-08-2013 10:23
0
57.7K
Kutip
186
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Cirebon
852Thread•481Anggota
Tampilkan semua post
TS
WongGunungJati
#48
Pesantren Benda Kerep
Pondok Pesantren Benda Kerep terletak di daerah Benda kerep, kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kab Cirebon
Berbicara tentang sejarah Benda Kerep maka tidak akan terlepas dengan sejarah-sejarah mistis yang meliputinya. Kampung Benda Kerep didirikan oleh Embah Solehkira – kira kurang lebih 300 tahun yang lalu. Embah Soleh berasal dari keturunan Keraton Kanoman yakni keturunan ke 13 dari Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Cirebon. Namun ada persepsi lain yang mengatakan Embah Soleh adalah keturunan ke 12 dan keturunan ke 9.
Sebelum menjadi kampung Benda Kerep wilayah ini dinamakan Cimeuweuh yang berasal dari bahasa sunda, cai meuweuh yang mengandung terminologi ketika ada orang yang masuk ke wilayah Cimeuweuh maka orang tersebut hilang entah kemana tetapi menurut keyakinan masyarakat sekitar kemungkinan besar orang yang masuk ke wilayah tersebut dibawa ke alam ghaib oleh sekelompok mahkluk ghaib penghuni wilayah Cimeuweuh.
Kejadian yang lebih mencengangkan pohon – pohon rindang yang berada didalam wilayah Cimeuweuh mengandung unsur mistis yang luar biasa diluar jangkauan rasio dan ilmu pengetahuan fisika, yakni ketika pohon tersebut di tebas atau ditebang pohon itu akan mengeluarkan darah dan menjerit layaknya mahkluk hidup bernyawa. Kejadian-kejadian ghaib yang sering terjadi di hutan belantara Cimeuweuh ini mengundang perhatian besar dari kalangan bangsa Keraton Kanoman yang kemudian hutan belantara yang masih milik tanah kraton ini dinamakan Cimeuweuh.
Melihat hal-hal yang ganjil didaerah hutan belantara yang masih dimiliki oleh Keraton kanoman tersebut, pada akhirnya banyak orang-orang sakti mandraguna baik dari kalangan keraton ataupun dari luar kerajaan yang ingin mencoba kesaktiannya untuk menaklukan daerah Cimeweuh dari pengaruh-pengaruh ghaib, diantaranya yaitu Embah Layaman, seorang sakti mandaraguna yang memiliki ilmu kanuragan tinggi serta menguasai ilmu agama secara lues, berasal dari daerah Solo dan diangkat menjadi penasehat kesultanan karena kesaktian dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Beliau mencoba datang ke Cimeuweuh dengan maksud mengusir makhluk-makhluk ghaib serta menaklukan daerah Cimeuweuh dari berbagai pengaruhnya, setelah Embah Layaman datang ke Cimeuweuh.
Beliau mencoba memulainya dengan mengeluarkan berbagai ilmu kesaktiannya untuk menaklukan para penghuni gahib. Usaha demi usaha telah dilakukan tapi ternyata tuhan berkehendak lain , Embah Layaman tidak mampu atau gagal menaklukan wilayah Cimeuweuh dan para penghuninya.
Pada tahap berikutnya Embah Soleh sendiri yang hidup pada masa K. Asy’ari (pendiri pesantren Tebu Ireng dan ayah dari KH. Hasyim Asy’ari [sekitar tahun 1826 M) sebelumnya telah mendirikan pesantern tempat menimba ilmu dan menetap di Situ Patok, bersama sahabatnya K. Anwarudin. Kemudian beliau pindah ke desa Kegunung di daerah Sumber, Cirebon serta mendirikan pesantren pula di Kegunung. Kiyai Anwarudin merupakan sahabat dekat Embah Soleh. Guru dari keduanya adalah K. Baha’udin dari Manafizaha. tetapi versi lainpun mengatakan bahwa K. Anwarudin yang lebih dikenal dengan pangeran Klayan tersebut adalah paman sekaligus guru dari Embah Soleh
Melalui perjalanan yang begitu panjang di Kegunung, K. Anwarudin mendapat sebuah petunjuk bahwasannya Embah Soleh yang memegang teguh terhadap ilmu tasawuf (sufistik) ini harus pindah ke Cimeuweuh dan harus menaklukan pengaruh-pengaruh gaib yang mengelilinginya. K. Anwarudin berfirasat bahwa daerah Sumber, suatu saat kelak akan menjadi pusat pemerintahan wilayah Cirebon dan itu akan memberikan dampak besar untuk keselamatan anak cucu Embah Soleh dan ketasawufan serta tidak cocok untuk menyembunyikan anak cucu dari keramaian
Berawal dari petunjuk K. Anwarudin, akhirnya Embah Soleh bersama K. Anwarudin bertolak menuju tanah Cimeuweuh dengan niatan menaklukan tanah tersebut dari gangguan-ganguan ghaib. Sesampainya disana, Embah Soleh dan K. Anwarudin bermunajat dan berdo’a kepada Allah SWT. Memohon pertolongan dan keselamatan dari hawa-hawa ghaib, entah apa yang terjadi berkat kesucian dan karomah yang dimilikinya dengan sekilas para penghuni gaib di wilayah Cimeuweuh takluk kepada Embah Soleh dan menyingkir dari tanah Cimeuweh.
Ketika proses penaklukan makhluk ghaib di Cimeuweuh semua makhluk ghaib di Cimeuweuh takluk dan bersedia berinjak dari tanah Cimeuweuh, tapi ada dua makhluk ghaib yang tidak mau berinjak dari tanah Cimeuwuh yaitu seekor Macan ghaib dan seekor Ular ghaib yang sebelumnya ular ghaib tersebut ada tiga, yang dua pergi dan yang satu menetap, dengan mengadakan sebuah perjanjian bahwa seekor Macan dan Ular ghaib tersebut berjanji akan melindungi dan menjaga anak cucu keturunan Embah Soleh dari hal-hal negatif yang membahayakan keturunan Embah Soleh. Singkat cerita, setelah tanah Cimeuweuh ditaklukan, Sultan Zulkarnaen (Raja Keraton Kanoman pada masa itu), memberikan tanah Cimeuweuh tersebut ke Embah Soleh asal tanah Cimeuwuh dijadikan sebagi sumber cahaya dan pusat penyebaran agama Allah SWT.
Waktu berputar perlahan tapi pasti, Embah Solehpun mulai menetap di Cimeuweuh bersama istri pertamanya Nyai Menah dari Pekalongan. Kemudian nama Cimeuweuh diganti dengan nama Benda Kerep karena di tanah Cimeuweuh terdapat pohon Benda (pohon dan buahnya kaya semacan sukun) dan pohon tersebut banyak sekali (Kerep[bahasa jawa]) dengan alasan itulah Cimeuweuh diganti menjadi Benda Kerep, Sekarang cimeuweuh sirna dan benda kerep pun lahir
Keberadaan Benda Kerep sebagai wajah baru dari tanah Cimeuweuh tentunya telah mengundang berbagai perhatian dari berbagai penjuru masyarakat Cirebon terlebih disitu terdapat orang mulia, sakti mandraguna dan mempunyai wawasan kelimuan yang tinggi dan berakhlak mulia, selalu memegang teguh prinsif-prinsif aqidah dan bersandar pada ajaran tasawuf sebagai implementasi dari ajaran islam sesungguhnya. Banyak dari kalangan masyarakat cirebon khususnya dari daerah tetangga benda kerep yang berniat untuk belajar dan berguru kepada Embah Soleh,
Melalui hikmah kewalian Embah Soleh, benda kerep yang dahulunya penuh dengan aura mistis kini mulai tampak cahaya-cahaya islam yang bersinar di setiap penjuru kampung benda kerep. Walaupun Benda Kerep sudah menjadi besar namun disisi lain batin Embah Soleh mulai terusik seolah-olah hampa terasa dan ada yang belum lengkap dalam kehidupan Embah Soleh. Kegelisahan ini mulai terasa karena melihat istrinya yang tak kunjung menghasilkan keturunan padahal seyogyanya peranan anak cucu itu sangat penting sekali sebagai regenerasi atau penerus perjuangan Embah Soleh dalam menegakkan syariat islam ditanah nusantara kampong benda kerep pada khususnya.
Melalui proses perenungan yang begitu panjang dengan diiringi do’a dan restu dari istri pertamanya, akhirnya beliaupun mengambil sebuah keputusan untuk menikah lagi, disuntinglah Nyai Merah dari Manafizaha, Cirebon sebagai istri keduanya. Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Merah dari Manafizaha Cirebon ternyata cita-cita Embah Soleh untuk mempunyai keturunan dikabulkan oleh Allah SWT. Nyai Merah telah memberikan dua orang putra dan satu putri. yang pertama adalah Embah Muslim atau K. Muslim, putra keduanya adalah K. Abu Bakar dan yang ketiga adalah Nyai Qona’ah.
Embah Muslim sebagai anak pertama mempunyai tujuh orang putra, sementara istri dan anak perempuan tidak kami temukan keterangannya. Diantara tujuh orang putra tersebut adalah:
1. K. Kaukab ( Benda Kerep )
2. K. Zaeni Dahlan ( Benda Kerep )
3. K. Muhtadi ( Benda Kerep )
4. K. Sayuti ( Cibogo )
5. K. Fahim ( Benda Kerep )
6. K. Fatin ( Benda Kerep )
7. K. Mas’ud ( Benda Kerep )
Dari K. Abu Bakar Putra kedua Embah Muslim, mempunyai dua putra, diantaranya :
1. K. Hasan ( Benda Kerep-Mertua K. Muhammad Nuh )
2. K. Faqih ( Benda Kerep- Ayah kandung K. Miftah )
Embah Soleh wafat sekitar pada tahun 1727 dan banyak meninggalkan pesan dan wasiat ilmu kepada anak cucu termasuk murid-muridnya agar menjadikan Benda Kerep sebagai tempat syi’ar Islam.
Yang unik dari Benda Kerep adalah kondisi daerah yang masih alami dan “sengaja” tidak tersentuh dengan dengan teknologi modern seperti peralatan elektronik (TV, radio, handphone) maupun kendaraan bermotor. Mereka meyakini, karena dengan teknologi tersebut maka akan mempengaruhi budaya asli mereka yang sangat kental dengan nilai-nilai ajaran Islam yaitu ajaran sufistik yang diajarkan oleh Embah Soleh secara turun temurun
Menurut pendapat K. Miftah salah seorang tokoh ulama terkemuka di benda kerep yang masih keturunan ke empat dari embah soleh, “ Bukannya kami fanatik atau sentimental terhadap dunia teknologi tapi sekarang coba aja kita di luaran sana dengan pengaruh tv dan radio mungkin mereka maju dari sisi pengetahuan infiormasi dan mereka maju dari sisi ekonomi tapi apakah kita tak sadar mereka juga selau lalai dan terbawa oleh trend-trend yang berkembang, analoginya sperti pengaruh sinetron dan perkembangan trend musik tanah air, dengan adanya sinetron sudah jelas akan mempengaruhi watak dan prilaku masyarakat terutama kalangan pemuda yang selalu ingin tampil seperti idola begitupun dengan musik kontemporer para remaja lebih cendrung menghapal musik daripada menghapal pelajaran keagamaan seperti sholawat halnya”
Begitulah sekilas tentang Benda Kerep, semoga bermanfaat.
Spoiler for Pesantren Benda Kerep:
Pondok Pesantren Benda Kerep terletak di daerah Benda kerep, kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kab Cirebon
Berbicara tentang sejarah Benda Kerep maka tidak akan terlepas dengan sejarah-sejarah mistis yang meliputinya. Kampung Benda Kerep didirikan oleh Embah Solehkira – kira kurang lebih 300 tahun yang lalu. Embah Soleh berasal dari keturunan Keraton Kanoman yakni keturunan ke 13 dari Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Cirebon. Namun ada persepsi lain yang mengatakan Embah Soleh adalah keturunan ke 12 dan keturunan ke 9.
Sebelum menjadi kampung Benda Kerep wilayah ini dinamakan Cimeuweuh yang berasal dari bahasa sunda, cai meuweuh yang mengandung terminologi ketika ada orang yang masuk ke wilayah Cimeuweuh maka orang tersebut hilang entah kemana tetapi menurut keyakinan masyarakat sekitar kemungkinan besar orang yang masuk ke wilayah tersebut dibawa ke alam ghaib oleh sekelompok mahkluk ghaib penghuni wilayah Cimeuweuh.
Kejadian yang lebih mencengangkan pohon – pohon rindang yang berada didalam wilayah Cimeuweuh mengandung unsur mistis yang luar biasa diluar jangkauan rasio dan ilmu pengetahuan fisika, yakni ketika pohon tersebut di tebas atau ditebang pohon itu akan mengeluarkan darah dan menjerit layaknya mahkluk hidup bernyawa. Kejadian-kejadian ghaib yang sering terjadi di hutan belantara Cimeuweuh ini mengundang perhatian besar dari kalangan bangsa Keraton Kanoman yang kemudian hutan belantara yang masih milik tanah kraton ini dinamakan Cimeuweuh.
Melihat hal-hal yang ganjil didaerah hutan belantara yang masih dimiliki oleh Keraton kanoman tersebut, pada akhirnya banyak orang-orang sakti mandraguna baik dari kalangan keraton ataupun dari luar kerajaan yang ingin mencoba kesaktiannya untuk menaklukan daerah Cimeweuh dari pengaruh-pengaruh ghaib, diantaranya yaitu Embah Layaman, seorang sakti mandaraguna yang memiliki ilmu kanuragan tinggi serta menguasai ilmu agama secara lues, berasal dari daerah Solo dan diangkat menjadi penasehat kesultanan karena kesaktian dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Beliau mencoba datang ke Cimeuweuh dengan maksud mengusir makhluk-makhluk ghaib serta menaklukan daerah Cimeuweuh dari berbagai pengaruhnya, setelah Embah Layaman datang ke Cimeuweuh.
Beliau mencoba memulainya dengan mengeluarkan berbagai ilmu kesaktiannya untuk menaklukan para penghuni gahib. Usaha demi usaha telah dilakukan tapi ternyata tuhan berkehendak lain , Embah Layaman tidak mampu atau gagal menaklukan wilayah Cimeuweuh dan para penghuninya.
Pada tahap berikutnya Embah Soleh sendiri yang hidup pada masa K. Asy’ari (pendiri pesantren Tebu Ireng dan ayah dari KH. Hasyim Asy’ari [sekitar tahun 1826 M) sebelumnya telah mendirikan pesantern tempat menimba ilmu dan menetap di Situ Patok, bersama sahabatnya K. Anwarudin. Kemudian beliau pindah ke desa Kegunung di daerah Sumber, Cirebon serta mendirikan pesantren pula di Kegunung. Kiyai Anwarudin merupakan sahabat dekat Embah Soleh. Guru dari keduanya adalah K. Baha’udin dari Manafizaha. tetapi versi lainpun mengatakan bahwa K. Anwarudin yang lebih dikenal dengan pangeran Klayan tersebut adalah paman sekaligus guru dari Embah Soleh
Melalui perjalanan yang begitu panjang di Kegunung, K. Anwarudin mendapat sebuah petunjuk bahwasannya Embah Soleh yang memegang teguh terhadap ilmu tasawuf (sufistik) ini harus pindah ke Cimeuweuh dan harus menaklukan pengaruh-pengaruh gaib yang mengelilinginya. K. Anwarudin berfirasat bahwa daerah Sumber, suatu saat kelak akan menjadi pusat pemerintahan wilayah Cirebon dan itu akan memberikan dampak besar untuk keselamatan anak cucu Embah Soleh dan ketasawufan serta tidak cocok untuk menyembunyikan anak cucu dari keramaian
Berawal dari petunjuk K. Anwarudin, akhirnya Embah Soleh bersama K. Anwarudin bertolak menuju tanah Cimeuweuh dengan niatan menaklukan tanah tersebut dari gangguan-ganguan ghaib. Sesampainya disana, Embah Soleh dan K. Anwarudin bermunajat dan berdo’a kepada Allah SWT. Memohon pertolongan dan keselamatan dari hawa-hawa ghaib, entah apa yang terjadi berkat kesucian dan karomah yang dimilikinya dengan sekilas para penghuni gaib di wilayah Cimeuweuh takluk kepada Embah Soleh dan menyingkir dari tanah Cimeuweh.
Ketika proses penaklukan makhluk ghaib di Cimeuweuh semua makhluk ghaib di Cimeuweuh takluk dan bersedia berinjak dari tanah Cimeuweuh, tapi ada dua makhluk ghaib yang tidak mau berinjak dari tanah Cimeuwuh yaitu seekor Macan ghaib dan seekor Ular ghaib yang sebelumnya ular ghaib tersebut ada tiga, yang dua pergi dan yang satu menetap, dengan mengadakan sebuah perjanjian bahwa seekor Macan dan Ular ghaib tersebut berjanji akan melindungi dan menjaga anak cucu keturunan Embah Soleh dari hal-hal negatif yang membahayakan keturunan Embah Soleh. Singkat cerita, setelah tanah Cimeuweuh ditaklukan, Sultan Zulkarnaen (Raja Keraton Kanoman pada masa itu), memberikan tanah Cimeuweuh tersebut ke Embah Soleh asal tanah Cimeuwuh dijadikan sebagi sumber cahaya dan pusat penyebaran agama Allah SWT.
Waktu berputar perlahan tapi pasti, Embah Solehpun mulai menetap di Cimeuweuh bersama istri pertamanya Nyai Menah dari Pekalongan. Kemudian nama Cimeuweuh diganti dengan nama Benda Kerep karena di tanah Cimeuweuh terdapat pohon Benda (pohon dan buahnya kaya semacan sukun) dan pohon tersebut banyak sekali (Kerep[bahasa jawa]) dengan alasan itulah Cimeuweuh diganti menjadi Benda Kerep, Sekarang cimeuweuh sirna dan benda kerep pun lahir
Keberadaan Benda Kerep sebagai wajah baru dari tanah Cimeuweuh tentunya telah mengundang berbagai perhatian dari berbagai penjuru masyarakat Cirebon terlebih disitu terdapat orang mulia, sakti mandraguna dan mempunyai wawasan kelimuan yang tinggi dan berakhlak mulia, selalu memegang teguh prinsif-prinsif aqidah dan bersandar pada ajaran tasawuf sebagai implementasi dari ajaran islam sesungguhnya. Banyak dari kalangan masyarakat cirebon khususnya dari daerah tetangga benda kerep yang berniat untuk belajar dan berguru kepada Embah Soleh,
Melalui hikmah kewalian Embah Soleh, benda kerep yang dahulunya penuh dengan aura mistis kini mulai tampak cahaya-cahaya islam yang bersinar di setiap penjuru kampung benda kerep. Walaupun Benda Kerep sudah menjadi besar namun disisi lain batin Embah Soleh mulai terusik seolah-olah hampa terasa dan ada yang belum lengkap dalam kehidupan Embah Soleh. Kegelisahan ini mulai terasa karena melihat istrinya yang tak kunjung menghasilkan keturunan padahal seyogyanya peranan anak cucu itu sangat penting sekali sebagai regenerasi atau penerus perjuangan Embah Soleh dalam menegakkan syariat islam ditanah nusantara kampong benda kerep pada khususnya.
Melalui proses perenungan yang begitu panjang dengan diiringi do’a dan restu dari istri pertamanya, akhirnya beliaupun mengambil sebuah keputusan untuk menikah lagi, disuntinglah Nyai Merah dari Manafizaha, Cirebon sebagai istri keduanya. Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Merah dari Manafizaha Cirebon ternyata cita-cita Embah Soleh untuk mempunyai keturunan dikabulkan oleh Allah SWT. Nyai Merah telah memberikan dua orang putra dan satu putri. yang pertama adalah Embah Muslim atau K. Muslim, putra keduanya adalah K. Abu Bakar dan yang ketiga adalah Nyai Qona’ah.
Embah Muslim sebagai anak pertama mempunyai tujuh orang putra, sementara istri dan anak perempuan tidak kami temukan keterangannya. Diantara tujuh orang putra tersebut adalah:
1. K. Kaukab ( Benda Kerep )
2. K. Zaeni Dahlan ( Benda Kerep )
3. K. Muhtadi ( Benda Kerep )
4. K. Sayuti ( Cibogo )
5. K. Fahim ( Benda Kerep )
6. K. Fatin ( Benda Kerep )
7. K. Mas’ud ( Benda Kerep )
Dari K. Abu Bakar Putra kedua Embah Muslim, mempunyai dua putra, diantaranya :
1. K. Hasan ( Benda Kerep-Mertua K. Muhammad Nuh )
2. K. Faqih ( Benda Kerep- Ayah kandung K. Miftah )
Embah Soleh wafat sekitar pada tahun 1727 dan banyak meninggalkan pesan dan wasiat ilmu kepada anak cucu termasuk murid-muridnya agar menjadikan Benda Kerep sebagai tempat syi’ar Islam.
Yang unik dari Benda Kerep adalah kondisi daerah yang masih alami dan “sengaja” tidak tersentuh dengan dengan teknologi modern seperti peralatan elektronik (TV, radio, handphone) maupun kendaraan bermotor. Mereka meyakini, karena dengan teknologi tersebut maka akan mempengaruhi budaya asli mereka yang sangat kental dengan nilai-nilai ajaran Islam yaitu ajaran sufistik yang diajarkan oleh Embah Soleh secara turun temurun
Menurut pendapat K. Miftah salah seorang tokoh ulama terkemuka di benda kerep yang masih keturunan ke empat dari embah soleh, “ Bukannya kami fanatik atau sentimental terhadap dunia teknologi tapi sekarang coba aja kita di luaran sana dengan pengaruh tv dan radio mungkin mereka maju dari sisi pengetahuan infiormasi dan mereka maju dari sisi ekonomi tapi apakah kita tak sadar mereka juga selau lalai dan terbawa oleh trend-trend yang berkembang, analoginya sperti pengaruh sinetron dan perkembangan trend musik tanah air, dengan adanya sinetron sudah jelas akan mempengaruhi watak dan prilaku masyarakat terutama kalangan pemuda yang selalu ingin tampil seperti idola begitupun dengan musik kontemporer para remaja lebih cendrung menghapal musik daripada menghapal pelajaran keagamaan seperti sholawat halnya”
Begitulah sekilas tentang Benda Kerep, semoga bermanfaat.
Diubah oleh WongGunungJati 28-07-2013 14:05
0
Kutip
Balas