TS
st_illumina
[Orific] Kumpulan Cerpen Illumina
Spoiler for A Certain Forewords:
Halo semua. Thread ini didekasikan khusus untuk menampung cerpen saia. Ga ada hubungannya dengan fiction manapun, dan mungkin masih banyak kekurangan. Jadi mohon kritik dan komentarnya.
Tolong bagi pembaca untuk meninggalkan jejak jika ada waktu, karena saia sangat menghargai komentar ato pendapat anda tentang tulisan saia, sesingkat apapun. ^_^. Ga review sepanjang dan seteknis ucha sensei juga gapapa. Dia mah dewa
Untuk update, akan saya usahakan seminggu sekali ada cerpen baru, tapi itu juga kalo ada dapat ide.
Hohoho. Langsung saja yah.
Tolong bagi pembaca untuk meninggalkan jejak jika ada waktu, karena saia sangat menghargai komentar ato pendapat anda tentang tulisan saia, sesingkat apapun. ^_^. Ga review sepanjang dan seteknis ucha sensei juga gapapa. Dia mah dewa

Untuk update, akan saya usahakan seminggu sekali ada cerpen baru, tapi itu juga kalo ada dapat ide.
Hohoho. Langsung saja yah.
Spoiler for Index Librorum Fantasia Fabula:
Index :
1. Atelier;part 1;Part2
2. Fragmen Of Memories Fragmen1;fragmen2;Fragment 3
3. Membunuh Waktu
4. Surat Untuk Gajah Kecilku
5. 11:11
6. Kisah Sang Pasir
7. Heterochromia
8. Kisah Tubuh Manusia : Penderitaan Neutrofil
9, Kisah Tubuh Manusia : Immune Part 1Part 2
10. Fantasi Fiesta 2011 : Epta Sang Penjaga Waktu Part1
Part2
part 3
11. Fantasi Fiesta 2012 : Kosmik
part1
part2
part3
12. Fanfic : Christmas Carol (Ragnarok Online) Part 1
Part2
13. Sophia (Cerbul Kasfan Februari 2013) Sophia
14. Kamu dan Perawat Tsundere Kamu
15. Katerina (Cerbul Kasfan Juni ) Katerina
16. Kisukana no Kioku (Cerbul kasfan Juli) 1 2
Tambahan Puisi Kalo saia lagi iseng
1. Ini Adalah Kisah Tentang Orang Tua Yang Begitu Mencintai Tanah Airnya
2. Karena Aku Mungkin (Tak) Mencintainya
3. Subete No
Spoiler for Another Thread Another Story:
ini adalah kumpulan cerita saya di luar cerita ini. Karena cerita itu (rencananya) Ongoing, atau one-shot tetapi karena spesialnya, jadi saya buatkan tempat tersendiri.
1. Matarmaja dan VW Kodok
Kisah yang penuh emosi saat menulisnya. Berhubung tema perjalanan adalah tema yang diambil untuk kontes FS tahun ini, maka saya tidak tahan untuk tidak menuliskan kisah yang mengambarkan apa rasanya perjalanan itu sendiri
2. Kidung Ulang Tahun untuk Gita
Saya mencoba membuat cerita lengkap dengan gambar (walau masih berantakan) dan lagu original (sama berantakannya) Karena cerita ini dibuat sebagai kado ulang tahun untuk seseorang yang dekat dengan saya
3. Buku Cerita Togi
4. Night of The Witch
5. Twenty Four
Cerita yang cukup emosional juga saat saya menulisnya. Mencoba bagaimana jika vigilante semacam batman ada di Indonesia. Memenangkan juara 2 Kontes Fanstuff pertama beberapa tahun silam.
6. Kamu dan Kisah-Kisah Tentang kita
Eksperimen cerita 2nd POV (yang sebenarnya gimmick) dan cerita dengan tokoh tanpa nama....
Diubah oleh st_illumina 11-08-2013 18:34
0
13K
Kutip
164
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
st_illumina
#143
Katerina
di ikutkan dalam cerpen bulanan kastil fantasi Juni 2013
[url]http://www.S E N S O R/topic/show/1371683-lomba-cerbul-kasfan-juni-13#comment_78550374[/url]
[url]http://www.S E N S O R/topic/show/1371683-lomba-cerbul-kasfan-juni-13#comment_78550374[/url]
Spoiler for Katerina:
...”
“Kenapa Katerina? Dingin?” kata ibu memandangku yang menggigil kedinginan. Dia lalu mengambil satu-satunya selimut yang menghadang dinginnya udara malam ini untuk menambah lapisan selimutku yang sudah tebal.
Aku menggeleng. Aku menapis selimut itu dari tubuhku. Ibu lebih membutuhkannya. Lagipula aku sudah mendapat tiga lapis selimut. Aku tidak berhak mengeluh kedinginan.
“Sudahlah Katerina. Ibu kuat kok. Kalau kamu kenapa-kenapa ibu yang khawatir. Lagipula, sebentar lagi semua akan berubah. Sebentar lagi kita akan sampai ke Estar. Kota penuh kejayaan. Kita tidak akan kesusahan makan dan minum lagi. Kalau mengingat masa depan kita yang cerah di sana, dingin sesaat seperti ini bisa dengan mudah ibu tanggung.”
Aku dan ibuku yang berasal dari desa kecil tanah utara adalah seorang Budak Tanah yang kabur dari kekejaman tuannya. Bukan hal yang jarang terjadi memang, seorang Budak Tanah kabur karena kekejaman sang tuan. Sebenarnya dahulu keluarga kami hidup cukup baik sebagai Budak Tanah karena bangsawan pemilik tanah yang kami urus adalah bangsawan yang bijak dan peduli. Sebuah kasus langka.
Tetapi sejak pemberontakan besar di Negeri Utara 3 tahun lalu yang merengut nyawa ayah dan kakak laki-lakiku bersama banyak laki-laki di desa kami serta kematian bangsawan pemilik tanah kami terdahulu, hak atas tanah desa kami beralih kepada bangsawan pemimpin pemberontak. Dan sejak saat itu nasib Budak Tanah di desa kami bagaikan neraka. Kerja tanpa libur hingga larut malam dengan makan sekali sehari membuat aku dan ibuku serta semua penduduk desa merencanakan untuk kabur, ke Negeri Barat, negeri kebebasan, Estar.
Kabar tentang Estar bagaikan setitik air di tengah dahaga para Budak Tanah yang tak terpuaskan. Negeri dimana kebebasan di junjung tinggi. Negeri dimana tidak ada lagi perbudakan, tidak ada lagi status yang memisahkan antara Budak Tanah dan Bangsawan. Sungguh negeri yang bahkan dalam impian merekapun tak pernah muncul.
Maka rencana di jalankan. Puluhan orang Budak Tanah mencoba menyelinap di tengah malam paling dingin di musim dingin. Mereka berhasil kabur pada awalnya, tetapi tentara sang bangsawan lebih cepat menyadari kegiatan mereka tersebut dan banyak diantara mereka yang gugur dalam usaha pelarian, walau mungkin bagi mereka, kematian adalah anugrah yang membebaskan mereka dari perbudakan.
Pada akhirnya, hanya aku dan ibuku serta segelintir Budak Tanah yang berhasil pergi dari desa itu dan menyelinap dalam kereta barang yang menuju Estar. Dalam ruangan kargo yang sesak ini terlihat wajah-wajah letih dan para Budak Tanah, lalu aku memandang ibuku, dengan kerutan mulai menghiasi wajahnya jauh mendahului umurnya. Dia dengan keras kepala memberikan selimut satu-satunya kepadaku dan bertahan menghadapi dingin dengan baju yang melekat di tubuh.
Saat-saat seperti inilah aku ingin mengatakan betapa aku bersyukur memiliki ibu. Saat-saat seperti inilah yang membuat kesedihanku semakin mendalam, karena aku tak akan pernah bisa mengucapkannya dengan lidahku, seberapa besarpun keinginanku.
---
Ternyata Masuk ke Estar melewati tembok besar itu tidak semudah yang kami bayangkan. Begitu kami melewati tembok, pos pemeriksaan dengan sigap membuka gerbong kami dan berusaha menangkapi imigran gelap satu persatu. Kamipun berusaha kabur. Lari dari kejaran petugas bea cukai dengan meriam tangan generasi baru teknologi Estar. Meriam itu mampu merubuhkan orang dewasa dalam sekali tembakan.
Entah karena nasib di pihak kami atau bagaimana, aku dan ibuku berhasil lolos dari penjaga itu dan masuk ke dalam saluran air Estar yang bagaikan labirin, sementara para Budak Tanah lainnya gagal mengecap kebebasan Estar hanya beberapa detik setelah masuk kedalam tembok kebebasan.
Yang pasti, sejak saat itu, hidup kami di negeri kebebasan di mulai.
---
Ternyata dunia di dalam tembok kebebasan tidak seindah yang kami bayangkan.
Dua orang mantan Budak Tanah, yang satu terlalu tua sementara yang satunya terlalu muda, tanpa identitas dan memiliki rambut putih dan mata merah khas orang utara seperti kami tidak akan mudah menemukan pekerjaan.
Ibu mencoba segalanya. Semua tempat yang membutuhkan pekerjaan dia datangi. Mencuci, membersihkan selokan, pekerjaan bangunan, apapun. Tapi tidak ada yang menerimanya. Tiga hari kami menggelandang menghindari patroli kota dan tidur di bawah selokan, bersama sisi-sisi gelap Estar, nyaris tanpa makanan.
Ternyata bukan hanya kami yang di tergiur kebebasan tetapi tertampar kenyataan. Di dalam saluran air, di taman-taman kota, di gang-gang sempit dan gelap. Di tempat-tempat seperti itu berkumpul orang-orang seperti kami. Imigran gelap yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan tidak lolos seleksi alam. Selama hari-hari dimana kami hidup diantara mereka, tanpa penolakan, entah karena mereka menerima dan mengerti nasib kami, atau tidak peduli.
Sampai suatu ketika, di pagi hari ke empat, seseorang mendatangi kami. Kami begitu terkejut mendapati dirinya. Rambut perak dan mata merah. Orang utara sama seperti kami. Tetapi baju wanita itu begitu bersih dan mewah, khas orang-orang Estar. Dan wangi yang di pancarkannya begitu memabukkan, bagaikan wangi terindah bunga musim semi. Wajahnya bersih terawat dan terlihat sangat cantik. Berbeda dengan aku dan ibuku yang begitu kusam.
“Akhirnya, aku bertemu juga dengan kalian. Aku mendengar kabar ada pasangan ibu dan anak dari Utara. Akhirnya aku bertemu dengan kalian,” katanya dengan suara yang penuh kerinduan. Apakah dia tidak pernah bertemu orang utara lainnya?
“Mau apa anda?” kata ibuku penuh curiga.
“Aha. Wajar kalau kalian curiga. Tetapi kudengar kalian butuh tempat tinggal dan pekerjaan. Aku bisa menyediakan itu.”
Ibuku masih penuh curiga. Tetapi melihat keadaan kami seperti ini. Rasanya kami tidak bisa memilih kan?
---
Wanita dari Utara itu ternyata pemilik restoran ternama di Estar. Restoran yang menghidangkan berbagai makanan khas Negeri Utara tanpa melupakan cita rasa yang tidak asing di lidah penduduk Estar. Mungkin kebebasan yang di dengung-dengungkan Negeri Barat ada benarnya juga. Siapapun bisa sukses di sini, kalau mereka punya kualitas. Tidak perduli apa warna rambut dan matamu, dari mana kamu berasal atau siapa orang tuamu. Tapi hal yang sebaliknya juga berlaku. Kalau kau tidak bisa bertahan maka kau akan membusuk di selokan dan gang-gang gelap karena ketidakmampuanmu.
Begitu mendengar ada orang Utara yang berkeliaran di kota ini, wanita itu langsung mencari kami, untuk mempekerjakan kami.
Ibu akhirnya mendapat pekerjaan sebagai petugas pembersih restoran karena kebaikan dan rasa satu tanah air wanita itu. Kami dapat bertahan hidup, walau masih pas-pasan, di tengah kerasnya hidup ini. Aku ingin membantu meringankan pekerjaan ibu sebenarnya, tetapi ibu melarangku.
Akupun tidak bisa pergi ke sekolah dan belajar seperti anak-anak seusiaku karena kondisiku dan keberadaanku sebagai imigran gelap.
Akhirnya aku hanya bisa diam di kamar kecil yang di sewa ibu dan menghabiskan waktu dengan membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan.
Perpustakaan Estar adalah satu-satunya tempat di Estar yang ku sukai, selain kamar kecil kami. Di sana tersimpan pengetahuan dan cerita yang berusia ribuan tahun. Terkumpul dan tersusun rapi. Sungguh surga para cendekia. Aku pertama kali di bawa ibu ke sini untuk menghabiskan waktu sekaligus belajar ilmu pengetahuan dan budaya setempat sementara ibu bekerja. Tak pelak, aku menjadi lupa waktu ketika berada di perpustakaan dan saat ibu menjemputku, aku tidak mau pulang karena buku cerita yang kubaca sedang mencapai tahap klimaks.
Sejak saat itu, aku menjadi pelanggan tetap Perpustakaan Estar dan berteman dengan penjaga perpustakaan di sana. Mereka begitu baik padaku dan mau mengajariku hal-hal yang tidak ku mengerti. Mungkin hal ini jauh lebih bermanfaat bagiku daripada belajar di sekolah. Aku tidak tahu.
---
Sayang, masa-masa indah seperti ini harus berakhir, karena nasib sepertinya masih ingin mempermainkanku.
Restoran tempat ibuku bekerja kebakaran. Api muncul begitu saja dan menyebar tanpa ampun. Sepuluh orang meninggal, termasuk ibuku dan wanita pemilik restoran.
Apa yang bisa aku, anak imigran gelap tanpa identitas dan memiliki hambatan dalam berkomunikasi ini, bisa lakukan untuk bertahan hidup. Aku tak tahu.
Aku berdiam diri di kamar kecilku berhari hari. Menangis. Marah. Sedih. Depresi. Semua perasaan negatif berkumpul dan berkecamuk dalam benakku selama hari-hari itu.
Kenapa harus ibu? Kenapa saat kami baru saja mengecap kehidupan yang layak, semua yang berharga diambil daripadaku?
Beberapa minggu kemudian aku di usir secara paksa karena tidak bisa membayar uang sewa.
Aku kembali menggelandang. Berjalan tanpa tujuan. Bagai boneka yang talinya telah putus dari pemainnya.
---
“Jadi begitukah kisah hidupmu Katerina?”
Sisanya kau tahu sendiri kan? Aku yang waktu itu tak punya tujuan, menjadi korban pemuas nafsu laki-laki, ah bukan, monster, di jalan gelap, lalu diriku yang telah jatuh ke titik terdalam kota ini, di selamatkan oleh seorang wanita lagi, yang ternyata kali ini adalah pengelola tempat pemuas nafsu yang resmi. Tulisku dalam secarik kertas, lalu aku menunjukkan kertas itu kepadanya.
Aku memandang laki-laki di depanku sambil berpikir. Apa yang kau tunggu. Cepat lakukan tugasmu. Kau sudah membayar mahal-mahal untuk mendapatkan jasaku. Buka gaunku, robek, terserahlah. Dan lakukan tugasmu. Jangan buat aku bosan. Puaskanlah dagingmu yang tak terpuaskan itu, karena akupun begitu menginginkannya. Ya, aku menjadi begitu menginginkannya. Karena sudah tidak ada lagi yang pantas di pertahankan dari hidupku selain sensasi puncak saat kau bersatu dengan laki-laki, siapapun dia, aku tak perduli. Tanpa bisa merasakan hal itu, aku ragu bisa bertahan hidup satu hari lagi.
“Tapi kau tidak menjelaskan kenapa bisa ada piano ini di ruanganmu. Kenapa kau bisa terkenal sebagai Minerva bisu dari Flouria? Aku ingin mendengar permainanmu. Untuk itulah aku datang jauh-jauh,” kata lelaki itu. Mendengarkan permainan pianoku? Jangan bercanda. Kita sama-sama tahu ini tempat apa. Ini bukan hall opera atau bar musik.
Aku ini hanya bisu, bukan tuli. Sudah cepat lakukan apa yang harus kau lakukan. Lakukan kewajibanmu, tulisku dalam secarik kertas lagi.
“Tapi tolong dengarkan aku permainan pianomu, sekali saja,” katanya dengan memelas. Setelah ku lihat, lelaki ini sedikit berbeda dengan ratusan lelaki yang pernah ku layani. Selama ini, mereka, tidak peduli tentara, pembunuh bayaran, politikus gemuk, maupun putra bangsawan, selalu memandangku dengan tatapan penuh birahi. Tatapan predator yang mengincar mangsanya dengan rasa lapar. Lalu meninggalkan bangkai setelah di puaskan. Walau mereka tidak tahu, mereka membutuhkanku sebesar aku membutuhkan mereka.
Tapi laki-laki bernama Erga ini berbeda. Matanya begitu lurus dan tajam. Mata yang tidak pernah kutemukan dari laki-laki manapun. Bahunya yang bidang dan tubuhnya yang kekar. Suaranya yang serak dan berat. Ah. Tidak. Aku tidak boleh membawa perasaan pribadi kedalam bisnis ini. Aku tidak boleh memikirkan lebih jauh lagi.
Aku sudah lama meninggalkan apa yang namanya dewa dan nasib baik, karena aku sadar, sejak aku di lahirkan, nasib baik telah menjauhiku.
Baiklah, kalau kau ingin mendengar pianoku, tapi ini bayaran ekstra. Tidak murah. Demikian aku menulis lagi.
“Tidak apa-apa. Seberapa mahalpun akan ku bayar.”
Laki-laki bodoh. Kenapa dia kesini kalau mau mendengar musik. Aku hanya wanita murahan yang sedikit bisa bermain piano sejak aku bereksperimen dengan piano yang tidak pernah di mainkan di tempat ini. Dengan pengetahuan dari buku yang kubaca dan musik yang kadangkala kudengar di berbagai tempat di Estar, aku dengan cepat bisa memainkan piano dan menghasilkan nada yang tidak sumbang.
Sang pemilik tempatpun melihat itu sebagai sebuah keuntungan dan menjualku sebagai gadis utara bermata merah yang bisa menghasilkan musik yang menyentuh hati, dan servisnya di ranjang pun bisa diandalkan. Sejak saat itu aku langsung menjadi primadona di dunia gelap estar. Lagipula aku tidak begitu banyak berbicara sehingga banyak orang-orang yang kelebihan uang datang kepadaku.
Ahahaha.
Baiklah.
Untuk saat ini, aku akan memainkannya untukmu. Lagu kesedihanku.
Aku duduk di piano itu, lalu mencoba menekan sembarang tuts untuk meregangkan senarnya. Lalu aku mulai bermain. Memainkan nada-nada yang biasa kumainkan sendiri. Bukan nada-nada lagu populer yang biasa diminta laki-laki yang jadi pelangganku.
Kumulai dengan nada minor ke nada minor lain. Turun setengah, naik setengah. Ku ulangi nada minor berkali-kali hingga terdengar seperti seorang yang sedang menangis. Entah apa yang membuatku memainkan lagu ini secara otomatis. Aku tidak tahu.
Yang kutahu, lagu ini adalah satu-satunya caraku mengeluarkan suara tangisanku.
Hingga di saat terakhir, lagu mencapai reffrainnya, teriakan kuatku terlontar dengan pekikan nada minor di oktaf tertinggi.
Lalu perlahan nada-nada minor itu turun, memelan, dan berakhir dalam kesunyian.
Selanjutnya bisnis seperti biasa. Pria itu membawaku ke ranjang di kamar ini. Membuka risleting gaunku dari belakang dan mengecup bahu tanpa busanaku. Lalu membelai rambut perak yang kini kurawat begitu rapi. Kami berpadu dalam tempat tidur. Dia membisikkan sepatah dua patah kata di tengah kecupan.
“Sudah kuduga, kau yang selama ini aku cari.”
Malam semakin larut, kami semakin berlanjut dalam asmara.
Malam ini, pelanggan tetapku bertambah lagi.
---
fin
“Kenapa Katerina? Dingin?” kata ibu memandangku yang menggigil kedinginan. Dia lalu mengambil satu-satunya selimut yang menghadang dinginnya udara malam ini untuk menambah lapisan selimutku yang sudah tebal.
Aku menggeleng. Aku menapis selimut itu dari tubuhku. Ibu lebih membutuhkannya. Lagipula aku sudah mendapat tiga lapis selimut. Aku tidak berhak mengeluh kedinginan.
“Sudahlah Katerina. Ibu kuat kok. Kalau kamu kenapa-kenapa ibu yang khawatir. Lagipula, sebentar lagi semua akan berubah. Sebentar lagi kita akan sampai ke Estar. Kota penuh kejayaan. Kita tidak akan kesusahan makan dan minum lagi. Kalau mengingat masa depan kita yang cerah di sana, dingin sesaat seperti ini bisa dengan mudah ibu tanggung.”
Aku dan ibuku yang berasal dari desa kecil tanah utara adalah seorang Budak Tanah yang kabur dari kekejaman tuannya. Bukan hal yang jarang terjadi memang, seorang Budak Tanah kabur karena kekejaman sang tuan. Sebenarnya dahulu keluarga kami hidup cukup baik sebagai Budak Tanah karena bangsawan pemilik tanah yang kami urus adalah bangsawan yang bijak dan peduli. Sebuah kasus langka.
Tetapi sejak pemberontakan besar di Negeri Utara 3 tahun lalu yang merengut nyawa ayah dan kakak laki-lakiku bersama banyak laki-laki di desa kami serta kematian bangsawan pemilik tanah kami terdahulu, hak atas tanah desa kami beralih kepada bangsawan pemimpin pemberontak. Dan sejak saat itu nasib Budak Tanah di desa kami bagaikan neraka. Kerja tanpa libur hingga larut malam dengan makan sekali sehari membuat aku dan ibuku serta semua penduduk desa merencanakan untuk kabur, ke Negeri Barat, negeri kebebasan, Estar.
Kabar tentang Estar bagaikan setitik air di tengah dahaga para Budak Tanah yang tak terpuaskan. Negeri dimana kebebasan di junjung tinggi. Negeri dimana tidak ada lagi perbudakan, tidak ada lagi status yang memisahkan antara Budak Tanah dan Bangsawan. Sungguh negeri yang bahkan dalam impian merekapun tak pernah muncul.
Maka rencana di jalankan. Puluhan orang Budak Tanah mencoba menyelinap di tengah malam paling dingin di musim dingin. Mereka berhasil kabur pada awalnya, tetapi tentara sang bangsawan lebih cepat menyadari kegiatan mereka tersebut dan banyak diantara mereka yang gugur dalam usaha pelarian, walau mungkin bagi mereka, kematian adalah anugrah yang membebaskan mereka dari perbudakan.
Pada akhirnya, hanya aku dan ibuku serta segelintir Budak Tanah yang berhasil pergi dari desa itu dan menyelinap dalam kereta barang yang menuju Estar. Dalam ruangan kargo yang sesak ini terlihat wajah-wajah letih dan para Budak Tanah, lalu aku memandang ibuku, dengan kerutan mulai menghiasi wajahnya jauh mendahului umurnya. Dia dengan keras kepala memberikan selimut satu-satunya kepadaku dan bertahan menghadapi dingin dengan baju yang melekat di tubuh.
Saat-saat seperti inilah aku ingin mengatakan betapa aku bersyukur memiliki ibu. Saat-saat seperti inilah yang membuat kesedihanku semakin mendalam, karena aku tak akan pernah bisa mengucapkannya dengan lidahku, seberapa besarpun keinginanku.
---
Ternyata Masuk ke Estar melewati tembok besar itu tidak semudah yang kami bayangkan. Begitu kami melewati tembok, pos pemeriksaan dengan sigap membuka gerbong kami dan berusaha menangkapi imigran gelap satu persatu. Kamipun berusaha kabur. Lari dari kejaran petugas bea cukai dengan meriam tangan generasi baru teknologi Estar. Meriam itu mampu merubuhkan orang dewasa dalam sekali tembakan.
Entah karena nasib di pihak kami atau bagaimana, aku dan ibuku berhasil lolos dari penjaga itu dan masuk ke dalam saluran air Estar yang bagaikan labirin, sementara para Budak Tanah lainnya gagal mengecap kebebasan Estar hanya beberapa detik setelah masuk kedalam tembok kebebasan.
Yang pasti, sejak saat itu, hidup kami di negeri kebebasan di mulai.
---
Ternyata dunia di dalam tembok kebebasan tidak seindah yang kami bayangkan.
Dua orang mantan Budak Tanah, yang satu terlalu tua sementara yang satunya terlalu muda, tanpa identitas dan memiliki rambut putih dan mata merah khas orang utara seperti kami tidak akan mudah menemukan pekerjaan.
Ibu mencoba segalanya. Semua tempat yang membutuhkan pekerjaan dia datangi. Mencuci, membersihkan selokan, pekerjaan bangunan, apapun. Tapi tidak ada yang menerimanya. Tiga hari kami menggelandang menghindari patroli kota dan tidur di bawah selokan, bersama sisi-sisi gelap Estar, nyaris tanpa makanan.
Ternyata bukan hanya kami yang di tergiur kebebasan tetapi tertampar kenyataan. Di dalam saluran air, di taman-taman kota, di gang-gang sempit dan gelap. Di tempat-tempat seperti itu berkumpul orang-orang seperti kami. Imigran gelap yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan tidak lolos seleksi alam. Selama hari-hari dimana kami hidup diantara mereka, tanpa penolakan, entah karena mereka menerima dan mengerti nasib kami, atau tidak peduli.
Sampai suatu ketika, di pagi hari ke empat, seseorang mendatangi kami. Kami begitu terkejut mendapati dirinya. Rambut perak dan mata merah. Orang utara sama seperti kami. Tetapi baju wanita itu begitu bersih dan mewah, khas orang-orang Estar. Dan wangi yang di pancarkannya begitu memabukkan, bagaikan wangi terindah bunga musim semi. Wajahnya bersih terawat dan terlihat sangat cantik. Berbeda dengan aku dan ibuku yang begitu kusam.
“Akhirnya, aku bertemu juga dengan kalian. Aku mendengar kabar ada pasangan ibu dan anak dari Utara. Akhirnya aku bertemu dengan kalian,” katanya dengan suara yang penuh kerinduan. Apakah dia tidak pernah bertemu orang utara lainnya?
“Mau apa anda?” kata ibuku penuh curiga.
“Aha. Wajar kalau kalian curiga. Tetapi kudengar kalian butuh tempat tinggal dan pekerjaan. Aku bisa menyediakan itu.”
Ibuku masih penuh curiga. Tetapi melihat keadaan kami seperti ini. Rasanya kami tidak bisa memilih kan?
---
Wanita dari Utara itu ternyata pemilik restoran ternama di Estar. Restoran yang menghidangkan berbagai makanan khas Negeri Utara tanpa melupakan cita rasa yang tidak asing di lidah penduduk Estar. Mungkin kebebasan yang di dengung-dengungkan Negeri Barat ada benarnya juga. Siapapun bisa sukses di sini, kalau mereka punya kualitas. Tidak perduli apa warna rambut dan matamu, dari mana kamu berasal atau siapa orang tuamu. Tapi hal yang sebaliknya juga berlaku. Kalau kau tidak bisa bertahan maka kau akan membusuk di selokan dan gang-gang gelap karena ketidakmampuanmu.
Begitu mendengar ada orang Utara yang berkeliaran di kota ini, wanita itu langsung mencari kami, untuk mempekerjakan kami.
Ibu akhirnya mendapat pekerjaan sebagai petugas pembersih restoran karena kebaikan dan rasa satu tanah air wanita itu. Kami dapat bertahan hidup, walau masih pas-pasan, di tengah kerasnya hidup ini. Aku ingin membantu meringankan pekerjaan ibu sebenarnya, tetapi ibu melarangku.
Akupun tidak bisa pergi ke sekolah dan belajar seperti anak-anak seusiaku karena kondisiku dan keberadaanku sebagai imigran gelap.
Akhirnya aku hanya bisa diam di kamar kecil yang di sewa ibu dan menghabiskan waktu dengan membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan.
Perpustakaan Estar adalah satu-satunya tempat di Estar yang ku sukai, selain kamar kecil kami. Di sana tersimpan pengetahuan dan cerita yang berusia ribuan tahun. Terkumpul dan tersusun rapi. Sungguh surga para cendekia. Aku pertama kali di bawa ibu ke sini untuk menghabiskan waktu sekaligus belajar ilmu pengetahuan dan budaya setempat sementara ibu bekerja. Tak pelak, aku menjadi lupa waktu ketika berada di perpustakaan dan saat ibu menjemputku, aku tidak mau pulang karena buku cerita yang kubaca sedang mencapai tahap klimaks.
Sejak saat itu, aku menjadi pelanggan tetap Perpustakaan Estar dan berteman dengan penjaga perpustakaan di sana. Mereka begitu baik padaku dan mau mengajariku hal-hal yang tidak ku mengerti. Mungkin hal ini jauh lebih bermanfaat bagiku daripada belajar di sekolah. Aku tidak tahu.
---
Sayang, masa-masa indah seperti ini harus berakhir, karena nasib sepertinya masih ingin mempermainkanku.
Restoran tempat ibuku bekerja kebakaran. Api muncul begitu saja dan menyebar tanpa ampun. Sepuluh orang meninggal, termasuk ibuku dan wanita pemilik restoran.
Apa yang bisa aku, anak imigran gelap tanpa identitas dan memiliki hambatan dalam berkomunikasi ini, bisa lakukan untuk bertahan hidup. Aku tak tahu.
Aku berdiam diri di kamar kecilku berhari hari. Menangis. Marah. Sedih. Depresi. Semua perasaan negatif berkumpul dan berkecamuk dalam benakku selama hari-hari itu.
Kenapa harus ibu? Kenapa saat kami baru saja mengecap kehidupan yang layak, semua yang berharga diambil daripadaku?
Beberapa minggu kemudian aku di usir secara paksa karena tidak bisa membayar uang sewa.
Aku kembali menggelandang. Berjalan tanpa tujuan. Bagai boneka yang talinya telah putus dari pemainnya.
---
“Jadi begitukah kisah hidupmu Katerina?”
Sisanya kau tahu sendiri kan? Aku yang waktu itu tak punya tujuan, menjadi korban pemuas nafsu laki-laki, ah bukan, monster, di jalan gelap, lalu diriku yang telah jatuh ke titik terdalam kota ini, di selamatkan oleh seorang wanita lagi, yang ternyata kali ini adalah pengelola tempat pemuas nafsu yang resmi. Tulisku dalam secarik kertas, lalu aku menunjukkan kertas itu kepadanya.
Aku memandang laki-laki di depanku sambil berpikir. Apa yang kau tunggu. Cepat lakukan tugasmu. Kau sudah membayar mahal-mahal untuk mendapatkan jasaku. Buka gaunku, robek, terserahlah. Dan lakukan tugasmu. Jangan buat aku bosan. Puaskanlah dagingmu yang tak terpuaskan itu, karena akupun begitu menginginkannya. Ya, aku menjadi begitu menginginkannya. Karena sudah tidak ada lagi yang pantas di pertahankan dari hidupku selain sensasi puncak saat kau bersatu dengan laki-laki, siapapun dia, aku tak perduli. Tanpa bisa merasakan hal itu, aku ragu bisa bertahan hidup satu hari lagi.
“Tapi kau tidak menjelaskan kenapa bisa ada piano ini di ruanganmu. Kenapa kau bisa terkenal sebagai Minerva bisu dari Flouria? Aku ingin mendengar permainanmu. Untuk itulah aku datang jauh-jauh,” kata lelaki itu. Mendengarkan permainan pianoku? Jangan bercanda. Kita sama-sama tahu ini tempat apa. Ini bukan hall opera atau bar musik.
Aku ini hanya bisu, bukan tuli. Sudah cepat lakukan apa yang harus kau lakukan. Lakukan kewajibanmu, tulisku dalam secarik kertas lagi.
“Tapi tolong dengarkan aku permainan pianomu, sekali saja,” katanya dengan memelas. Setelah ku lihat, lelaki ini sedikit berbeda dengan ratusan lelaki yang pernah ku layani. Selama ini, mereka, tidak peduli tentara, pembunuh bayaran, politikus gemuk, maupun putra bangsawan, selalu memandangku dengan tatapan penuh birahi. Tatapan predator yang mengincar mangsanya dengan rasa lapar. Lalu meninggalkan bangkai setelah di puaskan. Walau mereka tidak tahu, mereka membutuhkanku sebesar aku membutuhkan mereka.
Tapi laki-laki bernama Erga ini berbeda. Matanya begitu lurus dan tajam. Mata yang tidak pernah kutemukan dari laki-laki manapun. Bahunya yang bidang dan tubuhnya yang kekar. Suaranya yang serak dan berat. Ah. Tidak. Aku tidak boleh membawa perasaan pribadi kedalam bisnis ini. Aku tidak boleh memikirkan lebih jauh lagi.
Aku sudah lama meninggalkan apa yang namanya dewa dan nasib baik, karena aku sadar, sejak aku di lahirkan, nasib baik telah menjauhiku.
Baiklah, kalau kau ingin mendengar pianoku, tapi ini bayaran ekstra. Tidak murah. Demikian aku menulis lagi.
“Tidak apa-apa. Seberapa mahalpun akan ku bayar.”
Laki-laki bodoh. Kenapa dia kesini kalau mau mendengar musik. Aku hanya wanita murahan yang sedikit bisa bermain piano sejak aku bereksperimen dengan piano yang tidak pernah di mainkan di tempat ini. Dengan pengetahuan dari buku yang kubaca dan musik yang kadangkala kudengar di berbagai tempat di Estar, aku dengan cepat bisa memainkan piano dan menghasilkan nada yang tidak sumbang.
Sang pemilik tempatpun melihat itu sebagai sebuah keuntungan dan menjualku sebagai gadis utara bermata merah yang bisa menghasilkan musik yang menyentuh hati, dan servisnya di ranjang pun bisa diandalkan. Sejak saat itu aku langsung menjadi primadona di dunia gelap estar. Lagipula aku tidak begitu banyak berbicara sehingga banyak orang-orang yang kelebihan uang datang kepadaku.
Ahahaha.
Baiklah.
Untuk saat ini, aku akan memainkannya untukmu. Lagu kesedihanku.
Aku duduk di piano itu, lalu mencoba menekan sembarang tuts untuk meregangkan senarnya. Lalu aku mulai bermain. Memainkan nada-nada yang biasa kumainkan sendiri. Bukan nada-nada lagu populer yang biasa diminta laki-laki yang jadi pelangganku.
Kumulai dengan nada minor ke nada minor lain. Turun setengah, naik setengah. Ku ulangi nada minor berkali-kali hingga terdengar seperti seorang yang sedang menangis. Entah apa yang membuatku memainkan lagu ini secara otomatis. Aku tidak tahu.
Yang kutahu, lagu ini adalah satu-satunya caraku mengeluarkan suara tangisanku.
Hingga di saat terakhir, lagu mencapai reffrainnya, teriakan kuatku terlontar dengan pekikan nada minor di oktaf tertinggi.
Lalu perlahan nada-nada minor itu turun, memelan, dan berakhir dalam kesunyian.
Selanjutnya bisnis seperti biasa. Pria itu membawaku ke ranjang di kamar ini. Membuka risleting gaunku dari belakang dan mengecup bahu tanpa busanaku. Lalu membelai rambut perak yang kini kurawat begitu rapi. Kami berpadu dalam tempat tidur. Dia membisikkan sepatah dua patah kata di tengah kecupan.
“Sudah kuduga, kau yang selama ini aku cari.”
Malam semakin larut, kami semakin berlanjut dalam asmara.
Malam ini, pelanggan tetapku bertambah lagi.
---
fin
0
Kutip
Balas