- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#935
15. Devanugraha
"Minggu depan aku mesti ikut MaKrab Beb. Maaf yah, nggak bisa ikut ngerayain hari ulang tahun kamu..." itulah kalimat yang pertama dikatakan Reira saat mereka bertemu.
Milo terdiam beberapa saat sebelum tersenyum dengan cool.
"Nggak apa. Kamu kan emang sibuk terus."
Tidak merasa tersindir, Reira senyum-senyum saja sambil menyeruput Caramello Freeze miliknya.
Mereka sedang duduk di Starbucks dan hangout weekend.
"Makrab itu..." Milo membuka pembicaraan.
"Oh itu, acara kearaban untuk mahasiswa baru fakultas aku. Kamu nggak pernah ya memangnya?"
Milo menggerutu dalam hati.
Obviously, Milo nggak pernah ikut kegiatan semacam itu.
Milo kan' tidak melanjutkan kuliah.
Dulu waktu Senior Year, Milo sempat ikut Summer Camp.
Tapi hanya sebatas itu saja.
"You should go to college." mendadak Reira membuka pembicaraan. "Maksudku, Bertha pasti bakal kerepotan kalau penerus perusahaannya cuma tamatan Senior High. No offense
beb, tapi karyawan kamu pasti akan ngomongin hal itu. Society is tough here."
Setengah membenarkan ucapan Reira, Milo hanya terdiam saja.
Bukan sepenuhnya keinginan Milo untuk tidak melanjutkan kuliah.
Tapi Milo merasa dia kurang menyukai tinggal di negeri orang lain.
Sementara universitas yang ada di Indonesia kurang kompeten, menurut mamanya.
"Kamu sendiri, selesai sarjana mau ngapain?" Milo membalik pertanyaannya.
"No idea. Aku mungkin mau jadi kurator seni, atau buka gallery sendiri."
"Kamu kan' jurusan Graphic Design. Karya seni bukan bidang kamu."
"Aku bisa dapat saham hotel daddy. Dan pilihan terakhir, Saat kita get married, i don't have to work anymore." Reira tertawa terkekeh-kekeh.
Milo menelan ludah mendengar kalimat tersebut.
Usia Reira lebih tua darinya, tentu hal itu bukan pertanda baik untuk mencari pasangan.
Di satu sisi, Milo TIDAK PERNAH sedetikpun memikirkan pernikahan.
Baginya, komitmen itu hal yang paling tabu untuk diucapkan, apalagi dipikirkan.
"Isn't it too early for us to talk about marriage? Kita baru beberapa bulan...deket. Aku belum mikirin pernikahan." Milo menjawab dingin.
Reira mendengus pelan.
"Eventually, you will. Seiring waktu pasti kamu akan memikirkannya kan...?"
Tidak tahu akan menjawab apa, Milo hanya tersenyum dan dalam hati berharap Reira tidak akan pernah mengungkit topik itu lagi sepanjang hidupnya.
Mendadak Reira tertawa sambil menatap layar handphonenya.
"Beb, check this out. Inget gak junior yang waktu itu ketemu kita di kampus?"
Deg! Ekspresi Milo langsung mengeras.
"...Vega kan?"
"Wow. It's a rare thing, kamu bisa ingat nama orang secepat itu."
"Kenapa dengan junior kamu?" Milo mengalihkan perhatian Reira.
"I did a background check on her, setelah kemarin dia isi form Makrab... ternyata nama keluarga dia Devanugraha."
"And then?" Milo menyeruput Espresso di gelasnya.
"Devanugraha itu, salah satu restaurant owner yang buka cabang di hotel Daddy!" Reira berseru riang. "Palms Holiday Inn Bali."
Milo nyaris tersedak dan mencoba mengendalikan emosinya.
Dulu Vega pernah bercerita, memang ayahnya memiliki bisnis kuliner yang berkembang pesat di mana-mana.
Tapi Milo tidak pernah bertanya lebih lanjut seperti apa restorannya.
Mempertimbangkan hubungan Vega tidak terlalu akrab dengan ayahnya, Milo menghormatinya dengan tidak terlalu banyak bertanya.
"Lalu...kenapa kalau Devanugraha? Belum tentu ada hubungannya sama dia."
"Makanya, aku mau ngobrol banyak dengan dia. Bagus buat prospek bisnis aku kelak."
Milo tidak mampu berkomentar apapun.
Pikirannya langsung blank mendengar pernyataan Reira.
Firasat buruk melintas dan berputar-putar di kepalanya.
"It's gonna be bad...."
Milo terdiam beberapa saat sebelum tersenyum dengan cool.
"Nggak apa. Kamu kan emang sibuk terus."
Tidak merasa tersindir, Reira senyum-senyum saja sambil menyeruput Caramello Freeze miliknya.
Mereka sedang duduk di Starbucks dan hangout weekend.
"Makrab itu..." Milo membuka pembicaraan.
"Oh itu, acara kearaban untuk mahasiswa baru fakultas aku. Kamu nggak pernah ya memangnya?"
Milo menggerutu dalam hati.
Obviously, Milo nggak pernah ikut kegiatan semacam itu.
Milo kan' tidak melanjutkan kuliah.
Dulu waktu Senior Year, Milo sempat ikut Summer Camp.
Tapi hanya sebatas itu saja.
"You should go to college." mendadak Reira membuka pembicaraan. "Maksudku, Bertha pasti bakal kerepotan kalau penerus perusahaannya cuma tamatan Senior High. No offense
beb, tapi karyawan kamu pasti akan ngomongin hal itu. Society is tough here."
Setengah membenarkan ucapan Reira, Milo hanya terdiam saja.
Bukan sepenuhnya keinginan Milo untuk tidak melanjutkan kuliah.
Tapi Milo merasa dia kurang menyukai tinggal di negeri orang lain.
Sementara universitas yang ada di Indonesia kurang kompeten, menurut mamanya.
"Kamu sendiri, selesai sarjana mau ngapain?" Milo membalik pertanyaannya.
"No idea. Aku mungkin mau jadi kurator seni, atau buka gallery sendiri."
"Kamu kan' jurusan Graphic Design. Karya seni bukan bidang kamu."
"Aku bisa dapat saham hotel daddy. Dan pilihan terakhir, Saat kita get married, i don't have to work anymore." Reira tertawa terkekeh-kekeh.
Milo menelan ludah mendengar kalimat tersebut.
Usia Reira lebih tua darinya, tentu hal itu bukan pertanda baik untuk mencari pasangan.
Di satu sisi, Milo TIDAK PERNAH sedetikpun memikirkan pernikahan.
Baginya, komitmen itu hal yang paling tabu untuk diucapkan, apalagi dipikirkan.
"Isn't it too early for us to talk about marriage? Kita baru beberapa bulan...deket. Aku belum mikirin pernikahan." Milo menjawab dingin.
Reira mendengus pelan.
"Eventually, you will. Seiring waktu pasti kamu akan memikirkannya kan...?"
Tidak tahu akan menjawab apa, Milo hanya tersenyum dan dalam hati berharap Reira tidak akan pernah mengungkit topik itu lagi sepanjang hidupnya.
Mendadak Reira tertawa sambil menatap layar handphonenya.
"Beb, check this out. Inget gak junior yang waktu itu ketemu kita di kampus?"
Deg! Ekspresi Milo langsung mengeras.
"...Vega kan?"
"Wow. It's a rare thing, kamu bisa ingat nama orang secepat itu."
"Kenapa dengan junior kamu?" Milo mengalihkan perhatian Reira.
"I did a background check on her, setelah kemarin dia isi form Makrab... ternyata nama keluarga dia Devanugraha."
"And then?" Milo menyeruput Espresso di gelasnya.
"Devanugraha itu, salah satu restaurant owner yang buka cabang di hotel Daddy!" Reira berseru riang. "Palms Holiday Inn Bali."
Milo nyaris tersedak dan mencoba mengendalikan emosinya.
Dulu Vega pernah bercerita, memang ayahnya memiliki bisnis kuliner yang berkembang pesat di mana-mana.
Tapi Milo tidak pernah bertanya lebih lanjut seperti apa restorannya.
Mempertimbangkan hubungan Vega tidak terlalu akrab dengan ayahnya, Milo menghormatinya dengan tidak terlalu banyak bertanya.
"Lalu...kenapa kalau Devanugraha? Belum tentu ada hubungannya sama dia."
"Makanya, aku mau ngobrol banyak dengan dia. Bagus buat prospek bisnis aku kelak."
Milo tidak mampu berkomentar apapun.
Pikirannya langsung blank mendengar pernyataan Reira.
Firasat buruk melintas dan berputar-putar di kepalanya.
"It's gonna be bad...."
0