- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#931
14. Cousins
Kelas sedang berlangsung, ketika salah seorang anggota BEM dan DPM masuk ke dalam ruang kelas.
DPM adalah Dewan Perwakilan Mahasiswa yang merupakan organisasi penyalur aspirasi mahasiswa.
Biasanya mereka bekerja sama dengan BEM membuat acara-acara di kampus.
Diantara anggota BEM, Vega melihat Reira di sana.
Entah mengapa, perasaan tidak nyaman menyelimutinya ketika melihat sosok Reira.
Mungkin lebih tepatnya diartikan sebagai iri hati.
Hari ini Reira mengenakan kaus kelonggaran dan skinny jeans berwarna merah.
Jas almamater tetap melekat di badannya.
"Selamat siang, adik-adik..." ketua BEM membuka pembicaraan.
Inti dari pengumuman siang itu adalah ajakan untuk mengikuti MaKrab, atau Malam Keakraban.
Acara ini akan diselenggarakan di Bandung minggu depan.
Nantinya, para anggota BEM dan DPM akan direkrut melalui acara MaKrab tersebut.
"Sekarang, yang bersedia ikut ayo tanda tangan form di sini yaa..." Reira berjalan berbaris dan membagikan form tersebut untuk dioper ke belakang.
Saat melewati meja Vega, Reira berhenti sesaat dan tersenyum padanya.
Vega mengamati, hari ini Reira memoleskan eyeliner cair berwarna kecoklatan di atas matanya.
Lipgloss yang dipakai Reira berwarna peach dan memberi kesan segar pada wajahnya.
"Vega...ikutan ya. Jangan sampai ga ikut. Aku tunggu lho..."
Salah tingkah, Vega hanya mengangguk seiring dengan Reira berjalan.
Chery menyikut Vega dari sebelahnya.
"Kira-kira Milo cerita nggak ya?" Chery bertanya sambil berbisik.
"Cerita apa?"
"Dulu dia pernah naksir sama elo."
Mata Vega melotot dan alisnya naik menatap Chery.
"Kenapa mendadak topiknya...." kalimat Vega terputus. "Gue rasa si enggak. Cowok mana yang bakal cerita ke ceweknya bahwa dia pernah naksir sama cewek lain. Yang lebih jelek dari dia, pula."
Chery mengangguk-angguk membenarkan kalimat Vega.
"Lagian, inget gak cerita gue waktu pertama ketemu dia kemarin? Dia pura-pura gak kenal gitu sama gue..."
Vega sedikit mendengus dan mengasihani dirinya sendiri.
Jika dibandingkan, memang seperti langit dan bumi.
Dalam 3 tahun, Milo sudah berubah menjadi sosok yang tidak Vega kenali lagi.
Gaya rambutnya, gaya berpakaiannya, bahkan caranya menatap Vega.
"Soalnya agak aneh dan mencurigakan Ve...kayaknya Reira sok akrab banget sama elo. Senyumnya ramah banget...kesannya dibuat-buat."
"Senior Reira emang gitu, lagi. Dia baek sama siapa aja. Makanya pada naksir dia."
Vega menoleh ke asal suara di belakangnya.
Matanya bertatapan pandangan dengan cowok berambut ungu yang duduk di sana.
Jelas, cowok ini bukan keturunan orang asing.
Tapi entah mengapa warna pirang melekat sangat cocok padanya.
Chery ikutan menoleh dan mendapati cowok itu duduk di belakang.
"Agus?" Chery mengerutkan dahinya.
Gantian Vega menatap Chery.
"Temen elo ?" Vega bertanya kepada Chery.
"Sepupu gue."
Vega hanya manggut-manggut saja.
"Udah gue bilanggg...jangan panggil gue Agus. Indonesia banget kedengarannya. Nama gue kan August." August memprotes.
"Susah disebut! Lagian oom Brian kasih nama anak, kok susah-susah."
"Daripada elo, Cewi. Chewiwisss!" August balas meledek Chery.
"Rese Agus!"
August baru akan membalas ledekan Chery ketika menyadari Vega hadir di sana.
"Kenalin, August." August mengulurkan tangannya untuk menyalami Vega.
Vega menyambut tangannya dan tersenyum kecil.
"Cewi banyak cerita soal elo."
"O ya? Dia ceritain apa aja?" Vega bertanya penasaran.
"Katanya elo..."
"Jangan dengerin dia, Ve. Pasti dia mau ngomong yang aneh-aneh." Chery membalikkan tubuh Vega dengan tangannya.
Tatapan Vega kembali ke formulir di hadapannya.
Pikirannya berkecamuk apakah dia akan mengisi formulir tersebut.
Tapi rasanya lucu dan konyol sekali jika dia melewatkan kegiatan sekali seumur hidup begini hanya karena ada Reira di dalamnya.
Dengan cepat tanpa pikir panjang, Vega menuliskan namanya dan menandatangani formulir tersebut.
Setelah mengembalikan formulir itu ke tangan panitia BEM, Vega menarik nafas panjang, berharap tidak terjadi hal buruk nantinya.
DPM adalah Dewan Perwakilan Mahasiswa yang merupakan organisasi penyalur aspirasi mahasiswa.
Biasanya mereka bekerja sama dengan BEM membuat acara-acara di kampus.
Diantara anggota BEM, Vega melihat Reira di sana.
Entah mengapa, perasaan tidak nyaman menyelimutinya ketika melihat sosok Reira.
Mungkin lebih tepatnya diartikan sebagai iri hati.
Hari ini Reira mengenakan kaus kelonggaran dan skinny jeans berwarna merah.
Jas almamater tetap melekat di badannya.
"Selamat siang, adik-adik..." ketua BEM membuka pembicaraan.
Inti dari pengumuman siang itu adalah ajakan untuk mengikuti MaKrab, atau Malam Keakraban.
Acara ini akan diselenggarakan di Bandung minggu depan.
Nantinya, para anggota BEM dan DPM akan direkrut melalui acara MaKrab tersebut.
"Sekarang, yang bersedia ikut ayo tanda tangan form di sini yaa..." Reira berjalan berbaris dan membagikan form tersebut untuk dioper ke belakang.
Saat melewati meja Vega, Reira berhenti sesaat dan tersenyum padanya.
Vega mengamati, hari ini Reira memoleskan eyeliner cair berwarna kecoklatan di atas matanya.
Lipgloss yang dipakai Reira berwarna peach dan memberi kesan segar pada wajahnya.
"Vega...ikutan ya. Jangan sampai ga ikut. Aku tunggu lho..."
Salah tingkah, Vega hanya mengangguk seiring dengan Reira berjalan.
Chery menyikut Vega dari sebelahnya.
"Kira-kira Milo cerita nggak ya?" Chery bertanya sambil berbisik.
"Cerita apa?"
"Dulu dia pernah naksir sama elo."
Mata Vega melotot dan alisnya naik menatap Chery.
"Kenapa mendadak topiknya...." kalimat Vega terputus. "Gue rasa si enggak. Cowok mana yang bakal cerita ke ceweknya bahwa dia pernah naksir sama cewek lain. Yang lebih jelek dari dia, pula."
Chery mengangguk-angguk membenarkan kalimat Vega.
"Lagian, inget gak cerita gue waktu pertama ketemu dia kemarin? Dia pura-pura gak kenal gitu sama gue..."
Vega sedikit mendengus dan mengasihani dirinya sendiri.
Jika dibandingkan, memang seperti langit dan bumi.
Dalam 3 tahun, Milo sudah berubah menjadi sosok yang tidak Vega kenali lagi.
Gaya rambutnya, gaya berpakaiannya, bahkan caranya menatap Vega.
"Soalnya agak aneh dan mencurigakan Ve...kayaknya Reira sok akrab banget sama elo. Senyumnya ramah banget...kesannya dibuat-buat."
"Senior Reira emang gitu, lagi. Dia baek sama siapa aja. Makanya pada naksir dia."
Vega menoleh ke asal suara di belakangnya.
Matanya bertatapan pandangan dengan cowok berambut ungu yang duduk di sana.
Jelas, cowok ini bukan keturunan orang asing.
Tapi entah mengapa warna pirang melekat sangat cocok padanya.
Chery ikutan menoleh dan mendapati cowok itu duduk di belakang.
"Agus?" Chery mengerutkan dahinya.
Gantian Vega menatap Chery.
"Temen elo ?" Vega bertanya kepada Chery.
"Sepupu gue."
Vega hanya manggut-manggut saja.
"Udah gue bilanggg...jangan panggil gue Agus. Indonesia banget kedengarannya. Nama gue kan August." August memprotes.
"Susah disebut! Lagian oom Brian kasih nama anak, kok susah-susah."
"Daripada elo, Cewi. Chewiwisss!" August balas meledek Chery.
"Rese Agus!"
August baru akan membalas ledekan Chery ketika menyadari Vega hadir di sana.
"Kenalin, August." August mengulurkan tangannya untuk menyalami Vega.
Vega menyambut tangannya dan tersenyum kecil.
"Cewi banyak cerita soal elo."
"O ya? Dia ceritain apa aja?" Vega bertanya penasaran.
"Katanya elo..."
"Jangan dengerin dia, Ve. Pasti dia mau ngomong yang aneh-aneh." Chery membalikkan tubuh Vega dengan tangannya.
Tatapan Vega kembali ke formulir di hadapannya.
Pikirannya berkecamuk apakah dia akan mengisi formulir tersebut.
Tapi rasanya lucu dan konyol sekali jika dia melewatkan kegiatan sekali seumur hidup begini hanya karena ada Reira di dalamnya.
Dengan cepat tanpa pikir panjang, Vega menuliskan namanya dan menandatangani formulir tersebut.
Setelah mengembalikan formulir itu ke tangan panitia BEM, Vega menarik nafas panjang, berharap tidak terjadi hal buruk nantinya.
Diubah oleh jumpingworm 26-07-2013 03:13
0