Permisi, ane newbie yang lagi belajar nulis gan. Kalo emang berkenan silahkan baca tulisan ane, sekalian ngasih komen dan kritik juga kaga apa-apa.
Cara baca :
Buat yang kurang ngerti nih, cara baca cerita ini sama kaya yang lain, tapi mulai dari cycle 3 disaranin baca ngikutin link yang ada. karena ada beberapa sub cerita pilihan yang ane sengaja ga masukin ke index.
Quote:
Spoiler for Latar:
Greyland, sebuah negara yang memiliki wilayah paling tandus di muka bumi. Dimana aura kematian dapat tercium di setiap sudut kota. Hanya yang kuat yang mampu bertahan hidup di sini.
Snowlily, sebuah rumah yatim piatu yang berada di pinggiran Greyland. Rumah ini terisolasi dari sekelilingnya dan satu-satunya wilayah di Greyland yang memiliki aura kehidupan.
Spoiler for Sinopsis:
“Mama..!!!” teriaknya.
Keinginannya untuk berlari dihalangi oleh seseorang yang mencengkram bahunya. Tatapannya tegas seolah mengatakan untuk berhenti. Dilihatnya sebuah tangan terulur dari dalam kobaran api. Dinginnya salju yang menusuk, amisnya darah yang tercium, panasnya api yang berkobar, terpatri kuat dalam ingatan. Hanya satu yang tersisa padanya, pembalasan..
Spoiler for Tambahan:
Cuma mau bilangin aja sih, disetiap cerita ada sedikit narasi yang emang sengaja ane buat dengan menggunakan sudut pandang salah satu karakter. Nah, sekalian buat nambah pinter agan semua, coba tebak deh ane pake sudut pandang siapa di tiap narasi tersebut..
Untuk karakter yang ada di cerita ini, ada :
1. Risa Green
2. Violet Rix
3. Sam Brown
4. Kyle Blue
untuk sifat, kebiasaan dan keahlian masing-masing lebih baik baca aja ya sendiri..
Ane ga nolak rejeki gan/sis, yang mau atau ane terima dengan lapang dada. Saran dan keripik ane jadikan acuan buat nulis cerita ini biar lebih baik, asal jangan komen yang berbau SARA aja disini atau nyepam ya gan..
Diubah oleh ayunitnit 13-07-2013 07:06
anasabila memberi reputasi
1
3.4K
Kutip
39
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Hiruk pikuk pasar tidak dapat membuatku merasa tenang. Ku alihkan pandangan ke sebelahku untuk melihat mereka. Ya, kita sudah memutuskan untuk melalukan perjalanan ini, sekarang apa yang akan terjadi? Mereka tampak sangat menikmati keramaian ini, tidak sepertiku yang merasa terusik oleh suara-suara banyak orang.
“Waah, cantiknya!!! Lihat Vi, cantik bukan?” ucap Risa sambil melambai-lambaikan gelang kristal berwarna biru.
“Iya, cantik banget! Mau deh tapi mahal..” seraya mengeluarkan koin perak yang tersisa.
“Sudah waktunya kita berangkat. Risa, letakkan gelang itu! Kita tidak punya uang untuk dibuang sia-sia. Vi, apa semua bahan sudah terkumpul? Dan kau Kyle... sudahlah teruskan saja baca bukumu.” seru Sam kepada ketiga rekan seperjalannya itu.
“Semua bahan sudah terkumpul, Sam.” lapor Violet sambil mengangkat bungkusan yang dipegangnya.
“Baiklah, saatnya kita berangkat!” seru Sam.
Laki-laki yang dipanggil Kyle itu, hanya sekilas menatap ketiga temannya dan meneruskan membaca buku yang dipegangnya sambil berjalan.
…
Mereka berempat berasal dari desa yang sama - Redsun, sebuah desa kecil yang hanya terdiri dari 10 keluarga - hanya saja tidak ada satu pun yang tahu alasan dibalik keputusan masing-masing untuk ikut dalam perjalanan ini. Risa dikenal sebagai anak yang manja, memutuskan ikut untuk perjalanan ini entah karena alasan apa. Violet yang merupakan anak seorang tabib, Sam yang berjiwa pemimpin dan Kyle yang misterius pun memiliki alasan tersendiri. Yang menjadi kesamaan adalah tempat asal mereka dan tempat tujuan mereka, Black city.
“Kita sudah hampir berjalan seharian, aku lelah!” rengek Risa sambil menghentakkan kakinya.
“Benar kata Risa, lagi pula sekarang matahari hampir tenggelam. Aku rasa mulai berbahaya untuk melanjutkan perjalanan.” ucap Violet sambil menatap langit.
Sam sebagai yang tertua pun sejujurnya sudah merasa kelelahan, hanya saja dia memutuskan untuk tidak menunjukkannya kepada ketiga rekan seperjalanannya.
“Baiklah, kita akan berhenti untuk berkemah. Kyle, apa kau lihat tempat yang bisa dijadikan lahan perkemahan?”
Kyle hanya menaikkan sekilas pandangannya kepada Sam, dan melirik ke arah belakangnya tanpa mengatakan apapun.
“Nah, jika Kyle sudah pasti, sebaiknya kita segera berkemah!” seru Risa sambil bergesa ke arah yang ditunjuk Kyle.
Diikuti oleh Violet, Sam dan Kyle, mereka pun menyiapkan kemah untuk hari ini. Dua kemah yang didirikan, Violet dengan Risa dan Sam dengan Kyle.
“Hei, Vi, menurutmu bagaimana Kyle bisa tau ada lahan berkemah disini?” Tanya Risa sambil merapikan tas bawaannya di pojok kemah.
“Hemm, aku rasa Kyle sebelumnya membaca peta”
“Tidak mungkin! Dari tadi kan dia hanya pegang buku yang sama. Padahal kita besar bersama, tapi hingga saat ini aku masih saja tidak bisa mengerti pikiran anak itu”
"Aku rasa Kyle menarik. Dia tidak banyak bicara, tapi dia sangat perhatian bukan?" jawab Violet sambil tersenyum
"Yah, setidaknya aku pikir dia bukan orang jahat"
....
Urusan menyediakan kayu bakar ini sebenarnya hal kecil. Mungkin karena kelelahan, aku merasa membawa kayu-kayu ini seperti membawa batu. Ku perhatikan Kyle yang dengan tangkasnya mencari kayu-kayu kering. Sekilas tidak ada yang salah dari dia, tapi firasatku merasakan ada sesuatu yang harus diwaspadai dari Kyle.
"Kyle, aku rasa sudah cukup kayu-kayu ini!" seru Sam.
Kyle pun berhenti mencari kayu-kayu itu dan berbalik mengikuti Sam kembali ke arah perkemahan.