- Beranda
- Civitas Academica
anak BOEDOET (SMA 1 Jakarta) dan alumni2 (IKABOEDOET) masuk ya.. =)
...
TS
prince.kaskus
anak BOEDOET (SMA 1 Jakarta) dan alumni2 (IKABOEDOET) masuk ya.. =)
SMA 1 Jakarta (SEMUA ANGKATAN)
Jl. Budi Utomo no.7 jakarta
Salam kompak ..
Jl. Budi Utomo no.7 jakarta
Salam kompak ..
Diubah oleh prince.kaskus 20-09-2013 16:20
dellesology memberi reputasi
1
18.8K
Kutip
236
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Civitas Academica
3.1KThread•2.6KAnggota
Tampilkan semua post
CoMenT13
#230
Quote:
Original Posted By prince.kaskus►![kaskus-image]()
3 Oktober 1989 siang, mata pelajaran pertama dikelas I5 yang ruangannya terletak digedung paling belakang baru berjalan beberapa puluh menit. Suasana diluar kelaspun sunyi hanya beberapa siswa saja yang masih terlihat lalu lalang dengan berbagai alasan. Tak lama kemudian terdengar suara gaduh dari arah lapangan, seluruh siswa dikelas I5 dan kelas-kelas lainnya dan terkejut dan berusaha mencari sumber kegaduhan tersebut. Diluar kelas terlihat beberapa siswa kelas 2 dan 3 yang beberapanya saya kenali dari Ekskul Palasi (Pencinta Alam), berlarian dan berteriak-teriak sambil memerintahkan seluruh siswa untuk keluar kelas dikarenakan siswa-siswa STM
menyerang SMA 1. Seluruh isi kelas di SMA 1 mulai terlihat panik, Sambil berlari menuju pintu gerbang saya memandangi benda-benda yang jatuh
kelapangan dan sisi Aula. Ternyata sekreatariat Pramuka, Palasi, Teater dan Seksi Rohani Kristen yang terletak disisi kanan Gedung SMA 1 sedang dijarah dan dihancurkan. Benda-benda didalam sekretariat menjadi alat untuk melempar menggantikan batu yang memang sulit untuk didapatkan diseputar sekolah. Tiba-tiba langkah saya terhenti, karena melihat satu benda yang saya kenali jatuh tak jauh dari tempat saya. Benda itu ternyata sebuah
Piala Penghargaan yang terdapat di ruangan Ekskul Pramuka, sayang Piala itu sudah tidak bisa diselamatkan karena memang sudah patah-patah. Seketika emosi tersulut sampai ke ubun-ubun, saya percepat lari menuju pintu gerbang. Ternyata sampai dipintu gerbang kami yang telah menyemut tak dapat terus keluar karena pintu gerbang telah dirantai lalu digembok.
Kepanikanpun menjadi bertambah karena kami merasa terperangkap dan tak bisa melakukan perlawanan.
Karena pertemuan yang mendadak, kami sama-sama terkejut, saya tersentak beberapa langkah kebelakang, sedangkan mereka berloncatan dari atas tembok. Saya mundur untuk mencari benda yang dapat dijadikan senjata, saya mendapatkan sebuah bangku. Lalu saya raih, dan lemparkan kesiswa- siswa STM dibawah sana, mereka berhamburan menyelamatkan diri kedalam sebuah gubuk tempat tinggal. Mungkin gubuk milik penjaga sekolah atau penjaga kantin, lemparan bangku saya tadi dibalas dengan lemparan batu dan satu bom molotov sehingga mengakibatkan kusen pintu terbakar lalu cepat-cepat kami padamkan. Karena kehilangan akal untuk membalas serangan siswa-siswa
STM didalam gubuk, saya meminta bantuan salah seorang rekan untuk membantu membawa sebuah meja yang saya ambil dari dalam kelas. Meja itu kami gotong melalui pintu yang sebagian menghitam karena sempat terbakar, sebagian siswa STM yang melihat saya membawa meja tahu segera menyingkir karena tahu hal yang akan saya perbuat. Secara bersamaan saya lemparkan meja itu keatas atap gubuk tersebut, "Brak...!". Suara keras merobohkan atap gubuk dan berhamburanlah beberapa siswa dan seorang satpam dari dalam gubuk. Setelah saya tunggu beberapa saat siswa-siswa STM itu tidak kembali lagi, saya segera mengamankan pintu tadi dengan mengganjalnya dengan beberapa tumpukan meja.
Benda berikutnya yang menjadi sasaran untuk senjata adalah genteng diatap sekolah, saya melompat dari lantai 1 menuju gedung lama dekat pohon beringin. Satu persatu genteng saya lepas dari tempatnya dan melemparkan kearah lapangan untuk kemudian pecahan-pecahan genteng tersebut dilemparkan kearah gedung STM. Pokoknya ada istilah, DA_DE_DO kena masa bodo. Aktifitas mencopoti atap sekolah akhirnya terhenti karena kena omel oleh seorang guru. Akhirnya saya menuju lantai 3 untuk melihat lebih jelas kearah luar sekolah, ternyata tak bisa melihat terlalu jelas kearah gedung STM. Dengan inisiatif beberapa siswa, kami menyusun beberapa meja untuk bisa meraih pintu kecil diatas plafon yang menuju ke atap. Saya dan dua siswa lainnya berhasil menuju atap gedung dan mendapatkan pemandangan yang mengejutkan. Api menjilat ruangan ekskul, dan beberapa siswa STM bertengger diatap gedung sekolahnya. Ada yang sedang melemparkan genteng-genteng dari atap sekolahnya kearah gedung SMA 1, ada pula yang mengenakan helm sambil mengacung-acungkan badge fals sambil menghibau teman-temannya untuk menghentikan serangannya. Kamipun berinisiatif mengacungkan 2 jari tanda peace kearah rekan-rekan STM untuk segera menghentikan aksi brutal mereka.
Tak terasa haripun telah beranjak sore, mungkin karena kelelahan akhirnya tawuran itu berhenti dengan sendirinya. Setelah keadaan dianggap aman dan apai telah padam (entah siapa yang memadamkannya) seluruh siswa dikumpulkan dilapangan oleh pihak sekolah. Kami semua berkumpul sambil bertanya satu sama lain tentang penyebab tragedi hari ini. Tapi tak ada
penjelasan resmi dari pihak sekolah, hanya rumor-rumor yang berkembang dari mulut ke mulut. Rumor itu antara lain, terjadi gesekan anatara anak Palasi dengan anak SO (Sraeli One, genk anak SMA 1 yang berkiblat ke Israel. Memang mereka memakai logo bintang Daud antara huruf S&O). Entah pihak mana yang meminta bantuan ke teman-temannya di STM, sehingga akhirnya berbuntut panjang dan menjadi sebuah tragedi. Kemudian pihak sekolah mengumumkan bahwa seluruh siswa diliburkan selama 3 hari, anak-anak SMA 1 saling berbisik untuk melakukan pembalasan pada saat masuk nanti. Setelah keadaan dianggap aman, pihak sekolah membubarkan
aktifitas sekolah. Kami berpikir diluar sekolah akan terjadi bentrokan susulan, tapi bertapa terkejutnya kami ketika memandang kearah jalan Budi Utomo dari balik pintu gerbang SMA 1. Diluar bagaikan medan perang yang sesungguhnya, pasukan loreng dari Kostrad, Garnisun, Kodim dan Kepolisian bertebaran dimana-mana. Didepan gerbang sekolah telah dipagar betis kiri-kanan oleh para tentara, sedangkan antara SMA & STM diblokir dengan mobil-mobil aparat keamanan.
Kami diharuskan berbaris dua-dua untuk dapat melewati pagar betis tersebut, mata para tentara itu memandangi kami satu persatu dengan sorot mata yang tajam dan agak sedikit bengis. Hingga akhirnya salah satu tentara menunjuk-nunjuk kearah saya. jantung terasa mau copot saat itu. Mungkin karena saya memakai ikat kepala dari sehelai sapu tangan. Cepat-cepat saya lepaskan ikat kepala tersebut dan memasukannya kedalam saku celana. "Gawat!", ternyata disaku celana saya terdapat sebuah curter yang saya temukan di Lantai 1 tadi. Akhirnya saya lolos dari pagar betis itu dan secara diam-diam membuang curter tersebut dikali Gunung Sahari. Di halte Gunung Sahari sudah padat dengan siswa-siswa SMA 1 yang sedang menunggu angkutan umum. Tak lama kemudian satu bis penuh pelajar menuju kearah kami, kami semua segera mempersiapkan diri untuk terjadinya sebuah bentrokan. Tapi ketika bis memperlambat lajunya, beberapa siswa dipintu depan turun dan saling berangkulan dengan anak-anak SMA 1. Ternyata bis itu berisi rombongan anak Chaptoen (SMA 10) yang selama ini menjadi salah satu musuh besar Boedoet, tapi kini tiba-tiba datang sebagai saudara yang hendak membantu.
Tiga hari pasca bentrokan beberapa hari yang lalu, masyarakat ibu kota masih hangat membahas aksi brutal anak-anak Budi Utomo termaksud beberapa surat khabar terbitan ibu kota. Sehingga timbul wacana untuk memisahkan sekolah-sekolah di jalan Budi Utomo dengan cara memindahkannya. Dari kawasan jalan Bungur Besar saya berangkat sekolah dengan menggunakan celana SMP, hal itu dikarenakan kedua orang tua saya masih khawatir jika mengenakan celana abu-abu. Tiba di perempatan jalan Gunung Sahari 3 saya dikejutkan oleh aksi sweaping yang dilakukan oleh anak-anak SMA 1. Dan saya sempat menyaksikan satu orang siswa mengerang kesakitan diatas trotoar smbil diberi minum oleh masyarakat sekitarnya, mungkin akibat sweaping itu. Suasana mulai terasa mencekam ketika saya sudah berada didepan SMP 93, kerumunan siswa dan para alumni SMA 1 ada dimana-mana. Ada Rumor Chaptoen, Poncol dan SMA 20 ikut dalam kerumunan itu, benar tidaknya rumor tersebut sayapun tidak tahu.
Kerumunan siswa dan alumni SMA 1 dimuka jalan Budi Utomo sudah menyemut, laju mereka terhambat oleh barikade satuan keamanan. Dan untuk memecah kosentrasi massa, aparat keamanan beberapa kali melepaskan tembakan peringatan keudara. Bukan membubarkan diri tapi setiap letusan senjata api selalu mendapatkan tepuk tangan meriah dari kerumunan massa itu. Di perempatan Armabar terdapat pula kerumunan massa dari anak-anak STM, tapi mereka tidak melakukan penyerangan hanya
berkumpul diatas jembatan sambil menunggu perkembangan selanjutnya. Akhirnya aparat keamanan berinisiatif menghentikan setiap angkutan umum yang lewat dan menghalau siswa-siswa yang berkerumun dipinggir jalan untuk masuk kedalamnya. Sayapun ikut dengan PPD No. 14 jurusan Blok M, berharap di Senen atau Kramat Raya akan ada bentrokan. Ternyata sepanjang perjalanan sampai dengan Parkir Timur Senayam, adem ayem. Akhirnya saya dan beberapa siswa turun di Parkir Timur, menghindari daerah Blok M. Apalagi jika bukan untuk menghindari bertemu dengan anak-anak Penerbangan. Suasana di Parkir Timur cukup ramai dengan umat kristiani, karena memang hari itu bertepatan dengan kedatangan Paus Paulus Yohaness II ke Indonesia.
Setelah kembali diliburkan selama satu minggu, aktifitas belajar kembali normal seperti sedia kala. Anak-anak SMA dan STM sama-sama menghindar untuk bertemu muka, anak STM menghindar melalui jalan Gunung Sahari dan anak SMA pun menghindar untuk melalui Lapangan Banteng. Tapi suasana berbeda terjadi di dalam gedung SMA 1, ada kesibukan dan kasak-kusuk dari
beberapa siswa kelas 3, pelaku dekeluarkan.
disadur dari http://www.facebook.com/topic.php?ui...94&topic=10941
semoga tidak terulang lagi...


3 Oktober 1989 siang, mata pelajaran pertama dikelas I5 yang ruangannya terletak digedung paling belakang baru berjalan beberapa puluh menit. Suasana diluar kelaspun sunyi hanya beberapa siswa saja yang masih terlihat lalu lalang dengan berbagai alasan. Tak lama kemudian terdengar suara gaduh dari arah lapangan, seluruh siswa dikelas I5 dan kelas-kelas lainnya dan terkejut dan berusaha mencari sumber kegaduhan tersebut. Diluar kelas terlihat beberapa siswa kelas 2 dan 3 yang beberapanya saya kenali dari Ekskul Palasi (Pencinta Alam), berlarian dan berteriak-teriak sambil memerintahkan seluruh siswa untuk keluar kelas dikarenakan siswa-siswa STM
menyerang SMA 1. Seluruh isi kelas di SMA 1 mulai terlihat panik, Sambil berlari menuju pintu gerbang saya memandangi benda-benda yang jatuh
kelapangan dan sisi Aula. Ternyata sekreatariat Pramuka, Palasi, Teater dan Seksi Rohani Kristen yang terletak disisi kanan Gedung SMA 1 sedang dijarah dan dihancurkan. Benda-benda didalam sekretariat menjadi alat untuk melempar menggantikan batu yang memang sulit untuk didapatkan diseputar sekolah. Tiba-tiba langkah saya terhenti, karena melihat satu benda yang saya kenali jatuh tak jauh dari tempat saya. Benda itu ternyata sebuah
Piala Penghargaan yang terdapat di ruangan Ekskul Pramuka, sayang Piala itu sudah tidak bisa diselamatkan karena memang sudah patah-patah. Seketika emosi tersulut sampai ke ubun-ubun, saya percepat lari menuju pintu gerbang. Ternyata sampai dipintu gerbang kami yang telah menyemut tak dapat terus keluar karena pintu gerbang telah dirantai lalu digembok.
Kepanikanpun menjadi bertambah karena kami merasa terperangkap dan tak bisa melakukan perlawanan.
Karena pertemuan yang mendadak, kami sama-sama terkejut, saya tersentak beberapa langkah kebelakang, sedangkan mereka berloncatan dari atas tembok. Saya mundur untuk mencari benda yang dapat dijadikan senjata, saya mendapatkan sebuah bangku. Lalu saya raih, dan lemparkan kesiswa- siswa STM dibawah sana, mereka berhamburan menyelamatkan diri kedalam sebuah gubuk tempat tinggal. Mungkin gubuk milik penjaga sekolah atau penjaga kantin, lemparan bangku saya tadi dibalas dengan lemparan batu dan satu bom molotov sehingga mengakibatkan kusen pintu terbakar lalu cepat-cepat kami padamkan. Karena kehilangan akal untuk membalas serangan siswa-siswa
STM didalam gubuk, saya meminta bantuan salah seorang rekan untuk membantu membawa sebuah meja yang saya ambil dari dalam kelas. Meja itu kami gotong melalui pintu yang sebagian menghitam karena sempat terbakar, sebagian siswa STM yang melihat saya membawa meja tahu segera menyingkir karena tahu hal yang akan saya perbuat. Secara bersamaan saya lemparkan meja itu keatas atap gubuk tersebut, "Brak...!". Suara keras merobohkan atap gubuk dan berhamburanlah beberapa siswa dan seorang satpam dari dalam gubuk. Setelah saya tunggu beberapa saat siswa-siswa STM itu tidak kembali lagi, saya segera mengamankan pintu tadi dengan mengganjalnya dengan beberapa tumpukan meja.
Benda berikutnya yang menjadi sasaran untuk senjata adalah genteng diatap sekolah, saya melompat dari lantai 1 menuju gedung lama dekat pohon beringin. Satu persatu genteng saya lepas dari tempatnya dan melemparkan kearah lapangan untuk kemudian pecahan-pecahan genteng tersebut dilemparkan kearah gedung STM. Pokoknya ada istilah, DA_DE_DO kena masa bodo. Aktifitas mencopoti atap sekolah akhirnya terhenti karena kena omel oleh seorang guru. Akhirnya saya menuju lantai 3 untuk melihat lebih jelas kearah luar sekolah, ternyata tak bisa melihat terlalu jelas kearah gedung STM. Dengan inisiatif beberapa siswa, kami menyusun beberapa meja untuk bisa meraih pintu kecil diatas plafon yang menuju ke atap. Saya dan dua siswa lainnya berhasil menuju atap gedung dan mendapatkan pemandangan yang mengejutkan. Api menjilat ruangan ekskul, dan beberapa siswa STM bertengger diatap gedung sekolahnya. Ada yang sedang melemparkan genteng-genteng dari atap sekolahnya kearah gedung SMA 1, ada pula yang mengenakan helm sambil mengacung-acungkan badge fals sambil menghibau teman-temannya untuk menghentikan serangannya. Kamipun berinisiatif mengacungkan 2 jari tanda peace kearah rekan-rekan STM untuk segera menghentikan aksi brutal mereka.
Tak terasa haripun telah beranjak sore, mungkin karena kelelahan akhirnya tawuran itu berhenti dengan sendirinya. Setelah keadaan dianggap aman dan apai telah padam (entah siapa yang memadamkannya) seluruh siswa dikumpulkan dilapangan oleh pihak sekolah. Kami semua berkumpul sambil bertanya satu sama lain tentang penyebab tragedi hari ini. Tapi tak ada
penjelasan resmi dari pihak sekolah, hanya rumor-rumor yang berkembang dari mulut ke mulut. Rumor itu antara lain, terjadi gesekan anatara anak Palasi dengan anak SO (Sraeli One, genk anak SMA 1 yang berkiblat ke Israel. Memang mereka memakai logo bintang Daud antara huruf S&O). Entah pihak mana yang meminta bantuan ke teman-temannya di STM, sehingga akhirnya berbuntut panjang dan menjadi sebuah tragedi. Kemudian pihak sekolah mengumumkan bahwa seluruh siswa diliburkan selama 3 hari, anak-anak SMA 1 saling berbisik untuk melakukan pembalasan pada saat masuk nanti. Setelah keadaan dianggap aman, pihak sekolah membubarkan
aktifitas sekolah. Kami berpikir diluar sekolah akan terjadi bentrokan susulan, tapi bertapa terkejutnya kami ketika memandang kearah jalan Budi Utomo dari balik pintu gerbang SMA 1. Diluar bagaikan medan perang yang sesungguhnya, pasukan loreng dari Kostrad, Garnisun, Kodim dan Kepolisian bertebaran dimana-mana. Didepan gerbang sekolah telah dipagar betis kiri-kanan oleh para tentara, sedangkan antara SMA & STM diblokir dengan mobil-mobil aparat keamanan.
Kami diharuskan berbaris dua-dua untuk dapat melewati pagar betis tersebut, mata para tentara itu memandangi kami satu persatu dengan sorot mata yang tajam dan agak sedikit bengis. Hingga akhirnya salah satu tentara menunjuk-nunjuk kearah saya. jantung terasa mau copot saat itu. Mungkin karena saya memakai ikat kepala dari sehelai sapu tangan. Cepat-cepat saya lepaskan ikat kepala tersebut dan memasukannya kedalam saku celana. "Gawat!", ternyata disaku celana saya terdapat sebuah curter yang saya temukan di Lantai 1 tadi. Akhirnya saya lolos dari pagar betis itu dan secara diam-diam membuang curter tersebut dikali Gunung Sahari. Di halte Gunung Sahari sudah padat dengan siswa-siswa SMA 1 yang sedang menunggu angkutan umum. Tak lama kemudian satu bis penuh pelajar menuju kearah kami, kami semua segera mempersiapkan diri untuk terjadinya sebuah bentrokan. Tapi ketika bis memperlambat lajunya, beberapa siswa dipintu depan turun dan saling berangkulan dengan anak-anak SMA 1. Ternyata bis itu berisi rombongan anak Chaptoen (SMA 10) yang selama ini menjadi salah satu musuh besar Boedoet, tapi kini tiba-tiba datang sebagai saudara yang hendak membantu.
Tiga hari pasca bentrokan beberapa hari yang lalu, masyarakat ibu kota masih hangat membahas aksi brutal anak-anak Budi Utomo termaksud beberapa surat khabar terbitan ibu kota. Sehingga timbul wacana untuk memisahkan sekolah-sekolah di jalan Budi Utomo dengan cara memindahkannya. Dari kawasan jalan Bungur Besar saya berangkat sekolah dengan menggunakan celana SMP, hal itu dikarenakan kedua orang tua saya masih khawatir jika mengenakan celana abu-abu. Tiba di perempatan jalan Gunung Sahari 3 saya dikejutkan oleh aksi sweaping yang dilakukan oleh anak-anak SMA 1. Dan saya sempat menyaksikan satu orang siswa mengerang kesakitan diatas trotoar smbil diberi minum oleh masyarakat sekitarnya, mungkin akibat sweaping itu. Suasana mulai terasa mencekam ketika saya sudah berada didepan SMP 93, kerumunan siswa dan para alumni SMA 1 ada dimana-mana. Ada Rumor Chaptoen, Poncol dan SMA 20 ikut dalam kerumunan itu, benar tidaknya rumor tersebut sayapun tidak tahu.
Kerumunan siswa dan alumni SMA 1 dimuka jalan Budi Utomo sudah menyemut, laju mereka terhambat oleh barikade satuan keamanan. Dan untuk memecah kosentrasi massa, aparat keamanan beberapa kali melepaskan tembakan peringatan keudara. Bukan membubarkan diri tapi setiap letusan senjata api selalu mendapatkan tepuk tangan meriah dari kerumunan massa itu. Di perempatan Armabar terdapat pula kerumunan massa dari anak-anak STM, tapi mereka tidak melakukan penyerangan hanya
berkumpul diatas jembatan sambil menunggu perkembangan selanjutnya. Akhirnya aparat keamanan berinisiatif menghentikan setiap angkutan umum yang lewat dan menghalau siswa-siswa yang berkerumun dipinggir jalan untuk masuk kedalamnya. Sayapun ikut dengan PPD No. 14 jurusan Blok M, berharap di Senen atau Kramat Raya akan ada bentrokan. Ternyata sepanjang perjalanan sampai dengan Parkir Timur Senayam, adem ayem. Akhirnya saya dan beberapa siswa turun di Parkir Timur, menghindari daerah Blok M. Apalagi jika bukan untuk menghindari bertemu dengan anak-anak Penerbangan. Suasana di Parkir Timur cukup ramai dengan umat kristiani, karena memang hari itu bertepatan dengan kedatangan Paus Paulus Yohaness II ke Indonesia.
Setelah kembali diliburkan selama satu minggu, aktifitas belajar kembali normal seperti sedia kala. Anak-anak SMA dan STM sama-sama menghindar untuk bertemu muka, anak STM menghindar melalui jalan Gunung Sahari dan anak SMA pun menghindar untuk melalui Lapangan Banteng. Tapi suasana berbeda terjadi di dalam gedung SMA 1, ada kesibukan dan kasak-kusuk dari
beberapa siswa kelas 3, pelaku dekeluarkan.
disadur dari http://www.facebook.com/topic.php?ui...94&topic=10941
semoga tidak terulang lagi...

anjret cerita yang ini baru menarik gan

0
Kutip
Balas