TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#80
Uneasiness
Spoiler for Uneasiness:
“Huahh...”
Kedua tangan kurentangkan, mengarah keatas seakan tengah menyentuh langit – langit ruangan ini. Sementara dari mulut kukeluarkan hasil rasa kantuk yang sengaja kutahan.
Selesai melakukannya, sesaat aku menatap pada langit – langit yang berwarna putih. Sebelum akhirnya menengok kesebelah, dimana tangan kiri yang tadi kuangkat sekarang tergeletak pada permukaan kasur, memegang buku yang berukuran cukup besar.
Aku menarik kedua tangan, juga sambil membangunkan diri. Duduk bersila pada kasur yang cukup diisi oleh dua orang. Sementara buku yang kupegang tadi kini sudah tergeletak pada kasur, aku merogoh saku celana kanan. Mengambil benda komunikasi yang biasa disebut Handphone.
“Sudah jam 9?”
Kedua mata kuusap beberapa kali, sampai akhirnya aku percaya setelah menyadari waktu yang tertera pada layar Handphonetersebut memang sungguhan.
Masih tetap menggenggam benda tersebut, mataku melirik ujung ruangan yang lain. Dimana terdapat sebuah meja belajar bermodel lesehan, yang kini sedang diisi oleh seseorang berambut hitam pendek. Memakai setelan piyama berwarna biru gelap.
“Elza, bagaimana jika kita tidur sekarang? Sudah jam 9 soalnya.”
“...”
Hanya keheninganlah yang menjawab, sementara kulihat kepalanya masih tetap mengarah pada pemukaan meja belajarnya. Tak bergerak.
“Elza?”
“...”
Sama seperti sebelumnya, hanya keheninganlah yang menjawab omongonganku. Dan hal tersebut akhirnya mendorong diriku untuk beranjak dari kasur, menghampiri dirinya yang entah kenapa terlihat membatu.
Meski langkah kakiku bisa terdengar oleh telingaku, dia masih tetap saja diam tak bergerak. Akupun menurunkan tubuh saat di sebelah dirinya, dan saat kutengok, nampak ekspresi kosong pada wajahnya. Bagaikan orang yang tak bernyawa.
Diiringi rasa heran serta sedikit takut, akupun memanggil dirinya lagi sambil menarik pundaknya.
“Elza!”
“H-huh? Ada apa, Zael?”
“...”
“Justru itu yang ingin kutanyakan, Elza. Kau kenapa? Sampai melamun begitu...”
Ekspresinya kini nampak kebingungan, seperti orang yang baru terbangun dari tidur. Melihat tingkah lakunya yang ganjil, akupun mencondongkan wajahku padanya, menempelkan dahiku pada miliknya. Sambil bertanya.
“Kau tidak sakit, kan?”
Diapun langsung memalingkan wajahnya, melepaskan sentuhan yang kulakukan. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini dia merespon pertanyaanku.
“A-aku tidak sakit kok.”
“Lantas, kenapa kau sampai melamun tadi?”
“...”
“Y-yah, uh, aku hanya... Bingung.”
“Bingung?”
Dia mengangguk pelan, sebelum menggerakkan bibirnya kembali.
“Soal kemarin... Setelah lulus, apa mungkin dengan ijazah SMA aku bisa menjadi guru sekedar dari privat?”
Aku sendiri sedikit terkejut dengan omongannya, tapi mengingat dia adalah seorang guru privat. Kurasa normal bila dia ingin mengerjakan sesuatu yang sudah dia miliki pengalamannya.
“Eh? Tidak tahu juga sih... Mungkin, lebih baik kau tanya saja guru di sekolah nanti.”
Ekspresinya memang masih terlihat kaku, namun kini sedikit serius. Mengarah kembali pada buku pelajaran miliknya yang terbuka.
“Hmm... Sepertinya ada benar juga.”
Usai mendengar dirinya berkata, akupun mencondongkan tubuhku kearahnya. Kedua tangan melingkari pinggang memeluk dirinya, sementara wajah kuarahkan pada rambut hitam pendeknya. Dengan mulutku berada persis pada belakang telinganya, berbisik.
“Kalau begitu, bagaimana jika kita tidur sekarang?”
Tanpa diduga, begitu aku selesai mengucapkan ajakan. Lengan kanannya terangkat, menyebabkan aku harus melepaskan pelukan karena berada di posisi yang sama. Dan sambil melakukannya, diapun mengeluarkan suara dari bibir mungilnya.
“T-tunggu...”
Diiringi rasa bingung lagi, aku bertanya sambil memiringkan kepala. Mencoba melihat wajahnya yang mengarah pada meja belajar.
“Eh? Kenapa?”
“Masih... Ada yang mesti kupelajari. Kau tidur saja duluan, Zael.”
“Bisakah kau mel-“
“Tidak bisa.”
Belum selesai aku berkata kembali, dia langsung menolak. Membuat diriku langsung terdiam, hanya bisa menatapnya yang terfokus membaca. Setelah beberapa saat, melihat dirinya yang terlihat bersikeras, akupun menghela nafas. Lalu berdiri kembali, menepuk rambut pendek hitamnya seraya berkata.
“Asal jangan sampai malam – malam ya...”
Diapun mengangguk pelan. Puas mendapat respon, sambil merentangkan kedua tangan serta menguap lebar karena rasa kantuk. Akupun membaringkan diri di atas kasur hendak beristirahat (tidak lupa untuk menyingkirkan buku pelajaran yang kuletakkan).
Namun disaat aku telah terbungkus oleh selimut, bersamaan dengan menutupnya mata Citrine-ku. Telingaku mendengar sebuah suara kembali.
“Mimpi yang indah, Zael.”
Aku membuka mataku kembali, lalu menengok kearah belakang tubuh. Dimana posisi Elza yang masih terfokus pada bukunya berada.
“Y-yah, uh, kau juga.”
Dan setelah membalas ucapannya, akupun menutup mata kembali. Hendak menuju dunia mimpi serta menunggu hingga fajar menyingsing kembali.
Kedua tangan kurentangkan, mengarah keatas seakan tengah menyentuh langit – langit ruangan ini. Sementara dari mulut kukeluarkan hasil rasa kantuk yang sengaja kutahan.
Selesai melakukannya, sesaat aku menatap pada langit – langit yang berwarna putih. Sebelum akhirnya menengok kesebelah, dimana tangan kiri yang tadi kuangkat sekarang tergeletak pada permukaan kasur, memegang buku yang berukuran cukup besar.
Aku menarik kedua tangan, juga sambil membangunkan diri. Duduk bersila pada kasur yang cukup diisi oleh dua orang. Sementara buku yang kupegang tadi kini sudah tergeletak pada kasur, aku merogoh saku celana kanan. Mengambil benda komunikasi yang biasa disebut Handphone.
“Sudah jam 9?”
Kedua mata kuusap beberapa kali, sampai akhirnya aku percaya setelah menyadari waktu yang tertera pada layar Handphonetersebut memang sungguhan.
Masih tetap menggenggam benda tersebut, mataku melirik ujung ruangan yang lain. Dimana terdapat sebuah meja belajar bermodel lesehan, yang kini sedang diisi oleh seseorang berambut hitam pendek. Memakai setelan piyama berwarna biru gelap.
“Elza, bagaimana jika kita tidur sekarang? Sudah jam 9 soalnya.”
“...”
Hanya keheninganlah yang menjawab, sementara kulihat kepalanya masih tetap mengarah pada pemukaan meja belajarnya. Tak bergerak.
“Elza?”
“...”
Sama seperti sebelumnya, hanya keheninganlah yang menjawab omongonganku. Dan hal tersebut akhirnya mendorong diriku untuk beranjak dari kasur, menghampiri dirinya yang entah kenapa terlihat membatu.
Meski langkah kakiku bisa terdengar oleh telingaku, dia masih tetap saja diam tak bergerak. Akupun menurunkan tubuh saat di sebelah dirinya, dan saat kutengok, nampak ekspresi kosong pada wajahnya. Bagaikan orang yang tak bernyawa.
Diiringi rasa heran serta sedikit takut, akupun memanggil dirinya lagi sambil menarik pundaknya.
“Elza!”
“H-huh? Ada apa, Zael?”
“...”
“Justru itu yang ingin kutanyakan, Elza. Kau kenapa? Sampai melamun begitu...”
Ekspresinya kini nampak kebingungan, seperti orang yang baru terbangun dari tidur. Melihat tingkah lakunya yang ganjil, akupun mencondongkan wajahku padanya, menempelkan dahiku pada miliknya. Sambil bertanya.
“Kau tidak sakit, kan?”
Diapun langsung memalingkan wajahnya, melepaskan sentuhan yang kulakukan. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini dia merespon pertanyaanku.
“A-aku tidak sakit kok.”
“Lantas, kenapa kau sampai melamun tadi?”
“...”
“Y-yah, uh, aku hanya... Bingung.”
“Bingung?”
Dia mengangguk pelan, sebelum menggerakkan bibirnya kembali.
“Soal kemarin... Setelah lulus, apa mungkin dengan ijazah SMA aku bisa menjadi guru sekedar dari privat?”
Aku sendiri sedikit terkejut dengan omongannya, tapi mengingat dia adalah seorang guru privat. Kurasa normal bila dia ingin mengerjakan sesuatu yang sudah dia miliki pengalamannya.
“Eh? Tidak tahu juga sih... Mungkin, lebih baik kau tanya saja guru di sekolah nanti.”
Ekspresinya memang masih terlihat kaku, namun kini sedikit serius. Mengarah kembali pada buku pelajaran miliknya yang terbuka.
“Hmm... Sepertinya ada benar juga.”
Usai mendengar dirinya berkata, akupun mencondongkan tubuhku kearahnya. Kedua tangan melingkari pinggang memeluk dirinya, sementara wajah kuarahkan pada rambut hitam pendeknya. Dengan mulutku berada persis pada belakang telinganya, berbisik.
“Kalau begitu, bagaimana jika kita tidur sekarang?”
Tanpa diduga, begitu aku selesai mengucapkan ajakan. Lengan kanannya terangkat, menyebabkan aku harus melepaskan pelukan karena berada di posisi yang sama. Dan sambil melakukannya, diapun mengeluarkan suara dari bibir mungilnya.
“T-tunggu...”
Diiringi rasa bingung lagi, aku bertanya sambil memiringkan kepala. Mencoba melihat wajahnya yang mengarah pada meja belajar.
“Eh? Kenapa?”
“Masih... Ada yang mesti kupelajari. Kau tidur saja duluan, Zael.”
“Bisakah kau mel-“
“Tidak bisa.”
Belum selesai aku berkata kembali, dia langsung menolak. Membuat diriku langsung terdiam, hanya bisa menatapnya yang terfokus membaca. Setelah beberapa saat, melihat dirinya yang terlihat bersikeras, akupun menghela nafas. Lalu berdiri kembali, menepuk rambut pendek hitamnya seraya berkata.
“Asal jangan sampai malam – malam ya...”
Diapun mengangguk pelan. Puas mendapat respon, sambil merentangkan kedua tangan serta menguap lebar karena rasa kantuk. Akupun membaringkan diri di atas kasur hendak beristirahat (tidak lupa untuk menyingkirkan buku pelajaran yang kuletakkan).
Namun disaat aku telah terbungkus oleh selimut, bersamaan dengan menutupnya mata Citrine-ku. Telingaku mendengar sebuah suara kembali.
“Mimpi yang indah, Zael.”
Aku membuka mataku kembali, lalu menengok kearah belakang tubuh. Dimana posisi Elza yang masih terfokus pada bukunya berada.
“Y-yah, uh, kau juga.”
Dan setelah membalas ucapannya, akupun menutup mata kembali. Hendak menuju dunia mimpi serta menunggu hingga fajar menyingsing kembali.
Fin
Diubah oleh lacie. 18-06-2013 20:40
0
Kutip
Balas