- Beranda
- Stories from the Heart
Putih-Biru; Bahagia, Sedih, dan Haru
...
TS
billbowser
Putih-Biru; Bahagia, Sedih, dan Haru
Spoiler for "buka aja":
"Namamu siapa?" tanya gue dengan kakunya.
"Anas," kata dia, "namamu?"
"Aku Bill." Kata gue.
Ya, gue Bill. Selama ini gue cuma pembaca disini dan gue pun berjanji akan membuat thread tentang kisah gue selama SMP ini. Gue sekarang hampir 15 tahun, masih nunggu SMA, dengan postur tinggi besar, berat sekitar 100 kg dan tinggi sekitar 170 cm (bisa dibayangin, gan?
). Kutipan diatas, itu pertama kali gue kenalan sama orang di (mantan) sekolah gue, salah satu SMP Negeri favorit di Kota Jogjakarta. Dulu gue adalah seorang Socially Awkward Penguin, introvert banget, dan pendiam. Gue lebih milih dengerin lagu daripada ngobrol sama temen. What a pathetic guy I was. Dan sedihnya? Gue masuk SMP ini sendirian, ga ada temen satu SD gue yang masuk sini. "Sial, mati gue disini sendiri," pikir gue, dulu.
Kira-kira gitulah, so let me tell you my story, Shall I?
---------------------------------------------------------------
Index:
Spoiler for index:
Diubah oleh billbowser 01-07-2013 00:50
anasabila memberi reputasi
1
3.8K
31
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
billbowser
#6
Sekolah baru, hidup baru?
Setelah MOS, gue akhirnya kenal sama anak sekelas. Iya, baru sekelas, karena gue sendiri bingung gimana caranya kenalan dan gue sendiri ga peduli kenal atau ngga. Gue duduk sebangku sama Abib, sedangkan Anas sebangku sama Ihsan, Gilang sebangku sama Zaid, dan yang lainnya gue ga begitu ingat. Setiap pagi, anak-anak cowok pada ngumpul didepan kelas, mengobrol, dari Yu-Gi-Oh sampai DotA, dan ya, kami masih menganggap suka sama cewek itu hal yang tabu.
"Ngko DotA yo neng Blink? (Nanti DotA yuk di Blink?)" ajak Ferdi, teman sekelas gue yang gue ga begitu akrab.
"Yo ayo, tur ngko aku PB wae, (Ya ayo, tapi nanti gue PB aja)" jawab Zaid.
Blink, sebuah gamenet kecil dekat sekolah kami, tempat gue kabur saat ekskul mengaji, tempat gue ngebantai Zaid yang emang cacad main PBnya
, tempat gue dibantai sama Anas saat main DotA, dan tempat nongkrong paling "gelap" selama gue di SMP. Kalau dihitung, gue termasuk anak yang hemat dalam pengeluaran untuk game. Saat kelas 7, gue ga keluar duit sepeserpun untuk main disana, karena gue cuma ngelihat sama pinjem satu battle doang, karena disamping gue ga punya ID game apapun, duit gue abis buat beli jajanan 
Oke balik ke cerita,
*teng teng teng* bel berbunyi. Bel di Sekolah gue bentuknya sebuah lempengan kuningan yang di ikat pake baja ketepi atap depan ruang kepala sekolah. Tiap waktu tertentu, muncul Pak Botak menggunakan cincinnya memukul bel tersebut. Gue masih bingung apa jin dalem cincinnya ga pusing dipake mukul bel itu
Para murid masuk dan langsung duduk dibangku masing-masing. Lalu, muncul seorang guru, Pak Gus, seorang bapak bermuka galak dan bersuara menggelegar. Dia salah satu guru killer di sekolah gue. "Sial mati gue dapet guru kayak gini," pikir gue pertama kali. Tiba-tiba, dia mengeluarkan setumpuk kertas yang lalu dibagikan kepada para murid.
Kita di tes! Dan itu di hari pertama. Shock. Gue shock. Lalu gue pun ngeliat kertas itu dan gue kerjakan dengan mulusnya (termasuk calon anak IPA nih gue besok SMA
). Temen-temen gue ngerjain semua, termasuk sang Profesor, Reza. Dia emang seorang jenius matematika. Lalu gue kumpulin tes itu setelah waktu habis. Ya, shock paling berat, tuh. Perkenalan aja belom, tiba-tiba tes.
Lalu saat itu kami istirahat. Gue cuma dikelas, duduk menunggu masuk pelajaran. Sedangkan temen gue Anas, Gilang, Zaid, dan Reza main HP. Gue ga tau gimana caranya gue bisa survive 15 menit tanpa bicara dulu.
Sebetulnya ada faktor lain yang bikin gue ga begitu suka sosialisasi dulu. Selain introvert, mereka semua pake bahasa Jawa dan gue sendiri pake bahasa Indonesia. Sering gue dianggap outsider sama mereka dan gue sendiri memisahkan diri dari mereka. Gue sungkan mau ngajak ngomong mereka pake bahasa Indonesia, dan sebaliknya juga gitu. Tapi ada seorang yang menyelamatkan gue dalam masalah bahasa.
Bel masuk berbunyi, para murid pun masuk kelas. Shock lagi. Pelajaran bahasa Jawa. Gue bingung setengah mati. Gurunya ngomong pake bahasa Jawa alus yang gue sendiri ga ngerti sama sekali. Bisa dibilang bahasa Jawa itu bahasa ketiga gue, setelah bahasa Inggris
Ternyata kami diberi tugas untuk menulis cerita tentang latar belakang kami, menggunakan bahasa Jawa, alus. "Wah aku ga bisa," kata gue ke Gilang di bangku sebelah. Gilang tertawa. Gue malah diketawain. Sial. Guru membagikan kertas. Lalu Gilang berkata, "Kamu kalo bingung tanya aku aja, santai kok". Jadilah gue tanyain hampir 90% kata yang mau gue tulis di kertas. Tapi gue selamat gara-gara Gilang, dan itu sekarang jadi joke terhangat
Lalu setelah selesai guru mengumpulkan kertas tadi dan kami pulang. Gue pun ke halte Trans Jogja, sudah ditunggu ibu sama adek gue yang barusan jalan-jalan. Gue diajarin pulang sekolah sendiri naik Trans Jogja. Sedih banget ya gue dulu, naik bus aja harus diajarin sama ortu. Itu juga setelah dirayu 1000 kali sama ortu gue
Susah banget rasanya gue sekolah disini. Sekolah aja rasanya udah kayak pindah negara. Beda bahasa, beda adat, beda situasi. Serasa ini hidup baru gue.
"Ngko DotA yo neng Blink? (Nanti DotA yuk di Blink?)" ajak Ferdi, teman sekelas gue yang gue ga begitu akrab.
"Yo ayo, tur ngko aku PB wae, (Ya ayo, tapi nanti gue PB aja)" jawab Zaid.
Blink, sebuah gamenet kecil dekat sekolah kami, tempat gue kabur saat ekskul mengaji, tempat gue ngebantai Zaid yang emang cacad main PBnya
, tempat gue dibantai sama Anas saat main DotA, dan tempat nongkrong paling "gelap" selama gue di SMP. Kalau dihitung, gue termasuk anak yang hemat dalam pengeluaran untuk game. Saat kelas 7, gue ga keluar duit sepeserpun untuk main disana, karena gue cuma ngelihat sama pinjem satu battle doang, karena disamping gue ga punya ID game apapun, duit gue abis buat beli jajanan 
Oke balik ke cerita,
*teng teng teng* bel berbunyi. Bel di Sekolah gue bentuknya sebuah lempengan kuningan yang di ikat pake baja ketepi atap depan ruang kepala sekolah. Tiap waktu tertentu, muncul Pak Botak menggunakan cincinnya memukul bel tersebut. Gue masih bingung apa jin dalem cincinnya ga pusing dipake mukul bel itu

Para murid masuk dan langsung duduk dibangku masing-masing. Lalu, muncul seorang guru, Pak Gus, seorang bapak bermuka galak dan bersuara menggelegar. Dia salah satu guru killer di sekolah gue. "Sial mati gue dapet guru kayak gini," pikir gue pertama kali. Tiba-tiba, dia mengeluarkan setumpuk kertas yang lalu dibagikan kepada para murid.
Kita di tes! Dan itu di hari pertama. Shock. Gue shock. Lalu gue pun ngeliat kertas itu dan gue kerjakan dengan mulusnya (termasuk calon anak IPA nih gue besok SMA
). Temen-temen gue ngerjain semua, termasuk sang Profesor, Reza. Dia emang seorang jenius matematika. Lalu gue kumpulin tes itu setelah waktu habis. Ya, shock paling berat, tuh. Perkenalan aja belom, tiba-tiba tes.Lalu saat itu kami istirahat. Gue cuma dikelas, duduk menunggu masuk pelajaran. Sedangkan temen gue Anas, Gilang, Zaid, dan Reza main HP. Gue ga tau gimana caranya gue bisa survive 15 menit tanpa bicara dulu.
Sebetulnya ada faktor lain yang bikin gue ga begitu suka sosialisasi dulu. Selain introvert, mereka semua pake bahasa Jawa dan gue sendiri pake bahasa Indonesia. Sering gue dianggap outsider sama mereka dan gue sendiri memisahkan diri dari mereka. Gue sungkan mau ngajak ngomong mereka pake bahasa Indonesia, dan sebaliknya juga gitu. Tapi ada seorang yang menyelamatkan gue dalam masalah bahasa.
Bel masuk berbunyi, para murid pun masuk kelas. Shock lagi. Pelajaran bahasa Jawa. Gue bingung setengah mati. Gurunya ngomong pake bahasa Jawa alus yang gue sendiri ga ngerti sama sekali. Bisa dibilang bahasa Jawa itu bahasa ketiga gue, setelah bahasa Inggris

Ternyata kami diberi tugas untuk menulis cerita tentang latar belakang kami, menggunakan bahasa Jawa, alus. "Wah aku ga bisa," kata gue ke Gilang di bangku sebelah. Gilang tertawa. Gue malah diketawain. Sial. Guru membagikan kertas. Lalu Gilang berkata, "Kamu kalo bingung tanya aku aja, santai kok". Jadilah gue tanyain hampir 90% kata yang mau gue tulis di kertas. Tapi gue selamat gara-gara Gilang, dan itu sekarang jadi joke terhangat

Lalu setelah selesai guru mengumpulkan kertas tadi dan kami pulang. Gue pun ke halte Trans Jogja, sudah ditunggu ibu sama adek gue yang barusan jalan-jalan. Gue diajarin pulang sekolah sendiri naik Trans Jogja. Sedih banget ya gue dulu, naik bus aja harus diajarin sama ortu. Itu juga setelah dirayu 1000 kali sama ortu gue

Susah banget rasanya gue sekolah disini. Sekolah aja rasanya udah kayak pindah negara. Beda bahasa, beda adat, beda situasi. Serasa ini hidup baru gue.
0