Battle of the Coral Sea
Pada 15:17 siang berikutnya, dua Dauntless dari VS-5 melihat sebuah kapal selam Jepang sedang berada di permukaan. Tiga Devastators lepas landas dari Yorktown, melesat ke TKP, dan melakukan penyerangan yang hanya sukses memaksa kapal selam tersebut untuk menyelam.
Pada 3 Mei pagi, TF11 dan TF17 terbagi dengan jarak 100 mil (160 km), melakukan operasi pengisian bahan bakar. Sebelum tengah malam, Fletcher menerima berita dari pesawat berlandasan darat milik Australia bahwa kapal angkut Jepang sedang menurunkan pasukan dan peralatan di Tulagi di kepulauan Solomon. Tiba setelah pihak Australia melakukan evakuasi, Jepang mendarat untuk membangun pangkalan pesawat amfibi untuk mendukung pergerakan mereka ke selatan.
Yorktown kemudian merubah arah ke utada dengan kecepatan 27 knot (31 mpj; 50 km/j). Pada 4 Mei dini hari, Yorktown sudah berada di jarak serang ke instalasi pantai Jepang baru dan meluncurkan serangan pertamanya pada 07:01. 18 F4F-3 dari VF-42, 12 TBD dari VT-5, dan 28 SBD dari VS dan BY-5. Air group milik Yorktown melakukan tiga serangan berturut-turut ke kapal dan instalasi pantai musuh di Tulagi dan Gavutu di pantai selatan Pulau Florida di Solomon. Menhabiskan 22 torpedo dan 76 bom 1000 pound dalam tiga serangan, pesawat milik Yorktown menenggelamkan destroyer Kikuzuki, tiga kapal ranjau dan empat tongkang. Sebagai tambahan Air Group 5 berhasil menghancurkan lima kapal amfibi musuh, kesemuanya dengan kehilangan dua F4F (pilot selamat) dan satu TBD (awak hilang).
Sementara itu, di hari yang sama, TF 44, sebuah kekuatan cruiser-destroyer di bawah komando Rear Admiral Crace (RN), bergabung dengan TF 11 Lexington, yang melengkapi komposisi kekuatan Sekutu di Battle of the Coral Sea yang krusial.
Di tempat lain, di utara, sebelas kapal angkut sarat pasukan, yang dikawal oleh destroyer dan dilindungi oleh kapal induk kecil Shoho, empat heavy cruiser dan sebuah destroyer, berlayar menuju Port Moresby. Sebagai tambahan, gugus tugas jepang lain yang dibentuk dari dua veteran Pearl Harbor, kapal induk Shōkaku dan Zuikaku, yang dikawal oleh dua heavy cruiser dan enam destroyer – memberikan perlindungan udara tambahan.
Pada 6 Mei pagi, Fletcher menggabungkan semua kekuatan Sekutu di bawah komando taktisnya sebagai TF17. Pada tanggal 7 dini hari, mengirimkan Crace, dengan cruiser dan destroyer di bawah komandonya, menuju kepulauan Louisiade untuk mencegat musuh yang berusaha menuju Port Moresby.
Sementara Fletcher bergerak ke utara dengan dua kapal induk dan pengawalnya, pesawat pencari Jepang menemukan kapal minyak USS Neosho (AO-23) dan pengawalnya USS Sims (DD-409) dan salah mengidentifikasi kapal minyak tersebut sebagai kapal induk. Dua gelombang pesawat Jepang –pertama bomber level tinggi dan kedua bomber tukik- menyerang kedua kapal tersebut. Sims, yang baterai anti-pesawatnya mengalami kerusakan, mendapatkan tiga hantaman bom langsung dan segera tenggelam dengan kehilangan nyawa yang besar. Neosho lebih beruntung, walaupun terkana tujuh hantaman dan delapan sedikit-meleset, kapal ini tetap mengapung hingga pada tanggal 11, ketika awak sudah diselamatkan semua oleh USS Henley (DD-391), dan akhirnya kapal ini ditenggelamkan oleh kapal destroyer penyelamat.
Sementara itu, pesawat-pesawat milik Yorktown dan Lexington menemukan Shōhō dan menenggelamkannya. Pada siang harinya, Shōkaku dan Zuikaku – yang masih belum ditemukan oleh pasukan Fletcher – meluncurkan 27 bomber dan pesawat torpedo untuk mencari kapal AS. Penerbangan mereka cukup lancar hingga berpapasan dengan fighter dari Yorktown dan Lexington. Jepang kehilangan 9 pesawat pada saat ini.
Menjelang senja, tiga pesawat Jepang melakukan kesalahan luar biasa dengan menganggap Yorktown sebagai kapal induk mereka dan berusaha mendarat. Meriam kapal menembaki mereka dan akhirnya mereka melarikan diri. 20 menit kemudian, tiga pesawat Jepang kembali melakukan kesalahan serupa, dan salah satu dari mereka tertembak jatuh.
Akan tetapi, perang jauh dari kata akhir. Pada pagi selanjutnya, 8 Mei, pesawat pencari milik Lexington melihat armada kapal induk Takeo Takagi –termasuk Zuikaku dan Shōkaku. Pesawat-pesawat Yorktown membuat 2 hantaman bom langsung terhadap Shōkaku, merusak dek penerbangannya dan membuatnya tidak dapat meluncurkan maupun mendaratka pesawat, sebagai tambahan, bom menyebabkan ledakan pada tempat penyimpanan gasolin dan menghancurkan tempat perbaikan mesin. Pesawat Dauntless Lexington juga membuat hantaman langsung. Serangan tersbut menewaskan 108 pelaut Jepang dan melukai lebih dari 40 orang.
Ketika pesawat AS sedang menyerang kapal induk Jepang, Yorktown dan Lexington waspada dengan adanya pesan yang mengindikasikan bahwa Jepang mengetahui posisi mereka dan bersiap untuk menyerang.
"Kates" meluncurkan torpedo dan dua diantaranya menghantam haluan Lexington. Bomber tukik “Val” menambah kerusakan dengan tiga bom. Lexington mulai miring, dengan tiga ruangan teknisi terbanjiri. Kabakaran mulai terjadi di dek bawah, dan elevator kapal induk tidak dapat bekerja.
Sementara itu Yorktown memiliki masalahnya sendiri. Di manuveri oleh Captain Elliott Buckmaster, kapal induk menghindari delapan torpedo. Kemudian datang serangan dari “Val”, kapal induk berhasil menghindari semua kecuali satu bom yang menembus dek penerbangan dan meledakkan dek bawah, menewaskan dan melukai 66 orang.
Pengendali kerusakan Lexington mampu mengendalikan api, dan kapal masih bisa melakukan operasi udara walaupun mengalami kerusakan. Pertempuran udara sendiri berakhir sebelum tanggal 8 siang. Dalam satu jam, kapal sudah tidak miring. Akan tetapi sebuah ledakan memantik uap gasolin yang kemudian menyebabkan kebakaran dan merobek bagian dalam kapal. Lexington ditinggalkan pada 17:07, dan kemudian ditenggelamkan oleh USS Phelps.
Jepang telah menang secara taktis, menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pasukan Sekutu, tetapi Sekutu yang berhasil menghambat invasi Jepang ke Pasifik Selatan dan Barat Daya, memperoleh kemenangan secara strategis. Yorktown memperoleh kemenangannya dengan harga yang setimpal. Kapal induk ini mengalami kerusakan yang cukup parah, hingga ahli memperkirakan diperlukan waktu tiga bulan untuk perbaikan. Akan tetapi, hanya ada sedikit waktu untuk perbaikan karena intelejen Sekutu, khususnya unit kriptografi Pearl Harbor, mendapatkan cukup informasi dari memecahkan kode-kode dari pesan AL Jepang, yang sekarang memprioritaskan operasinya di ujung kepulauan Hawaii bagian barat laut, dua pulau di sebuah atol koral rendah yang disebut sebagai Midway.
Battle of Midway
Dipersenjatai dengan intelejennya, Admiral Nimitz mulai secara metodis merencanakan pertahanan di Midway, mendatangkan semua kekuatan yang mungkin mulai dari pasukan, pesawat dan meriam ke Midway. Sebagai tambahan dia mengumpulkan kekuatan ALnya. Sebagai bagian persiapan tersebut, dia memanggil TF16, Enterprise dan Hornet (CV-8), ke Pearl Harbor untuk replenishment singkat.
Demikian juga dengan Yorktown, kapal induk ini menerima perintah untuk kembali ke Hawaii. Yorktown tiba pada 27 Mei dan diperbaiki dengan usaha keras sehingga kapal dapat kembali melaut dalam waktu yang singkat. Perbaikan yang singkat ini membuat Komandan AL Jepang mengira bahwa kapal ini bukanlah Yorktown yang dikiranya sudah tenggelam dalam pertempuran sebelumnya. Air groupnya, yang berpengalaman, ditambah dengan pesawat dan awak dari USS Saratoga (CV-3), kemudian menuju ke perairan Hawaii setelah modernisasinya di Pantai Barat. Siap untuk bertempur, Yorktown berlayar sebagai inti dari TF17 pada 30 Mei.
Timur laut Midway, Yorktown, di bawah komando Rear Admiral Fletcher, berlayar dengan TF16 yang berada di bawah komando Rear Admiral Raymond A. Spruance dan menjaga posisi 10 mil (16km) di utara Yorktown.
Pada 4 Juni pagi, Yorktown meluncurkan sebuah grup yang terdiri dari 10 pesawat Dauntlesses dari VB-5 mencari di setengah lingkaran bagian utara dengan radius 100 mil (160km), tetapi tidak menemukan apapun.
Sementara itu, PBY yang terbang dari Midway melihat kedatangan Jepang dan memberikan alarm bagi pasukan AS untuk mempertahankan atol kunci. Admiral Fletcher, dalam komando taktis, memerintahkan TF16 untuk mencari kapal induk musuh dan menyerangnya segera setelah ditemukan.
Grup pencari milik Yorktow kembali pada 08:30, mendara segera setelah enam pesawat CAP meninggalkan dek. Ketika pesawat Dauntless terakhir mendarat, dek menjadi sibuk dengan peluncuran grup serang kapal yang terdiri dari 17 Dauntless dari VB-3; 12 Devastator dari VT-3, dan enam Wildcats dari "Fighting Three." Enterprise dan Hornet,juga meluncurkan grup serangnya.
Pesawat torpedo dari tiga kapal induk berhasil menemukan pasukan Jepang, tetapi menghadapi bencana. Secara kolektif, 41 pesawat dari VT-8, VT-6 dan VT-3, hanya enam yang kembali ke Enterprise dan Yorktown, dan tidak ada satu[un yang kembali ke Hornet.
Hancurnya pesawat-pesawat torpedo biar bagaimanapun menghasilkan sesuatu. CAP Jepang yang berperan sebagai air cover kapal induk menjadi rusak dan mereka berkonsentrasi pada Devastator. Langit di atasnya menjadi terbuka untuk Gauntless dari Yorktown dan Enterprise.
Secara virtual tak terhalangi, bomber tukik milik Yorktown memukul kapal induk Jepang Sōryū, membuat tiga hantaman letal dengan bom 1.000 pound, membuatnya terbakar hebat. Sementara itu, pesawat-pesawat milik Enterprise, menyerang kapal induk Japang Akagi dan Kaga, mengubah mereka menjadi rongsokan dalam waktu singkat. Bom dari Dauntless mengenai semua kapal induk Jepang ketika mereka sedang melakukan pengisian bahan bakar dan persenjataan, dan kombinasi antara bom dan bahan bakar terbukti sangat eksplosif dan menghancurkan bagi kapal induk Jepang.
Tiga kapal induk Jepang sudah tenggelam. Akan tetapi, kapal induk keempat, Hiryū masih utuh. Terpisah dari sister shipnya, kapal induk ini meluncurkan serangan dengan 18 pesawat “Val” dan tak lama kemudian menemukan lokasi Yorktown.
Segera setelah pesawat Jepang terdeteksi radar pada sekitar 13:29, Yorktown tidak melanjutkan pengisian bahan bakar fighter CAPnya di dek dan dengan cepat dek dibersihkan untuk aksi pertahanan. Dive bombernya yang baru kembali dipindahkan dari lingkaran pendaratan dalam rangka membuka area untuk penembakan anti-pesawat. Pesawat Dauntless diperintahkan dengan cepat untuk membentuk CAP. Tangki gasolin tambahan berkapasitas 800 galon di pindahkan ke fantail kapal induk untuk menurangi resiko kebakaran. Awak mengeringkan garis bahan bakar dan menutupnya, dan mengamankan seluruh kompartemen.
Semua fighter Yorktown diperintahkan untuk mencegat pesawat Jepang yang datang. Pesawat-pesawat Wildcats menyerang dengan semangat, merusak serangan terorganisir yang dibentuk oleh pesawat-pesawat Jepang yang terdiri dari 18 “Val” dan 6 “Zero”. Pemimpin “Val”, Letnan Michio Kobayashi, kemungkinan tertembak jatuh oleh commanding officer VF3, Lieutenant Commander John S. Thach. Lieutenant William W. Barnes melakukan penyerangan pertama yang kemungkinan menjatuhkan bomber utama dan merusakkan dua lainnya. Walaupun serangan intensif dan manuver yang evasif, tiga “Vals” berhasil menghantam Yorktown. Dua di antaranya berhasil ditembak jatuh setelah menjatuhkan bom mereka, dan yang ketiga kehilangan kendali setelah bom dilepaskan. Pesawat ini jatuh dan menghantam elevator no. 2 di sisi kanan kapal induk, meledak saat kontak dan membuat lubang dengan luas 3 meter persegi di dek penerbangan. Serpihan dari bom yang meledak menghancurkan awak dari dua meriam 28mm yang terpasang di bagian belakan island dan di dek penerbangan. Fragmen-fragmen bom menembus dek penerbangan dan mengenai tiga pesawat di dek hangar, mengakibatkan kebakaran. Salah satu pesawat, Dauntless, berbahan bakar penuh dan membawa bom 1000 pon. Opsir dek hangar Lt. A. C. Emerson mengaktifkan sistem sprinkler dan dengan cepat memadamkan api untuk mencegah kebakaran serius.
Bom kedua menghantam sisi kiri kapal, menembus dek penerbangan dan meledak di bagian bawah cerobong asap. Bom ini memecahkan serapan untuk tiga pendidih, dan memadamkan dua pendidih, dan memadamkan api di lima pendidih. Asap dan gas mulai mengisi ruang-api enam pendidih. Awak di pendidih no. 1 tetap berada di pos-nya walaupun dalam kondisi bahaya untuk menjaga api tetap menyala dan menjaga tekanan uap yang cukup agar sistem uap tambahan tetap menyala.
Bom ketiga menghantam kapal induk di sisi kanan, menembus sisi dari elevator no. 1 dan meledak di dek keempat, memicu kebakaran di ruang penyimpanan kain, berdekatan dengan penyimpanan bahan bakar dan magasin bagian depan. Tindakan pencegahan dilakukan dengan menyemprotkan karbon dioksida ke sistem gasolin untuk mencegah terpatiknya gasolin.
Ketika kapal pulih dari kerusakan yang disebabkan oleh serangan bomber-tukik, kecepatannya turun menjadi enam knot; dan kemudian pada 14:40, sekitar 20 menit setelah hantaman bom yang mematikan sebagian besar pendidih, Yorktown melambat dan berhenti.
Pada sekitar 15:40, Yorktown bersiap untuk bergerak lagi, dan pada 15:50, awak ruang mesin melaporkan bahwa Yorktown sudah siap berlayar dengan kecepatan 20 knot atau lebih. Kapal masih belum keluar dari pertarungan.
Secara bersamaan, dengan terkendalinya kebakaran cukup untuk menjamin dilanjutkannya pengisian bahan bakar, Yorktown mulai mengisi bahan bakar fighter di dek. Tak lama kemudian, radar menangkap air group jepang yang datang pada jarak 33 mil (53 km). Ketika kapal bersiap untuk bertempur –lagi-lagi mematikan sistem gasolin dan menghentikan proses pengisian bahan bakar bagi pesawatnya di dek penerbangan- kapal induk ini meluncurkan enam fighter sebagai CAP untuk mencegat penyerang. Dari 10 fighter yang ada di atas dek, delapan di antaranya telah memiliki 23 galon bahan bakar di tangki mereka. Mereka diluncurkan ketika sepasang fighter CAP bergerak untuk mencegat pesawat Jepang.
Pada 16:00, bermanuver, Yorkton mencapai kecepatan 20 konts (37 km/jam). Fighter-fighter yang diluncurkannya melakukan kontak dengan musuh. Yorktown menerima laporan bahwa pesawat Jepang yang datang adalah "Kate." Wildcats setidaknya menembak jatuh tiga pesawat, tetapi sisanya mendekati Yorktown ketika kapal-kapal kawalnya memberondongi dengan senapan anti-pesawat berat.
Yorktown bermanuver secara radikal, menghindar dari setidaknya dua torpedo sebelum dua torpedo menghantamnya pada 16:20. Kapal induk rusak parah dan kehilangan tenaga, terhenti di air dengan baling-baling yang macet dan semakin miring ke kiri.
![kaskus-image]()
Foto: [url]www.history.navy.mil[/url]
Ketika kemiringan kapal terus berlanjut, damage control officer Commander C. E. Aldrich, melaporkan dari ruang utama bahwa tanpa tenaga, mengontrol kebanjiran terlihat mustahil. Engineering officer, Lt. Cdr. J. F. Delaney, tak lama kemudian melaporkan bahwa api di semua pendidih mati, semua tenaga hilang dan mustahil untuk menanggulangi kemiringan. Buckmaster memerintahkan Aldrich, Delaney, dan orang-orangnya untuk menyelamatkan diri ke dek dan memakai jaket penyelamat.
Kemiringan terus meningkat, dan ketika mencapai 26 derajat, Buckmaster dan Aldrich setuju bahwa kapal sebentar lagi akan terbalik. Dalam rangka menyelamatkan awak sebanyak-banyaknya, kapten memerintahkan seluruh awak untuk meninggalkan kapal.
Selama beberapa menit kemudian, awak menurunkan awak yang terluka ke rakit penyelamat dan mengirimnya ke destroyer dan cruiser terdekat. Setelah evakuasi seluruh awak yang terluka executive officer, Commander I. D. Wiltsie, meninggalkan kapal. Sementara itu Buckmaster berkeliling kapal untuk terakhir kalinya, memeriksa apakah ada awak yang masih tertinggal. Setelah tidak menemukan personel yang hidup, Buckmaster meninggalkan kapal ketika air telah sejajar dengan sisi kiri dek hangar.