Sebagai "landasan udara di laut”, kapal induk modern memiliki sebuah desain dek flat-top yang berperan sebagai sebuah flight deck untuk meluncurkan dan mendaratkan pesawat. Pesawat lepas landas ke depan, berlawanan dengan arah angin, dan mendarat dari buritan. Kapal induk berlayar dengan kecepatan 35 knots (65 km/j) berlawanan dengan arah angin selama operasi flight dek untuk meningkatkan kecepatan angin di atas dek. Hal ini meningkatkan kecepatan angin efektif bagi lepas landas pesawat dibantu dengan ketapel maupun ski-jump. Hal ini juga memungkinkan pendaratan menjadi lebih aman dengan mengurangi selisih kecepatan relatif dari pesawat dan kapal.
Pada kapal induk CATOBAR, ketapel bertenaga-uap digunakan untuk mengakselerasi pesawat konvensional hingga mencapai kecepatan aman di ujung dek, setelahnya pesawat terbang dengan mesinnya sendiri. Pada kapal induk STOVL atau STOBAR, pesawat tidak membutuhkan bantuan ketapel untuk lepas landas, tetapi pada hampir semua kapal induk tipe ini menggunakan ski-jump di ujung depan flight dek, dan kadang dikombinasikan dengan thrust vectoring oleh pesawat. Pesawat STOVL dapat lepas landas tanpa bantuan ski-jump, tetapi dengan bahan bakar dan payload terbatas. Bentuk bantuan lepas landas bagi pesawat, tergantung dari tipe pesawat yang digunakan dan juga pada desain kapal induk itu sendiri.
![kaskus-image]()
Konfigurasi "angled deck" (gambar: homepages.slingshot.co.nz)
Sebaliknya, mendarat ke kapal induk CATOBAR atau STOBAR, pesawat konvensional mengandalkan sebuah tailhook untuk menangkap arrestor wires yang dibentangkan melintang pada dek agar pesawat berhenti pada jarak yang pendek. Pasca PD II, penelitian AL Inggris untuk pendaratan CATOBAR yang lebih aman memicu adopsi global untuk area pendaratan yang miring (angled deck) untuk memungkinkan pesawat yang ggaal menggapai arresting wires untuk “melompat” dan kembali terbang dengan aman untuk kemudian mencoba mendarat kembali, dan mengurangi resiko menabrak pesawat yang berada di dek bagian depan. Helicopter dan pesawat V/STOL biasanya mendarat dengan mensejajari kapal induk di sisi kiri dan kemudian menggunakan kemampuan melayangnya (hovering) untuk mendarat di flight dect tanpa bantuan arresting gear.
Pesawat (dengan tailhook) konvensional mengandalkan landing signal officer (LSO, kadang disebut paddles) untuk mengawasi pendekatan/pendaratan pesawat, mengukur glideslope, ketinggian, dan airspeed secara visual, kemudian mengirimkan data tersebut kepada pilot. Sebelum angled deck muncul pada 1950an, LSO menggunakan paddles berwarna untuk memberi isyarat pada pilot. Dari akhir 1950an dan seterusnya, bantuan pendaratan visual seperti sistem pendaratan optik memberikan informasin glide slope yang tepat, tetapi LSO masih memberikan aba-aba pada pilot yang mendekat dengan radio.
Untuk memfasilitasi operasi di atas flight deck, para awak menggunakan pakaian berwarna sesuai dengan tanggungjawab masing-masing. Terdapat paling tidak tujuh warna berbeda yang digunakan oleh personel flight dek. Operasi kapal induk di negara lain menggunakan skema warna yang serupa.
Personel kunci yang terlibat di atas flight deck termasuk shooters, handler, dan air boss. Shooters adalah naval aviators atau Naval Flight Officers dan mereka bertanggung jawab untuk meluncurkan pesawat. Handler bekerja di dalam island dan bertanggung jawab pada pergerakan pesawat sebelum lepas landas dan setelah mendarat. Air boss (biasanya seorang komandan) berada di top bridge (Primary Flight Control, juga disebut primary atau tower) dan bertanggung jawab untuk mengontrol peluncuran, pendaratan, pesawat yang ada di dekat kapal dan pergerakan pesawat di flight deck, yang menyerupai koregrafi balet. Kapten kapal menghabiskan kebanyakan waktunya satu kevel di bawah primary di Navigation Bridge. Di bawahnya Flag Bridge, ditujukan untuk laksamana (embarked admiral) dan staffnya.
Sejak awal 1950an, pendaratan pesawat menjadi lebih praktis dengan adanya angled flight deck. Fungsi utamanya adalah untuk memungkinkan pesawat yang gagal menggapai arresting wires, untuk terbang kembali tanpa resiko untuk menabrak pesawat lain yang parkir di bagian depan dek. Angled deck juga memungkinkan peluncuran dan pendaratan pesawat secara bersamaan dan penambahan satu atau dua ketapel “pinggang” sebagai tambahan dari dua ketapel haluan yang sudah ada.
Superstruktur dari sebuah kapal induk (seperti bridge, flight control tower) terkonsentrasi di sisi kanan dek dalam area kecil bernama island, sebuah fitur yang dipelopori pada HMS Hermes, 1923. Sangat sedikit kapal induk yang didesain atau dibangun tanpa island. Konfigurasi flush deck terbukti memiliki kekurangan signifikan, memperumit navigasi, air traffic control, dan memiliki sejumlah faktor merugikan.
![kaskus-image]()
Ski-Jump pada HMS Invincible (foto: wikipedia)
Konfigurasi lebih baru, awalnya dikembangkan oleh AL Inggris tetapi kemudian diadopsi oleh banyak AL untuk kapal induk yang lebih kecil, memiliki lerengan ski-jump. Sebuah ski jump adalah lerengan permanen di ujung flight deck dengan lerengan yang melengkung. Desain ini dikembangkan pertama kali untuk membantu lepas landas pesawat STOVL. Pesawat STOVL seperti Sea Harrier lepas landas dengan beban yang jauh lebih berat dibandingkan dengan lepas landas di dek datar. Ski-jump bekerja dengan mengkonversi pergerakan ke depan pesawat menjadi melompat di ujung akhir dek, lompatan dikombinasikan dengan mengarahkan sebagian daya dorong jet ke bawah memutar exhaust nozzles pada pesawat. Dengan fitur ini, memungkinkan pesawat dengan beban dan bahan bakar lebih untuk mendapatkan kecepatan dan daya angkat udara yang cukup untuk penerbangan normal. Tanpa ski-jump, peluncuran pesawat seperti harrier dengan beban dan bahan bakar penuh tidak mungkin dapat dilakukan, pesawat akan stall atau jatuh langsung ke lautan. Walaupun pesawat STOVL mampu lepas landas secara vertikal, lepas landas dengan ski-jump dianggap lebih efisien bahan bakar dan memungkinkan peluncuran dengan beban lebih berat. Dengan tidak diperlukannya ketapel, kapal induk dengan desain ini, mengurangi berat, kompleksitas dan ruangan yang dibutuhkan untuk peralatan peluncuran tenaga uap atau elektromagnetik kompleks. Pesawat yang mampu mendarat vertikal membuat arresting cables dan peralatan yang berhubungan tidak dibutuhkan. Rusia, China dan kapal induk masa depan India menggunakan ski-jump untuk peluncuran pesawat, tetapi menggunakan arresting cables dan tailhook untuk pendaratannya.
Kekurangan penggunaan ski-jump adalah terbatasnya ukuran pesawat, beban dan bahan bakar (yang selanjutnya berpengaruh pada jarak operasional pesawat). Pesawat sarat muatan tidak dapat menggunakan ski-jump karena membutuhkan jarak lepas landas yang lebih jauh dibandingkan panjang dek. Bantuan dari ketapel atau roket JATO, contohnya pada pesawat Rusia Su-33, hanya dapat diluncurkan dari kapal induk Kuznetsov dengan persenjataan dan bahan bakar minimal. Kekurangan lainnya, pada operasi flight deck campuran, dimana helikopter juga digunakan seperti pada Landing Helicopter Dock atau Landing Helicopter Assault amphibious assault ship milik AS, penggunaan ski-jump akan mengurangi satu atau lebih area pendaratan helikopter, flat deck ini membatasi beban Harrier, tetapi agak dapat diatasi dengan flight dek yang lebih panjang, dibandingkan dengan kapal induk STOVL yang sudah ada.
Flight deck yang tidak biasa diusulkan untuk digunakan pada era jet, dari SCADS conversion kit, hingga Skyhook, seaplane fighters, bahkan flight deck karet. Shipborne containerized air-defense system (SCADS) telah mengusulkan sebuah modular kit untuk mengkonversi sebuah kapal Ro-Ro atau Container menjadi sebuah kapal induk STOVL dalam dua hari selama masa darurat dengan kapasitas bahan bakar jet, amunisi, sistem pertahanan dan misil untuk 30 hari, helikopter ASW, awak dan area kerja, radar, dan sebuah ski-jump. Setelah penggunaan, kit ini dapat dengan cepat dilepas dan disimpan, sistem ini merupakan modern merchant aircraft carrier yang efektif. Skyhook yang diusulkan oleh British Aerospace bahkan lebih ambisius. Sistem ini menggunakan derek dengan sebuah top mating mechanism yang tergantung di atas lautan untuk mengisi bahan bakar, meluncurkan dan mendaratkan Harrier, bahkan dari kapal berukuran kecil seperti frigate.
Convair F2Y Sea Dart merupakan pesawat supersonik yang memiliki ski dan bukan roda. Pada akhir 1940an, AL kuatir bahwa pesawat supersonik tidak dapat mendarat di kapal induk, oleh karena itu diturunkan dan dinaikkan dari laut menggunakan derek. HMS Warrior menguji flight deck berlapis karet yang mana de Havilland Vampire berhasil mendarat tanpa bantuan landing gear atau tailhook.
Kapal induk pada umumnya merupakan kapal terbesar yang dimiliki oleh sebuah AL. Total 20 kapal intuk beroperasi dan dimiliki oleh sepuluh AL. Australia, Brazil, China, Perancis, India, Italia, Jepang, Korea Selatan, Spanyol, Thailand, Inggris, dan AS, juga mengoperasikan kapal yang mampu mengangkut dan mengoperasikan banyak helikopter.
![kaskus-image]()
Empat kapal induk modern, USS Stennis, FS Charles de Gaulle, USS John F Kennedy, dan HMS Ocean bersama kapal-kapal pengawalnya (Foto: wikipedia)
Brazil (1)
NAe São Paulo (A12): Kapal induk ex-Perancis FS Foch (diluncurkan pada 1960) berbobot 32,800 ton, dibeli pada 2000.
China (1)
Liaoning: awalnya merupakah badan kapal yang dipreteli dari kapal induk ex-Soviet kelas Varyag, kelas Kuznetsov berbobot 57.000 ton, diresmikan pada 25 September 2012, dan mulai beroperasi untuk ujicoba dan pelatihan. Pada 25 November 2012, Liaoning berhasil meluncurkan dan mendaratkan beberapa pesawat fighter Shenyang J-15.
France (1)
Charles de Gaulle (R 91): kapal induk bertenaga nuklir dengan bobot 42,000 ton, diresmikan pada 2001.
India (1)
INS Viraat: kapal induk STOVL ex-Inggris HMS Hermes (diluncurkan pada 1953) berbobot 28.700 ton yang dibeli pada 1986 dan diresmikan pada 1987. Rencananya akan dipensiunkan pada 2019.
Italy (2)
Giuseppe Garibaldi (551): kapal induk STOVL milik Italia berbobot 14,000 ton, diresmikan pada 1985.
Cavour (550): kapal induk STOVL milik Italia yang berbobot 27,000 ton, didesain dan dibangun dengan fasilitas sekunder untuk amphibious assault, diresmikan pada 2008.
Russia (1)
Admiral Flota Sovetskovo Soyuza Kuznetsov: Kapal induk STOBAR kelas Kuznetsov berbobot 55,000 ton. Diluncurkan pada 1985 dengan nama Tbilisi, diganti nama dan beroperasi mulai 1995. Tanpa ketapel, kapal ini dapat meluncurkan dan mendaratkan pesawat tempur AL untuk pertahanan udara atau misi anti-kapal, tetapi tidak untuk pesawat bomber konvensional. Secara resmi dirancang sebagai cruiser pengangkut pesawat (aircraft carrying cruiser), kapal ini unik dengan perlengkapan heavy cruiser, dengan persenjataan defensif dan misil ofensif besar P-700 Granit.Sistem P-700 akan dihilangkan untuk memperluas fasilitas aviasi di bawah dek, serta untuk mengupgrade sistem pertahanannya.
Spanyol (1)
Juan Carlos I (L61): berbobot 27,000 ton. Didesain secara khusu sebagai multipurpose strategic projection ship yang dapat beroperasi sebagai amphibious assault ship atau kapal induk STOVL tergantung kebutuhan misi dan memiliki fasilitas penuh untuk kedua fungsi tersebut termasuk sebuah ski-jump, well deck, dan area penyimpanan kendaraan yang dapat digunakan sebagai ruang hangar tambahan, diluncurkan pada 2008, dan diresmikan pada 30 September 2010.
Thailand (1)
HTMS Chakri Naruebet: kapal induk STOVL berbobot 11,400 ton yang berbasis desain kapal induk Spanyol Principe De Asturias. Diresmikan pada 1997. Pesawat STOVL AV-8S Matador/Harrier kebanyakan tidak dapat dioperasikan sejak 1999, dan dipensiunkan tanpa pengganti pada 2006. Kapal induk ini sekarang digunakan untuk kapal pesiar VIP kerajaan, operasi helikopter dan sebagai platform bantuan bencana.
United Kingdom (1)
HMS Illustrious: kapal induk STOVL berbobot 22,000 ton, diresmikan pada 1982. Awalnya ada tiga kapal sekelas, tetapi dua di antaranya dipensiunkan untuk penghematan anggaran. Operasi pesawat bersayap tetap reguler AL Kerajaan Inggris berhenti setelah Sea Harrier dan kemudian pesawat Harrier dari pasukan gabungan AU dan AL Kerajaan Inggris dipensiunkan untuk penghematan anggaran pada 2010. Kapal induk ini sekarang beroperasi sebagai Landing Platform Helicopter hingga Ocean kembali beroperasi setelah refit dan kemudian akan dijadikan sebagai museum pada 2014.
United States (10+9*)
Kelas Nimitz: sepuluh supercarrier bertenaga nuklir dengan bobot 101,000 ton. Kapal induk pertama diresmikan pada 1975. Sebuah kapal induk kelas Nimitz didukung dua reaktor nuklir dan empat turbin uap. Panjang kapal ini 333 m.
USS Peleliu (LHA-5)* adalah sebuah amphibious assault ship berbobot 40,000 ton. Merupakan kapal kelas Tarawa yang terakhir. Kapal ini telah digunakan selama masa perang dalam misi sekunder sebagai kapal induk kecil dengan 20 pesawat fighter AV-8B Harrier, setelah menurunkan muatan unit ekspedisi marinir mereka.
Kelas Wasp* merupakan kelas kapal yang terdiri dari delapan amphibious assault ship berbobot 41,000 ton. Kapal ini telah digunakan selama masa perang dalam misi sekunder sebagai kapal induk kecil dengan 20 pesawat fighter AV-8B Harrier, setelah menurunkan muatan unit ekspedisi marinir mereka..
(*Normalnya hanya dapat mengangkut beberapa Harrier. Peran utamanya adalah untuk mengangkut, meluncurkan dan mendukung pengangkutan dan penyerangan helikopter, tank, truk, meriam, marinir dan peralatan dari unit ekspedisi marinir yang diluncurkan.)