Purwarupa Challenger 2 (foto: pbase.com)
Challenger 2 Trials and Tribulation
Kontrak program Challenger 2 kemudian ditandatangani antara VDS dengan lebih dari 250 subkontraktor dan suplier yang tersebar di seluruh Inggris dan negara lain, untuk meningkatkan kualitas desain Challenger 2 dan mengijinkan produksi dapat segera dimulai. Pada saat yang sama, fase ujicoba dan pengembangan purwarupa Challenger 2 juga berlanjut di Armoured Trials and Development Unit (ATDU) di Bovington Camp, Dorset, markas Royal Armoured Corps. Ujicoba ini dibagi menjadi dua, yaitu: 'reliability growth trials' dan 'user trials' dengan menggunakan kombinasi dari service personal manning yang didukung oleh teknisi VDS. Sembilan purwarupa dipesan untuk dibuat. Prototype V1 (06SP87) adalah purwarupa ujicoba umum untuk performa environmental dan aspek lainnya. Purwarupa ini kemudian diambil kembali dari Kementrian Pertahanan oleh VDS dan menjadi model dasar untuk Project Copenhagen, modifikasi dari Challenger 2 untuk Oman. Prototypes V2 (06SP88), V3 (06SP89) dan V4 (06SP90) merupakan purwarupa reliability growth and proving, dan melakukan sebagian besar mileage otomotif. Prototypes V5 (06SP91) dan V8 (06SP94) merupakan purwarupa untuk user trials. Prototypes V6 (06SP92) dan V7 (06SP93) merupakan purwarupa untuk pengujian penembakan dan sistem persenjataan.
Prototype V9 (06SP95) merupakan purwarupa untuk standar akhir. Purwarupa ini digunakan untuk tujuan penjualan dan kadang tampil dalam pameran militer. Purwarupa ini juga menjadi dasar Project. Purwarupa ini dilengkapi dengan turret produksi No. 2, sehingga turret selanjutnya dibuat setelah akhir produksi. Dua turret selanjutnya dibuat: TA1 untuk rig testing dari sistem persenjataan dan TG9 sebagai “armour-at turret”.
User Trials untuk V5 dan V8 dilaksanakan antara September 1993 dan Februari 1994. Tujuan dari ujicoba ini adalah untuk menetapkan apakah Challenger 2 benar-benar memenuhi performa yang disebutkan dalam SR(L)4026 di tangan personel RAG dan juga untuk memberikan ervis pendukung logistik, seperti Royal Electrical and Mechanical Engineers (REME), meningkatkan pengalaman MBT baru untuk membantu persiapan drills, teknik pelatihan dan publikasi yang dibutuhkan sebelum tank resmi beroperasi. Kabanyakan ujicoba dilaksanakan di Bovington dan Lulworth untuk pengujian otomotif dan uji penembakan. Suspension and handling trials dilaksanakan di Longmoss dan Hurn. Cold-weather trials dilaksanakan di climatic chamber di Chertq dan kemudian di Chtterick , Yorkshire untuk crew cold habitability testing. Challenger 2 merupakan tank Inggris pertama dengan sistem AC dan penghangat integral. Tactical asessments dilaksanakan di Salisbury Plain Training Area (SPTA) dan gunnery exercise di Warcap Training Area. Kebanyakan ujicoba ini dilaksanakan menggunakan sistem “battlefield days”, serupa dengan yang dirancang untum Reliability Growth Trials (RGT).
Reliability Growth Trials
RGT ini berhasil diselesaikan pada 1994 ketika tiga purwarupa diuji selama lebih dari 285 battlefield day. Untuk tujuan fase RGT, sebuah battlefield day terdiri dari road travel 27 km, perjalanan lintas alam 33 km, penembakan 34 kali persenjataan utama dan 1.000 persenjataan 7,62mm, dengan 16 jam operasi sistem persenjataan; dan sepuluh jam mesin utama menyala dalam kondisi stanby dan 3,5 jam mesin utama bekerja pada berbagai kecepatan. Selama pengembangan, purwarupa Challenger 2 berhasil mencapai 20.400km road travel dan lintas alam, dan menembakkan 11.600 amunisi 120mm.
AD Inggris secara resmi menerima Challenger 2 pada 16 Mei 1994. Meskipun demikian, perdebatan masih terus berlanjut dalam hal jumlah Challenger 2 yang akan diakuisisi dan langkah-langkah apa yang akan diimplementasikan untuk Chieftain/Challenger Improvement Programme (CHIP). Dalam hal ini, CHIP tidak lagi diutamakan dan diputuskan untuk mengganti armada Chieftain dan Challenger dengan total 426 Challenger 2. Karena adanya pembatasan anggaran, jumlah ini dikurangi 40, menjadi 386 tank. Pesanan untuk sisa 259 tank dan juga sembilan DTT diumumkan pada Juli 1994.
Tank produksi pertama selesai pada 1 Agustus 1994. Meskipun demikian, Kementrian Pertahanan Inggris berusaha keras memastikan model produksi Challenger 2 memenuhi kebutuhan dari sepesifikasi asli. Pada September 1994, sebuah 'first off production trial' bagi tiga dari enam tank pertama dilakukan, dan menunjukkan bahwa VDS tidak sukses dalam mentransfer level kualitas dan reliabilitas tank dari model purwarupa ke tank produksi. Oleh karena itu, batch pertama Challenger 2 tidak diterima oleh Kementrian Pertahanan Inggris dan tank-tank ini disimpan hingga kekurangan-kekurangannya diperbaiki. Dampaknya, In-Service Date Challenger 2 meleset dari perkiraan awal, Banyak kalangan di AD menyarankan agar Challenger 2 segera beroperasi dan untuk masalah-maslaah yang ada diperbaiki setelahnya. Tetapi Kementrian Pertahanan menolak dan tetap memberlakukan kontrak ketat kepada VDS untuk kontrol kualitas.
Padawaktunya, masalah-masalah dapat diselesaikan dan modifikasi dilakukan pada semua tank yang berada dalam penyimpanan. Untuk mencapai ini, Kementrian Pertahanan memaksa dilaksanakannya serangkaian Production Reliability Growth Trials (PRGT), masing-masing dengan target reliabilitas yang semakin sulit secara bertahap. PRGT 1 diselesaikan pada November 1997, dengan PRGT 2,3 dan 4 dijadwalkan akan dilaksanakan pada Maret, Juni dan Oktober 1998. Dalam PGRT 1, tank hasil produksi sukses mencapai tingkat reliabilitas yang diharapkan, sehingga PGRT selanjutnya tidak jadi dilaksanakan. Akan tetapi, Kementrian Pertahanan menginginkan sebuah In-Service Reliability Demonstration (ISRD) dari skuadron lengkap Challenger 2 sebagai pembuktian akhir performa tank secara keseluruhan.
Challenger 2 Fielding Team
Dari awal, Fielding Team Challenger 2 memainkan peranan vital dalam proses pengadaan; tujuan mereka adalah untuk memastikan kualitas tank. Aktivitas fielding dihentikan dari Oktober 1995 hingga Januari 1998 ketika Production Reliability Growth Trials dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas tank produksi dari lini perakitan di Leeds dan Newcastle. Ketika pengiriman mulai dilakukan pada Januari 1998, tank diinspeksi dalam batch yang berisi masing-masing 38 tank. Dengan total produksi 386 tank, fielding team menguji 10 batch tank dengan periode lebih dari dua setengah tahun.
Challenger 2 Fielding Team bertugas untuk memastikan kecocokan seluruh dan setiap tank sebelum diterima dari VDS. Tim ini terdiri dari mayor RAC, REME ASM dan beberapa instruktor RAC yang berskill tinggi dan berpengalaman, dan REME artificers. Melengkapi staff Fielding Team , terdapat awak dari resimen untuk menerima tank dalam batch. Awak-awak ini terlibat dalam serah terima tank kepada Fielding Team, membantu dalam semua aspek inspeksi, melaksanakan Batch Test di bawah supervisi Armoured Trials and Development Unit (ATDU) dan mengantar tank selama pengiriman ke seluruh resimen di UK dan Jerman.
Setiap tank dari setiap batch harus diinspeksi secara detail. Setiap kegagalan dari kesalahan software dalam sistem kontrol penembakan hingga ketidak-akuratan konfigurasi tank dicatat. Setiap tank diuji dalam “road run” dari dan ke Lulworth gunnery ranges di mana ordnance ditugaskan, dan sistem meriam dan sighting dikalibrasi (“zeroed”) untuk akurasi. Lebih dari 22,000 “insiden” teridentifikasi dari 386 Challenger 2 dan 22 DTT. Sebuah panel ahli meneliti semua insiden ini dan mengaplikasika koreksi yang dibutuhkan, sesuai dengan persetujuan antara Fielding Team dan team on-site VDS. Sebagai tambahan, dari setiap batch, dipilih empat tank dan dikirim ke ATDU untuk Reliability Batch Test yang mengharuskan setiap tank menjalani three battlefield days' trial. Nasib dari tiap batch, diterima atau ditolak, tergantung dari hasil Batch Test. Hasilnya adalah bahwa tidak ada resimen lapis baja yang menerima sebuah tank pun yang memiliki masalah besar. Masalah kecil yang masih ada, dan ini sangat jarang, diidentifikasi oleh Fielding Team sebelum pengiriman dan diperbaiki oleh perwakilan VDS, biasanya suku cadang (untuk perbaikan) diterima setelah satu atau dua hari tank diterima.
Delapan Challenger 2 dikirim ke Royal Scots Dragoon Guards di Fallingbostel, Jerman pada akhir Januari 1998. Tank terakhir dari resimen ini diserah-terimakan dalam sebuah upacara pada 30 Juni 1998, disaksikan oleh beberapa tokoh dalam sejarah Challenger 2, termasuk Master General of the Ordnance, Lieutenant General Sir Robert Hayrnan-Joyce, yang merupakan tokoh pendukung Challenger 2 yang giat dan konsisten.
Prosedur penerimaan program Challenger 2 yang terakhir dan juga paling berat adalah In-Service Reliability Demonstration (ISRD) . ISRD dilaksanakan oleh B Squadron, The Royal Scots Dragoon Guards, antara Agustus hingga Desember 1998 ketika 12 Challenger 2 diuji di ATDU, Bovington dan di Gunnery School, Lulworth. Dalam ujicoba ini tank menjalani 5,040km selama 84 battlefield days, dan melaksanakan penembakan 2,850 amunisi 120mm dan 84,000 amunisi 7.62mm. Hasil akhir ISRD sangat sukses dengan semua target untuk performa dan reliabilitas terlampaui secara meyakinkan.
Resimen lapis baja kedua yang dilengkapi dengan Challenger 2 adalah 2nd Royal Tank Regiment (2 RTR) dengan pengiriman selama akhir 1998 hingga awal 1999. Tank terakhir dari 386 Challenger 2 diserahkan pada AD Inggris pada 17 April 2002 dalam sebuah acara yang dilaksanakan di Salisbury Plain.
Challenger 2 di Millenium Baru
Challenger 2E (foto: fprado.com)
Diterjunkan dengan enam Resimen dari Royal Armoured Corps di Inggris dan Jerman, Challenger 2 terlihat bertugas di Bosnia and Kosovo, dan melakukan pelatihan di Canada, Oman dan Polandia. Dalam penugasan dan pelatihan tersebut, Challenger 2 melewati targer reliabilitas. Challenger 2 juga diterjunkan dalam tugas aktif selama Operation Iraqi Freedom.
Pada Juli 2004, Kementrian Pertahanan Inggris mengumumkan rencana untuk pengurangan 7 skuadron lapis baja Challenger 2 (sekitar 100 tank) yang akan dilaksanakan pada Maret 2007, dan pengubahan peran satu resimen Challenger 2 menjadi sebuah armoured reconnaissance regiment.
Pada September 2009, MoD Investment Approvals Board Inggris memberikan “go-ahead” kepada BAE Systems untuk membingkai sebuah skema untuk armada tank Challenger yang akan mengurangi biaya hingga 10%. Skema, jika berhasil, juga akan diperluas untuk armada kendaraan lapis baja lainnya yang masih beroperasi dengan AD Inggris di bawah program armoured vehicle support transformation (AVST). Tujuan kunci skema ini adalah untuk meningkatkan availabilitas suku cadang dan dukungan teknis pada armada kendaraan lapis baja milik Kementrian Pertahanan Inggris. Nilai kontraknya diperkirakan melebihi £500 juta dengan periode delapan tahun. Sebuah armada Titan dan Trojan engineer tanks, CRARRV recovery vehicle, Challenger dan driver training tank akan dinaungi di bawah kontrak ini.
BAE Systems memberikan penawarannya pada akhir 2009, dan keputusannya akan diumumkan pada pertengahan 2010. Kontraknya sendiri akan dilaksanakan dalam dua fase.
Pada fase pertama, BAE Systems merencanakan untuk mengimplementasikan perbaikan di area-area seperti needs-based maintenance, base repair dan overhaul process, obsolescence management, dan technical advice dan guidance on key sub-systems.
Pada fase kedua, BAE Systems akan fokus pada integrasi lini pertahanan dari pengembangan di area termasuk user and trainer incentives, integration of material, manpower dan facilities planning dan better fleet management.
Pada 2010 pemerintah Inggris mengumumkan, sebagai bagian dari Strategic Defence and Security Review (SDSR) bahwa armada Challenger 2 akan dikurangi 40% menjadi sekitar 230 tank. Terdapat juga kemungkinan pengurangan lebih lanjut yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang. Karena Challenger diharapkan akan tetap beroperasi hingga 2035, maka perbaikan dan upgrade diharapkan akan dilaksanakan selama waktu tersebut.
Challenger 2E, model pengembangan terakhir, didesain untuk pasar ekspor dan cocok untuk lingkungan berat dan kondisi klimatik. Challenger 2E telah menjalani ujicoba ekstensif di Yunani, Qatar dan Arab Saudi.
Battlefield Incidents
Terdapat sejumlah insiden yang terjadi pada Challenger 2 baik mengakibatkan kerusakan ataupun hancur. Pada Maret 2003, satu Challenger 2 hancur oleh tembakan rekannya sendiri (Challenger 2 lainnya), yang mengakibatkan dua awak tewas. Pada Agustus 2006, sebuah RPG menembus lapis baja depan tank, dan mengakibatkan seorang awak terluka. Pada April 2007, sebuah shaped charge menembus bagian bawah Challenger 2 yang melukai dua orang awak
Dunstan, Simon. 2006.
. Osprey Publishing