TS
geroz
[Orific] Me and the story of supernatural power
assalamualaikuum~
hehe, maap mau bagi-bagi imajinasi aja..
maaf kalo cerita ini banyaaak sekali kekurangannya..
saya baru mulai nulis dan jarang baca LN/Novel bahkan teenlit, jadi harap dibantu dengan memberi saran dan kripik ya..
sebanyak dan sepedas apapun saran dan kripik yang kalian berikan, itu akan menjadi guru saya untuk kedepannya..
dibilang jelek juga gapapa, karena dibilang jelek udah jadi bukti kalo saya bisa membuat sesuatu
hehe, maap mau bagi-bagi imajinasi aja..
maaf kalo cerita ini banyaaak sekali kekurangannya..
saya baru mulai nulis dan jarang baca LN/Novel bahkan teenlit, jadi harap dibantu dengan memberi saran dan kripik ya..
sebanyak dan sepedas apapun saran dan kripik yang kalian berikan, itu akan menjadi guru saya untuk kedepannya..
dibilang jelek juga gapapa, karena dibilang jelek udah jadi bukti kalo saya bisa membuat sesuatu

Spoiler for dadaan~:
Diubah oleh geroz 24-05-2013 14:33
0
5.1K
Kutip
10
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
geroz
#4
003
Spoiler for 003:
003
Aku hanya terpaku, tidak bergerak melihat pemandangan yang biasanya hanya kulihat di dalam sebuah film. Aku bahkan tidak memikirkan wanita yang baru saja menjadi pacarku yang sedang memelukku erat, aku terlalu sibuk memperhatikan benda-benda yang berterbangan. Kulihat Yuki yang sedang memelukku, kuguncang badannya agar dia melihat apa yang sedang terjadi.
“Yuki..hei, tolong aku..” hanya itu yang keluar dari mulutku dan segera kupejamkan mata.
“Eh, tolong?” saat itu juga dia melihat wajahku yang terlihat seperti orang terkena demam. “Re, kamu kenapa? Hei!”
Aku yang sedang menutup mata hanya bisa mendengar suara panik Yuki, kubuka mata secara perlahan dan kulihat wajah Yuki menggambarkan seseorang yang sangat panik karena melihat wajahku yang sudah mulai memucat.
Hah..hah..hah..
Dengan mengatur nafas dan terus menatap wajahnya, kuberanikan mengatakan apa yang aku lihat.
“Kursi..Batu..Semuanya..melayang.”
“Apa maksudmu?.”
“Itu, di belakangmu..” kukatakan dengan menunjuk ke arah belakang dirinya.
Huh?
Semuanya tampak seperti biasa, tidak ada benda-benda berterbangan. Benda-benda yang tadi kulihat berterbangan seperti kembali ke tempat semula. Apa tadi aku hanya berimajinasi? Tapi yang kulihat tadi sangat nyata untuk sebuah imajinasi.
“Hei, tidak ada apa-apa di sana.” ujar yuki dengan penasaran.
“Tadi benda-benda di belakangmu melayang, seperti digerakkan oleh kekuatan supernatural yang ada di tipi.”
“Tapi tidak ada Re, tidak ada benda-benda melayang.”
“....”
“Fujiwara Reuss. Apa kau terlalu shock karena memiliki pacar secantik aku?” godanya mencubit pipiku.
“Yuki, apa aku menjadi gila karena terlalu lama sendiri?” ujarku dengan tatapan kosong.
“Hei bodoh, aku tak ingin mempunyai pacar yang gila!”
“Sakit..”
“Sakit? Apa itu ekspresi seseorang yang sakit karena di cubit? Hmmmh!”
Dia benar, aku hanya mengatakan dengan nada datar. Sekarang aku merasakan sakit di pipi namun hanya bisa mengatakan sakit tanpa menunjukan ekspresi apapun. Tapi semakin lama semakin sakit dan menjadi perih.
“Ooowowow! Hei..sakit tahu” aku yang tersadar segera mengusap pipiku.
“Hihi, itu baru benar..”
“Sakiit, kurasa cubitanmu meninggalkan bekas di pipi.”
“Cubitanku tidak sekeras itu, yang meninggalkan bekas itu...*Chu.” dia mencium pipiku dan berlari kecil. “Ayo kita pulang, Re!”
Sebuah ciuman dari seorang wanita, hatiku..cenat-cenut.
“Hei Yuki, tunggu..biarkan aku membalas kelakuanmu!” teriakku sambil berlari mengejarnya.
“He? Membalas ciumanku? Jangan mimpi pria mesum bodoh!”
***
Saat perjalanan pulang, matahari mulai terlihat tenggelam dan menyisakan cahaya berwarna oranye yang memantul di gedung-gedung. Toko-toko ramen mulai bersiap untuk menjajakan dagangannya.
“Hei Re, di depan kita berpisah. Rumahku berbeda arah dengan rumahmu” ujarnya sambil memberikan kertas. “Ini untukmu..”
“Alamat email?”
“Ya, kabari aku jika sampai di rumah. Jangan lupa atau kuhukum kau!”
“Ya..ya, baiklah tuan putri.”
“Oke, sampai jumpa!” mencubit lenganku lalu berlari.
“Owow! Hei, hati hati..”
Haaah, disinilah aku sekarang tertahan lampu penyebrangan yang sedang menyala berwarna merah. Tapi jika sampai dirumah aku hanya bermalas-malasan. Lurus adalah arah jalan pulang sedangkan kiri menuju arah rumah yuki dan kanan menuju sungai besar. Kupikir aku akan berjalan-jalan sebentar dan beristirahat di pinggir sungai, lagipula aku sedikit lapar dan disana banyak yang berjualan makanan.
Kutelusuri jalan pinggir sungai yang di penuhi cukup banyak gerobak penjual makanan, saat mendapat tempat yang cukup baik segera kuletakan tas dan kurebahkan badanku di atas rerumputan. Terlintas pikiran tentang benda-benda yang melayang saat bersama Yuki, apa sebenarnya yang kulihat. Sambil mengunyah takoyaki yang kubeli di jalan kulihat pantulan matahari di atas air sungai mulai hilang, dan lampu-lampu penerang jalan mulai menyala.
Apa itu nyata.
Atau hanya halusinasi.
Pertanyaan itu terus memenuhi otakku, dan tanpa sadar tempat takoyaki di tanganku sudah kosong. Kupejamkan mata agar bisa mengistirahatkan pikiranku, hanya suara daun yang tertiup angin dan obrolan para penjual makanan yang kudengar. Suara-suara itu mulai menghilang.
***
Hah!
“Pukul tujuh? Sial, rupanya aku tertidur.” Sambil berkedip karena mataku terasa sedikit perih, kulihat sebuah pancaran cahaya berwarna merah di langit, “Aurora?”
Sekali lagi aku dibuat tak percaya akan pandanganku, aurora merah di atas langit jepang?. Dan setelah kulihat di sekitarku, orang-orang seperti tidak menyadari munculnya aurora tersebut. Lalu kuambil kertas pemberian Yuki dan handphone milikku dari kantung kemeja, dengan segera kutulis apa yang kulihat dan mengirimkannya ke alamat email Yuki.
‘Hei, coba keluar dan lihat ke langit. Apa itu terlihat seperti aurora?’
Drrrt!
‘Aurora? Tidak ada aurora disini. Hei, apa kau sudah berada di rumah?’
Dia tidak melihatnya, tidak mungkin aurora sebesar itu tak terlihat. Dengan tergesa kuberjalan ke arah penjual ramen yang berada tidak jauh dari tempatku, dengan alasan tidak enak jika hanya bertanya akupun memesan semangkuk ramen.
“Silahkan dinikmati.” Ujar sang penjual sambil meletakkan ramen di atas meja.
“Terima kasih. Oh iya pak, apa bapak melihat aurora berwarna merah saat ini?”
“Aurora? Ghaha..aku tidak melihatnya, lagipula di wilayah ini sangat jarang muncul sebuah aurora.”
Apa?
Benarkah?
Lalu apa yang kulihat sekarang, bahkan dengan bertanya langsung aku mendapatkan jawaban yang sama. Tidak ada aurora.
“Terima kasih pak, ini uangnya dan ambil saja kembaliannya.” Dengan cepat kuberjalan menuju rumah dengan meninggalkan uang di samping mangkuk ramen yang tidak kusentuh sama sekali.
Dari kejauhan kudengar suara bapak penjual ramen namun kubiarkan, aku terlalu sibuk memikirkan apa yang kulihat saat ini. Tunggu! kukeluarkan handphone dan kuubah kedalam mode video ke arah langit.
Kosong.
Benar-benar gelap dan tidak terlihat apapun. Perasaan paranoid mulai merasuk, perasaan yang sama saat kulihat benda-benda berterbangan disekolah. Tanpa berpikir lagi, ku berlari dengan tujuan rumah sambil sesekali melihat aurora merah di atas langit.
Berlari dan terus berlari.
Tiba-tiba badanku melemah, terasa seperti akan pingsan. Tanpa mempedulikan keadaan badanku, aku terus berlari seperti orang mabuk. Pandanganku mulai kabur, pohon-pohon yang kulewati jadi seperti transparan dan berbayang. Tidak lama kemudian, tubuhku yang sudah sampai batasnya pun ambruk di atas conblock.
Kurasakan cairan beraroma besi dalam mulutku, dengan nafas terengah-engah kucoba menggerakkan tubuh dan melihat sekeliling yang ternyata tidak ada orang. Tak kuat lagi aku membuka mata, kubiarkan kelelahan ini menyelimutiku membuat tubuh ini tidak bisa lagi bergerak.
Gelap.
0
Kutip
Balas