TS
geroz
[Orific] Me and the story of supernatural power
assalamualaikuum~
hehe, maap mau bagi-bagi imajinasi aja..
maaf kalo cerita ini banyaaak sekali kekurangannya..
saya baru mulai nulis dan jarang baca LN/Novel bahkan teenlit, jadi harap dibantu dengan memberi saran dan kripik ya..
sebanyak dan sepedas apapun saran dan kripik yang kalian berikan, itu akan menjadi guru saya untuk kedepannya..
dibilang jelek juga gapapa, karena dibilang jelek udah jadi bukti kalo saya bisa membuat sesuatu
hehe, maap mau bagi-bagi imajinasi aja..
maaf kalo cerita ini banyaaak sekali kekurangannya..
saya baru mulai nulis dan jarang baca LN/Novel bahkan teenlit, jadi harap dibantu dengan memberi saran dan kripik ya..
sebanyak dan sepedas apapun saran dan kripik yang kalian berikan, itu akan menjadi guru saya untuk kedepannya..
dibilang jelek juga gapapa, karena dibilang jelek udah jadi bukti kalo saya bisa membuat sesuatu

Spoiler for dadaan~:
Diubah oleh geroz 24-05-2013 14:33
0
5.1K
Kutip
10
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
geroz
#1
001
Spoiler for 001:
001
Kulihat dua lembar roti bakar yang diolesi selai kacang dan segelas susu hangat diatas meja.
Itulah yang disiapkan ibuku untuk sarapan pagi ini, dan ayah yang sedang membaca koran dengan sesekali menyeruput kopi hitam favoritnya.
“Sudah siap dengan hari pertama sekolahmu?” tanya ibuku membuka percakapan.
“Apa ibu tidak melihat aku belum mandi?”
“Fufu, jadi cepatlah habiskan sarapanmu dan segeralah mandi”.
Setelah menghabiskan sarapan, aku yang masih merasa mengantuk langsung menuju kamar mandi.
Dingin.
Dengan hanya menggunakan handuk aku berjalan menaiki tangga untuk menuju kamar yang berada di lantai dua rumahku. Segera kupakai seragam sekolah yang tergantung di pintu lemari, seragam yang terdiri dari kemeja putih, jas hitam dengan lambang sekolah di bagian dada sebelah kiri, dan celana panjang hitam adalah seragam yang disediakan oleh sekolah baruku.
Kulihat jam dinding yang tergantung di tembok menunjukan pukul delapan tepat, kupikir tidak akan telat karena gerbang sekolah akan di tutup pukul sembilan. Kulihat lagi isi tasku untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, setelah siap dengan segalanya aku turun menuju lantai bawah. Kulihat ayah sudah tidak ada, dan ibu yang sedang membereskan meja makan.
“Ayah sudah berangkat bu?”, tanyaku dengan memegang gelas berisi susu yang tidak sempat kuhabiskan tadi.
“Hu-um, oh..sudah siap?”.
“Yap, apakah seragam ini cocok?”.
“Cocok sekali, kau terlihat tampan seperti ayahmu..fufu”.
Ayah? Aku belum setua dia.
“Aku memang tampan bu, tapi belum setua ayah”
Sepasang sepatu telah terpakai, berwarna hitam. Seperti orang kantoran.
“Aku berangkat bu”, dengan suara agak tinggi aku pun pamit.
“Hati-hati di jalan ya!”, jawab ibuku dari dalam.
Pintu terbuka, dan aku melangkah menuju keluar.
Matahari menyerang dengan sinarnya.
Aku tidak akan kalah.
Segera aku memicingkan mata untuk bertahan dari sinar matahari.
Apa yang kupikirkan? Dasar bodoh. Aku harus menghentikan kebiasaan melebih-lebihkan suatu kejadian. Kulanjutkan perjalananku menuju sekolah, sepanjang perjalanan kulihat banyak anak sekolah berjalan bersama temannya sambil tertawa membicarakan sesuatu.
Aku hanya sendiri.
Aku memang kurang baik dalam bergaul, aku tidak akan memulai pembicaraan kecuali ada orang yang mengajakku berbicara.
Gedung tinggi.
Toko berkaca besar.
Inilah kota besar, hanya itu pemandangan yang bisa kulihat saat berjalan menuju sekolah. Tapi ada pemandangan yang berbeda hari ini, yaitu wanita dengan rambut panjang yang baru saja keluar dari toko kueh dengan memakai seragam sekolah yang sama denganku.
Aku yang berjalan beberapa meter di belakangnya hanya bisa melihat rambut putih panjangnya bergerak mengikuti langkah anggunnya. Tangan kirinya memegang tas, sedangkan tangan kanannya menggenggam plastik yang bertuliskan ‘Sweet Cake’.
Rok yang pendek.
Kaus kaki putih dan sepatu sekolah.
Aku bertaruh dia tidak mengetahui keberadaanku di belakang yang sedang memperhatikan dirinya. Dia berasal dari sekolah yang sama, tapi aku tidak tahu apa dia siswa baru sepertiku—apa yang harus kulakukan?
Menyapanya?
Tidak, aku bahkan belum melihat wajahnya dengan sangat jelas. Apa dia cantik, apa dia jelek, apa dia memakai topeng, apa dia alien. Stop! Bukan waktunya memikirkan hal bodoh seperti itu, kenapa hanya dengan seorang wanita yang memperlihatkan paha putih bisa membuatku berpikiran aneh.
Angin yang cukup besar berhembus.
“Ah...”
Yap. Aku mengatakan itu tanpa persiapan.
kalimat itu keluar disaat kulihat celana dalam bergaris merah yang mengintip dibalik rok yang tertiup angin. Pemandangan yang mungkin akan membayangiku untuk beberapa hari ke depan. Rok itu semakin terangkat karena pinggul yang perlahan memutar hampir memperlihatkan bagian depan wilayah berbahaya tersebut.
Tunggu, memutar?
“Hei..”, dia menyapa dengan sedikit memiringkan kepala.
Gawat.
“Ahh..umm..aku tidak melihat apapun!”.
Ha? Kenapa aku berkata seperti itu, mungkin saja dia tidak menyadari apa yang sedang kulihat.
“Hmm? Memangnya kau melihat apa?”.
SUDAH KUDUGAA!!
“umm, itu..aku tidak melihat garis-garis itu”.
Ha?, APA YANG KUKATAKAAN!
Tenang, aku harus merubah topik. Menanyakan namanya? Apakah dia seniorku disekolah? Bertanya mengapa rambutnya bisa bagus? Berapa ukuran dadanya? Tunggu! Pertanyaan mesum apa itu!
Tap, tap, tap.
Gawat, dia melangkah mendekat. Eh? Tak kukira dia secantik ini, lebih tepatnya bukan cantik tapi jika kau memandangi wajahnya setiap hari kau tidak akan pernah bosan. Tapi kenapa dia mendekat? Apa aku akan di pukul? Di tampar? Di banting? Di peluk? Di cium?
“Seragam ini, apa kau anak yang baru masuk tahun ini?”, dia mendekatkan wajahnya tepat di depan lambang sekolah yang berada di seragamku.
“I-iya, aku murid yang baru masuk tahun ini. Apa kau seniorku?.
“Tidak, aku sama sepertimu”, dia meraih buku dan sebuah pulpen dari dalam tas, “Siapa namamu?”.
“Reuss, Fujiwara Reuss”, kalian juga belum tahu namaku kan?
“Nama yang aneh”, dengan segera dia mencatat namaku di dalam buku itu.
Sebuah buku bersampul hitam, dan namaku di dalamnya..hmm
GAH! Apa Death Note itu benar-benar ada! Tidak, aku belum mau mati!
“Anu, kenapa kau menulis namaku di dalam buku itu?”.
“Diam. Ini bukan urusanmu”, ujarnya sambil memasukan buku. “Namaku Kurokawa Yuki”.
He? Dingin sekali sifatnya.
“Aku harus pergi, aku mempunyai janji dengan seseorang di sekolah”
“Eh? Apa tidak apa-apa jika kau berjalan sendiri?”, dengar..aku bukan berlagak keren, tapi aku ini pria.
“Apa pedulimu?. Selamat tinggal..FU-JI-WA-RA”, dia pun berlari meninggalkanku.
Apa maksudnya menyebut namaku seperti itu. Tapi, aku tertarik oleh sifatnya, sifat dingin yang tidak mudah di taklukan. Tapi sepertinya dia memandang rendah pria sepertiku, pria yang bahkan hanya mempunyai sedikit teman.
Aaah sudahlaah.
Diubah oleh geroz 23-05-2013 20:55
0
Kutip
Balas