- Beranda
- Stories from the Heart
My Heart Goes to Jeddah
...
TS
electra78
My Heart Goes to Jeddah
Dear gan... ane mo berbagi cerita, mungkin ini setengah biography dan setengah fiksi... tentang beberapa tahun yang lalu... semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua gan... cerita akan bergulir secara acak, maklum ini ada di catatan diary dahulu... semoga menarik.
Disini ada 2 tokoh sentral, sebut saja si Dinda(gender wanita biasa disebut Pinkan diawal waktu), berasal dari Palembang keturunan Arab bermarga "S". dan si AKU adalah Joko (gender lelaki biasa disebut Sayang oleh Pinkan). Perkenalan awal si Pinkan ini adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah SMA "Y" di Slipi Jakarta Barat. Joko seorang disain majalah musik & lifestyle "G" lokal ternama di Indonesia.
tapi sebelumnya maaf2 ya gan
kalo salah dan lama posting ... maklum newbie dan jarang OL dimalam hari
Disini ada 2 tokoh sentral, sebut saja si Dinda(gender wanita biasa disebut Pinkan diawal waktu), berasal dari Palembang keturunan Arab bermarga "S". dan si AKU adalah Joko (gender lelaki biasa disebut Sayang oleh Pinkan). Perkenalan awal si Pinkan ini adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah SMA "Y" di Slipi Jakarta Barat. Joko seorang disain majalah musik & lifestyle "G" lokal ternama di Indonesia.
tapi sebelumnya maaf2 ya gan
kalo salah dan lama posting ... maklum newbie dan jarang OL dimalam hari
Quote:
Diubah oleh electra78 04-04-2014 15:45
anasabila memberi reputasi
1
7.2K
55
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
electra78
#39
A Bloody Time In Pelni Hospital ~3~
Januari 2005
Malam kedua di Pelni Hospital
Sore ini Juma’t hari kedua Dindaku Pinkan berada di RS Pelni Petamburan. Aku harus secepatnya menyelesaikan pekerjaan ringan yang ada di kantor. Hari ini bisa soalnya 3 hari yang lalu sudah lepas kelar dedlen, jadi bisa saja jam 5 langsung cabut pulang ke kosan dulu baru kemudian ke Pelni yang jaraknya sekitar 20an km.
Jam sudah menunjuk pukul 5sore, buru-buru aku segera kembali ke kosan untuk mandi dan oh iya hampir saja lupa, pakaian dan celana buat Pinkan yang kemarin malam telah dipesannya malam sebelum aku terlelap dan seperti pesan suster tadi pagi untuk banyak mengkonsumsi susu agar pasien lebih cepat sembuh.
Segera kusiapkan motor dan pergi ke Indomaret yang terletak tak terlalu jauh dari kosan. Setelah yakin semua lengkap di tas punggungku maka kupacu sepeda motorku menuju RS Pelni Petamburan, membelah jalan-jalan Pertigaan Mencong ~ Joglo Raya ~ Pos Pengumben ~ Perempatan Panjang ~ Palmerah Barat… hingga akhirnya…
“Priiiiitt…prit..prit…”waduh cilaka gw terlalu semangat ga liat-liat kalo telah melewati lampu merah di perempatan ke arah petamburan. Arah Petamburan tinggal sejengkal lagi tapi seorang polisi segera menghadang lajuku.
“Selamat malam pak!! Maaf pak saya lihat tadi bapak sudah melanggar lampu merah.”dengan pongah nya polisi itu segera mengambil kunci motor yang menggantung di lubang kunci motorku. Pasrah deh segera kupinggirkan motorku dan kuhampiri pak polisi tersebut. Keringat yang tadinya kering mendadak iseng meluncur begitu saja.
“Maaf pak saya ga liat. Soalnya saya buru-buru mo ke rumah sakit Pelni.”ucapku penuh alasan.
“Waduh tapi saya juga ga bisa nolerir pelanggar lampu merah. Maaf bisa lihat STNKnya!”segera kukeluarkan stnk motorku. Dan sret polisi itu segera membalik badannya setelah menerimanya. Seolah-olah telah diskenario…aku begitu saja mengikuti arah pak polisi tersebut ke arah yang lebih gelap dari jalanan. Waduh kondangan maniiing!! Batinku berucap.
“Gini saja pak…ini mo diurus pengadilan apa disini saja?”bapak polisi tersebut mengeluarkan surat Tilang, entah untuk memancing dulu atau dia menunggu jawabanku. Tapi pena itu siap meluncur menggurat bagian lembaran surat tilang itu. Sengaja dia menunggu …5detik kemudian
“Waduh maaf pak saya buru-buru. Gimana nih?”keluhku sangat berharap
“Ya sudah selesaikan disini saja ya.”saran yang sangat bijak sekali pak polisi ini, segera kukeluarkan selembar uang 20 ribu. Ya Allah gara-gara ga cermat di lampu merah jadi kondangan deh ke pak polisi. Mmmh…
Segera kupacu lagi motorku ke arah RS Pelni dimana Pinkanku sayang menunggu kedatangan sang Pangeran untuk menjenguk. Padahal tadi seandainya aku pakai kartu ID PRESS mungkin lain ceritanya, tapi sudahlah sebenernya itu tidak mendidik juga meski ada sebagian sangat bergantung kartu ID tersebut.
Seorang petugas parkir memberiku tiket berwarna kuning untuk parkir motor, dan selembar uang seribu kuserahkan kepadanya. Tergesa-gesa jalanku menuju ruang Kelas 3 Cempaka III tempat Pinkan dirawat.
“Assalamu'alaikum sayang?”sapaku lembut melihat Pinkanku terlihat berbaring sambil membaca koran. Entah koran dari mana tapi dia terlihat begitu senang membaca dengan muka lebih cerah.
“Wa'alaikum salam…”tersenyum dia melihat kedatanganku. Segera kugenggam tangannya tak sabar melihat wajahnya yang semalam begitu tegang dan kusut.
“Kamu ga papa kan?”tanyaku khawatir
“He he he…ga papa sayang. Eh iya tadi siang temen-temenku dari kantor Diwantara pada datang termasuk bosku. Ya udah akhirnya dia kasih aku waktu untuk istirahat beberapa hari.” tersenyum kecil Dindaku. Alhamdulillah ya Allah semoga Engkau berikan kesembuhan buat Pinkan. Kulihat diatas lemari kecil itu sudah terhidang buah jeruk dan apel terbungkus plastik.
“Kamu ga lupa yang aku pesen semalam?” tanya Pinkan sambil melihat tas yang aku bawa.
“Iya dunk…pakaian, celana lengkap dengan dalemannya… he he he... dan tak lupa handuk sikat gigi... oh iya susu cair bendera sekalian aku beli.” ujarku menjelaskan. Lantas kuulihat koran yang tadi dibacanya…
“Ini tadi dari ibu-ibu dari bangsal sebelah. Hi hi hi... ” tawamu meruntuhkan rasa takutku
“Kok ketawa…?” tanyaku selidik.
Rupanya ibu yang baik hati tadi yang selanjutnya kami kenal bernama mak Odah orang betawi yang tinggal di seberang Rumah Sakit ini tidak cuma memberi koran tapi juga membantu Pinkan ke kamar mandi tadi pagi. Pastilah susah ke kamar mandi sendirian dengan infus masih melekat menembus kulit tangannya yang cantik. Sungguh ibu yang baik hati...
Segera kukeluarkan pakaian dan celana dari tas lantas kumasukan kedalam lemari kecil sebelah ranjang Pinkan, dan tak lupa susu dalam kemasan box kecil yang aku beli tadi.
“Sayang tapi susunya diminum satu jam setelah minum obat.” ucap Pinkan memberi info dari suster. Aku hanya mengangguk tersenyum, sesuatu hal yang sudah aku tahu jika minum susu tak boleh berbarengan dengan minum obat. Pasti menimbulkan efek yang kurang baik bagi lambung.
Kira-kira satu jam aku duduk disamping pembaringan Pinkan, tiba-tiba aku teringat dalam dompetku tadi duitku tinggal pecahan 20ribu lembar yang besar dan itu satu-satunya buat kondangan tadi. Segera kupamit kutinggalkan Pinkan menuju luar rumah sakit. Diluar rumah sakit ternyata tidak kutemukan ATM Mandiri yang kubutuhkan. Segera kuingat dari kemarin sepertinya di pintu masuk dekat parkir ada sebuah ATM, tapi setelah kulihat samar-samar ternyata milik BNI. Ah ya sudahlah tak apa, toh sekarang sudah bisa transaksi bank dari Mandiri ke BNI melalui ATM, jadi dunia ini semakin mudah.
“Gimana sayang sudah ketemu ATM nya?” tanya Pinkan setelah aku kembali keruangannya.
“Iya tapi ga ada ATM Mandirinya, cuma BNI… tak apalah.” ujarku pasrah tak begitu peduli.
Iseng kulihat-lihat koran yang berada ditangan Pinkan. Jam sudah menunjuk pukul 10 malam, tiba-tiba naluriku kok kepengen menelpon ibu di Semarang ya…
“Halo assalamu’alaikum. Piye kabare bu?” ucapku iseng bertanya keadaan ibu.
“Ya Alhamdulillah kalo semua pada baik di rumah.” ujarku sambil membelai kepala Pinkan yang sedang tiduran dipembaringan itu.
“Aku lagi di rumah sakit, nemenin orang.” lanjutku dipembicaraan telpon dengan ibuku. Pastilah segera ibu penasaran dengan siapa anaknya yang paling ganteng ini dirumah sakit.
"Lho sopo sing loro?" kalo diartikan siapa yang sakit.
“Temen… mmh... calon mantu…” tak sengaja meluncur begitu saja ucapan itu. Tapi aku hanya tersenyum saja melihat Pinkan terkejut mendengar omonganku tadi. Dan dia pun ikut tersenyum sambil mencubit tanganku. Hi hi hi... pastilah orang tua dirumah pada kaget mendengar info dari anaknya yang paling ganteng ini. Pembicaraan pun mengalir ke arah asal-usul Pinkan... mhh seakan detik berjalan lambat sambil kupandang mata Pinkan...
Ooh… Pinkanku yang sedang merana yang sedang terbaring sakit segeralah sembuh cintaku mari kita jalani hari-hari esok lebih baik. Aku berjanji esok akan membuat hari-harimu lebih ceria.
Malam pun makin larut dalam dingin, dan ruangan semakin terlihat sepi dari suara langkah-langkah kaki manusia. Segera kami pun terlelap dalam kantuk, kuambil lembaran koran tadi untuk alas tidur dilantai… bermimpilah sayang…
Esok paginya masih jam 04.30 tapi suara sepatu suster-suster itu membangunkanku dari lelap semalaman. Ya Allah sudah subuh, segera aku tinggalkan Pinkan sendiri disana. Pagi ini begitu dingin… ataukah karena lantainya yang dingin sehingga tubuh ini merefleksikan rasa itu. Mushola itu begitu kecil sehingga harus berganti untuk melaksanakan Sholat berjamaah.
Selesai sholat segera kukembali keruangan Pinkan, tapi kulihat dia masih sholat di pembaringan itu.
Sementara sambil menunggu Pinkan sholat, kembali kulalui lorong itu sambil melihat-lihat kondisi tiap ruangan di lantai ini. Aku ambil duduk bersama seorang bapak tua di sebuah sudut lorong tempat tunggu kerabat pasien.
“Sarapan pak..ni ada nasi, lontong, kopi atau teh hangat.” seorang ibu-ibu menawarkan sarapan dalam gendongan yang dia bawa. Tak kulewatkan untuk segera memesan sebuah kopi hangat dan sebungkus nasi uduk untuk menahan lapar perut ini.
Sambil makan, bapak yang tadi disebelahku bercerita tentang anaknya yang sakit, dia curhat tentang fasilitas rumah sakit yang berada di Bekasi daerah tempat tinggalnya. Dan curhatnya tentang reputasi rumah sakit Pelni ini yang dia tahu sangat bagus dari cerita temen-temen bapak sebelumnya.
Alhamdulillah ya Allah semoga benar yang bapak tadi katakan, semoga kondisi Pinkanku semakin membaik. Aamiin…
Malam kedua di Pelni Hospital
Sore ini Juma’t hari kedua Dindaku Pinkan berada di RS Pelni Petamburan. Aku harus secepatnya menyelesaikan pekerjaan ringan yang ada di kantor. Hari ini bisa soalnya 3 hari yang lalu sudah lepas kelar dedlen, jadi bisa saja jam 5 langsung cabut pulang ke kosan dulu baru kemudian ke Pelni yang jaraknya sekitar 20an km.
Jam sudah menunjuk pukul 5sore, buru-buru aku segera kembali ke kosan untuk mandi dan oh iya hampir saja lupa, pakaian dan celana buat Pinkan yang kemarin malam telah dipesannya malam sebelum aku terlelap dan seperti pesan suster tadi pagi untuk banyak mengkonsumsi susu agar pasien lebih cepat sembuh.
Segera kusiapkan motor dan pergi ke Indomaret yang terletak tak terlalu jauh dari kosan. Setelah yakin semua lengkap di tas punggungku maka kupacu sepeda motorku menuju RS Pelni Petamburan, membelah jalan-jalan Pertigaan Mencong ~ Joglo Raya ~ Pos Pengumben ~ Perempatan Panjang ~ Palmerah Barat… hingga akhirnya…
“Priiiiitt…prit..prit…”waduh cilaka gw terlalu semangat ga liat-liat kalo telah melewati lampu merah di perempatan ke arah petamburan. Arah Petamburan tinggal sejengkal lagi tapi seorang polisi segera menghadang lajuku.
“Selamat malam pak!! Maaf pak saya lihat tadi bapak sudah melanggar lampu merah.”dengan pongah nya polisi itu segera mengambil kunci motor yang menggantung di lubang kunci motorku. Pasrah deh segera kupinggirkan motorku dan kuhampiri pak polisi tersebut. Keringat yang tadinya kering mendadak iseng meluncur begitu saja.
“Maaf pak saya ga liat. Soalnya saya buru-buru mo ke rumah sakit Pelni.”ucapku penuh alasan.
“Waduh tapi saya juga ga bisa nolerir pelanggar lampu merah. Maaf bisa lihat STNKnya!”segera kukeluarkan stnk motorku. Dan sret polisi itu segera membalik badannya setelah menerimanya. Seolah-olah telah diskenario…aku begitu saja mengikuti arah pak polisi tersebut ke arah yang lebih gelap dari jalanan. Waduh kondangan maniiing!! Batinku berucap.
“Gini saja pak…ini mo diurus pengadilan apa disini saja?”bapak polisi tersebut mengeluarkan surat Tilang, entah untuk memancing dulu atau dia menunggu jawabanku. Tapi pena itu siap meluncur menggurat bagian lembaran surat tilang itu. Sengaja dia menunggu …5detik kemudian
“Waduh maaf pak saya buru-buru. Gimana nih?”keluhku sangat berharap
“Ya sudah selesaikan disini saja ya.”saran yang sangat bijak sekali pak polisi ini, segera kukeluarkan selembar uang 20 ribu. Ya Allah gara-gara ga cermat di lampu merah jadi kondangan deh ke pak polisi. Mmmh…
Segera kupacu lagi motorku ke arah RS Pelni dimana Pinkanku sayang menunggu kedatangan sang Pangeran untuk menjenguk. Padahal tadi seandainya aku pakai kartu ID PRESS mungkin lain ceritanya, tapi sudahlah sebenernya itu tidak mendidik juga meski ada sebagian sangat bergantung kartu ID tersebut.
Seorang petugas parkir memberiku tiket berwarna kuning untuk parkir motor, dan selembar uang seribu kuserahkan kepadanya. Tergesa-gesa jalanku menuju ruang Kelas 3 Cempaka III tempat Pinkan dirawat.
“Assalamu'alaikum sayang?”sapaku lembut melihat Pinkanku terlihat berbaring sambil membaca koran. Entah koran dari mana tapi dia terlihat begitu senang membaca dengan muka lebih cerah.
“Wa'alaikum salam…”tersenyum dia melihat kedatanganku. Segera kugenggam tangannya tak sabar melihat wajahnya yang semalam begitu tegang dan kusut.
“Kamu ga papa kan?”tanyaku khawatir
“He he he…ga papa sayang. Eh iya tadi siang temen-temenku dari kantor Diwantara pada datang termasuk bosku. Ya udah akhirnya dia kasih aku waktu untuk istirahat beberapa hari.” tersenyum kecil Dindaku. Alhamdulillah ya Allah semoga Engkau berikan kesembuhan buat Pinkan. Kulihat diatas lemari kecil itu sudah terhidang buah jeruk dan apel terbungkus plastik.
“Kamu ga lupa yang aku pesen semalam?” tanya Pinkan sambil melihat tas yang aku bawa.
“Iya dunk…pakaian, celana lengkap dengan dalemannya… he he he... dan tak lupa handuk sikat gigi... oh iya susu cair bendera sekalian aku beli.” ujarku menjelaskan. Lantas kuulihat koran yang tadi dibacanya…
“Ini tadi dari ibu-ibu dari bangsal sebelah. Hi hi hi... ” tawamu meruntuhkan rasa takutku
“Kok ketawa…?” tanyaku selidik.
Rupanya ibu yang baik hati tadi yang selanjutnya kami kenal bernama mak Odah orang betawi yang tinggal di seberang Rumah Sakit ini tidak cuma memberi koran tapi juga membantu Pinkan ke kamar mandi tadi pagi. Pastilah susah ke kamar mandi sendirian dengan infus masih melekat menembus kulit tangannya yang cantik. Sungguh ibu yang baik hati...
Segera kukeluarkan pakaian dan celana dari tas lantas kumasukan kedalam lemari kecil sebelah ranjang Pinkan, dan tak lupa susu dalam kemasan box kecil yang aku beli tadi.
“Sayang tapi susunya diminum satu jam setelah minum obat.” ucap Pinkan memberi info dari suster. Aku hanya mengangguk tersenyum, sesuatu hal yang sudah aku tahu jika minum susu tak boleh berbarengan dengan minum obat. Pasti menimbulkan efek yang kurang baik bagi lambung.
Kira-kira satu jam aku duduk disamping pembaringan Pinkan, tiba-tiba aku teringat dalam dompetku tadi duitku tinggal pecahan 20ribu lembar yang besar dan itu satu-satunya buat kondangan tadi. Segera kupamit kutinggalkan Pinkan menuju luar rumah sakit. Diluar rumah sakit ternyata tidak kutemukan ATM Mandiri yang kubutuhkan. Segera kuingat dari kemarin sepertinya di pintu masuk dekat parkir ada sebuah ATM, tapi setelah kulihat samar-samar ternyata milik BNI. Ah ya sudahlah tak apa, toh sekarang sudah bisa transaksi bank dari Mandiri ke BNI melalui ATM, jadi dunia ini semakin mudah.
“Gimana sayang sudah ketemu ATM nya?” tanya Pinkan setelah aku kembali keruangannya.
“Iya tapi ga ada ATM Mandirinya, cuma BNI… tak apalah.” ujarku pasrah tak begitu peduli.
Iseng kulihat-lihat koran yang berada ditangan Pinkan. Jam sudah menunjuk pukul 10 malam, tiba-tiba naluriku kok kepengen menelpon ibu di Semarang ya…
“Halo assalamu’alaikum. Piye kabare bu?” ucapku iseng bertanya keadaan ibu.
“Ya Alhamdulillah kalo semua pada baik di rumah.” ujarku sambil membelai kepala Pinkan yang sedang tiduran dipembaringan itu.
“Aku lagi di rumah sakit, nemenin orang.” lanjutku dipembicaraan telpon dengan ibuku. Pastilah segera ibu penasaran dengan siapa anaknya yang paling ganteng ini dirumah sakit.
"Lho sopo sing loro?" kalo diartikan siapa yang sakit.
“Temen… mmh... calon mantu…” tak sengaja meluncur begitu saja ucapan itu. Tapi aku hanya tersenyum saja melihat Pinkan terkejut mendengar omonganku tadi. Dan dia pun ikut tersenyum sambil mencubit tanganku. Hi hi hi... pastilah orang tua dirumah pada kaget mendengar info dari anaknya yang paling ganteng ini. Pembicaraan pun mengalir ke arah asal-usul Pinkan... mhh seakan detik berjalan lambat sambil kupandang mata Pinkan...
Ooh… Pinkanku yang sedang merana yang sedang terbaring sakit segeralah sembuh cintaku mari kita jalani hari-hari esok lebih baik. Aku berjanji esok akan membuat hari-harimu lebih ceria.
Malam pun makin larut dalam dingin, dan ruangan semakin terlihat sepi dari suara langkah-langkah kaki manusia. Segera kami pun terlelap dalam kantuk, kuambil lembaran koran tadi untuk alas tidur dilantai… bermimpilah sayang…
Esok paginya masih jam 04.30 tapi suara sepatu suster-suster itu membangunkanku dari lelap semalaman. Ya Allah sudah subuh, segera aku tinggalkan Pinkan sendiri disana. Pagi ini begitu dingin… ataukah karena lantainya yang dingin sehingga tubuh ini merefleksikan rasa itu. Mushola itu begitu kecil sehingga harus berganti untuk melaksanakan Sholat berjamaah.
Selesai sholat segera kukembali keruangan Pinkan, tapi kulihat dia masih sholat di pembaringan itu.
Sementara sambil menunggu Pinkan sholat, kembali kulalui lorong itu sambil melihat-lihat kondisi tiap ruangan di lantai ini. Aku ambil duduk bersama seorang bapak tua di sebuah sudut lorong tempat tunggu kerabat pasien.
“Sarapan pak..ni ada nasi, lontong, kopi atau teh hangat.” seorang ibu-ibu menawarkan sarapan dalam gendongan yang dia bawa. Tak kulewatkan untuk segera memesan sebuah kopi hangat dan sebungkus nasi uduk untuk menahan lapar perut ini.
Sambil makan, bapak yang tadi disebelahku bercerita tentang anaknya yang sakit, dia curhat tentang fasilitas rumah sakit yang berada di Bekasi daerah tempat tinggalnya. Dan curhatnya tentang reputasi rumah sakit Pelni ini yang dia tahu sangat bagus dari cerita temen-temen bapak sebelumnya.
Alhamdulillah ya Allah semoga benar yang bapak tadi katakan, semoga kondisi Pinkanku semakin membaik. Aamiin…
Diubah oleh electra78 07-06-2013 14:13
0