TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#79
Spoiler for For Tomorrow:
Hari itu adalah hari yang biasa.
Ya, karena hal tersebut, hampir tidak ada perubahan dalam rutinitas yang selalu kulakukan. Diawali dengan bangun pagi, pergi ke sekolah bersamanya, pulang, bermalas – malasan di rumah (kecuali hari kerja). Dan menikmati makan malam bersama seperti sekarang.
Melewati hal – hal tersebut penuh kedamaian, tanpa kusadari. Tak terasa bahwa kami sudah beranjak umur 18 tahun, yang berarti, hanya butuh waktu sekitar enam bulan lebih sebelum kami akhirnya lulus dari SMA.
Mendadak aku merasa aneh, menyadari bagaimana cepatnya waktu berlalu. Aku tidak pernah lupa akan hari tersebut. Yaitu, ketika ibu secara mendadak menghilang dari kehidupan kami. Sesuatu yang begitu menyakitkan.
Walaupun begitu, mengingatnya sekarang, aku tidak bisa merasakan kesedihan maupun meneteskan air mata, malah merasa... Begitu hampa. Seakan masa lalu hanya sebuah gambaran tak penting,
“Huft... Tidak terasa yah?”
Akupun berbicara sambil menurunkan gelas yang kosong pada permukaan meja, dan dia yang sedang beristirahat sehabis makan, merespon heran.
“Maksudmu?”
“Yah, bukankah ini tahun terakhir kita bersekolah?”
“...”
“Kau... Benar.”
Nada bicaranya seolah tidak tahu bagaimana menjawab, langsung mengakhiri pembicaraan. Belum lama keheningan berlalu, akupun mencoba memulai pembicaraan lagi.
“Elza?”
“U-uh?”
“Kau kenapa?”
“...”
Dia tertegun sesaat, sebelum menjawab pertanyaanku.
“A-aku tidak ke-kenapa – napa kok.”
Dahiku mengerut.
“Kau bohong yah?”
“Eh?”
“Melihat dari ekspresi pada wajahmu, kau pasti sedang memikirkan sesuatu, kan?”
Diapun kembali diam, bahkan sampai memalingkan wajahnya sedikit dari diriku. Namun setelah agak lama, mulut mungilnya terbuka lagi.
“T-tidak, h-hanya... Aku jadi berpikir, apa yang harus kita lakukan setelah lulus?”
“...”
Terdengar nada ragu ketika dia mengungkapkan perkataan tersebut. Aku yang menyandar pada kursi segera mencondongkan tubuh ke meja, dengan kedua lengan menyilang diatas permukaan meja, berturut – turut.
“Apa yang akan kita lakukan?
“...”
Dia pun hanya diam, sementara aku menghela nafas. Sambil memikirkan sebuah jawaban yang mungkin bisa membuat dirinya puas, mengingat keadaan yang tengah kami hadapi.
“Yah, aku tahu kita berdua tidak bisa kuliah. Tapi apa kau pikir kita tidak bisa mencari kerja menggunakan ijazah SMA? Terlebih... Bukannya kita sama – sama melakukan kerja paruh-waktu?”
“...”
Dia masih kelihatan tidak yakin, sadar akan hal tersebut, akupun beranjak dari kursi meja makan. Menghampirinya, lalu mengelus rambut pendek hitamnya sambil berbicara sesuatu agar membuatnya lebih yakin.
“Aku memang tidak tahu apa yang dipikirkan olehmu sekarang, tapi... Tenang saja, ya? Aku pasti akan selalu disampingmu kok.”
Pada akhirnya ekspresi penuh keraguan yang nampak pada wajahnya hilang, tergantikan oleh sebuah senyum manis yang biasa kulihat, sebelum mulutnya terbuka.
“Terima kasih.”
Akupun tersenyum balik.
“Sama – sama.”
Dan setelah semuanya beres, termasuk mencuci piring kotor sehabis menyantap makan malam karena hari ini adalah giliran aku melakukannya. Kamipun memutuskan untuk beristirahat lebih awal karena malam ini tidak ada acara TV yang layak dijadikan alasan untuk begadang.
Tak tahu harus berterima kasih atau tidak, kurasa walaupun sekarang hanyalah dari hal yang lalu. Kurasa masa lalu tetap sesuatu yang gampang dibuang bagaikan sampah. Karena bagaimana pun, bila hal tersebut tak terjadi. Mungkin aku tidak akan tahu makna kebahagiaan sesungguhnya.
Dan untuk besok, oh ya, sebentar lagi akan ada ujian akhir semester.
Ya, karena hal tersebut, hampir tidak ada perubahan dalam rutinitas yang selalu kulakukan. Diawali dengan bangun pagi, pergi ke sekolah bersamanya, pulang, bermalas – malasan di rumah (kecuali hari kerja). Dan menikmati makan malam bersama seperti sekarang.
Melewati hal – hal tersebut penuh kedamaian, tanpa kusadari. Tak terasa bahwa kami sudah beranjak umur 18 tahun, yang berarti, hanya butuh waktu sekitar enam bulan lebih sebelum kami akhirnya lulus dari SMA.
Mendadak aku merasa aneh, menyadari bagaimana cepatnya waktu berlalu. Aku tidak pernah lupa akan hari tersebut. Yaitu, ketika ibu secara mendadak menghilang dari kehidupan kami. Sesuatu yang begitu menyakitkan.
Walaupun begitu, mengingatnya sekarang, aku tidak bisa merasakan kesedihan maupun meneteskan air mata, malah merasa... Begitu hampa. Seakan masa lalu hanya sebuah gambaran tak penting,
“Huft... Tidak terasa yah?”
Akupun berbicara sambil menurunkan gelas yang kosong pada permukaan meja, dan dia yang sedang beristirahat sehabis makan, merespon heran.
“Maksudmu?”
“Yah, bukankah ini tahun terakhir kita bersekolah?”
“...”
“Kau... Benar.”
Nada bicaranya seolah tidak tahu bagaimana menjawab, langsung mengakhiri pembicaraan. Belum lama keheningan berlalu, akupun mencoba memulai pembicaraan lagi.
“Elza?”
“U-uh?”
“Kau kenapa?”
“...”
Dia tertegun sesaat, sebelum menjawab pertanyaanku.
“A-aku tidak ke-kenapa – napa kok.”
Dahiku mengerut.
“Kau bohong yah?”
“Eh?”
“Melihat dari ekspresi pada wajahmu, kau pasti sedang memikirkan sesuatu, kan?”
Diapun kembali diam, bahkan sampai memalingkan wajahnya sedikit dari diriku. Namun setelah agak lama, mulut mungilnya terbuka lagi.
“T-tidak, h-hanya... Aku jadi berpikir, apa yang harus kita lakukan setelah lulus?”
“...”
Terdengar nada ragu ketika dia mengungkapkan perkataan tersebut. Aku yang menyandar pada kursi segera mencondongkan tubuh ke meja, dengan kedua lengan menyilang diatas permukaan meja, berturut – turut.
“Apa yang akan kita lakukan?
“...”
Dia pun hanya diam, sementara aku menghela nafas. Sambil memikirkan sebuah jawaban yang mungkin bisa membuat dirinya puas, mengingat keadaan yang tengah kami hadapi.
“Yah, aku tahu kita berdua tidak bisa kuliah. Tapi apa kau pikir kita tidak bisa mencari kerja menggunakan ijazah SMA? Terlebih... Bukannya kita sama – sama melakukan kerja paruh-waktu?”
“...”
Dia masih kelihatan tidak yakin, sadar akan hal tersebut, akupun beranjak dari kursi meja makan. Menghampirinya, lalu mengelus rambut pendek hitamnya sambil berbicara sesuatu agar membuatnya lebih yakin.
“Aku memang tidak tahu apa yang dipikirkan olehmu sekarang, tapi... Tenang saja, ya? Aku pasti akan selalu disampingmu kok.”
Pada akhirnya ekspresi penuh keraguan yang nampak pada wajahnya hilang, tergantikan oleh sebuah senyum manis yang biasa kulihat, sebelum mulutnya terbuka.
“Terima kasih.”
Akupun tersenyum balik.
“Sama – sama.”
Dan setelah semuanya beres, termasuk mencuci piring kotor sehabis menyantap makan malam karena hari ini adalah giliran aku melakukannya. Kamipun memutuskan untuk beristirahat lebih awal karena malam ini tidak ada acara TV yang layak dijadikan alasan untuk begadang.
Tak tahu harus berterima kasih atau tidak, kurasa walaupun sekarang hanyalah dari hal yang lalu. Kurasa masa lalu tetap sesuatu yang gampang dibuang bagaikan sampah. Karena bagaimana pun, bila hal tersebut tak terjadi. Mungkin aku tidak akan tahu makna kebahagiaan sesungguhnya.
Dan untuk besok, oh ya, sebentar lagi akan ada ujian akhir semester.
Fin
Diubah oleh lacie. 20-05-2013 17:21
0
Kutip
Balas