TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#78
Down
Spoiler for Down:
“Arrrgghh..”
Sambil mengerang aku berguling – guling di kasur, berusaha menghilangkan sesuatu yang tengah menjangkiti seluruh badanku. Sebuah rasa yang paling dibenci oleh seluruh manusia, sekuat apapun dirinya menghadapi rasa ini.
Merasakan hawa sedingin es, yang menjalar seluruh tubuhku. Membuat selimut yang membungkus diriku benar – benar hanya menjadi hiasan semata.
Aku mengambil Handphoneyang kuselipkan dibawah bantal, melihat kearah layarnya, yang Display Picture-nya merupakan wajah seseorang yang dulu kuanggap sebagai saudara.
“Sudah jam 7 pagi?”
Setelah menyelipkan kembali Handphone pada bawah bantal, aku mencoba mengangkat bagian atas tubuh, namun sayangnya hal tersebut sia – sia. Tubuhku yang terasa lemah dengan gampangnya tertarik kembali ke permukaan empuk tersebut.
Oh sialan... Kenapa ini harus terjadi sekarang? Hari inikan masih sek... Bukan, siapa yang akan mengantar dirinya nanti?
Aku mencoba bangun lagi, dan akhirnya duduk di kasur, namun langsung terbaring lagi, ahh... Kalau begitu, lebih baik ak... Tidak! AKU HARUS BANGUN SEKARANG!
Badan dan pikiranku mulai kacau, bingung antara ingin diam atau bergerak. Disaat bersamaan, pintu kamarku tiba – tiba terbuka, diikuti seorang gadis berambut hitam pendek dan memakai celemek masuk ke dalam ruangan ini.
“Zael! Sarapan sudah siap!”
Oh ya, aku baru sadar bahwa tempat ini bukan ditinggali aku saja.
Aku berusaha bangun dengan menumpu kedua siku pada kasur.
“Urghh.. Ada apa, Elza?”
Suaraku seperti gesekan besi, terdengar begitu parau, dan gadis bermata Ruby tersebut langsung menghampiriku.
“Kau kenapa?”
“Aku tidak apa – apa kok.”
Lagi – lagi aku menjawabnya dengan suara yang parau, membuat dirinya semakin penasaran pada kelakuanku. Diapun memegang dahiku dengan tangannya.
“Zael? Kau bukan tidak kenapa – napa... Kau kena demam! Astaga, kenapa aku tidak menyadarinya ya tadi saat bangun!?”
Aku melepaskan sentuhannya sedikit kasar, lalu berkata seakan keadaan tubuhku segar bugar.
“T-tidak usah cemas, aku masih cukup kuat kok.”
“Tapi badanmu panas sekali. Apa kau yakin?”
Tanpa memperdulikan perkataannya, aku turun dari kasur dan mulai berdiri, berjalan sambil berkata pada dirinya yang masih duduk di tepi kasur.
“Lihat? Aku masih bisa...”
BUKK
“ZAEL!”
Tanpa badai maupun gempa, pada permukaan lantai yang hanya terasa dingin. Kaki kanan yang kugunakan untuk melangkah terpeleset, dan bisa dibilang... Hal tersebut sangat konyol bila terjadi di tengah – tengah sekolah.
Kesampingkan dulu kekonyolannya, badanku sekarang semakin terasa sangat lemas. Terutama pada bagian bahu kanan, yang kujadikan sebagai landasan ketika menubruk lantai.
Elza yang terlihat begitu panik dengan cepat segera menghampiriku, membantu serta memapah diriku kembali berbaring pada kasur.
Dan kemudian, terbungkus oleh dua lapisan selimut pada permukaan kasur. Secara patuh aku menuruti perintahnya yang diberikan olehnya, karena sadar bahwa kondisi buruk hanya akan memperkeruh suasana.
“Beristirahatlah sampai aku pulang, OK?”
Aku mengangguk pelan, lalu perlahan mataku menutup bersamaan dengan pintu kamar yang tertutup dari luar olehnya.
“Huaaah...”
Aku menguap lebar sambil mengangkat kedua lengan keatas, duduk bersila diatas kasur dengan selimut yang kini menutupinya. Kedua mata Citrine-ku yang setengah terbuka melirik kanan-kiri, memperhatikan warna kamar yang nampak oranye, bagaikan dedaunan gugur Fall.
Beres menanggulangi rasa kantuk, juga merasa lebih bertenaga daripada waktu pagi. Aku beranjak dari kasur, melangkah keluar kamar. Hendak pergi ke lantai satu.
Sementara kakiku perlahan – lahan menapak pada anak tangga (takut kejadian saat pagi terulang), walaupun biasanya ini terjadi ketika pagi hari, hidungku menangkap sebuah aroma masakan. Dan kali ini benar –- benar sungguh menggoda alat pernafasanku.
Tanpa pikir panjang, langkah kakiku segera mengikuti kemauan hidung. Sesampainnya di dapur, kulihat seorang gadis berambut hitam pendek sedang mengaduk – aduk sesuatu pada kompor.
“Hmm... Harumnya.”
Diapun menengok kearah kanan, dimana tempat aku berdiri mengamati apa yang dilakukannya. Nampak kaget, dia langsung bertanya.
“L-loh, Zael? Kau sudah bangun?”
Akupun mundur beberapa langkah, lalu duduk pada salah satu kursi meja makan. Berbicara sambil tetap menatap dirinya, mengerutkan kedua alis.
“Memangnya siapa yang sedang mengobrol dengan dirimu sekarang?”
“...”
Pandangannya kembali kearah kompor.
“Yah, kalau begitu, tunggu sebentar. Sup krim asparagus-nya belum matang.”
“Sup krim... Asparagus?”
Dia yang sedang terfokus pada panci sambil mengaduk, menengok kembali ke diriku.
“Ya, ada apa memangnya?”
“Ah? T-tidak.”
Pantas saja aku mengenal aroma yang ditangkap oleh hidungku, ternyata itu berasal dari asparagus.
Akupun akhirnya menunggu di meja seperti yang diberitahu olehnya, yang tentunya diiringi perasaan yang begitu antusias. Tak sabar untuk segera mengunyah potongan sayuran empuk tersebut, oh ya, tidak lupa juga untuk sup krimnya yang gurih.
Oh sialan... Terlalu lama mencium aromanya saja membuat air liur keluar dari mulut.
“Bagianmu.”
Tanpa menunggu lama, akhirnya semangkuk cairan kental tersebut telah berada dihadapanku. Namun ketika aku segera ingin menyantapnya, Elza tiba – tiba memukul tanganku yang memegang sendok. Sukses menghentikan gerakan serta membuat jatuh sendok yang kugenggam pada permukaan meja.
“Akh! Untuk apa kau melakukannya!?”
“Mulutmu ingin terbakar yah?”
“...”
Sebuah uap putih samar – samar terlihat di hadapan wajahku begitu mendengar omongannya, dan akupun menyadari maksud dari kalimatnya.
“Oh ya, kau benar.”
Dan setelah menunggu sedikit lama lagi (juga mencoba mendinginkannya dengan tiupan), pada akhirnya aku bisa menikmati salah satu makanan favoritku dari dulu.
“Uaahh.. Kenyangnya...”
Aku kini bersandar pada kursi, merasa begitu kenyang meskipun hanya menghabiskan semangkuk saja.
“Sudah habis?”
Elza, dari sisi lain meja menatapku takjub bercampur heran, sementara aku yang mengetahuinya, melepaskan sandaran, berkata sambil mengangkat kedua bahu.
“Apa? Memangnya ada yang salah?”
“...”
“Bukan sih, hanya, tidak biasanya kau makan sangat cepat. Oh ya, apa panasmu sudah turun?”
“Hmm? Kurasa sudah.”
Begitu selesai berbicara, sesuatu menyentuh dahiku, yang ternyata adalah telapak tangan kanannya.
“Huft... Syukurlah.”
Aku mengerutkan dahi, berbicara menggunakan nada tak percaya.
“Sebegitukah kau tidak mempercayaiku?”
Senyum masam langsung nampak pada wajahnya, begitu aku menyelesaikan kalimatku. Menjawab dengan nada ketus.
“Mengingat kejadian saat pagi? Kau kira siapa yang membantumu kembali ke kasur hah?”
“...”
“Oh ya, aku lupa itu.”
Setelah meminta maaf, seperti biasa, sehabis menikmati makan malam kami melanjutkannya dengan menonton TV bersama. Hingga akhirnya beristirahat untuk hari esok, yang sayangnya, aku harus tidur terpisah dengannya karena alasan takut menular. Namun diantara kekacauan yang terjadi hari ini, sebuah hal aneh kusadari.
Bagaimana dia bisa tahu bahwa aku suka sup krim asparagus ketika sakit?
Sambil mengerang aku berguling – guling di kasur, berusaha menghilangkan sesuatu yang tengah menjangkiti seluruh badanku. Sebuah rasa yang paling dibenci oleh seluruh manusia, sekuat apapun dirinya menghadapi rasa ini.
Merasakan hawa sedingin es, yang menjalar seluruh tubuhku. Membuat selimut yang membungkus diriku benar – benar hanya menjadi hiasan semata.
Aku mengambil Handphoneyang kuselipkan dibawah bantal, melihat kearah layarnya, yang Display Picture-nya merupakan wajah seseorang yang dulu kuanggap sebagai saudara.
“Sudah jam 7 pagi?”
Setelah menyelipkan kembali Handphone pada bawah bantal, aku mencoba mengangkat bagian atas tubuh, namun sayangnya hal tersebut sia – sia. Tubuhku yang terasa lemah dengan gampangnya tertarik kembali ke permukaan empuk tersebut.
Oh sialan... Kenapa ini harus terjadi sekarang? Hari inikan masih sek... Bukan, siapa yang akan mengantar dirinya nanti?
Aku mencoba bangun lagi, dan akhirnya duduk di kasur, namun langsung terbaring lagi, ahh... Kalau begitu, lebih baik ak... Tidak! AKU HARUS BANGUN SEKARANG!
Badan dan pikiranku mulai kacau, bingung antara ingin diam atau bergerak. Disaat bersamaan, pintu kamarku tiba – tiba terbuka, diikuti seorang gadis berambut hitam pendek dan memakai celemek masuk ke dalam ruangan ini.
“Zael! Sarapan sudah siap!”
Oh ya, aku baru sadar bahwa tempat ini bukan ditinggali aku saja.
Aku berusaha bangun dengan menumpu kedua siku pada kasur.
“Urghh.. Ada apa, Elza?”
Suaraku seperti gesekan besi, terdengar begitu parau, dan gadis bermata Ruby tersebut langsung menghampiriku.
“Kau kenapa?”
“Aku tidak apa – apa kok.”
Lagi – lagi aku menjawabnya dengan suara yang parau, membuat dirinya semakin penasaran pada kelakuanku. Diapun memegang dahiku dengan tangannya.
“Zael? Kau bukan tidak kenapa – napa... Kau kena demam! Astaga, kenapa aku tidak menyadarinya ya tadi saat bangun!?”
Aku melepaskan sentuhannya sedikit kasar, lalu berkata seakan keadaan tubuhku segar bugar.
“T-tidak usah cemas, aku masih cukup kuat kok.”
“Tapi badanmu panas sekali. Apa kau yakin?”
Tanpa memperdulikan perkataannya, aku turun dari kasur dan mulai berdiri, berjalan sambil berkata pada dirinya yang masih duduk di tepi kasur.
“Lihat? Aku masih bisa...”
BUKK
“ZAEL!”
Tanpa badai maupun gempa, pada permukaan lantai yang hanya terasa dingin. Kaki kanan yang kugunakan untuk melangkah terpeleset, dan bisa dibilang... Hal tersebut sangat konyol bila terjadi di tengah – tengah sekolah.
Kesampingkan dulu kekonyolannya, badanku sekarang semakin terasa sangat lemas. Terutama pada bagian bahu kanan, yang kujadikan sebagai landasan ketika menubruk lantai.
Elza yang terlihat begitu panik dengan cepat segera menghampiriku, membantu serta memapah diriku kembali berbaring pada kasur.
Dan kemudian, terbungkus oleh dua lapisan selimut pada permukaan kasur. Secara patuh aku menuruti perintahnya yang diberikan olehnya, karena sadar bahwa kondisi buruk hanya akan memperkeruh suasana.
“Beristirahatlah sampai aku pulang, OK?”
Aku mengangguk pelan, lalu perlahan mataku menutup bersamaan dengan pintu kamar yang tertutup dari luar olehnya.
---
“Huaaah...”
Aku menguap lebar sambil mengangkat kedua lengan keatas, duduk bersila diatas kasur dengan selimut yang kini menutupinya. Kedua mata Citrine-ku yang setengah terbuka melirik kanan-kiri, memperhatikan warna kamar yang nampak oranye, bagaikan dedaunan gugur Fall.
Beres menanggulangi rasa kantuk, juga merasa lebih bertenaga daripada waktu pagi. Aku beranjak dari kasur, melangkah keluar kamar. Hendak pergi ke lantai satu.
Sementara kakiku perlahan – lahan menapak pada anak tangga (takut kejadian saat pagi terulang), walaupun biasanya ini terjadi ketika pagi hari, hidungku menangkap sebuah aroma masakan. Dan kali ini benar –- benar sungguh menggoda alat pernafasanku.
Tanpa pikir panjang, langkah kakiku segera mengikuti kemauan hidung. Sesampainnya di dapur, kulihat seorang gadis berambut hitam pendek sedang mengaduk – aduk sesuatu pada kompor.
“Hmm... Harumnya.”
Diapun menengok kearah kanan, dimana tempat aku berdiri mengamati apa yang dilakukannya. Nampak kaget, dia langsung bertanya.
“L-loh, Zael? Kau sudah bangun?”
Akupun mundur beberapa langkah, lalu duduk pada salah satu kursi meja makan. Berbicara sambil tetap menatap dirinya, mengerutkan kedua alis.
“Memangnya siapa yang sedang mengobrol dengan dirimu sekarang?”
“...”
Pandangannya kembali kearah kompor.
“Yah, kalau begitu, tunggu sebentar. Sup krim asparagus-nya belum matang.”
“Sup krim... Asparagus?”
Dia yang sedang terfokus pada panci sambil mengaduk, menengok kembali ke diriku.
“Ya, ada apa memangnya?”
“Ah? T-tidak.”
Pantas saja aku mengenal aroma yang ditangkap oleh hidungku, ternyata itu berasal dari asparagus.
Akupun akhirnya menunggu di meja seperti yang diberitahu olehnya, yang tentunya diiringi perasaan yang begitu antusias. Tak sabar untuk segera mengunyah potongan sayuran empuk tersebut, oh ya, tidak lupa juga untuk sup krimnya yang gurih.
Oh sialan... Terlalu lama mencium aromanya saja membuat air liur keluar dari mulut.
“Bagianmu.”
Tanpa menunggu lama, akhirnya semangkuk cairan kental tersebut telah berada dihadapanku. Namun ketika aku segera ingin menyantapnya, Elza tiba – tiba memukul tanganku yang memegang sendok. Sukses menghentikan gerakan serta membuat jatuh sendok yang kugenggam pada permukaan meja.
“Akh! Untuk apa kau melakukannya!?”
“Mulutmu ingin terbakar yah?”
“...”
Sebuah uap putih samar – samar terlihat di hadapan wajahku begitu mendengar omongannya, dan akupun menyadari maksud dari kalimatnya.
“Oh ya, kau benar.”
Dan setelah menunggu sedikit lama lagi (juga mencoba mendinginkannya dengan tiupan), pada akhirnya aku bisa menikmati salah satu makanan favoritku dari dulu.
“Uaahh.. Kenyangnya...”
Aku kini bersandar pada kursi, merasa begitu kenyang meskipun hanya menghabiskan semangkuk saja.
“Sudah habis?”
Elza, dari sisi lain meja menatapku takjub bercampur heran, sementara aku yang mengetahuinya, melepaskan sandaran, berkata sambil mengangkat kedua bahu.
“Apa? Memangnya ada yang salah?”
“...”
“Bukan sih, hanya, tidak biasanya kau makan sangat cepat. Oh ya, apa panasmu sudah turun?”
“Hmm? Kurasa sudah.”
Begitu selesai berbicara, sesuatu menyentuh dahiku, yang ternyata adalah telapak tangan kanannya.
“Huft... Syukurlah.”
Aku mengerutkan dahi, berbicara menggunakan nada tak percaya.
“Sebegitukah kau tidak mempercayaiku?”
Senyum masam langsung nampak pada wajahnya, begitu aku menyelesaikan kalimatku. Menjawab dengan nada ketus.
“Mengingat kejadian saat pagi? Kau kira siapa yang membantumu kembali ke kasur hah?”
“...”
“Oh ya, aku lupa itu.”
Setelah meminta maaf, seperti biasa, sehabis menikmati makan malam kami melanjutkannya dengan menonton TV bersama. Hingga akhirnya beristirahat untuk hari esok, yang sayangnya, aku harus tidur terpisah dengannya karena alasan takut menular. Namun diantara kekacauan yang terjadi hari ini, sebuah hal aneh kusadari.
Bagaimana dia bisa tahu bahwa aku suka sup krim asparagus ketika sakit?
Fin
Diubah oleh lacie. 19-05-2013 13:03
0
Kutip
Balas