Kaskus

Story

electra78Avatar border
TS
electra78
My Heart Goes to Jeddah
Dear gan... ane mo berbagi cerita, mungkin ini setengah biography dan setengah fiksi... tentang beberapa tahun yang lalu... semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua gan... cerita akan bergulir secara acak, maklum ini ada di catatan diary dahulu... semoga menarik.

Disini ada 2 tokoh sentral, sebut saja si Dinda(gender wanita biasa disebut Pinkan diawal waktu), berasal dari Palembang keturunan Arab bermarga "S". dan si AKU adalah Joko (gender lelaki biasa disebut Sayang oleh Pinkan). Perkenalan awal si Pinkan ini adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah SMA "Y" di Slipi Jakarta Barat. Joko seorang disain majalah musik & lifestyle "G" lokal ternama di Indonesia.

tapi sebelumnya maaf2 ya gan emoticon-Ngakak kalo salah dan lama posting ... maklum newbie dan jarang OL dimalam hari emoticon-Malu (S)

Quote:
Diubah oleh electra78 04-04-2014 15:45
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
7.2K
55
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
electra78Avatar border
TS
electra78
#33
After Bloody Time In Pelni
Januari Akhir 2005

Mendung kelabu di hati kami mulai memudar, rasa khawatir sudah saatnya kami tinggalkan. Sepulang dari kantor, aku langsung menuju kosan Dinda di Tanjung Duren. Cekup Dinda Pinkan di RS Pelni ini yang kedua, dan beberapa hari lalu sudah membuat janji dengan Prof. Hardiarto. Selesai daftar diloket depan kami langkahkan kaki menuju ruang para dokter spesialis. Jam menunjuk pukul 19.35 dan tiba-tiba ada seseorang memanggil dari belakang...

"Jok... ngapain lo disini?" eh familiar banget tuh suara... aduh anjrit jangan-jangan si… tengak punya tengok eh ga taunya mas Pram dengan istrinya, mmh dan ga tau kenapa tiba-tiba mereka ada disini.

"Eh mas Pram... em... ini.. lagi nganterin temen. Eh iya kenalin ini Pinkan!" kikuk aku ketahuan.

“Lho kok ada disini?” balik ku bertanya, ga mau keduluan. Kan rumahnya ada di meruya, tapi bisa aja sih ke Pelni sini. Bukannya di Ciledug banyak rumah sakit.

“Ooh... ini cuma cekup istri. Soalnya disini sudah terkenal bagus spesialis dokternya. Lagian dari dulu uda langganan keluarga kami.” emh mungkin rekomendasi dari orangtuanya, sodaranya atau temennya.

“Kamu kesini ngapain Jok?” waduh dia balik nanya… pasti persepsinya aneh-aneh deh.

“Mmh... anu ini cekup aja…” belum selesai aku bicara...

"Oo... mo cekup juga ya? oke deh sukses aja yach!" potongnya pelan sambil senyum-senyum licik.

"Buset gue belum selesai ngomong!!" seruku setengah sewot, eh mas Pram cuma senyum penuh kemenangan.

"Cekup paru-paru aja kok seminggu kemarin kan batuk darah kena flek. Sempet dirawat inap 3 hari, dan rawat jalan... ini cekup terakhir" jelasku melegakan

Akhirnya setelah bla... bla sebentar... kami pamit segera menuju ruangan tunggu pasien para dokter spesialis. Rupanya mas Pram dengan istrinya memeriksakan diri kedokter kandungan. Maklum usia istrinya sudah mendekati kepala 35 jadi khawatir dengan masalah keturunan. Oke deh mas Pram semoga sukses juga usahanya ^_^ mendapatkan junior yang lucu dan imut.

"Oke mas... aku ke ruang sebelah ya. Masukin antrian pasien dulu." sementara mas Pram dengan istrinya masih duduk di dekat loket pendaftaran pasien, entah mungkin masih menunggu hasil.

Sial kepergok... kenapa pake ketemu dia disini sih. Wah pasti besok langsung jadi bahan gosipan dikantor, tapi semoga aja dia lupa. Mas Pram kan orangnya sibuk, maklum pemred di kantor, liput berita sana sini jadi kemungkinan bisa saja lupa…he he he. Tapi mana mungkin…duh biarin deh…pusiiing...

Di ruangan itu dikelilingi pintu-pintu ruangan para dokter spesialis, mulai dari spesialis kulit, paru-paru, gigi, dan lain-lain dengan istilah bahasa kedokteran yang tak kumengerti. Maklum dari kampung jadi gitu deh. Prof. Hardiarto ini spesialis paru-paru yang kukenal malam berdarah dulu di ruang UGD. Umurnya mungkin mendekati setengah abad, memakai kacamata dengan mata sayu, mungkin beginilah tampang dokter yang profesinya mikirin sakitnya orang sekampung...

Sementara ruang tunggu pasien di tengah. Dan bagian bangunan ini ternyata gedung baru. Berarti malam berdarah dulu itu di bangunan lama. Pantes mengingatkanku dulu sewaktu kecil opnam di RS Elizabeth Semarang yang jadul sekali bangunannya. Hawanya pun terasa sedikit angker, tak jauh berbeda dengan disini...

Hmm tampaknya masih lama antrinya neh... Kulihat gadis kecil dengan jaket merah berbulu di kerahnya sedang duduk sedih, bersama ibunya sedang menunggu.

"Sakit apa bu anaknya?" tanya Pinkan kepada ibu anak itu. Melihat anak itu yang cantik putih tampak sekali blasteran arabnya ^_^ jadi melayang angan jika kelak nanti aku menikah dengan Dinda Pinkan. Jawa dengan Arab... Arab versus Jawa... duh pasti seru... he he he...

"Giginya sakit, maklum bocah sudah dikasih tau jangan suka makan yang manis-manis."sahut ibunya.

"Umi... kaka jahat mainanku diambil." terlihat ada seorang anak laki-laki sedang memainkan rubik sambil meledek gadis kecil tadi.

Tak lama 10 menit kemudian datang panggilan dari asisten si Prof ini... Alhamdulillah. Kamipun masuk keruangan yang ternyata masih ada pasien satu lagi yang juga menunggu.

"Laper nih, dari rumah belum makan." bisikku ke Pinkan. Perjalanan dari Bintaro tidak memungkinkan untuk mengulur waktu ke kosannya dan lanjut ke rumah sakit. Dan Pinkan pun hanya tersenyum. Sabar yaa...

Seperti biasa Prof. Hardiarto tak menampakan keseriusan ketika melihat hasil laporan kesehatan Pinkan kemarin. Dingin... tak berekspresi, meski aku khawatir mungkin saja muntah darah Pinkan itu karena virus jahat.

"Obatnya terusin saja... dan usahakan minum susu, jangan merokok, jangan begadang." ujar si Prof. datar... waduh rokok?! kapan pernah Pinkan rokok? Kami berdua hanya saling pandang, dari kemarin kan sudah dibilang tidak merokok... wah parah... emoticon-Ngakak
Diubah oleh electra78 08-05-2013 18:59
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.