- Beranda
- Berita Luar Negeri
Semua tentang Kerusuhan Myanmar 2013
...
TS
xenocross
Semua tentang Kerusuhan Myanmar 2013
Thread ini akan mengumpulkan semua berita BERIMBANG yang memberikan fakta dan kejadian aktual tentang kerusuhan di myanmar yang "katanya" konflik antara Buddha dan Islam. Benarkah?
Silahkan dibaca berita aslinya, karena berita yg beredar di Indonesia sudah DIPOTONG, DIEDIT sedemikian rupa sehingga menyalahkan satu pihak saja. Padahal kalau dibaca semuanya, jelas yang salah ada DUA pihak, yang terprovokasi ada DUA pihak, bukan satu saja!
Tolong jangan terprovokasi dan terhasut, oleh berita2 gak benar
1. Kejadian di negeri orang kok diurusin? Kalau mau membalas pergi aja ke myanmar
2. Jangan jangan ini upaya adu domba. Apalagi bisa dijadikan isu pengalihan bikin kerusuhan di indonesia
3. Dicari di ajaran Buddha gak ada yg mengajarkan kekerasan, jadi itu ulah OKNUM. Trus kok ada Muslim yang ngomong mau membalas ke Buddhis Indonesia yang gak tahu apa-apa? Gak salah?
4. Kalau ngomong soal pembantaian blahblahblah, hati hati jangan terpancing emosi karena banyak foto palsu beredar sejak tahun lalu, kemungkinan untuk adu domba FOTO2 HOAX Rohingnya
Dan pelajarannya jelas :
Kebencian tidak akan pernah berakhir
apabila dibalas dengan kebencian.
Kebencian baru akan berakhir
bila dibalas dengan tidak membenci.
Inilah satu hukum abadi
(Dhammapada I, 5) (BUDDHA)
============================================
1. Bukan karena hanya mangkok Biksu pecah (di post bawah)
2. Bukan dibakar tapi kecelakaan kebakaran? versi bahasa indonesia berita yg sama sumber lain
3. Masjid dibakar karena Biksu dibunuh
4. Asal mulanya karena ada toko muslim menipu Buddhis versi bhs indonesia
5. Gerakan 969 sebagai reaksi dari gerakan 786
----------------------------------------------------------------------------------------
Ringkasan semua:
- Awalnya sudah ada ketidaksukaan antar 2 kelompok Buddhis dan Muslim-bengali di Myanmar, yang akarnya kompleks.
- Toko emas muslim mencoba menipu customer buddhis, dan memukuli customer buddhis ini
- Massa marah dan membakar toko muslim. Setelah polisi dan bhiksu datang, massa ditenangkan
- Sorenya hari yang sama setelah kejadian toko emas, satu orang Bhiksu yang lewat dibunuh beberapa pemuda muslim sebagai balasan
- Massa yang mendengar langsung ke TKP, menemukan mayat Bhiksu itu, lalu balik menyerang beberapa pemuda muslim ini, yang lari ke masjid. Masjid pun dibakar
- Muslim lain yang mendengar masjid dibakar lalu ikut angkat senjata
- Buddhis lain mendengar bhiksu dibunuh ikut angkat senjata
- Di hari lain yang gak ada hubungannya, satu masjid kebakaran karena kelalaian listrik. Lalu disebarkan berita bahwa masjid itu dibakar
- Bentrokan antara massa Buddhis dan Muslim meluas. Beberapa Bhiksu yang "melenceng dari ajaran" berkampanye memprovokasi massa Buddhis
- Muslim yang minoritas kalah jumlah dengan Buddhis. Jadi sepertinya seakan-akan pembantaian muslim. Padahal itu konflik komunal. Ya apes aja minoritas kalah jumlah.
===============================================
Ringkasan kronologis Kerusuhan Oak-Kan 30 April 2013.
Pagi hari,
Sepeda yang dikendarai wanita muslim, Win Win Sein (a) Shamila menabrak seorang bocah berusia 11 tahun (calon biksu, samanera) yang tengah melakukan rutinitas mengumpulkan makanan, tabrakan itu mengakibatkan mangkok sang samanera jatuh dan pecah.
Samanera itu telah meminta dengan cara yang sopan untuk mengganti mangkoknya namun perempuan ini menolak dan melakukan penghinaan dengan berteriak bahwa mangkok pindapata itu tidak sebanding dengan sandalnya.
Orang-orang mendengar hinaan tersebut dan menyebarlah gosip dengan cepat ke seluruh penjuru kota yang menyebabkan 200an buddhis berkumpul di toko kepunyaan perempuan itu.
Para perusuh merusak 20 toko muslim disekitar mesjid sebelum polisi datang dan menenangkan keadaan. Polisi dilaporkan melepaskan tembakan ke kerumunan perusuh.
Laporan dari kepolisian:
Jam 09.00,
U Hlaing Tin (62 tahun) pengacara biara Ah-lan-taing mengajukan aduan pidana di kantor polisi Taik-Kyee. Ia melaporkan bahwa Ashin Ponnya (11 tahun), calon biksu Biara Ah-lan-daing, pada pagi hari tengah melakukan rutinitas pengumpulan makanan di sepanjang jalan Pagoda sebelah selatan Oak-kan Bazaar. Ia di tabrak oleh sepeda yang di kendarai Win Win Sein (a) Shamila dan pada kecelakaan itu menyebabkan mangkok makanannya jatuh dan pecah
[note:
tidak diceritakan apakah ashin ponnya mengalami luka atau tidak]
Dasar tuduhan yang dilaporkan adalah menolak mengganti rugi dan melakukan penghinaan. Polisi Taik-Kyee kemudian membuka kasus pidana (Pa) 112/2013 per Crime Act 295 melawan Win Win Sein.
[Note:
menurut NST.com: Win Win Sein dan 1 orang perempuan melakukan ini dan dikenakan pasal penodaan agama, [url]http://www.nst.com.my/latest/muslim-faces-blasphemy-rap-after-myanmar-unrest-police-1.269816][/url]
Sekitar jam 13:15,
hampir 200 buddhis yang tidak puas, tiba di Masjid Bazaar di Anaw-ra-hta Ward dan melempari mesjid dengan batu bata. kaca panel jendela depan rusak dan dua kotak meter listrik rusak namun tidak ada yang mengalami luka-luka ini adalah laporan komandan Polisi Taik-Kyee yang tiba di tempat dan mencegah kerusuhan lebih lanjut.
Sekitar 14:25,
Sekelompok 200an orang melemparkan barang dan furniture dari sekitar 25 toko dan kemudian menghancurkan toko-toko.
Antara 14:40 - 14:45 Polisi 4x melepaskan tembakan untuk membubarkan kerumuman. Situasi kembali normal.
Pukul 15.00,
Tambahan pasukan kepolisian tiba di Oak-kan, dipimpin Komandan Kepolisian divisi Rangoon dan distrik Utara dan mengakhiri kerusuhan pada jam 15:10 hari itu.
Pukul 15:45,
2 orang dengan luka tembak ditemukan di bangsal beras Min-ye-kyaw-zwar luar Oak-kan kota dan dikirim ke Rumah Sakit Oak-kan.
8 orang lebih dengan luka tembak bersama 10 orang yang terluka oleh polisi, di tangkap dan dikenakan dugaan keterlibatan dalam tindak kerusuhan
Menurut Inspektur Polisi Myint Maung kepala polisi Oak-kan:
Lebih dari 100 polisi menggerebek Desa Pa-ni-bin dekat Oak-kan pada jam 03:30, tanggal 1 Mei, menangkap 15 buddhis etnis burma yang diduga terlibat kerusuhan tanggal 30 April. Bersama mereka ditemukan 13 Jingalee (ketapel buatan ketapel dengan peluru paku), satu pedang, dan dua ketapel. 9 dari 15 yg ditangkap sedang diinterogasi di Kantor Polisi Mingalodon dan 6 berada di Kantor Polisi Insein di Rangoon.
1 orang Perusuh etnis burma buddhis, yaitu Zaw Zaw Naing tewas akibat luka tembak pada pukul 01:30, tanggal 1 Mei.
Kerusakan material di kerusuhan itu menurut polisi Oak-kan: masjid kota, 81 rumah dan 50 toko muslim Oak-kan hancur dan keadaan telah terkendali.
---
Sumber:
1. http://hlaoo1980.blogspot.com/2013/0...destroyed.html
2. http://www.nst.com.my/latest/muslim-...olice-1.269816
3. http://sheikyermami.com/2013/05/01/a...iot-in-burma/,
4. http://www.thehindu.com/news/interna...cle4670666.ece
5. [url]http://www.channelstv.com/home/2013/05/01/sectarian-violence-raises-tension-in-myanmar/][/url]
6. http://www.elevenmyanmar.com/nationa...aves-9-injured
---
http://www.nst.com.my/latest/muslim-...olice-1.269816
www.nst.com.my
Silahkan dibaca berita aslinya, karena berita yg beredar di Indonesia sudah DIPOTONG, DIEDIT sedemikian rupa sehingga menyalahkan satu pihak saja. Padahal kalau dibaca semuanya, jelas yang salah ada DUA pihak, yang terprovokasi ada DUA pihak, bukan satu saja!
Tolong jangan terprovokasi dan terhasut, oleh berita2 gak benar
1. Kejadian di negeri orang kok diurusin? Kalau mau membalas pergi aja ke myanmar
2. Jangan jangan ini upaya adu domba. Apalagi bisa dijadikan isu pengalihan bikin kerusuhan di indonesia
3. Dicari di ajaran Buddha gak ada yg mengajarkan kekerasan, jadi itu ulah OKNUM. Trus kok ada Muslim yang ngomong mau membalas ke Buddhis Indonesia yang gak tahu apa-apa? Gak salah?
4. Kalau ngomong soal pembantaian blahblahblah, hati hati jangan terpancing emosi karena banyak foto palsu beredar sejak tahun lalu, kemungkinan untuk adu domba FOTO2 HOAX Rohingnya
Dan pelajarannya jelas :
Kebencian tidak akan pernah berakhir
apabila dibalas dengan kebencian.
Kebencian baru akan berakhir
bila dibalas dengan tidak membenci.
Inilah satu hukum abadi
(Dhammapada I, 5) (BUDDHA)
============================================
1. Bukan karena hanya mangkok Biksu pecah (di post bawah)
2. Bukan dibakar tapi kecelakaan kebakaran? versi bahasa indonesia berita yg sama sumber lain
3. Masjid dibakar karena Biksu dibunuh
4. Asal mulanya karena ada toko muslim menipu Buddhis versi bhs indonesia
5. Gerakan 969 sebagai reaksi dari gerakan 786
----------------------------------------------------------------------------------------
Ringkasan semua:
- Awalnya sudah ada ketidaksukaan antar 2 kelompok Buddhis dan Muslim-bengali di Myanmar, yang akarnya kompleks.
- Toko emas muslim mencoba menipu customer buddhis, dan memukuli customer buddhis ini
- Massa marah dan membakar toko muslim. Setelah polisi dan bhiksu datang, massa ditenangkan
- Sorenya hari yang sama setelah kejadian toko emas, satu orang Bhiksu yang lewat dibunuh beberapa pemuda muslim sebagai balasan
- Massa yang mendengar langsung ke TKP, menemukan mayat Bhiksu itu, lalu balik menyerang beberapa pemuda muslim ini, yang lari ke masjid. Masjid pun dibakar
- Muslim lain yang mendengar masjid dibakar lalu ikut angkat senjata
- Buddhis lain mendengar bhiksu dibunuh ikut angkat senjata
- Di hari lain yang gak ada hubungannya, satu masjid kebakaran karena kelalaian listrik. Lalu disebarkan berita bahwa masjid itu dibakar
- Bentrokan antara massa Buddhis dan Muslim meluas. Beberapa Bhiksu yang "melenceng dari ajaran" berkampanye memprovokasi massa Buddhis
- Muslim yang minoritas kalah jumlah dengan Buddhis. Jadi sepertinya seakan-akan pembantaian muslim. Padahal itu konflik komunal. Ya apes aja minoritas kalah jumlah.
===============================================
Ringkasan kronologis Kerusuhan Oak-Kan 30 April 2013.
Pagi hari,
Sepeda yang dikendarai wanita muslim, Win Win Sein (a) Shamila menabrak seorang bocah berusia 11 tahun (calon biksu, samanera) yang tengah melakukan rutinitas mengumpulkan makanan, tabrakan itu mengakibatkan mangkok sang samanera jatuh dan pecah.
Samanera itu telah meminta dengan cara yang sopan untuk mengganti mangkoknya namun perempuan ini menolak dan melakukan penghinaan dengan berteriak bahwa mangkok pindapata itu tidak sebanding dengan sandalnya.
Orang-orang mendengar hinaan tersebut dan menyebarlah gosip dengan cepat ke seluruh penjuru kota yang menyebabkan 200an buddhis berkumpul di toko kepunyaan perempuan itu.
Para perusuh merusak 20 toko muslim disekitar mesjid sebelum polisi datang dan menenangkan keadaan. Polisi dilaporkan melepaskan tembakan ke kerumunan perusuh.
Laporan dari kepolisian:
Jam 09.00,
U Hlaing Tin (62 tahun) pengacara biara Ah-lan-taing mengajukan aduan pidana di kantor polisi Taik-Kyee. Ia melaporkan bahwa Ashin Ponnya (11 tahun), calon biksu Biara Ah-lan-daing, pada pagi hari tengah melakukan rutinitas pengumpulan makanan di sepanjang jalan Pagoda sebelah selatan Oak-kan Bazaar. Ia di tabrak oleh sepeda yang di kendarai Win Win Sein (a) Shamila dan pada kecelakaan itu menyebabkan mangkok makanannya jatuh dan pecah
[note:
tidak diceritakan apakah ashin ponnya mengalami luka atau tidak]
Dasar tuduhan yang dilaporkan adalah menolak mengganti rugi dan melakukan penghinaan. Polisi Taik-Kyee kemudian membuka kasus pidana (Pa) 112/2013 per Crime Act 295 melawan Win Win Sein.
[Note:
menurut NST.com: Win Win Sein dan 1 orang perempuan melakukan ini dan dikenakan pasal penodaan agama, [url]http://www.nst.com.my/latest/muslim-faces-blasphemy-rap-after-myanmar-unrest-police-1.269816][/url]
Sekitar jam 13:15,
hampir 200 buddhis yang tidak puas, tiba di Masjid Bazaar di Anaw-ra-hta Ward dan melempari mesjid dengan batu bata. kaca panel jendela depan rusak dan dua kotak meter listrik rusak namun tidak ada yang mengalami luka-luka ini adalah laporan komandan Polisi Taik-Kyee yang tiba di tempat dan mencegah kerusuhan lebih lanjut.
Sekitar 14:25,
Sekelompok 200an orang melemparkan barang dan furniture dari sekitar 25 toko dan kemudian menghancurkan toko-toko.
Antara 14:40 - 14:45 Polisi 4x melepaskan tembakan untuk membubarkan kerumuman. Situasi kembali normal.
Pukul 15.00,
Tambahan pasukan kepolisian tiba di Oak-kan, dipimpin Komandan Kepolisian divisi Rangoon dan distrik Utara dan mengakhiri kerusuhan pada jam 15:10 hari itu.
Pukul 15:45,
2 orang dengan luka tembak ditemukan di bangsal beras Min-ye-kyaw-zwar luar Oak-kan kota dan dikirim ke Rumah Sakit Oak-kan.
8 orang lebih dengan luka tembak bersama 10 orang yang terluka oleh polisi, di tangkap dan dikenakan dugaan keterlibatan dalam tindak kerusuhan
Menurut Inspektur Polisi Myint Maung kepala polisi Oak-kan:
Lebih dari 100 polisi menggerebek Desa Pa-ni-bin dekat Oak-kan pada jam 03:30, tanggal 1 Mei, menangkap 15 buddhis etnis burma yang diduga terlibat kerusuhan tanggal 30 April. Bersama mereka ditemukan 13 Jingalee (ketapel buatan ketapel dengan peluru paku), satu pedang, dan dua ketapel. 9 dari 15 yg ditangkap sedang diinterogasi di Kantor Polisi Mingalodon dan 6 berada di Kantor Polisi Insein di Rangoon.
1 orang Perusuh etnis burma buddhis, yaitu Zaw Zaw Naing tewas akibat luka tembak pada pukul 01:30, tanggal 1 Mei.
Kerusakan material di kerusuhan itu menurut polisi Oak-kan: masjid kota, 81 rumah dan 50 toko muslim Oak-kan hancur dan keadaan telah terkendali.
---
Sumber:
1. http://hlaoo1980.blogspot.com/2013/0...destroyed.html
2. http://www.nst.com.my/latest/muslim-...olice-1.269816
3. http://sheikyermami.com/2013/05/01/a...iot-in-burma/,
4. http://www.thehindu.com/news/interna...cle4670666.ece
5. [url]http://www.channelstv.com/home/2013/05/01/sectarian-violence-raises-tension-in-myanmar/][/url]
6. http://www.elevenmyanmar.com/nationa...aves-9-injured
---
http://www.nst.com.my/latest/muslim-...olice-1.269816
www.nst.com.my
Diubah oleh xenocross 04-05-2013 21:01
0
20.8K
124
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
82.1KThread•21.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
xenocross
#12
Kejadian di pagi hari sebelum pembunuhan biksu:
GOLD HAIR CLIP
The spark was simple enough.
Aye Aye Naing, a 45-year-old Buddhist woman, wanted to make an offering of food to local monks. But she needed money, she recalled, sitting in her home in Pyon Kout village. At about 9 a.m. on March 20, a day before the massacre, she brought a gold hair clip to town. She had it appraised at 140,000 kyat ($160). With her husband and sister, she entered New Waint Sein, a Muslim-owned gold shop, which offered her 108,000 kyat. She wanted at least 110,000.
Shop workers studied the gold, but the clip came back damaged, she said. The shop owner, a young woman in her 20s, now offered just 50,000. The stout mother of five protested, calling the owner unreasonable. The owner slapped her, witnesses said. Aye Aye Naing's husband shouted and was pulled outside, held down and beaten by three of the store's staff, according to the couple and two witnesses.
Onlookers gathered. Police arrived, detaining Aye Aye Naing and the owner. The mostly Buddhist mob turned violent, hurling stones, shouting anti-Muslim slurs and breaking down the shop's doors, according to several witnesses. No one was killed or injured, but the Muslim-owned building housing the gold shop and several others were nearly destroyed.
"This shop has a bad reputation in the neighbourhood," said Khin San, who says she watched the violence from her general store across the street. "They don't let people park their cars in front. They are quarrelsome. They have some hatred from the crowd."
That hatred had been further sbaik by a leaflet signed by a group calling itself "Buddhists who feel helpless" and handed out a few weeks before. It suggested Muslims in Meikhtila were conspiring against Buddhists, assisted by money from Saudi Arabia, and holding shady meetings in mosques. It was addressed to the area's monks.
Tensions escalated. By about 5:30 p.m., four Muslim men were waiting at an intersection. As a monk passed on the back of a motorbike, they attacked. One hit the driver with a sword, causing him to crash, witnesses said. A second blow sliced the back of the monk's head. One of the men doused him in fuel and set him on fire, said Soe Thein, a mechanic who saw the attack. The monk died in hospital.
Soe Thein, a Buddhist, ran to the market. "A monk has been killed! A monk has been killed!" he cried. As he ran back, a mob followed and the riots began. Muslim homes and shops went up in flames.
Soe Thein identified the attackers by name and said he saw several in the village days after the monk was murdered. Police declined to say whether they were among 13 people arrested and under investigation related to the Meikhtila violence.
"WE JUST WANT THE MUSLIMS"
That evening, flames devoured much of Mingalarzay Yone, a mostly Muslim ward in east Meikhtila. The fire razed a mosque, an orphanage and several homes. Hundreds fled. Some hid in Buddhist friends' houses, witnesses said. About 100 packed into the thatched wooden home of Maung Maung, a Muslim elder.
As the mob swelled in size, Win Htein, a lawmaker in Suu Kyi's National League for Democracy party, tried to restrain the crowd but was held back. "Someone took my arm and said be careful or you will become a victim," he said.
About 200 police officers watched the riots in the neighbourhood before leaving around midnight, he said.
By about 4 a.m., the Muslim men inside Maung Maung's house were braced for battle, chanting in Arabic and then shouting in Burmese, "We'll wash our feet in Burman blood." (The Burmans, or Bamah, are Myanmar's ethnic majority.) Nearly a thousand Buddhists were outside.
When dawn broke, at about 6 a.m., the only police presence in the area was a detail of about 10 officers. They slowly backed away, allowing the mob to attack, said Hla Thein, 48, a neighbourhood Buddhist elder.
The Muslims fled through the side of the house, chased by men with swords, sticks, iron rods and machetes. Some were butchered in a nearby swamp, said Hla Thein, who recounted the events along with four other witnesses, both Buddhist and Muslim.
Others were cut down as they ran toward a hilltop road. "They chased them like they were hunting rabbits," said NLD lawmaker Win Htein.
Police saved 47 of the Muslims, mostly women and children, by encircling them with their shields and firing warning shots in the air, Hla Thein said. "We don't want to attack you," one monk shouted at the police, according to a policeman. "We just want the Muslims."
Ye Myint, the chief minister of Mandalay region that includes Meikhtila, told reporters later that day that the situation was "stabilizing." In fact, it was getting worse. Armed monks and Buddhist mobs terrorized the streets for the next three days, witnesses said.
They threatened Thein Zaw, a fireman trying to douse a burning mosque. "How dare you extinguish this fire," he recalls one monk shouting. "We are going to kill you." A group of about 30 monks smashed the sign hanging outside his fire station and tried to block his truck. He drove through a hail of stones, one striking below his eye, and crashed, he said, showing his wound.
"A monk with a knife at one point swung at me," said Kyaw Ye Aung, a junior firefighter who, like Thein Zaw, is Buddhist.
Three days later, on the hill where Muslim bodies were burned, this reporter found the remains of a mix of adults and children: pieces of human skull, vertebrae and other bones, and a singed child's backpack.
Nearby, municipal trucks dumped bodies in a field next to a crematorium in Meikhtila's outskirts. They were burned with old tires.
SUMBER:
http://uk.reuters.com/article/2013/0...9370AQ20130408
RINGKASAN:
pemilik toko emas bengali-muslim (lebih dikenal rohingya) yg mencoba menipu penjual emas buddhis suami istri dan 2 anaknya..si muslim pemilik toko menampar penjual emas..saat penjual buddhis itu minta tolong..eh malah dipukuli kayu dan diteriaki rampok dan 1 keluarga itu (suami istri dan 2 anak) dipukuli rame2 oleh para muslim sekitarnya..
Massa kemudian marah dan menghancurkan toko emas itu dan beberapa rumah lain.
Kemudian 4 Muslim membunuh biksu
Kemudian kerusuhan deh
GOLD HAIR CLIP
The spark was simple enough.
Aye Aye Naing, a 45-year-old Buddhist woman, wanted to make an offering of food to local monks. But she needed money, she recalled, sitting in her home in Pyon Kout village. At about 9 a.m. on March 20, a day before the massacre, she brought a gold hair clip to town. She had it appraised at 140,000 kyat ($160). With her husband and sister, she entered New Waint Sein, a Muslim-owned gold shop, which offered her 108,000 kyat. She wanted at least 110,000.
Shop workers studied the gold, but the clip came back damaged, she said. The shop owner, a young woman in her 20s, now offered just 50,000. The stout mother of five protested, calling the owner unreasonable. The owner slapped her, witnesses said. Aye Aye Naing's husband shouted and was pulled outside, held down and beaten by three of the store's staff, according to the couple and two witnesses.
Onlookers gathered. Police arrived, detaining Aye Aye Naing and the owner. The mostly Buddhist mob turned violent, hurling stones, shouting anti-Muslim slurs and breaking down the shop's doors, according to several witnesses. No one was killed or injured, but the Muslim-owned building housing the gold shop and several others were nearly destroyed.
"This shop has a bad reputation in the neighbourhood," said Khin San, who says she watched the violence from her general store across the street. "They don't let people park their cars in front. They are quarrelsome. They have some hatred from the crowd."
That hatred had been further sbaik by a leaflet signed by a group calling itself "Buddhists who feel helpless" and handed out a few weeks before. It suggested Muslims in Meikhtila were conspiring against Buddhists, assisted by money from Saudi Arabia, and holding shady meetings in mosques. It was addressed to the area's monks.
Tensions escalated. By about 5:30 p.m., four Muslim men were waiting at an intersection. As a monk passed on the back of a motorbike, they attacked. One hit the driver with a sword, causing him to crash, witnesses said. A second blow sliced the back of the monk's head. One of the men doused him in fuel and set him on fire, said Soe Thein, a mechanic who saw the attack. The monk died in hospital.
Soe Thein, a Buddhist, ran to the market. "A monk has been killed! A monk has been killed!" he cried. As he ran back, a mob followed and the riots began. Muslim homes and shops went up in flames.
Soe Thein identified the attackers by name and said he saw several in the village days after the monk was murdered. Police declined to say whether they were among 13 people arrested and under investigation related to the Meikhtila violence.
"WE JUST WANT THE MUSLIMS"
That evening, flames devoured much of Mingalarzay Yone, a mostly Muslim ward in east Meikhtila. The fire razed a mosque, an orphanage and several homes. Hundreds fled. Some hid in Buddhist friends' houses, witnesses said. About 100 packed into the thatched wooden home of Maung Maung, a Muslim elder.
As the mob swelled in size, Win Htein, a lawmaker in Suu Kyi's National League for Democracy party, tried to restrain the crowd but was held back. "Someone took my arm and said be careful or you will become a victim," he said.
About 200 police officers watched the riots in the neighbourhood before leaving around midnight, he said.
By about 4 a.m., the Muslim men inside Maung Maung's house were braced for battle, chanting in Arabic and then shouting in Burmese, "We'll wash our feet in Burman blood." (The Burmans, or Bamah, are Myanmar's ethnic majority.) Nearly a thousand Buddhists were outside.
When dawn broke, at about 6 a.m., the only police presence in the area was a detail of about 10 officers. They slowly backed away, allowing the mob to attack, said Hla Thein, 48, a neighbourhood Buddhist elder.
The Muslims fled through the side of the house, chased by men with swords, sticks, iron rods and machetes. Some were butchered in a nearby swamp, said Hla Thein, who recounted the events along with four other witnesses, both Buddhist and Muslim.
Others were cut down as they ran toward a hilltop road. "They chased them like they were hunting rabbits," said NLD lawmaker Win Htein.
Police saved 47 of the Muslims, mostly women and children, by encircling them with their shields and firing warning shots in the air, Hla Thein said. "We don't want to attack you," one monk shouted at the police, according to a policeman. "We just want the Muslims."
Ye Myint, the chief minister of Mandalay region that includes Meikhtila, told reporters later that day that the situation was "stabilizing." In fact, it was getting worse. Armed monks and Buddhist mobs terrorized the streets for the next three days, witnesses said.
They threatened Thein Zaw, a fireman trying to douse a burning mosque. "How dare you extinguish this fire," he recalls one monk shouting. "We are going to kill you." A group of about 30 monks smashed the sign hanging outside his fire station and tried to block his truck. He drove through a hail of stones, one striking below his eye, and crashed, he said, showing his wound.
"A monk with a knife at one point swung at me," said Kyaw Ye Aung, a junior firefighter who, like Thein Zaw, is Buddhist.
Three days later, on the hill where Muslim bodies were burned, this reporter found the remains of a mix of adults and children: pieces of human skull, vertebrae and other bones, and a singed child's backpack.
Nearby, municipal trucks dumped bodies in a field next to a crematorium in Meikhtila's outskirts. They were burned with old tires.
SUMBER:
http://uk.reuters.com/article/2013/0...9370AQ20130408
RINGKASAN:
pemilik toko emas bengali-muslim (lebih dikenal rohingya) yg mencoba menipu penjual emas buddhis suami istri dan 2 anaknya..si muslim pemilik toko menampar penjual emas..saat penjual buddhis itu minta tolong..eh malah dipukuli kayu dan diteriaki rampok dan 1 keluarga itu (suami istri dan 2 anak) dipukuli rame2 oleh para muslim sekitarnya..
Massa kemudian marah dan menghancurkan toko emas itu dan beberapa rumah lain.
Kemudian 4 Muslim membunuh biksu
Kemudian kerusuhan deh
0