- Beranda
- Berita Luar Negeri
Semua tentang Kerusuhan Myanmar 2013
...
TS
xenocross
Semua tentang Kerusuhan Myanmar 2013
Thread ini akan mengumpulkan semua berita BERIMBANG yang memberikan fakta dan kejadian aktual tentang kerusuhan di myanmar yang "katanya" konflik antara Buddha dan Islam. Benarkah?
Silahkan dibaca berita aslinya, karena berita yg beredar di Indonesia sudah DIPOTONG, DIEDIT sedemikian rupa sehingga menyalahkan satu pihak saja. Padahal kalau dibaca semuanya, jelas yang salah ada DUA pihak, yang terprovokasi ada DUA pihak, bukan satu saja!
Tolong jangan terprovokasi dan terhasut, oleh berita2 gak benar
1. Kejadian di negeri orang kok diurusin? Kalau mau membalas pergi aja ke myanmar
2. Jangan jangan ini upaya adu domba. Apalagi bisa dijadikan isu pengalihan bikin kerusuhan di indonesia
3. Dicari di ajaran Buddha gak ada yg mengajarkan kekerasan, jadi itu ulah OKNUM. Trus kok ada Muslim yang ngomong mau membalas ke Buddhis Indonesia yang gak tahu apa-apa? Gak salah?
4. Kalau ngomong soal pembantaian blahblahblah, hati hati jangan terpancing emosi karena banyak foto palsu beredar sejak tahun lalu, kemungkinan untuk adu domba FOTO2 HOAX Rohingnya
Dan pelajarannya jelas :
Kebencian tidak akan pernah berakhir
apabila dibalas dengan kebencian.
Kebencian baru akan berakhir
bila dibalas dengan tidak membenci.
Inilah satu hukum abadi
(Dhammapada I, 5) (BUDDHA)
============================================
1. Bukan karena hanya mangkok Biksu pecah (di post bawah)
2. Bukan dibakar tapi kecelakaan kebakaran? versi bahasa indonesia berita yg sama sumber lain
3. Masjid dibakar karena Biksu dibunuh
4. Asal mulanya karena ada toko muslim menipu Buddhis versi bhs indonesia
5. Gerakan 969 sebagai reaksi dari gerakan 786
----------------------------------------------------------------------------------------
Ringkasan semua:
- Awalnya sudah ada ketidaksukaan antar 2 kelompok Buddhis dan Muslim-bengali di Myanmar, yang akarnya kompleks.
- Toko emas muslim mencoba menipu customer buddhis, dan memukuli customer buddhis ini
- Massa marah dan membakar toko muslim. Setelah polisi dan bhiksu datang, massa ditenangkan
- Sorenya hari yang sama setelah kejadian toko emas, satu orang Bhiksu yang lewat dibunuh beberapa pemuda muslim sebagai balasan
- Massa yang mendengar langsung ke TKP, menemukan mayat Bhiksu itu, lalu balik menyerang beberapa pemuda muslim ini, yang lari ke masjid. Masjid pun dibakar
- Muslim lain yang mendengar masjid dibakar lalu ikut angkat senjata
- Buddhis lain mendengar bhiksu dibunuh ikut angkat senjata
- Di hari lain yang gak ada hubungannya, satu masjid kebakaran karena kelalaian listrik. Lalu disebarkan berita bahwa masjid itu dibakar
- Bentrokan antara massa Buddhis dan Muslim meluas. Beberapa Bhiksu yang "melenceng dari ajaran" berkampanye memprovokasi massa Buddhis
- Muslim yang minoritas kalah jumlah dengan Buddhis. Jadi sepertinya seakan-akan pembantaian muslim. Padahal itu konflik komunal. Ya apes aja minoritas kalah jumlah.
===============================================
Ringkasan kronologis Kerusuhan Oak-Kan 30 April 2013.
Pagi hari,
Sepeda yang dikendarai wanita muslim, Win Win Sein (a) Shamila menabrak seorang bocah berusia 11 tahun (calon biksu, samanera) yang tengah melakukan rutinitas mengumpulkan makanan, tabrakan itu mengakibatkan mangkok sang samanera jatuh dan pecah.
Samanera itu telah meminta dengan cara yang sopan untuk mengganti mangkoknya namun perempuan ini menolak dan melakukan penghinaan dengan berteriak bahwa mangkok pindapata itu tidak sebanding dengan sandalnya.
Orang-orang mendengar hinaan tersebut dan menyebarlah gosip dengan cepat ke seluruh penjuru kota yang menyebabkan 200an buddhis berkumpul di toko kepunyaan perempuan itu.
Para perusuh merusak 20 toko muslim disekitar mesjid sebelum polisi datang dan menenangkan keadaan. Polisi dilaporkan melepaskan tembakan ke kerumunan perusuh.
Laporan dari kepolisian:
Jam 09.00,
U Hlaing Tin (62 tahun) pengacara biara Ah-lan-taing mengajukan aduan pidana di kantor polisi Taik-Kyee. Ia melaporkan bahwa Ashin Ponnya (11 tahun), calon biksu Biara Ah-lan-daing, pada pagi hari tengah melakukan rutinitas pengumpulan makanan di sepanjang jalan Pagoda sebelah selatan Oak-kan Bazaar. Ia di tabrak oleh sepeda yang di kendarai Win Win Sein (a) Shamila dan pada kecelakaan itu menyebabkan mangkok makanannya jatuh dan pecah
[note:
tidak diceritakan apakah ashin ponnya mengalami luka atau tidak]
Dasar tuduhan yang dilaporkan adalah menolak mengganti rugi dan melakukan penghinaan. Polisi Taik-Kyee kemudian membuka kasus pidana (Pa) 112/2013 per Crime Act 295 melawan Win Win Sein.
[Note:
menurut NST.com: Win Win Sein dan 1 orang perempuan melakukan ini dan dikenakan pasal penodaan agama, [url]http://www.nst.com.my/latest/muslim-faces-blasphemy-rap-after-myanmar-unrest-police-1.269816][/url]
Sekitar jam 13:15,
hampir 200 buddhis yang tidak puas, tiba di Masjid Bazaar di Anaw-ra-hta Ward dan melempari mesjid dengan batu bata. kaca panel jendela depan rusak dan dua kotak meter listrik rusak namun tidak ada yang mengalami luka-luka ini adalah laporan komandan Polisi Taik-Kyee yang tiba di tempat dan mencegah kerusuhan lebih lanjut.
Sekitar 14:25,
Sekelompok 200an orang melemparkan barang dan furniture dari sekitar 25 toko dan kemudian menghancurkan toko-toko.
Antara 14:40 - 14:45 Polisi 4x melepaskan tembakan untuk membubarkan kerumuman. Situasi kembali normal.
Pukul 15.00,
Tambahan pasukan kepolisian tiba di Oak-kan, dipimpin Komandan Kepolisian divisi Rangoon dan distrik Utara dan mengakhiri kerusuhan pada jam 15:10 hari itu.
Pukul 15:45,
2 orang dengan luka tembak ditemukan di bangsal beras Min-ye-kyaw-zwar luar Oak-kan kota dan dikirim ke Rumah Sakit Oak-kan.
8 orang lebih dengan luka tembak bersama 10 orang yang terluka oleh polisi, di tangkap dan dikenakan dugaan keterlibatan dalam tindak kerusuhan
Menurut Inspektur Polisi Myint Maung kepala polisi Oak-kan:
Lebih dari 100 polisi menggerebek Desa Pa-ni-bin dekat Oak-kan pada jam 03:30, tanggal 1 Mei, menangkap 15 buddhis etnis burma yang diduga terlibat kerusuhan tanggal 30 April. Bersama mereka ditemukan 13 Jingalee (ketapel buatan ketapel dengan peluru paku), satu pedang, dan dua ketapel. 9 dari 15 yg ditangkap sedang diinterogasi di Kantor Polisi Mingalodon dan 6 berada di Kantor Polisi Insein di Rangoon.
1 orang Perusuh etnis burma buddhis, yaitu Zaw Zaw Naing tewas akibat luka tembak pada pukul 01:30, tanggal 1 Mei.
Kerusakan material di kerusuhan itu menurut polisi Oak-kan: masjid kota, 81 rumah dan 50 toko muslim Oak-kan hancur dan keadaan telah terkendali.
---
Sumber:
1. http://hlaoo1980.blogspot.com/2013/0...destroyed.html
2. http://www.nst.com.my/latest/muslim-...olice-1.269816
3. http://sheikyermami.com/2013/05/01/a...iot-in-burma/,
4. http://www.thehindu.com/news/interna...cle4670666.ece
5. [url]http://www.channelstv.com/home/2013/05/01/sectarian-violence-raises-tension-in-myanmar/][/url]
6. http://www.elevenmyanmar.com/nationa...aves-9-injured
---
http://www.nst.com.my/latest/muslim-...olice-1.269816
www.nst.com.my
Silahkan dibaca berita aslinya, karena berita yg beredar di Indonesia sudah DIPOTONG, DIEDIT sedemikian rupa sehingga menyalahkan satu pihak saja. Padahal kalau dibaca semuanya, jelas yang salah ada DUA pihak, yang terprovokasi ada DUA pihak, bukan satu saja!
Tolong jangan terprovokasi dan terhasut, oleh berita2 gak benar
1. Kejadian di negeri orang kok diurusin? Kalau mau membalas pergi aja ke myanmar
2. Jangan jangan ini upaya adu domba. Apalagi bisa dijadikan isu pengalihan bikin kerusuhan di indonesia
3. Dicari di ajaran Buddha gak ada yg mengajarkan kekerasan, jadi itu ulah OKNUM. Trus kok ada Muslim yang ngomong mau membalas ke Buddhis Indonesia yang gak tahu apa-apa? Gak salah?
4. Kalau ngomong soal pembantaian blahblahblah, hati hati jangan terpancing emosi karena banyak foto palsu beredar sejak tahun lalu, kemungkinan untuk adu domba FOTO2 HOAX Rohingnya
Dan pelajarannya jelas :
Kebencian tidak akan pernah berakhir
apabila dibalas dengan kebencian.
Kebencian baru akan berakhir
bila dibalas dengan tidak membenci.
Inilah satu hukum abadi
(Dhammapada I, 5) (BUDDHA)
============================================
1. Bukan karena hanya mangkok Biksu pecah (di post bawah)
2. Bukan dibakar tapi kecelakaan kebakaran? versi bahasa indonesia berita yg sama sumber lain
3. Masjid dibakar karena Biksu dibunuh
4. Asal mulanya karena ada toko muslim menipu Buddhis versi bhs indonesia
5. Gerakan 969 sebagai reaksi dari gerakan 786
----------------------------------------------------------------------------------------
Ringkasan semua:
- Awalnya sudah ada ketidaksukaan antar 2 kelompok Buddhis dan Muslim-bengali di Myanmar, yang akarnya kompleks.
- Toko emas muslim mencoba menipu customer buddhis, dan memukuli customer buddhis ini
- Massa marah dan membakar toko muslim. Setelah polisi dan bhiksu datang, massa ditenangkan
- Sorenya hari yang sama setelah kejadian toko emas, satu orang Bhiksu yang lewat dibunuh beberapa pemuda muslim sebagai balasan
- Massa yang mendengar langsung ke TKP, menemukan mayat Bhiksu itu, lalu balik menyerang beberapa pemuda muslim ini, yang lari ke masjid. Masjid pun dibakar
- Muslim lain yang mendengar masjid dibakar lalu ikut angkat senjata
- Buddhis lain mendengar bhiksu dibunuh ikut angkat senjata
- Di hari lain yang gak ada hubungannya, satu masjid kebakaran karena kelalaian listrik. Lalu disebarkan berita bahwa masjid itu dibakar
- Bentrokan antara massa Buddhis dan Muslim meluas. Beberapa Bhiksu yang "melenceng dari ajaran" berkampanye memprovokasi massa Buddhis
- Muslim yang minoritas kalah jumlah dengan Buddhis. Jadi sepertinya seakan-akan pembantaian muslim. Padahal itu konflik komunal. Ya apes aja minoritas kalah jumlah.
===============================================
Ringkasan kronologis Kerusuhan Oak-Kan 30 April 2013.
Pagi hari,
Sepeda yang dikendarai wanita muslim, Win Win Sein (a) Shamila menabrak seorang bocah berusia 11 tahun (calon biksu, samanera) yang tengah melakukan rutinitas mengumpulkan makanan, tabrakan itu mengakibatkan mangkok sang samanera jatuh dan pecah.
Samanera itu telah meminta dengan cara yang sopan untuk mengganti mangkoknya namun perempuan ini menolak dan melakukan penghinaan dengan berteriak bahwa mangkok pindapata itu tidak sebanding dengan sandalnya.
Orang-orang mendengar hinaan tersebut dan menyebarlah gosip dengan cepat ke seluruh penjuru kota yang menyebabkan 200an buddhis berkumpul di toko kepunyaan perempuan itu.
Para perusuh merusak 20 toko muslim disekitar mesjid sebelum polisi datang dan menenangkan keadaan. Polisi dilaporkan melepaskan tembakan ke kerumunan perusuh.
Laporan dari kepolisian:
Jam 09.00,
U Hlaing Tin (62 tahun) pengacara biara Ah-lan-taing mengajukan aduan pidana di kantor polisi Taik-Kyee. Ia melaporkan bahwa Ashin Ponnya (11 tahun), calon biksu Biara Ah-lan-daing, pada pagi hari tengah melakukan rutinitas pengumpulan makanan di sepanjang jalan Pagoda sebelah selatan Oak-kan Bazaar. Ia di tabrak oleh sepeda yang di kendarai Win Win Sein (a) Shamila dan pada kecelakaan itu menyebabkan mangkok makanannya jatuh dan pecah
[note:
tidak diceritakan apakah ashin ponnya mengalami luka atau tidak]
Dasar tuduhan yang dilaporkan adalah menolak mengganti rugi dan melakukan penghinaan. Polisi Taik-Kyee kemudian membuka kasus pidana (Pa) 112/2013 per Crime Act 295 melawan Win Win Sein.
[Note:
menurut NST.com: Win Win Sein dan 1 orang perempuan melakukan ini dan dikenakan pasal penodaan agama, [url]http://www.nst.com.my/latest/muslim-faces-blasphemy-rap-after-myanmar-unrest-police-1.269816][/url]
Sekitar jam 13:15,
hampir 200 buddhis yang tidak puas, tiba di Masjid Bazaar di Anaw-ra-hta Ward dan melempari mesjid dengan batu bata. kaca panel jendela depan rusak dan dua kotak meter listrik rusak namun tidak ada yang mengalami luka-luka ini adalah laporan komandan Polisi Taik-Kyee yang tiba di tempat dan mencegah kerusuhan lebih lanjut.
Sekitar 14:25,
Sekelompok 200an orang melemparkan barang dan furniture dari sekitar 25 toko dan kemudian menghancurkan toko-toko.
Antara 14:40 - 14:45 Polisi 4x melepaskan tembakan untuk membubarkan kerumuman. Situasi kembali normal.
Pukul 15.00,
Tambahan pasukan kepolisian tiba di Oak-kan, dipimpin Komandan Kepolisian divisi Rangoon dan distrik Utara dan mengakhiri kerusuhan pada jam 15:10 hari itu.
Pukul 15:45,
2 orang dengan luka tembak ditemukan di bangsal beras Min-ye-kyaw-zwar luar Oak-kan kota dan dikirim ke Rumah Sakit Oak-kan.
8 orang lebih dengan luka tembak bersama 10 orang yang terluka oleh polisi, di tangkap dan dikenakan dugaan keterlibatan dalam tindak kerusuhan
Menurut Inspektur Polisi Myint Maung kepala polisi Oak-kan:
Lebih dari 100 polisi menggerebek Desa Pa-ni-bin dekat Oak-kan pada jam 03:30, tanggal 1 Mei, menangkap 15 buddhis etnis burma yang diduga terlibat kerusuhan tanggal 30 April. Bersama mereka ditemukan 13 Jingalee (ketapel buatan ketapel dengan peluru paku), satu pedang, dan dua ketapel. 9 dari 15 yg ditangkap sedang diinterogasi di Kantor Polisi Mingalodon dan 6 berada di Kantor Polisi Insein di Rangoon.
1 orang Perusuh etnis burma buddhis, yaitu Zaw Zaw Naing tewas akibat luka tembak pada pukul 01:30, tanggal 1 Mei.
Kerusakan material di kerusuhan itu menurut polisi Oak-kan: masjid kota, 81 rumah dan 50 toko muslim Oak-kan hancur dan keadaan telah terkendali.
---
Sumber:
1. http://hlaoo1980.blogspot.com/2013/0...destroyed.html
2. http://www.nst.com.my/latest/muslim-...olice-1.269816
3. http://sheikyermami.com/2013/05/01/a...iot-in-burma/,
4. http://www.thehindu.com/news/interna...cle4670666.ece
5. [url]http://www.channelstv.com/home/2013/05/01/sectarian-violence-raises-tension-in-myanmar/][/url]
6. http://www.elevenmyanmar.com/nationa...aves-9-injured
---
http://www.nst.com.my/latest/muslim-...olice-1.269816
www.nst.com.my
Diubah oleh xenocross 04-05-2013 21:01
0
20.7K
124
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
82.1KThread•20.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
xenocross
#7
Burmese-Buddhist monk Shin Thawbita who was brutally assaulted and then burned alive by the Muslim mob in Meikhtilar on March 20 was a devout teacher-monk from Mogaung Monastery in Hanzar Village of Tharzi Twonship.
He’d been a monk at his friend U Pannisa’s monastery for over two years and on that fateful day of 20 March 2013 at about 4:30 in the afternoon he and a friend came to Meikhtilar to buy some books on Buddhism for his class of 200 students. Neither knew that a race-riot was brewing between Muslims and Buddhists in Meikhtilar that day.
When they reached Meikhtilar, they saw a large mob of angry Muslim Kalars armed with swords and iron rods gathering on both sides of the main road. “Doesn’t look too good, let’s turn back,” said fearful Tin Maung Win to U Thawbita. But U Thawbita wasn’t so concerned. “Maybe they’re fighting each other, don’t worry you’re with me, just drive on,” said U Thawbita who was very confident that even the rioting Muslims wouldn’t harm a Buddhist monk. Wrong!
The Muslim Kalar swinged and hit violently U Thawbita from behind. By then the motorbike was hardly moving forward as the Muslim crowd thirsting for the wounded Buddhist-monk’s blood was all over them.
“We’re from Tharzi, we’re from Hanzar, we come here to buy books, please, please, we don’t know what’s going on here, please,” pleaded and begged desperately for mercy both U Thawbita and Tin Maung Win but the Meikhtilar-Muslims were determined to kill the first Buddhist monk they ran into.
A steel ball from a Muslim-slingshot hit the left side of U Thawbita’s shaved head. The Muslims were also beating up U Thawbita’s back with sticks and iron rods. The “bone,bone,bone” noises from the back beating was unbearable for Tin Maung Win at the front. He then saw a sword swing just above the bare head of the monk behind. U Thawbita then fell limp to the ground. The monk’s head just above the ears was deeply hacked and blood was flowing like water from the deep wound.
When Tin Maung Win turned he saw the same Muslim man who first struck the monk with his huge farming-fork was running towards them with a big 5-gallon yellow-jerrican on his shoulder and shouting loud, “Burn him, burn him, burn the bloody monk.”
According to the eyewitnesses while Tin Maung Win was fleeing the Muslim mob, Muslim Kalar Myo Win (A shoe-shop owner) and his wife Ma Yu and another Muslim Kalar Annawar were cutting U Thawbita with knifes.
Soon Another Muslim kalar brought the petrol can and he pulled the blood-stained saffron-robe off the dying monk. The Muslims who wanted to inflict maximum possible pain on the Buddhist monk then turned him flat on his bare back and slowly poured petrol and some acid on his belly and lower body.
Instead of just throwing petrol and acid from the cans, the Muslim men, women, and even the children were using small cups to slowly pour acid and petrol all over his body as if they were committing a communal torture on the Buddhist monk.
When the Burmese-Buddhists reached the dying monk his almost naked and burning body was away from his robe lying in the pool of his blood on the hot-tarred road. Meanwhile the angry Buddhist crowd had followed some fleeing Muslims into the nearby mosque and burned the huge Saudi-built mosque down with the Muslims inside.
By about 9 in the night the Meikhtilar Hospital was in total chaos as ambulances were constantly bringing in so many wounded. Most were Buddhist-Burmese with severe knife-wounds and only few were not seriously wounded.
U Thawbita passed away on exactly 9:45 that night of 20 March 2013. Blood from his head wound was still flowing as his body was being moved onto a concrete slab in the hospital morgue. The dead monk was completely naked. The morgue staff was then sewing the gaping head wound back. When they looked close-up they sadly noticed the monk’s genitals had been completely chopped off by the Muslims.
SUMBER
http://shwenaingan.blogspot.com/2013...post_1268.html
http://hlaoo1980.blogspot.com/2013/0...y-muslims.html
RINGKASAN
Pagi hari terjadi bentrok Komunitas Buddhis dan Islam. Lalu kemudian, seorang biksu apes yg baru dateng dari desa..membonceng motor..berhenti di area hunian yg banyak muslimnya..Biksu ini emang gak tau apa2 ttg kejadian paginya itu..Tiba-tiba saja Ia DIGEBUKI HABIS-HABISAN oleh 4 orang muslim..saat itu, abis digebukin..masih belum mati..Kemudian baru dilakukan aksi lanjutan..Jubahnya di lepas paksa..dalam keadaan luka2 parah abis digebukin..diseret MASUK KE MESJID (nama mesjid itu: Myo-Ma) Ia di lumuri zat asam dan bensin..kemudian dalam keadaan luka2 abis digebukin..ia dibakar hidup2 di mesjid yg suci itu..
Hasilnya bhikkhu apes itu mati karena luka bakar..dan mesjid Myo-ma itu di hancurkan..oleh Buddhis yang marah dengan kejadian itu
![kaskus-image]()
Tubuh Biksu yang dibunuh
![kaskus-image]()
Masjid yang dibakar karena massa Buddhis marah dengan pembunuhan itu
He’d been a monk at his friend U Pannisa’s monastery for over two years and on that fateful day of 20 March 2013 at about 4:30 in the afternoon he and a friend came to Meikhtilar to buy some books on Buddhism for his class of 200 students. Neither knew that a race-riot was brewing between Muslims and Buddhists in Meikhtilar that day.
When they reached Meikhtilar, they saw a large mob of angry Muslim Kalars armed with swords and iron rods gathering on both sides of the main road. “Doesn’t look too good, let’s turn back,” said fearful Tin Maung Win to U Thawbita. But U Thawbita wasn’t so concerned. “Maybe they’re fighting each other, don’t worry you’re with me, just drive on,” said U Thawbita who was very confident that even the rioting Muslims wouldn’t harm a Buddhist monk. Wrong!
The Muslim Kalar swinged and hit violently U Thawbita from behind. By then the motorbike was hardly moving forward as the Muslim crowd thirsting for the wounded Buddhist-monk’s blood was all over them.
“We’re from Tharzi, we’re from Hanzar, we come here to buy books, please, please, we don’t know what’s going on here, please,” pleaded and begged desperately for mercy both U Thawbita and Tin Maung Win but the Meikhtilar-Muslims were determined to kill the first Buddhist monk they ran into.
A steel ball from a Muslim-slingshot hit the left side of U Thawbita’s shaved head. The Muslims were also beating up U Thawbita’s back with sticks and iron rods. The “bone,bone,bone” noises from the back beating was unbearable for Tin Maung Win at the front. He then saw a sword swing just above the bare head of the monk behind. U Thawbita then fell limp to the ground. The monk’s head just above the ears was deeply hacked and blood was flowing like water from the deep wound.
When Tin Maung Win turned he saw the same Muslim man who first struck the monk with his huge farming-fork was running towards them with a big 5-gallon yellow-jerrican on his shoulder and shouting loud, “Burn him, burn him, burn the bloody monk.”
According to the eyewitnesses while Tin Maung Win was fleeing the Muslim mob, Muslim Kalar Myo Win (A shoe-shop owner) and his wife Ma Yu and another Muslim Kalar Annawar were cutting U Thawbita with knifes.
Soon Another Muslim kalar brought the petrol can and he pulled the blood-stained saffron-robe off the dying monk. The Muslims who wanted to inflict maximum possible pain on the Buddhist monk then turned him flat on his bare back and slowly poured petrol and some acid on his belly and lower body.
Instead of just throwing petrol and acid from the cans, the Muslim men, women, and even the children were using small cups to slowly pour acid and petrol all over his body as if they were committing a communal torture on the Buddhist monk.
When the Burmese-Buddhists reached the dying monk his almost naked and burning body was away from his robe lying in the pool of his blood on the hot-tarred road. Meanwhile the angry Buddhist crowd had followed some fleeing Muslims into the nearby mosque and burned the huge Saudi-built mosque down with the Muslims inside.
By about 9 in the night the Meikhtilar Hospital was in total chaos as ambulances were constantly bringing in so many wounded. Most were Buddhist-Burmese with severe knife-wounds and only few were not seriously wounded.
U Thawbita passed away on exactly 9:45 that night of 20 March 2013. Blood from his head wound was still flowing as his body was being moved onto a concrete slab in the hospital morgue. The dead monk was completely naked. The morgue staff was then sewing the gaping head wound back. When they looked close-up they sadly noticed the monk’s genitals had been completely chopped off by the Muslims.
SUMBER
http://shwenaingan.blogspot.com/2013...post_1268.html
http://hlaoo1980.blogspot.com/2013/0...y-muslims.html
RINGKASAN
Pagi hari terjadi bentrok Komunitas Buddhis dan Islam. Lalu kemudian, seorang biksu apes yg baru dateng dari desa..membonceng motor..berhenti di area hunian yg banyak muslimnya..Biksu ini emang gak tau apa2 ttg kejadian paginya itu..Tiba-tiba saja Ia DIGEBUKI HABIS-HABISAN oleh 4 orang muslim..saat itu, abis digebukin..masih belum mati..Kemudian baru dilakukan aksi lanjutan..Jubahnya di lepas paksa..dalam keadaan luka2 parah abis digebukin..diseret MASUK KE MESJID (nama mesjid itu: Myo-Ma) Ia di lumuri zat asam dan bensin..kemudian dalam keadaan luka2 abis digebukin..ia dibakar hidup2 di mesjid yg suci itu..
Hasilnya bhikkhu apes itu mati karena luka bakar..dan mesjid Myo-ma itu di hancurkan..oleh Buddhis yang marah dengan kejadian itu

Tubuh Biksu yang dibunuh

Masjid yang dibakar karena massa Buddhis marah dengan pembunuhan itu
0