TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7.2K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#72
Oh Dear...
Spoiler for Oh Dear...:
“Sama seperti sebelumnya, eh?”
Aku mengalihkan pandanganku yang terfokus pada TV, kearah seorang gadis berambut hitam yang sedang duduk menemani diriku. Memeluk bantalan sofa di perutnya, disertai sebuah senyum masam pada wajahnya.
“Tentang apa?”
Helaan nafas yang terdengar kecewa dia keluarkan, sebelum menjawab.
“Apa yang kita lakukan, kupikir ini sama seperti yang sudah kita lalui. Tidak ada yang berubah dengan rutinitas kita.”
“Hmm? Tidak biasanya kau mengeluh.”
“Memangnya tidak boleh? Habis aku bosan hanya berdiam diri saja di rumah bersamamu.”
Sebetulnya sih aku tidak merasa bosan atau semacamnya, karena hanya berada disampingnya kurasa itu sudah cukup, tapi mendengar omongannya... Dia ada benarnya juga.
Sayangnya ketika aku mengecek dompet, kurasa bukanlah hal yang bijak menggunakan keperluan sehari – hari untuk menonton di bioskop atau semacamnya.
Ahh... Semua ini malah semakin membuat diriku bingung.
Namun pada akhirnya sesuatu kembali terbesit dipikiranku, sesuatu yang cukup terkenal saat pertama aku masuk SMA. Sebuah permainan yang apapun pilihannya pasti selalu memojokkan.
“Elza?”
Elza menengok, sambil menjawab menggunakan suara yang tidak bernyawa.
“Apa lagi?”
“Bagaimana bila kita bermain jujur-berani?”
Sebuah senyum licik langsung terbentuk di wajahnya.
“Kupikir itu akan bekerja.”
Mendengar responnya aku mengulurkan salah satu tangan, dan dia menatap kebingungan pada sesuatu yang kulakukan.
“Huh? Bukankah kita ingin bermain jujur-berani?”
“Ayo suit dulu! Yang kalah yang duluan melakukan.”
Elza mengangguk pelan, sambil tersenyum tipis.
“Oh iya, ya.”
Pertarungan kecil tersebut kami mulai, dengan hasil... Kemenangan jatuh di tangannya. Seperti memang salah aku memilih ide ini, dan sebuah senyum licik kini terpasang di wajahnya.
“Aku pilih... Berani.”
Dia lalu memutar matanya, sambil meletakkan telunjuk kanan di mulut mungilnya.
“Hmm... Bagaimana jika kau berdiam diri selama 3 menit di toilet?”
Hmm, topik paling...
“Dengan lampu dimatikan tentunya.”
BURUK.
Keringat dingin seketika mengucur dari dahiku, mulutku segera mengeluarkan kalimat yang bisa dibilang sebuah mekanisme-pertahanan-diri.
“E-Elza? B-bu-bukankah kau ta-t-tahu? Kalau aku...”
Diapun langsung cemberut.
“Kalau begitu, kenapa kau mengusulkan untuk bermain jujur-berani?”
“B-bisakah a-aku mengulangi p-p-pilihan?”
Dia berpikir sebentar.
“Ya sudah, kalau begitu... Coba ceritakan pengalaman paling memalukan yang dimiliki olehmu.”
Pengalaman paling memalukan? Yah, sepertinya lebih mudah daripada topik pada pilihan beraninya.
“Hmm... Kal-“
Tenggorokanku mendadak berhenti mengeluarkan suara, begitu aku memikirkan topik yang dipilihnya. Bagaikan sebuah film, satu - persatu masa lalu yang ingin kulupakan kini kembali terputar di otakku. Yang parahnya, nampak sangat jelas hingga aku ingin melakukan bunuh diri.
“...”
“Zael? Kau kenapa?”
Pikiranku berputar – putar, terjebak oleh omongan diri sendiri. Kedua pilihan tersebut sama saja bunuh diri, sedangkan bila aku meninggalkan permainan, itu akan terlihat sangat konyol.
“Hey, Zael!”
Dia menggoyangkan salah satu tanganku, membuat aku yang bengong karena sibuk mengurusi dilema permainan ini kembali tersadar.
“A.. Ah? Ma-maaf, aku hanya... Sedang memikirkan hal paling memalukan.”
“Hey, jangan dipikirkan saja. Coba ungkapkan hal tersebut.”
“...”
Aku terdiam, karena perkataannya yang menusuk hati. Pada akhirnya, diiringi hati yang sangat berat, aku mengatakan rahasia yang membuat diriku selalu ingin mengulang waktu kembali.
“Jangan tertawa, OK?”
“AHAHAHAH!!”
Mendengar bagaimana dia tertawa sekarang sangat benar – benar begitu merendahkan, membuatku ingin menggali lubang kuburku sendiri sekarang.
“Jangan bilang – bilang ya, terutama Aaron.”
Suara tawanya mulai mereda, diapun mulai berbicara lagi.
“Ah... I-iya, aku j-janji deh... Ahaha! Jujur, Zael. K-kenapa kau sampai bisa seperti itu?”
“Yah, waktu itu kita masih berumur 9 tahun. Apa kau tidak tahu bagaimana polosnya anak kecil?”
“Iya sih, tapi... AHAHA!!”
Ya, aku tahu itu akan terlihat sangat konyol bagi orang dewasa. Wajahku kini bersemu merah, benar – benar merasa malu. Sampai aku teringat bahwa aku melupakan sesuatu yang penting, yang mungkin juga kesempatan untuk balas dendam.
“OK, stop. Sekarang giliranmu, kan?”
Tawanya berhenti.
“Oh iya... Aku lupa.”
Dia kembali memeluk bantal yang dilempar kedepan sofa karena tertawaannya yang bombastis, berpikir.
“Yah, karena kau memilih jujur. Aku pilih berani deh sekarang.”
Sebuah senyum lebar langsung tersimpul di wajahku, sedikit memperlihatkan gigi. Yup, kesempatan yang bagus untuk balas dendam.
“Bagaimana jika... Kau menciumku?”
Ekspresinya berubah syok mendengar pilihan yang mesti dilakukannya.
“E-eh!?”
Dalam sekejab wajahnya langsung berubah merah padam, melihat responnya, sebuah tawa langsung ingin keluar dari mulutku.
“Pfft... Reaksimu lucu juga ya?”
“Huh?”
Kini dia tampak kebingungan. Sementara akupun langsung beranjak dari kursi, menjawab sambil menepuk – nepuk pantat menggunakan kedua tangan.
“Yah, aku hanya bercanda kok. Santai saja.”
“...”
“Padahal kukira kau ingin...”
Dia membalas perkataanku setelah beberapa saat, namun terdengar bagai bisikan. Akupun menengok ke dirinya, bertanya kembali keheranan.
“Hmm? Apa kau bilang?”
“T-tidak ada apa - apa kok! Lebih baik k-kita lanjutkan saja permainannya!”
Aku tersenyum, lalu mengulurkan tangan kananku padanya yang masih duduk.
“Kalau itu yang kau mau, beranikah kau menemaniku berbelanja ke Supermarket?”
Diapun terlihat bingung lagi sesaat mendengar omonganku, namun akhirnya menggenggam telapak tanganku. Dan kamipun segera memulai perjalanan kecil untuk membeli bahan makan malam, melupakan kebosanan yang masih tersisa dalam diri kami.
Meskipun tidak sampai ke poin sesungguhnya, yah, kurasa jujur-berani bukanlah pilihan yang buruk.
Aku mengalihkan pandanganku yang terfokus pada TV, kearah seorang gadis berambut hitam yang sedang duduk menemani diriku. Memeluk bantalan sofa di perutnya, disertai sebuah senyum masam pada wajahnya.
“Tentang apa?”
Helaan nafas yang terdengar kecewa dia keluarkan, sebelum menjawab.
“Apa yang kita lakukan, kupikir ini sama seperti yang sudah kita lalui. Tidak ada yang berubah dengan rutinitas kita.”
“Hmm? Tidak biasanya kau mengeluh.”
“Memangnya tidak boleh? Habis aku bosan hanya berdiam diri saja di rumah bersamamu.”
Sebetulnya sih aku tidak merasa bosan atau semacamnya, karena hanya berada disampingnya kurasa itu sudah cukup, tapi mendengar omongannya... Dia ada benarnya juga.
Sayangnya ketika aku mengecek dompet, kurasa bukanlah hal yang bijak menggunakan keperluan sehari – hari untuk menonton di bioskop atau semacamnya.
Ahh... Semua ini malah semakin membuat diriku bingung.
Namun pada akhirnya sesuatu kembali terbesit dipikiranku, sesuatu yang cukup terkenal saat pertama aku masuk SMA. Sebuah permainan yang apapun pilihannya pasti selalu memojokkan.
“Elza?”
Elza menengok, sambil menjawab menggunakan suara yang tidak bernyawa.
“Apa lagi?”
“Bagaimana bila kita bermain jujur-berani?”
Sebuah senyum licik langsung terbentuk di wajahnya.
“Kupikir itu akan bekerja.”
Mendengar responnya aku mengulurkan salah satu tangan, dan dia menatap kebingungan pada sesuatu yang kulakukan.
“Huh? Bukankah kita ingin bermain jujur-berani?”
“Ayo suit dulu! Yang kalah yang duluan melakukan.”
Elza mengangguk pelan, sambil tersenyum tipis.
“Oh iya, ya.”
Pertarungan kecil tersebut kami mulai, dengan hasil... Kemenangan jatuh di tangannya. Seperti memang salah aku memilih ide ini, dan sebuah senyum licik kini terpasang di wajahnya.
“Aku pilih... Berani.”
Dia lalu memutar matanya, sambil meletakkan telunjuk kanan di mulut mungilnya.
“Hmm... Bagaimana jika kau berdiam diri selama 3 menit di toilet?”
Hmm, topik paling...
“Dengan lampu dimatikan tentunya.”
BURUK.
Keringat dingin seketika mengucur dari dahiku, mulutku segera mengeluarkan kalimat yang bisa dibilang sebuah mekanisme-pertahanan-diri.
“E-Elza? B-bu-bukankah kau ta-t-tahu? Kalau aku...”
Diapun langsung cemberut.
“Kalau begitu, kenapa kau mengusulkan untuk bermain jujur-berani?”
“B-bisakah a-aku mengulangi p-p-pilihan?”
Dia berpikir sebentar.
“Ya sudah, kalau begitu... Coba ceritakan pengalaman paling memalukan yang dimiliki olehmu.”
Pengalaman paling memalukan? Yah, sepertinya lebih mudah daripada topik pada pilihan beraninya.
“Hmm... Kal-“
Tenggorokanku mendadak berhenti mengeluarkan suara, begitu aku memikirkan topik yang dipilihnya. Bagaikan sebuah film, satu - persatu masa lalu yang ingin kulupakan kini kembali terputar di otakku. Yang parahnya, nampak sangat jelas hingga aku ingin melakukan bunuh diri.
“...”
“Zael? Kau kenapa?”
Pikiranku berputar – putar, terjebak oleh omongan diri sendiri. Kedua pilihan tersebut sama saja bunuh diri, sedangkan bila aku meninggalkan permainan, itu akan terlihat sangat konyol.
“Hey, Zael!”
Dia menggoyangkan salah satu tanganku, membuat aku yang bengong karena sibuk mengurusi dilema permainan ini kembali tersadar.
“A.. Ah? Ma-maaf, aku hanya... Sedang memikirkan hal paling memalukan.”
“Hey, jangan dipikirkan saja. Coba ungkapkan hal tersebut.”
“...”
Aku terdiam, karena perkataannya yang menusuk hati. Pada akhirnya, diiringi hati yang sangat berat, aku mengatakan rahasia yang membuat diriku selalu ingin mengulang waktu kembali.
“Jangan tertawa, OK?”
---
“AHAHAHAH!!”
Mendengar bagaimana dia tertawa sekarang sangat benar – benar begitu merendahkan, membuatku ingin menggali lubang kuburku sendiri sekarang.
“Jangan bilang – bilang ya, terutama Aaron.”
Suara tawanya mulai mereda, diapun mulai berbicara lagi.
“Ah... I-iya, aku j-janji deh... Ahaha! Jujur, Zael. K-kenapa kau sampai bisa seperti itu?”
“Yah, waktu itu kita masih berumur 9 tahun. Apa kau tidak tahu bagaimana polosnya anak kecil?”
“Iya sih, tapi... AHAHA!!”
Ya, aku tahu itu akan terlihat sangat konyol bagi orang dewasa. Wajahku kini bersemu merah, benar – benar merasa malu. Sampai aku teringat bahwa aku melupakan sesuatu yang penting, yang mungkin juga kesempatan untuk balas dendam.
“OK, stop. Sekarang giliranmu, kan?”
Tawanya berhenti.
“Oh iya... Aku lupa.”
Dia kembali memeluk bantal yang dilempar kedepan sofa karena tertawaannya yang bombastis, berpikir.
“Yah, karena kau memilih jujur. Aku pilih berani deh sekarang.”
Sebuah senyum lebar langsung tersimpul di wajahku, sedikit memperlihatkan gigi. Yup, kesempatan yang bagus untuk balas dendam.
“Bagaimana jika... Kau menciumku?”
Ekspresinya berubah syok mendengar pilihan yang mesti dilakukannya.
“E-eh!?”
Dalam sekejab wajahnya langsung berubah merah padam, melihat responnya, sebuah tawa langsung ingin keluar dari mulutku.
“Pfft... Reaksimu lucu juga ya?”
“Huh?”
Kini dia tampak kebingungan. Sementara akupun langsung beranjak dari kursi, menjawab sambil menepuk – nepuk pantat menggunakan kedua tangan.
“Yah, aku hanya bercanda kok. Santai saja.”
“...”
“Padahal kukira kau ingin...”
Dia membalas perkataanku setelah beberapa saat, namun terdengar bagai bisikan. Akupun menengok ke dirinya, bertanya kembali keheranan.
“Hmm? Apa kau bilang?”
“T-tidak ada apa - apa kok! Lebih baik k-kita lanjutkan saja permainannya!”
Aku tersenyum, lalu mengulurkan tangan kananku padanya yang masih duduk.
“Kalau itu yang kau mau, beranikah kau menemaniku berbelanja ke Supermarket?”
Diapun terlihat bingung lagi sesaat mendengar omonganku, namun akhirnya menggenggam telapak tanganku. Dan kamipun segera memulai perjalanan kecil untuk membeli bahan makan malam, melupakan kebosanan yang masih tersisa dalam diri kami.
Meskipun tidak sampai ke poin sesungguhnya, yah, kurasa jujur-berani bukanlah pilihan yang buruk.
Fin
Diubah oleh lacie. 15-05-2013 06:08
0
Kutip
Balas