TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•348Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#71
Beyond the Sky
Spoiler for Beyond the Sky:
“Tidak ada orang, kan?”
Sebuah pintu berbahan gabungan alumunium dan kayu kubuka sedikit, mengintip melalui sela – sela terbukanya.
“Kosong.”
Pintu bermodel geser tersebut kubuka lebar, memperlihatkan pemandangan langit yang tak berawan, hanya biru seperti samudra. Kami berdua melangkah melewati pintu itu bergiliran, menuju atap gedung sekolah yang lantainya berwarna abu – abu. Terlihat pagar kawat pengaman yang melingkari ujung gedung.
Setelah memutuskan untuk duduk pada bagian belakang. Dia kini membuka sebuah kantung yang kubawa sebelumnya, berisi dua buah kotak bekal berwarna biru muda.
Aku mengambil salah satunya, serta sebuah sendok plastik yang berada di dalam kantung tersebut. Diapun melakukan hal yang sama.
Penutup kotak bekal kubuka, memperlihatkan isinya yang tidak begitu mencolok. Hanya nasi putih yang memenuhi kotak tersebut, dilapisi oleh omelet yang dicampur dengan daun bawang serta potongan sosis.
Bukan bekal yang mewah memang, tapi kupikir ini adalah makanan yang terbaik. Meski rasanya biasa – biasa saja, kurasa hal tersebutlah yang membuat aku menganggap makanan ini lezat.
Kenapa? Mungkin... ya, karena lidahku sudah terbiasa. Kalau aku merasakan yang lebih lezat, tetap saja aku merasa lebih pas terhadap sesuatu yang dibiasakan. Terlebih, ini adalah masakan yang telah dibuat dirinya.
Aku bersandar pada dinding ruangan kecil yang berfungsi sebagai tempat tangga yang kami naiki, merasa begitu puas karena perut sudah terisi kembali.
“Enaknya...”
“Dari dulu sampai sekarang komentarmu sama terus, apa tidak ada yang lain?”
Aku menengok pada dirinya, yang juga sudah menyelesaikan makan siangnya.
“Hmm? Memangnya kenapa? Jujur, itu enak kok.”
Helaan nafas kecewa keluar dari mulutnya.
“Huft... Setidaknya kau ganti ucapanmu, jangan hanya enak saja.”
“Maksudmu? Aku harus bilang kurang atau lebih asin begitu?”
Kepalanya mengangguk pelan, dan aku mengelus dagu sebelum menjawab.
“Hmm... Aku sih tidak mendeskripsikannya secara jelas sih, tapi... Kurasa omeletnya terasa lebih asin dari biasanya.”
“Asin ya?”
“Ya, cukup asin. Memangnya kenapa lagi?”
Dia terdiam sebentar.
“Tidak... Kalau begitu, kau mau bekal apa besok?”
Oh, ternyata dia menanyai hal tersebut untuk memutuskan isi bekal besok?
“Yah, aku sih tidak mau macam – macam, tapi kalau bisa, nugget saja boleh.”
Responnya pun hanya mengangguk, mengakhiri pembicaraan. Elza merapihkan perbekalan kami, menandakan bahwa dia segera ingin pergi dari sini. Tidak ingin membuang waktu yang tergolong sulit untuk didapatkan, aku kembali berbicara.
“Eh iya, ngomong – ngomong, sekarang jam berapa?”
Dia menengok kearahku, memasang ekspresi heran.
“Eh? Bukannya kau punya Handphone?”
Aku menggaruk – garuk kepala, sambil tertawa cengengesan sekarang.
“Hehe... Yah, tadi pagi saat di gerbang aku baru teringat Handphone-ku masih di bawah bantal.”
“Dasar.”
Sebuah Handphone langsung dia keluarkan dari kantung roknya. Disertai sebuah aksesori berupa gantungan berbentuk kelinci.
“Hmm... Jam 9.47.”
Sementara dia berbicara dan terfokus pada layar Handphone, aku diam – diam membaringkan badan, menaruh kepala pada pangkuannya yang sedang duduk bersimpuh.
Menyadari apa yang sudah kulakukan, ekspresinya berubah panik.
“E-eh!? Z-Zael, sedang a-apa kau!?”
Aku menjawabnya santai.
“Apa? memangnya aku tidak boleh?”
“Bu-bukannya...”
“Santai... Tidak ada orang, kan?”
“...”
“Terserah kau sajalah.”
Wajahnya terlihat bersemu merah, sedikit malu namun tetap membiarkanku bersandar pada pangkuannya. Aku sendiri tertawa kecil melihat reaksinya, sambil menikmati sensasi empuknya bantal paha. Berbeda dengan bantal busa yang selalu kupakai saat tidur.
Tidak lama, aku menutup kedua mata, merasakan hembusan angin Fallyang kubenci, entah kenapa kini malah terasa menyejukkan.
“Tidakkah ini mengenakkan?”
Elza yang mengalihkan pandangannya, sekarang menengok kearah pangkuannya, bertanya balik atas pertanyaanku.
“Apanya?”
“Hembusan anginnya, coba saja kau rasakan.”
Dia menutup kedua mata seperti yang kulakukan sebelumnya, dan setelah beberapa saat berbicara masih menutup mata Ruby-nya.
“Kau benar... Sangat menyegarkan.”
“Terasa seperti tersiram ombak, bukan?”
“Hmm... Sepertinya iya. Tidak biasanya kau menyukai hembusan angin Fall, kukira kau membencinya.”
“...”
“Iya sih... Tapi kau merasakannya juga, kan? Betapa sejuknya angin yang berhembus sekarang.”
Sebuah senyum tipis terbentuk di wajahnya.
“Yup.”
Sayangnya, sebuah bunyi nyaring tertangkap di telingaku, sebuah bunyi dari peralatan sekolah yang menandakan habisnya waktu untuk para siswa beristirahat.
Diiringi rasa kecewa, aku terbangun dari posisi. Merasa kecewa bukan hanya karena harus menyudahi pembicaraan kecil kami, namun juga... Melepaskan sandaran pada bantal pahanya yang begitu empuk.
Sesaat sebelum aku menutup pintu dari dalam, mataku kembali melihat bagaimana birunya langit yang membentang. Membuat seluruh badanku berhenti bergerak.
“Zael? Kau sedang apa?”
Elza yang sudah menuruni beberapa anak tangga, bertanya karena aku yang terpaku pada pemandangan diluar.
“Ah? Oh ya, maaf, aku hanya mengamati langit kembali.”
Aku menggeser menutup pintu tersebut, lalu segera menyusul Elza menuruni tangga sebelum akhirnya kami berpisah di depan kelas 12-2, atau kelas tempat aku berada. Dan ketika pelajaran dimulai lagi, tiba – tiba pemikiran saat aku terpaku pada langit muncul kembali.
Mungkinkah ada tempat yang melampaui langit?
Sebuah pintu berbahan gabungan alumunium dan kayu kubuka sedikit, mengintip melalui sela – sela terbukanya.
“Kosong.”
Pintu bermodel geser tersebut kubuka lebar, memperlihatkan pemandangan langit yang tak berawan, hanya biru seperti samudra. Kami berdua melangkah melewati pintu itu bergiliran, menuju atap gedung sekolah yang lantainya berwarna abu – abu. Terlihat pagar kawat pengaman yang melingkari ujung gedung.
Setelah memutuskan untuk duduk pada bagian belakang. Dia kini membuka sebuah kantung yang kubawa sebelumnya, berisi dua buah kotak bekal berwarna biru muda.
Aku mengambil salah satunya, serta sebuah sendok plastik yang berada di dalam kantung tersebut. Diapun melakukan hal yang sama.
Penutup kotak bekal kubuka, memperlihatkan isinya yang tidak begitu mencolok. Hanya nasi putih yang memenuhi kotak tersebut, dilapisi oleh omelet yang dicampur dengan daun bawang serta potongan sosis.
Bukan bekal yang mewah memang, tapi kupikir ini adalah makanan yang terbaik. Meski rasanya biasa – biasa saja, kurasa hal tersebutlah yang membuat aku menganggap makanan ini lezat.
Kenapa? Mungkin... ya, karena lidahku sudah terbiasa. Kalau aku merasakan yang lebih lezat, tetap saja aku merasa lebih pas terhadap sesuatu yang dibiasakan. Terlebih, ini adalah masakan yang telah dibuat dirinya.
Aku bersandar pada dinding ruangan kecil yang berfungsi sebagai tempat tangga yang kami naiki, merasa begitu puas karena perut sudah terisi kembali.
“Enaknya...”
“Dari dulu sampai sekarang komentarmu sama terus, apa tidak ada yang lain?”
Aku menengok pada dirinya, yang juga sudah menyelesaikan makan siangnya.
“Hmm? Memangnya kenapa? Jujur, itu enak kok.”
Helaan nafas kecewa keluar dari mulutnya.
“Huft... Setidaknya kau ganti ucapanmu, jangan hanya enak saja.”
“Maksudmu? Aku harus bilang kurang atau lebih asin begitu?”
Kepalanya mengangguk pelan, dan aku mengelus dagu sebelum menjawab.
“Hmm... Aku sih tidak mendeskripsikannya secara jelas sih, tapi... Kurasa omeletnya terasa lebih asin dari biasanya.”
“Asin ya?”
“Ya, cukup asin. Memangnya kenapa lagi?”
Dia terdiam sebentar.
“Tidak... Kalau begitu, kau mau bekal apa besok?”
Oh, ternyata dia menanyai hal tersebut untuk memutuskan isi bekal besok?
“Yah, aku sih tidak mau macam – macam, tapi kalau bisa, nugget saja boleh.”
Responnya pun hanya mengangguk, mengakhiri pembicaraan. Elza merapihkan perbekalan kami, menandakan bahwa dia segera ingin pergi dari sini. Tidak ingin membuang waktu yang tergolong sulit untuk didapatkan, aku kembali berbicara.
“Eh iya, ngomong – ngomong, sekarang jam berapa?”
Dia menengok kearahku, memasang ekspresi heran.
“Eh? Bukannya kau punya Handphone?”
Aku menggaruk – garuk kepala, sambil tertawa cengengesan sekarang.
“Hehe... Yah, tadi pagi saat di gerbang aku baru teringat Handphone-ku masih di bawah bantal.”
“Dasar.”
Sebuah Handphone langsung dia keluarkan dari kantung roknya. Disertai sebuah aksesori berupa gantungan berbentuk kelinci.
“Hmm... Jam 9.47.”
Sementara dia berbicara dan terfokus pada layar Handphone, aku diam – diam membaringkan badan, menaruh kepala pada pangkuannya yang sedang duduk bersimpuh.
Menyadari apa yang sudah kulakukan, ekspresinya berubah panik.
“E-eh!? Z-Zael, sedang a-apa kau!?”
Aku menjawabnya santai.
“Apa? memangnya aku tidak boleh?”
“Bu-bukannya...”
“Santai... Tidak ada orang, kan?”
“...”
“Terserah kau sajalah.”
Wajahnya terlihat bersemu merah, sedikit malu namun tetap membiarkanku bersandar pada pangkuannya. Aku sendiri tertawa kecil melihat reaksinya, sambil menikmati sensasi empuknya bantal paha. Berbeda dengan bantal busa yang selalu kupakai saat tidur.
Tidak lama, aku menutup kedua mata, merasakan hembusan angin Fallyang kubenci, entah kenapa kini malah terasa menyejukkan.
“Tidakkah ini mengenakkan?”
Elza yang mengalihkan pandangannya, sekarang menengok kearah pangkuannya, bertanya balik atas pertanyaanku.
“Apanya?”
“Hembusan anginnya, coba saja kau rasakan.”
Dia menutup kedua mata seperti yang kulakukan sebelumnya, dan setelah beberapa saat berbicara masih menutup mata Ruby-nya.
“Kau benar... Sangat menyegarkan.”
“Terasa seperti tersiram ombak, bukan?”
“Hmm... Sepertinya iya. Tidak biasanya kau menyukai hembusan angin Fall, kukira kau membencinya.”
“...”
“Iya sih... Tapi kau merasakannya juga, kan? Betapa sejuknya angin yang berhembus sekarang.”
Sebuah senyum tipis terbentuk di wajahnya.
“Yup.”
Sayangnya, sebuah bunyi nyaring tertangkap di telingaku, sebuah bunyi dari peralatan sekolah yang menandakan habisnya waktu untuk para siswa beristirahat.
Diiringi rasa kecewa, aku terbangun dari posisi. Merasa kecewa bukan hanya karena harus menyudahi pembicaraan kecil kami, namun juga... Melepaskan sandaran pada bantal pahanya yang begitu empuk.
Sesaat sebelum aku menutup pintu dari dalam, mataku kembali melihat bagaimana birunya langit yang membentang. Membuat seluruh badanku berhenti bergerak.
“Zael? Kau sedang apa?”
Elza yang sudah menuruni beberapa anak tangga, bertanya karena aku yang terpaku pada pemandangan diluar.
“Ah? Oh ya, maaf, aku hanya mengamati langit kembali.”
Aku menggeser menutup pintu tersebut, lalu segera menyusul Elza menuruni tangga sebelum akhirnya kami berpisah di depan kelas 12-2, atau kelas tempat aku berada. Dan ketika pelajaran dimulai lagi, tiba – tiba pemikiran saat aku terpaku pada langit muncul kembali.
Mungkinkah ada tempat yang melampaui langit?
Fin
Diubah oleh lacie. 08-05-2013 14:08
0
Kutip
Balas