[Anthology] March to War - Fanstuff War Fiction Compilation Thread
TS
st_illumina
[Anthology] March to War - Fanstuff War Fiction Compilation Thread
All is fair in love and war
---
Spoiler for Sekapur Sirih:
Perang adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia, karena demi perang teknologi diciptakan, dan dari perang teknologi maju,
perang memajukan bangsa, sekaligus memusnahkan bangsa lain,
tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin merasakan kerasnya perang dan penderitaan karenanya,
tetapi, tetap saja perang terjadi,
karena hal hal remeh seperti wilayah, agama, ideologi,
karena perbedaan, antara dua individu yang independen,
konflik, tak bisa dihindarkan,
Perang tak bisa dihindarkan,
Karena, dari pengorbanan pejuang, di perang sebelumnya,
Satu tahun berlalu, perang belum juga berakhir, dan si ibu tidak mendapat kabar dari anaknya. Si ibu sempat pergi ke ibu kota, mencari tahu kabar anaknya, namun hasilnya nihil. Para petinggi di markas tentara ibu kota sama sekali tidak tahu nasib para prajurit di garis depan karena kehilangan kontak sejak beberapa bulan yang lalu.
Si ibu larut dalam kesedihan. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Di ibu kota, sedang terjadi protes besar dari organisasi perdamaian yang menuntut agar prajurit garis depan dipulangkan. Pemerintah sama sekali tidak menggubris mereka, bahkan mengeluarkan undang-undang yang melarang aktivitas organisasi tersebut.
Si ibu menatap keluar jendela sembari meminum teh pahit. Dia melihat ada seseorang yang membawa paket. Si pembawa paket menaruh paket tersebut di depan rumah si ibu, lalu segera berlari pergi.
Si ibu segera keluar rumah dengan terburu-buru hingga nyaris tersandung. Dia mengambil paket tersebut dengan tangan gemetar. Dia melihat nama si pengirim paket yang tertulis di depan sampul coklat. Si pengirim adalah anaknya.
Si ibu segera merobek paket di depannya. Di dalamnya, ada sebuah kotak dan surat yang terlihat kotor. Si ibu membuka surat tersebut dengan gemetaran. Di dalam hati, dia berdoa agar surat ini benar-benar dari anaknya. Surat ini ditulis dengan sangat tidak rapi dan terdapat noda berwarna merah di sepanjang isi surat, membuat beberapa kata tidak bisa dibaca.
Ibuku sayang,
Aku masih berada di garis depan. Surat terakhirku kepadamu yang sebelumnya kukirim, kuminta kau lupakan. Saat itu, aku sedang panik, dan aku telah berkata bohong. Untunglah kaptenku menyadarkanku dengan cara (bagian ini tidak bisa dibaca karena noda berwarna merah yang menutup beberapa kata).
Ibu, aku sadar bahwa aku adalah prajurit, dan prajurit tidak boleh takut mati. Aku telah berevolusi, bermetamorfosi menjadi pembunuh yang sempurna. Musuh negara sudah tidak lagi sepadan di hadapanku. Aku tidak terkalahkan. Aku akan meng(tulisanya tidak bisa dibaca), lalu (tidak bisa dibaca) dan (tidak bisa dibaca). Musuh tidak akan menduganya. Anak-anak, perempuan, tidak ada bedanya, mereka akan kuhabisi dengan senjata buatan para pembuat senjata kita yang agung dan setia pada negara.
Sebagai bukti kesetiaanku, aku telah melalui ritual. Aku telah mandi dan menyantap darah musuh. Rasanya sungguh luar biasa. Aku hebat, hebat, hebat, hebat, dan puas.
Surat ini adalah surat terakhirku untuk ibu. Aku sudah tidak bisa pulang. Tubuh dan jiwaku ada di medan perang untuk selama-lamanya dan lamanya.
Sebagai hadiah perpisahan, aku mengirimkan suvenir dari medan perang. Kuharap ibu senang menerimanya.
Salam (terdapat noda merah yang pekat di bagian bawah kertas)
Si ibu, dengan kondisi terguncang, mengambil kotak yang dikirimkan anaknya. Dengan perasan berdeba, dia membukanya. Di dalamnya, terdapat puluhan hidung yang dipotong dengan senjata tajam.
Darah menetes dari bekas potongan hidung yang berjejalan dalam kotak kecil
Spoiler for writer note:
Thanks buat Illu yang memperpanjang deadline sehingga membuat aku sempat menuliskan cerpen ini.
Inspirasi utama cerpen ini dari cerpen Horizon yang kubaca, menceritakan tentang prajurit yang mengirimkan telinga musuhnya ke istrinya untuk kemudian dibanggakan.