TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#59
Result
Spoiler for Result:
Zrrsshh...
“Aahh... Enaknya.”
Aku berkata pada diriku penuh bersyukur, merasakan kucuran air hangat Shower yang tengah mengaliri tubuhku. Semua otot yang meregang karena memindahkan barang – barang gudang di tempat kerja sambilan kini terasa mengendur, kembali terasa ringan, membuat diriku berpikir apakah ini yang dinamakan terlahir kembali.
Kepalaku sendiri kembali terasa jernih, membuatku kembali sadar akan suasana di rumah ini.
Ya, kalau dipantau, keadaan di rumah selalu hening, tidak banyak suara yang dihasilkan di dalamnya, yang mungkin karena penghuninya hanya aku serta adikku.
Namun kali ini berbeda, keheningan ini bukan disebabkan oleh sedikitnya yang menghuni rumah ini, tapi karena sebuah kalimat yang telah kuucapkan kepada Elza, seorang gadis yang menjadi kembaran Fraternal-ku.
Bahwa diriku mencintainya, namun bukan sebagai seorang saudara.
Meski dia berjanji hingga matahari terbenam, sudah terhitung dua kali matahari terbenam sejak aku mengungkapkan perasaanku padanya.
Bahkan ketika kami bertemu saat sarapan berlangsung, itupun hanya bertegur sapa, tidak lebih, menciptakan atmosfer yang begitu canggung.
Apa ini semua karena batas yang bernama darah?
Aku tidak mengerti... Memangnya apa yang membuat dia menjadi ragu? Apa aku telah salah menganggapnya melebihi seorang saudara?
Aku mencintai dirinya segenap hati, aku akan selalu melindunginya, aku akan selalu membuat dirinya bahagia... Aku tidak ingin...
Air matanya kembali menetes pada halaman – halaman Diarymiliknya.
Tok, tok, tok!
Hmm? Jarang – jarang aku mendapat kunjungan di saat seperti ini... Oh ya, di rumahkan hanya ada aku dan dia.
“Zael..”
Seketika telingaku menangkap suara yang terdengar lemah, muncul sebuah perasaan yang mengacak – ngacak pikiranku, membuat diriku menjadi tidak nyaman. Akupun melangkah mendekati pintu kamar mandi, berniat membukanya.
“Eh! J-jangan Zael!”
“Huh? Memangnya kenapa?”
“L-lebih gampang berbicara bila seperti ini.”
Aku melepaskan pegangan tanganku di gagang pintu kamar mandi, menghela nafas mendengar kelakuannya yang aneh.
“OK, kalau begitu... Lanjutkan omonganmu Elza.”
“...”
“Maaf...”
Ucapannya terdengar penuh menyesal, bagaikan seorang guru yang tidak tega mengatakan muridnya tidak lulus. Seketika hatiku bergejolak, dan kedua tangan kukepal siap memukul pintu kayu yang berada di depan wajahku. Namun sebelum aku melakukannya, dia kembali berbicara.
“Sudah menunggu lama, Zael.”
“Ah?”
Kali ini dia menjawab dengan suara yang tersipu malu.
“H-hanya... A-aku terima pe-perasaanmu.”
Sebuah kejutan listrik tiba – tiba terasa di sekujur tubuhku, terutama kedua telingaku yang menangkap langsung suara tersebut.
“M-m-maksudmu?”
“A-aku me-mencintaimu juga, Zael.”
“...”
APA? DIA BILANG APA?
“Zael?”
Aku hanya bengong, memproses kalimat yang diucapkan tadi.
“...”
“Hey, Zael! Kau kenapa!?!”
Aku memutar badanku dari hadapan pintu, dan kini bersandar pada permukaannya yang terasa licin karena uap air yang menempel. Kepalaku mendongak ke atas, dan mulutku mengeluarkan tawa yang cukup aneh.
“Ahahaha...”
“Huh?”
“Sekarang aku bisa mati dengan tenang...”
BAKK
Pintu kamar mandi tiba – tiba dihantam dengan keras dari luar begitu aku menyelesaikan kalimatku.
“TIDAK! ZAEL! JANGAN LAKUKAN ITU! AKU BARU SAJA MENJAWAB PERASAANMU!”
Aku yang terhanyut dalam pemikiran bahagia yang tidak jelas, kembali tersadar karena teriakannya, terutama kalimat terakhirnya. Aku berdiri dari posisi duduk di lantai, berkata pada dirinya yang masih memukul – mukul pintu dari luar disertai kepanikan.
“Err... Elza? Tenang saja OK? Tadi aku hanya terlalu senang.”
Pukulannya berhenti, dan diapun menjawabku dengan suara kesal namun juga diiringi ketakutan.
“Jangan membuatku panik lagi, Zael.”
“Ehehe... Maaf, maaf, aku janji deh...”
Terdengar helaan nafas di luar pintu, sebelum dia berpesan padaku untuk segera keluar dari kamar mandi, karena makan malam yang sudah siap. Akupun menuruti perintahnya, lalu mengambil sikat dan pasta gigi dan mulai menggosok mulut yang terasa asam bercampur pahit.
Selama malam hari tersebut, senyum selalu tertempel di bawah mata Citrine-ku. Terutama ketika memandang dirinya yang kini terlihat seperti malaikat yang turun dari surga.
“Aahh... Enaknya.”
Aku berkata pada diriku penuh bersyukur, merasakan kucuran air hangat Shower yang tengah mengaliri tubuhku. Semua otot yang meregang karena memindahkan barang – barang gudang di tempat kerja sambilan kini terasa mengendur, kembali terasa ringan, membuat diriku berpikir apakah ini yang dinamakan terlahir kembali.
Kepalaku sendiri kembali terasa jernih, membuatku kembali sadar akan suasana di rumah ini.
Ya, kalau dipantau, keadaan di rumah selalu hening, tidak banyak suara yang dihasilkan di dalamnya, yang mungkin karena penghuninya hanya aku serta adikku.
Namun kali ini berbeda, keheningan ini bukan disebabkan oleh sedikitnya yang menghuni rumah ini, tapi karena sebuah kalimat yang telah kuucapkan kepada Elza, seorang gadis yang menjadi kembaran Fraternal-ku.
Bahwa diriku mencintainya, namun bukan sebagai seorang saudara.
Meski dia berjanji hingga matahari terbenam, sudah terhitung dua kali matahari terbenam sejak aku mengungkapkan perasaanku padanya.
Bahkan ketika kami bertemu saat sarapan berlangsung, itupun hanya bertegur sapa, tidak lebih, menciptakan atmosfer yang begitu canggung.
Apa ini semua karena batas yang bernama darah?
Aku tidak mengerti... Memangnya apa yang membuat dia menjadi ragu? Apa aku telah salah menganggapnya melebihi seorang saudara?
Aku mencintai dirinya segenap hati, aku akan selalu melindunginya, aku akan selalu membuat dirinya bahagia... Aku tidak ingin...
Air matanya kembali menetes pada halaman – halaman Diarymiliknya.
Tok, tok, tok!
Hmm? Jarang – jarang aku mendapat kunjungan di saat seperti ini... Oh ya, di rumahkan hanya ada aku dan dia.
“Zael..”
Seketika telingaku menangkap suara yang terdengar lemah, muncul sebuah perasaan yang mengacak – ngacak pikiranku, membuat diriku menjadi tidak nyaman. Akupun melangkah mendekati pintu kamar mandi, berniat membukanya.
“Eh! J-jangan Zael!”
“Huh? Memangnya kenapa?”
“L-lebih gampang berbicara bila seperti ini.”
Aku melepaskan pegangan tanganku di gagang pintu kamar mandi, menghela nafas mendengar kelakuannya yang aneh.
“OK, kalau begitu... Lanjutkan omonganmu Elza.”
“...”
“Maaf...”
Ucapannya terdengar penuh menyesal, bagaikan seorang guru yang tidak tega mengatakan muridnya tidak lulus. Seketika hatiku bergejolak, dan kedua tangan kukepal siap memukul pintu kayu yang berada di depan wajahku. Namun sebelum aku melakukannya, dia kembali berbicara.
“Sudah menunggu lama, Zael.”
“Ah?”
Kali ini dia menjawab dengan suara yang tersipu malu.
“H-hanya... A-aku terima pe-perasaanmu.”
Sebuah kejutan listrik tiba – tiba terasa di sekujur tubuhku, terutama kedua telingaku yang menangkap langsung suara tersebut.
“M-m-maksudmu?”
“A-aku me-mencintaimu juga, Zael.”
“...”
APA? DIA BILANG APA?
“Zael?”
Aku hanya bengong, memproses kalimat yang diucapkan tadi.
“...”
“Hey, Zael! Kau kenapa!?!”
Aku memutar badanku dari hadapan pintu, dan kini bersandar pada permukaannya yang terasa licin karena uap air yang menempel. Kepalaku mendongak ke atas, dan mulutku mengeluarkan tawa yang cukup aneh.
“Ahahaha...”
“Huh?”
“Sekarang aku bisa mati dengan tenang...”
BAKK
Pintu kamar mandi tiba – tiba dihantam dengan keras dari luar begitu aku menyelesaikan kalimatku.
“TIDAK! ZAEL! JANGAN LAKUKAN ITU! AKU BARU SAJA MENJAWAB PERASAANMU!”
Aku yang terhanyut dalam pemikiran bahagia yang tidak jelas, kembali tersadar karena teriakannya, terutama kalimat terakhirnya. Aku berdiri dari posisi duduk di lantai, berkata pada dirinya yang masih memukul – mukul pintu dari luar disertai kepanikan.
“Err... Elza? Tenang saja OK? Tadi aku hanya terlalu senang.”
Pukulannya berhenti, dan diapun menjawabku dengan suara kesal namun juga diiringi ketakutan.
“Jangan membuatku panik lagi, Zael.”
“Ehehe... Maaf, maaf, aku janji deh...”
Terdengar helaan nafas di luar pintu, sebelum dia berpesan padaku untuk segera keluar dari kamar mandi, karena makan malam yang sudah siap. Akupun menuruti perintahnya, lalu mengambil sikat dan pasta gigi dan mulai menggosok mulut yang terasa asam bercampur pahit.
Selama malam hari tersebut, senyum selalu tertempel di bawah mata Citrine-ku. Terutama ketika memandang dirinya yang kini terlihat seperti malaikat yang turun dari surga.
Fin
Diubah oleh lacie. 14-05-2013 17:40
0
Kutip
Balas