- Beranda
- Stories from the Heart
My Heart Goes to Jeddah
...
TS
electra78
My Heart Goes to Jeddah
Dear gan... ane mo berbagi cerita, mungkin ini setengah biography dan setengah fiksi... tentang beberapa tahun yang lalu... semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua gan... cerita akan bergulir secara acak, maklum ini ada di catatan diary dahulu... semoga menarik.
Disini ada 2 tokoh sentral, sebut saja si Dinda(gender wanita biasa disebut Pinkan diawal waktu), berasal dari Palembang keturunan Arab bermarga "S". dan si AKU adalah Joko (gender lelaki biasa disebut Sayang oleh Pinkan). Perkenalan awal si Pinkan ini adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah SMA "Y" di Slipi Jakarta Barat. Joko seorang disain majalah musik & lifestyle "G" lokal ternama di Indonesia.
tapi sebelumnya maaf2 ya gan
kalo salah dan lama posting ... maklum newbie dan jarang OL dimalam hari
Disini ada 2 tokoh sentral, sebut saja si Dinda(gender wanita biasa disebut Pinkan diawal waktu), berasal dari Palembang keturunan Arab bermarga "S". dan si AKU adalah Joko (gender lelaki biasa disebut Sayang oleh Pinkan). Perkenalan awal si Pinkan ini adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah SMA "Y" di Slipi Jakarta Barat. Joko seorang disain majalah musik & lifestyle "G" lokal ternama di Indonesia.
tapi sebelumnya maaf2 ya gan
kalo salah dan lama posting ... maklum newbie dan jarang OL dimalam hari
Quote:
Diubah oleh electra78 04-04-2014 15:45
anasabila memberi reputasi
1
7.2K
55
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
electra78
#28
Kupinjamkan Miyako Ini Untukmu Sayang
Januari 2005
“Yaa Allah Pinkan kamu sakit ya kemarin?” tanya Imel istri Daus pasangan suami istri muda yang belum dikaruniai anak waktu itu. Sementara kosan yang ditinggalin Dina adalah milik orangtua Daus, mereka adalah orang Padang yang baik.
Hari ini minggu sore kujemput Pinkan dari RS Pelni pulang ke kosannya. Wajahnya lebih ceria dibanding 4 hari lalu yang kelam. Memang malam kejadian itu kami tidak menceritakan sakitnya Pinkan kecuali si Dewi yang mengetahui pertama. Baru setelah pagi hari pertama di RS sewaktu aku kembali ke kosan Dina, kuceritakanlah semua kejadian malam itu lewat telepon.
“Iya kemarin tu ibu khawatir, klo sampe ada apa-apa dengan anak kos kan ibu juga yang merasa bersalah.” ujar ibu Daus juga ikut prihatin lalu mendekati kami
“Udah sekarang nak Pinkan istirahat saja, tadi siang ibu sudah siapin bubur kacang ijo. Biar Imel nanti siapin.” sambil melihat ke arah Imel, Imel pun mengerti dan segera pergi ke dapur.
Kulihat Daus masih bercengkrama dengan teman-teman yang notabene masih tetangganya juga. Kuberi tanda agar Dina segera masuk ke kamarnya duluan, sementara aku disini memberi penjelasan ke Daus dan ibunya, sambil mengakrabkan diri karena jarang bisa ngobrol lama dengan mereka. Maklum jarak Bintaro ke Slipi ini kurang lebih 1,5jam lamanya dengan motor.
“Jadi dari jam 9 malam kalian jalan kemarin itu baru jam 12nya kalian dapat kamar inap?”tanya Daus meyakinkan yang lain.
“Wah elo bener-bener pacar yang baek Jok... .”suara Kiki teman Daus menimpali,
“Untung ada elo yang mo nemenin…yang lain mungkin lum tentu nyempetin waktu buat nganter Pinkan.”imbuhnya. Mungkin anak kos yang lainnya maksudnya.
“Yee... mo gimana lagi, dadakan sih. Pinkan sendiri juga ga mau kalo keluarganya di sini sampe tahu. Takut sampe ke telinga ortunya malah disuruh pulang ke Palembang.” timpalku
“Kemarin aja cuma temen-temen kantor Pinkan dari pt diwantara yang ikut nengok. Sementara para guru belum keliatan.” pt Diwantara adalah kantor pusat Pinkan ketika ditugaskan jadi staff pengajar Bahasa Inggris di SMU "Y".
Setelah ngobrol bla bla mengenai sakitnya Adinda Pinkan, akhirnya aku pamit pergi menyusul Adindaku sayang ke kamar atas.
“Sayang sepertinya aku pengen pindah kamar deh, disini sumpek ga ada cahaya matahari masuk.” keluhnya waktu aku masuk ke kamarnya yang sempit hanya 3x2meter saja. Untuk sholat sujud saja harus berantem dengan badan lemari pakaian. Uuh bener-bener menyebalkan…masih mendingan kamar kosanku di Bintaro.
“Ya sudah say, tapi pastiin dulu kamu dapat kamar yang mana. Dan paling tidak kamu cucok dan betah my lovely…”
“Gini aja mulai sekarang kamu biasakan jangan dekati orang yang sedang merokok. Ngerti say?!! Dan satu hal minimal kamu harus minum susu seminggu 3 kali ya.” mengingat kemarin sewaktu di RS disarankan oleh suster banyak-banyak minum susu agar cepet pulih paru-parumu.
“Besok aku bawain magic jar punyaku buat kamu masak nasi disini. Selebihnya lauk dan beras bisa kamu beli di warung.” begitu jelasku bersemangat.
“Iya sayang makasih banyak ya atas semuanya.”
“Masalah duit kemarin biar besok-besok aku mintain abahku. Ntar aku bilangin aja aku pinjem buat beli handphone baru.” lho sebentar kok beli handphone@?!..mmh emang sih hp nya nokia 2200 sudah mulai eror. Kalo untuk duit 1,5juta sih ga masalah buat adindaku yang cantik… asal jangan lama-lama..he he he… soalnya masih butuh buat kirim ke orang tua di Semarang.
“Ya sudah ga pa pa sayang. Terserah kamu…”
Sungguh kami sudah melewati malam-malam yang kelam penuh ketegangan. Hanya berdua… ya hanya berdua kami hadapi di tempat yang baru kami kenal waktu itu. RS Pelni Petamburan jadi saksi bisu di malam-malam yang indah dan kelam bagi kami.
Selanjutnya miyako itu menemani kami berdua dikala makan berdua di waktu siang dan malam hari. Alhamdulillah, yaa Allah semoga kau beri hikmah diantara kami…
“Yaa Allah Pinkan kamu sakit ya kemarin?” tanya Imel istri Daus pasangan suami istri muda yang belum dikaruniai anak waktu itu. Sementara kosan yang ditinggalin Dina adalah milik orangtua Daus, mereka adalah orang Padang yang baik.
Hari ini minggu sore kujemput Pinkan dari RS Pelni pulang ke kosannya. Wajahnya lebih ceria dibanding 4 hari lalu yang kelam. Memang malam kejadian itu kami tidak menceritakan sakitnya Pinkan kecuali si Dewi yang mengetahui pertama. Baru setelah pagi hari pertama di RS sewaktu aku kembali ke kosan Dina, kuceritakanlah semua kejadian malam itu lewat telepon.
“Iya kemarin tu ibu khawatir, klo sampe ada apa-apa dengan anak kos kan ibu juga yang merasa bersalah.” ujar ibu Daus juga ikut prihatin lalu mendekati kami
“Udah sekarang nak Pinkan istirahat saja, tadi siang ibu sudah siapin bubur kacang ijo. Biar Imel nanti siapin.” sambil melihat ke arah Imel, Imel pun mengerti dan segera pergi ke dapur.
Kulihat Daus masih bercengkrama dengan teman-teman yang notabene masih tetangganya juga. Kuberi tanda agar Dina segera masuk ke kamarnya duluan, sementara aku disini memberi penjelasan ke Daus dan ibunya, sambil mengakrabkan diri karena jarang bisa ngobrol lama dengan mereka. Maklum jarak Bintaro ke Slipi ini kurang lebih 1,5jam lamanya dengan motor.
“Jadi dari jam 9 malam kalian jalan kemarin itu baru jam 12nya kalian dapat kamar inap?”tanya Daus meyakinkan yang lain.
“Wah elo bener-bener pacar yang baek Jok... .”suara Kiki teman Daus menimpali,
“Untung ada elo yang mo nemenin…yang lain mungkin lum tentu nyempetin waktu buat nganter Pinkan.”imbuhnya. Mungkin anak kos yang lainnya maksudnya.
“Yee... mo gimana lagi, dadakan sih. Pinkan sendiri juga ga mau kalo keluarganya di sini sampe tahu. Takut sampe ke telinga ortunya malah disuruh pulang ke Palembang.” timpalku
“Kemarin aja cuma temen-temen kantor Pinkan dari pt diwantara yang ikut nengok. Sementara para guru belum keliatan.” pt Diwantara adalah kantor pusat Pinkan ketika ditugaskan jadi staff pengajar Bahasa Inggris di SMU "Y".
Setelah ngobrol bla bla mengenai sakitnya Adinda Pinkan, akhirnya aku pamit pergi menyusul Adindaku sayang ke kamar atas.
“Sayang sepertinya aku pengen pindah kamar deh, disini sumpek ga ada cahaya matahari masuk.” keluhnya waktu aku masuk ke kamarnya yang sempit hanya 3x2meter saja. Untuk sholat sujud saja harus berantem dengan badan lemari pakaian. Uuh bener-bener menyebalkan…masih mendingan kamar kosanku di Bintaro.
“Ya sudah say, tapi pastiin dulu kamu dapat kamar yang mana. Dan paling tidak kamu cucok dan betah my lovely…”
“Gini aja mulai sekarang kamu biasakan jangan dekati orang yang sedang merokok. Ngerti say?!! Dan satu hal minimal kamu harus minum susu seminggu 3 kali ya.” mengingat kemarin sewaktu di RS disarankan oleh suster banyak-banyak minum susu agar cepet pulih paru-parumu.
“Besok aku bawain magic jar punyaku buat kamu masak nasi disini. Selebihnya lauk dan beras bisa kamu beli di warung.” begitu jelasku bersemangat.
“Iya sayang makasih banyak ya atas semuanya.”
“Masalah duit kemarin biar besok-besok aku mintain abahku. Ntar aku bilangin aja aku pinjem buat beli handphone baru.” lho sebentar kok beli handphone@?!..mmh emang sih hp nya nokia 2200 sudah mulai eror. Kalo untuk duit 1,5juta sih ga masalah buat adindaku yang cantik… asal jangan lama-lama..he he he… soalnya masih butuh buat kirim ke orang tua di Semarang.
“Ya sudah ga pa pa sayang. Terserah kamu…”
Sungguh kami sudah melewati malam-malam yang kelam penuh ketegangan. Hanya berdua… ya hanya berdua kami hadapi di tempat yang baru kami kenal waktu itu. RS Pelni Petamburan jadi saksi bisu di malam-malam yang indah dan kelam bagi kami.
Selanjutnya miyako itu menemani kami berdua dikala makan berdua di waktu siang dan malam hari. Alhamdulillah, yaa Allah semoga kau beri hikmah diantara kami…
Diubah oleh electra78 05-06-2013 17:59
0