TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#53
A Determined Heart
Spoiler for A Determined Heart:
Aku sudah lelah, hanya berdiam diri melewati keadaan, seperti air yang hanya mengikuti arus sungai.
Pikirankulah yang membuatku menjadi seperti ini, terombang – ambing dalam dua pilihan yang tidak benar maupun salah.
Karena itulah aku menjadi takut, bila aku memilih salah satunya, maka pilihan yang lainnya selalu menghantui diriku, yang membuat diriku akan menyesal.
Dan setelah sekian lama diriku kabur dari kedua pilihan tersebut, ternyata aku juga menyadari satu hal, yang membuatku teringat pada sebuah ucapan.
Lebih baik menyesal karena melakukannya, daripada menyesal karena tidak melakukannya, bukan?
Berdiam diri tidak menyelesaikan masalah, karena aku sudah merasakannya secara personal, bahkan sampai hal tersebut malah lebih sakit, karena mengikis pikiran dan perasaanku, merasa gelisah tidak karuan.
Hati yang yakin.
Itulah yang semestinya kucari dari kemarin, bukan jawaban yang tepat diantara kedua pilihan tersebut.
Keputusan yang telah kuambil tidak akan kukatakan benar, namun aku mempercayainya sebagai keputusan yang tepat, karena aku tahu bahwa seluruh diriku tidak meragukannya.
Dan karena itulah, aku sekarang berdiri di depan adikku, untuk menyampaikan perasaanku yang sesungguhnya, sebelum diriku menyesal karena hanya berpura – pura menganggap dia sebagai seorang adik untuk selamanya.
Aku ingin dia menganggapku melebihi seorang kakak yang selalu mengayomi adiknya.
“Ka-kakak bercanda k-kan?”
Ekspresi adikku berubah menjadi syok, dan aku mengulangi ucapanku kembali.
“Tidak, aku tidak bercanda, sungguh Elza, aku benar – benar mencintaimu, namun bukan sebagai saudara.”
Dia pun melangkah mundur, menjauhi diriku sambil menatapku dengan ketakutan.
“T-tapi, bukankah ki-kita...”
“Itu tidak penting, yang pasti, inilah perasaanku yang sesungguhnya padamu.” ucapku sambil berjalan mendekatinya, “Aku hanya ingin memelukmu... Mencintaimu hingga diriku menghilang dari dunia.”
Aku semakin mendekat ke arah dirinya yang bersandar pada tembok ruang tengah sekarang. Dan untuk yang keempat kalinya, aku mengatakan perasaanku yang sesungguhnya.
“Aku mencintaimu Elza, jadi... Apa jawabanmu?”
Air mata pun mengalir dari matanya yang semerah Ruby, dan dia pun memalingkan wajahnya dariku, sambil berusaha berbicara dengan suara yang terisak.
“A-aku... Hiks, ti-tidak tahu... a-apa.. Hiks, yang b-benar lagi, Zael.”
Akupun segera memeluk dirinya dengan erat, yang membuat dirinya cukup kaget, lalu menyeka air mata yang keluar dari mata Ruby-nya yang sangat indah.
“Z-Zael?”
“Elza, apa kau selalu melihat diriku sebagai seorang kakak?”
Dia tertegun mendengar ucapanku. Namun setelah beberapa saat, dia akhirnya merespon dengan menggelengkan kepalanya.
“Lalu kenapa kau ragu?”
“H-hanya...”
“Elza, kau tahu, sekarang adalah momen paling menentukan bagi hidupku. Inilah pengungkapan cinta pertama dan mungkin, untuk yang terakhir kalinya bagiku.”
Diapun menjawab dengan suara yang masih terisak.
“B-beri a-aku waktu, Zael. H-hingga matahari... ter-terbenam besok.”
Aku melepaskan pelukanku padanya, lalu mulai melangkah mundur menuju kamarku seperti permintaannya yang butuh waktu cukup singkat, namun tidak bagi diriku. Membuat diriku kini melakukan sesuatu yang sudah lama tidak kulakukan menggunakan segenap hati.
Aku berdoa, agar keyakinan hatiku tak terbalas sia – sia.
Pikirankulah yang membuatku menjadi seperti ini, terombang – ambing dalam dua pilihan yang tidak benar maupun salah.
Karena itulah aku menjadi takut, bila aku memilih salah satunya, maka pilihan yang lainnya selalu menghantui diriku, yang membuat diriku akan menyesal.
Dan setelah sekian lama diriku kabur dari kedua pilihan tersebut, ternyata aku juga menyadari satu hal, yang membuatku teringat pada sebuah ucapan.
Lebih baik menyesal karena melakukannya, daripada menyesal karena tidak melakukannya, bukan?
Berdiam diri tidak menyelesaikan masalah, karena aku sudah merasakannya secara personal, bahkan sampai hal tersebut malah lebih sakit, karena mengikis pikiran dan perasaanku, merasa gelisah tidak karuan.
Hati yang yakin.
Itulah yang semestinya kucari dari kemarin, bukan jawaban yang tepat diantara kedua pilihan tersebut.
Keputusan yang telah kuambil tidak akan kukatakan benar, namun aku mempercayainya sebagai keputusan yang tepat, karena aku tahu bahwa seluruh diriku tidak meragukannya.
Dan karena itulah, aku sekarang berdiri di depan adikku, untuk menyampaikan perasaanku yang sesungguhnya, sebelum diriku menyesal karena hanya berpura – pura menganggap dia sebagai seorang adik untuk selamanya.
Aku ingin dia menganggapku melebihi seorang kakak yang selalu mengayomi adiknya.
“Ka-kakak bercanda k-kan?”
Ekspresi adikku berubah menjadi syok, dan aku mengulangi ucapanku kembali.
“Tidak, aku tidak bercanda, sungguh Elza, aku benar – benar mencintaimu, namun bukan sebagai saudara.”
Dia pun melangkah mundur, menjauhi diriku sambil menatapku dengan ketakutan.
“T-tapi, bukankah ki-kita...”
“Itu tidak penting, yang pasti, inilah perasaanku yang sesungguhnya padamu.” ucapku sambil berjalan mendekatinya, “Aku hanya ingin memelukmu... Mencintaimu hingga diriku menghilang dari dunia.”
Aku semakin mendekat ke arah dirinya yang bersandar pada tembok ruang tengah sekarang. Dan untuk yang keempat kalinya, aku mengatakan perasaanku yang sesungguhnya.
“Aku mencintaimu Elza, jadi... Apa jawabanmu?”
Air mata pun mengalir dari matanya yang semerah Ruby, dan dia pun memalingkan wajahnya dariku, sambil berusaha berbicara dengan suara yang terisak.
“A-aku... Hiks, ti-tidak tahu... a-apa.. Hiks, yang b-benar lagi, Zael.”
Akupun segera memeluk dirinya dengan erat, yang membuat dirinya cukup kaget, lalu menyeka air mata yang keluar dari mata Ruby-nya yang sangat indah.
“Z-Zael?”
“Elza, apa kau selalu melihat diriku sebagai seorang kakak?”
Dia tertegun mendengar ucapanku. Namun setelah beberapa saat, dia akhirnya merespon dengan menggelengkan kepalanya.
“Lalu kenapa kau ragu?”
“H-hanya...”
“Elza, kau tahu, sekarang adalah momen paling menentukan bagi hidupku. Inilah pengungkapan cinta pertama dan mungkin, untuk yang terakhir kalinya bagiku.”
Diapun menjawab dengan suara yang masih terisak.
“B-beri a-aku waktu, Zael. H-hingga matahari... ter-terbenam besok.”
Aku melepaskan pelukanku padanya, lalu mulai melangkah mundur menuju kamarku seperti permintaannya yang butuh waktu cukup singkat, namun tidak bagi diriku. Membuat diriku kini melakukan sesuatu yang sudah lama tidak kulakukan menggunakan segenap hati.
Aku berdoa, agar keyakinan hatiku tak terbalas sia – sia.
Fin
Diubah oleh lacie. 21-04-2013 19:19
0
Kutip
Balas