TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#50
Shadow of the Truth
Spoiler for Shadow of the Truth:
“Dan kemudian, sang pria segera disi-”
KLIK
TV kumatikan melalui Remote, dan benda penuh tombol tersebut langsung kulempar sehabis dipakai.
Aku bersandar pada sofa, kepala tertengok menuju langit – langit. Beberapa saat setelah memandangi lapisan putih tersebut, suara pun keluar dari mulutku yang terbuka lebar.
“Ahhh... Bosaaaan...”
Aku tidak bisa melakukan apa – apa lagi hari, jadwal sekolah sudah usai, tidak ada Shift kerja, tak ada buku maupun majalah yang bisa dibaca lagi. Bahkan acara TV hanya penuh oleh berita – berita semacam politik dan kejahatan.
Hal tersebut akhirnya menyebabkan kebosanan, ya, rasa bosan yang membuatku berharap sebuah kejadian aneh terjadi, asal tidak menyentuh adikku tersayang seperti kemarin.
Tunggu... Kenapa tidak kepikiran daritadi yah? Diakan sedang mengajar, mungkin ini kesempatan yang bagus.
Aku langsung berdiri dari sofa, lalu berjalan ke arah kanan ruangan ini hingga sampai pada pintu kayu yang berwarna kecoklatan.
Dengan rasa was – was, aku memutar gagang pintu dan mendorong pintu kecoklatan tersebut. yang ruangan di belakangnya adalah sebuah kamar, namun bukan milikku.
Lebih tepatnya, ruangan tersebut adalah kamar Elza, kembaran Fraternal-ku. Akupun memasukinya perlahan, dan mengamati keadaan ruangan ini.
Tempat ini hampir sama seperti kamar punyaku, namun selain lebih rapih juga kecil, pendekorasiannyalah yang berbeda. Seperti kasurnya yang diletakkan bersampingan dengan jendela, berbeda dengan punyaku yang menghadap jendela.
Aku duduk di tepi kasurnya, sebelum akhirnya membenamkan wajahku pada permukaan sprei yang berwarna biru tua, menghirup sebuah aroma yang terasa samar – samar.
“Elza...”
Tidak sampai disitu saja, aku kini memeluk bantal yang dia pakai untuk menyandarkan kepala sewaktu tidur, sambil memdekapkan wajahku pada benda empuk tersebut. menghirup aroma yang sama namun terasa lebih kuat.
Ya, bagaimana dirinya tercium. Terasa kuat dari benda – benda yang selalu mendampinginya tiap malam. Hingga aku selalu melakukan hal ini setiap dia pergi keluar, seakan – akan aku sedang memeluk dan membelai rambut hitamnya.
Aku ingin memeluk dirinya.
Aku ingin membahagiakan dirinya.
Aku ingin... melindungi dirinya.
Oh sialan... Sepertinya pikiranku benar – benar sudah tidak jelas, hingga...
BUKK
Terjatuh.
“Aduh!”
Terbenturnya diriku ke lantai memang sakit, tapi itu juga membuat kembali berpikir bahwa melakukan hal ini juga harus hati – hati. Akupun akhirnya terbangun, lalu merapihkan dan menata kasurnya kembali seperti semula.
Karena takut bila tiba – tiba dia datang, dan melihat kasurnya seperti bekas... Tidak perlu kubahas. Yah, karena rasa kebosananku sudah hilang. Lebih baik...
“Huh?”
Aku tidak pergi sekarang.
Meja belajarnya memang dipenuhi oleh buku – buku pelajaran serta boneka kelinci, namun ada satu buku yang cukup berbeda. Kenapa? karena buku tersebut memiliki tulisan Diarydi sampulnya.
Hmm... Kenapa aku tidak sadar bahwa ada buku seperti itu ya? Padahal sudah berkali – kali memasuki ruangannya.
Penasaran, aku menghampiri meja belajarnya dan membuka buku bersampul kecoklatan tersebut. Hmm... Aku jadi teringat sewaktu diriku SD, dimana seluruh siswa dianjurkan untuk memiliki sebuah Diary dan akupun sempat menulisnya... Untuk beberapa halaman saja.
Aku tidak tahu bila dia menganggap hal ini agak serius, atau mungkin, memang Diary adalah hal mutlak bagi seorang gadis? Yah, kesampingkan dulu hal tersebut. Tulisan tangannya memang lebih bagus dariku, yang membuat enak untuk dibaca.
Apa yang selalu dia tulis disini hanyalah kehidupan sehari – harinya, terutama di sekolah, seperti mendapat nilai test bagus (yang membuatku iri), bergosip dengan teman – temannya (tidak penting), menolak ajakan pacaran teman sekelasnya (Ternyata dia populer juga? Yah, untunglah dia menolaknya).
“....”
Tapi ketika aku membuka halaman selanjutnya...
10 Desember
Ibu meninggal.
Aku terdiam.
Aku tahu, aku tahu meski dia hanya menulis dua kata. Kertas yang terasa seperti habis dialiri air ini menceritakan semuanya, ya, air mata yang dia teteskan ke lapisan tipis ini.
Kenapa aku tidak pernah terpikir akan perasaannya? Yah, kukira semua akan baik – baik saja. Melihat dirinya yang selalu ceria ketika berada di hadapanku, tapi ternyata... Tidak di belakang.
Halaman yang berada di belakang juga sama, terasa seperti habis dialiri air, walaupun kata – kata yang dia tuliskan mulai lebih banyak dari sebelumnya.
Melihat dirinya ternyata seperti ini, sesuatu bergejolak di dalam diriku, seperti suara teriakan ya dan tidak secara bersamaan. Dengan keadaan hati seperti itu, aku memutuskan untuk merobek kertas – kertas tersebut.
Tapi sebelum aku melakukannya, aku teringat ini adalah miliknya, dan mengurungkan niat yang terbilang sangat konyol dan akan membuatnya marah.
Aku menutup buku tersebut, berdiri lalu melangkah dari tempat yang semestinya tidak kusentuh. Meski aku agak sedikit berbuat curang, sekarang aku tahu apa yang telah dirasakannya selama ini. Dan sambil mengepalkan tangan, aku berkata pada diriku sendiri.
“Aku tidak akan membuatmu lebih sedih lagi, Elza.”
KLIK
TV kumatikan melalui Remote, dan benda penuh tombol tersebut langsung kulempar sehabis dipakai.
Aku bersandar pada sofa, kepala tertengok menuju langit – langit. Beberapa saat setelah memandangi lapisan putih tersebut, suara pun keluar dari mulutku yang terbuka lebar.
“Ahhh... Bosaaaan...”
Aku tidak bisa melakukan apa – apa lagi hari, jadwal sekolah sudah usai, tidak ada Shift kerja, tak ada buku maupun majalah yang bisa dibaca lagi. Bahkan acara TV hanya penuh oleh berita – berita semacam politik dan kejahatan.
Hal tersebut akhirnya menyebabkan kebosanan, ya, rasa bosan yang membuatku berharap sebuah kejadian aneh terjadi, asal tidak menyentuh adikku tersayang seperti kemarin.
Tunggu... Kenapa tidak kepikiran daritadi yah? Diakan sedang mengajar, mungkin ini kesempatan yang bagus.
Aku langsung berdiri dari sofa, lalu berjalan ke arah kanan ruangan ini hingga sampai pada pintu kayu yang berwarna kecoklatan.
Dengan rasa was – was, aku memutar gagang pintu dan mendorong pintu kecoklatan tersebut. yang ruangan di belakangnya adalah sebuah kamar, namun bukan milikku.
Lebih tepatnya, ruangan tersebut adalah kamar Elza, kembaran Fraternal-ku. Akupun memasukinya perlahan, dan mengamati keadaan ruangan ini.
Tempat ini hampir sama seperti kamar punyaku, namun selain lebih rapih juga kecil, pendekorasiannyalah yang berbeda. Seperti kasurnya yang diletakkan bersampingan dengan jendela, berbeda dengan punyaku yang menghadap jendela.
Aku duduk di tepi kasurnya, sebelum akhirnya membenamkan wajahku pada permukaan sprei yang berwarna biru tua, menghirup sebuah aroma yang terasa samar – samar.
“Elza...”
Tidak sampai disitu saja, aku kini memeluk bantal yang dia pakai untuk menyandarkan kepala sewaktu tidur, sambil memdekapkan wajahku pada benda empuk tersebut. menghirup aroma yang sama namun terasa lebih kuat.
Ya, bagaimana dirinya tercium. Terasa kuat dari benda – benda yang selalu mendampinginya tiap malam. Hingga aku selalu melakukan hal ini setiap dia pergi keluar, seakan – akan aku sedang memeluk dan membelai rambut hitamnya.
Aku ingin memeluk dirinya.
Aku ingin membahagiakan dirinya.
Aku ingin... melindungi dirinya.
Oh sialan... Sepertinya pikiranku benar – benar sudah tidak jelas, hingga...
BUKK
Terjatuh.
“Aduh!”
Terbenturnya diriku ke lantai memang sakit, tapi itu juga membuat kembali berpikir bahwa melakukan hal ini juga harus hati – hati. Akupun akhirnya terbangun, lalu merapihkan dan menata kasurnya kembali seperti semula.
Karena takut bila tiba – tiba dia datang, dan melihat kasurnya seperti bekas... Tidak perlu kubahas. Yah, karena rasa kebosananku sudah hilang. Lebih baik...
“Huh?”
Aku tidak pergi sekarang.
Meja belajarnya memang dipenuhi oleh buku – buku pelajaran serta boneka kelinci, namun ada satu buku yang cukup berbeda. Kenapa? karena buku tersebut memiliki tulisan Diarydi sampulnya.
Hmm... Kenapa aku tidak sadar bahwa ada buku seperti itu ya? Padahal sudah berkali – kali memasuki ruangannya.
Penasaran, aku menghampiri meja belajarnya dan membuka buku bersampul kecoklatan tersebut. Hmm... Aku jadi teringat sewaktu diriku SD, dimana seluruh siswa dianjurkan untuk memiliki sebuah Diary dan akupun sempat menulisnya... Untuk beberapa halaman saja.
Aku tidak tahu bila dia menganggap hal ini agak serius, atau mungkin, memang Diary adalah hal mutlak bagi seorang gadis? Yah, kesampingkan dulu hal tersebut. Tulisan tangannya memang lebih bagus dariku, yang membuat enak untuk dibaca.
Apa yang selalu dia tulis disini hanyalah kehidupan sehari – harinya, terutama di sekolah, seperti mendapat nilai test bagus (yang membuatku iri), bergosip dengan teman – temannya (tidak penting), menolak ajakan pacaran teman sekelasnya (Ternyata dia populer juga? Yah, untunglah dia menolaknya).
“....”
Tapi ketika aku membuka halaman selanjutnya...
10 Desember
Ibu meninggal.
Aku terdiam.
Aku tahu, aku tahu meski dia hanya menulis dua kata. Kertas yang terasa seperti habis dialiri air ini menceritakan semuanya, ya, air mata yang dia teteskan ke lapisan tipis ini.
Kenapa aku tidak pernah terpikir akan perasaannya? Yah, kukira semua akan baik – baik saja. Melihat dirinya yang selalu ceria ketika berada di hadapanku, tapi ternyata... Tidak di belakang.
Halaman yang berada di belakang juga sama, terasa seperti habis dialiri air, walaupun kata – kata yang dia tuliskan mulai lebih banyak dari sebelumnya.
Melihat dirinya ternyata seperti ini, sesuatu bergejolak di dalam diriku, seperti suara teriakan ya dan tidak secara bersamaan. Dengan keadaan hati seperti itu, aku memutuskan untuk merobek kertas – kertas tersebut.
Tapi sebelum aku melakukannya, aku teringat ini adalah miliknya, dan mengurungkan niat yang terbilang sangat konyol dan akan membuatnya marah.
Aku menutup buku tersebut, berdiri lalu melangkah dari tempat yang semestinya tidak kusentuh. Meski aku agak sedikit berbuat curang, sekarang aku tahu apa yang telah dirasakannya selama ini. Dan sambil mengepalkan tangan, aku berkata pada diriku sendiri.
“Aku tidak akan membuatmu lebih sedih lagi, Elza.”
Fin
0
Kutip
Balas