TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#40
Being Congenial
Spoiler for Being Congenial:
Malam ini adalah malam yang paling spesial, yah, itu yang selalu kupikirkan selama tiga tahun sekolah di tempat ini.
Setiap tanggal 24 april, atau... Ketika sekolah ini berulang tahun.
Disitulah keunikan sekolah ini, karena mereka selalu merayakannya dengan festival dansa di paviliunnya.
Dan aku sekarang hanya berdiam diri di salah satu satu meja makan menikmati segelas teh, sambil mengamati bagaimana tempat ini terlihat sangat menyenangkan dan juga mencolok.
Paviliun yang biasanya hanya berisi dengan perlengkapan sekolah seperti alat olah raga, sekarang telah tergantikan oleh alat musik kelas tinggi lengkap dengan pemainnya, pencahayaan juga dibuat seterang mungkin agar tidak terlihat kelam, dilengkapi dengan karpet lebar untuk tempat berdansa.
Benar – benar terlihat seperti Ballroomlayaknya di kalangan bangsawan.
Diiringi dengan musik Waltz yang terdengar ceria, siswa sekolah yang biasanya sembunyi – sembunyi untuk pacaran atau merayu, terlihat sangat bahagia bisa mengekspresikan perasaan mereka di sini.
Kalau soal pakaian mereka sih, mungkin ada yang seperti bangsawan, memakai jas atau gaun yang terlihat mewah, namun ada juga yang memakai pakaian biasa, semacam kaos oblong, jaket, Jeans, dan sebagainya.
Tapi... Melihat ekspresi mereka di sini, meski pakaian mereka terlihat sangat acak, mereka nampak seperti sebuah gembok dengan kuncinya, sangat serasi.
Mungkin yang menyatukan mereka bukanlah penampilan luar, namun keinginan mereka di malam ini, kesenangan yang tak terlupakan.
Dan aku? Dengan memakai kaos biru yang dilapisi jaket coklat dan celana Jeans, puas mengamati bagaimana keadaan di sini, atau... Itu yang sebetulnya kuharapkan.
“HEY!”
Aku yang sedang asyik meminum teh, langsung tersedak karena kaget.
“Err... bisa tidak untuk tidak mengagetkan?”
Adikku hanya tersenyum nyengir, lalu tiba – tiba menarik salah satu lenganku, mencoba membuatku berdiri.
“Yah, daripada itu lebih baik kita dansa saja yuk!”
“He-hey! Siapa bilang aku setuju denganmu!”
Tarikan tangannya berhenti, dan wajahnya yang ceria kini menatapku dengan wajah masam, seolah – olah aku adalah orang paling kejam di dunia.
“O-OK, OK! Kakak akan dansa denganmu!”
Dia kembali tersenyum dan kami langsung ikut berdansa bersama pasangan yang lain di karpet lebar.
Meski awalnya aku tidak setuju untuk berdansa bersamanya, kupikir aku menjadi menikmatinya sekarang, bukan hanya suasana saja, tapi... Juga dirinya.
Adikku terlihat sangat manis, meski dia terlihat hanya memakai sedikit tata rias di wajahnya, atau mungkin itulah alasan kenapa dia menjadi seperti itu.
Gaunnya yang berwarna merah terang memberikan kesan agak elegan, sangat cocok dengan warna matanya. Sedangkan untuk rambutnya, kini terhias oleh sebuah penjepit rambut berbentuk seperti kelinci. Aneh tapi, terlihat sangat serasi dengan penampilan lainnya yang terlihat elegan.
Oh tidak... Sepertinya wajahku juga ikutan menjadi merah.
“Huh? Wajah kakak kenapa memerah?”
Untuk kedua kalinya... Oh tidak.
“A... Err.. I-ini hanya karena efek... A-alkohol, ya, hanya alkohol.”
Dia terdiam sebentar, lalu berkata dengan nada yang kebingungan.
“Umm... Kak? Sejak kapan ada sekolah yang menyuguhkan alkohol pada anak muridnya?”
Sialan... Sepertinya otakku mengalami malfungsi, walaupun memang benar aku sedikit mabuk. Mabuk karena betapa manisnya dia sekarang.
Akupun langsung mengalihkan topik, bertanya mengapa dia bersamaku sekarang, padahal tadi kulihat dia sedang asik berdansa dengan anak sekelasnya.
Ekspresinya yang daritadi ceria kini berubah seperti sudah memainkan Game yang sama selama berhari – hari.
Dan ternyata, alasannya ternyata karena dia merasa kesal, pada pasangan sebelum diriku yang selalu menginjak kakinya.
Aku tertawa mendengar ucapannya, namun kemudian bertanya lagi dengan cemas teringat kecelakaannya dulu.
“Serius? Kakimu tidak kenapa – napa, kan?”
“Yah, tidak sampai terkilir sih... Memangnya kenapa kakak bertanya?”
Aku menghela nafas bersyukur, sambil menjaga langkahku agar tak sama dengan orang bodoh tersebut.
“Tidak, hanya saja akan merepotkan jika kau harus berbaring di kasur untuk waktu yang lama lagi.”
Dia mengerutkan dahinya lagi, merasa aneh sementara aku hanya tersenyum kecil pada dirinya.
Tapi selain hal tersebut, jawabannya membuat seolah – olah hanya dirikulah yang dapat serasi dengannya, yah, dan... Aku harap dia bisa menganggapku serasi bukan hanya sebagai kakak.
Setiap tanggal 24 april, atau... Ketika sekolah ini berulang tahun.
Disitulah keunikan sekolah ini, karena mereka selalu merayakannya dengan festival dansa di paviliunnya.
Dan aku sekarang hanya berdiam diri di salah satu satu meja makan menikmati segelas teh, sambil mengamati bagaimana tempat ini terlihat sangat menyenangkan dan juga mencolok.
Paviliun yang biasanya hanya berisi dengan perlengkapan sekolah seperti alat olah raga, sekarang telah tergantikan oleh alat musik kelas tinggi lengkap dengan pemainnya, pencahayaan juga dibuat seterang mungkin agar tidak terlihat kelam, dilengkapi dengan karpet lebar untuk tempat berdansa.
Benar – benar terlihat seperti Ballroomlayaknya di kalangan bangsawan.
Diiringi dengan musik Waltz yang terdengar ceria, siswa sekolah yang biasanya sembunyi – sembunyi untuk pacaran atau merayu, terlihat sangat bahagia bisa mengekspresikan perasaan mereka di sini.
Kalau soal pakaian mereka sih, mungkin ada yang seperti bangsawan, memakai jas atau gaun yang terlihat mewah, namun ada juga yang memakai pakaian biasa, semacam kaos oblong, jaket, Jeans, dan sebagainya.
Tapi... Melihat ekspresi mereka di sini, meski pakaian mereka terlihat sangat acak, mereka nampak seperti sebuah gembok dengan kuncinya, sangat serasi.
Mungkin yang menyatukan mereka bukanlah penampilan luar, namun keinginan mereka di malam ini, kesenangan yang tak terlupakan.
Dan aku? Dengan memakai kaos biru yang dilapisi jaket coklat dan celana Jeans, puas mengamati bagaimana keadaan di sini, atau... Itu yang sebetulnya kuharapkan.
“HEY!”
Aku yang sedang asyik meminum teh, langsung tersedak karena kaget.
“Err... bisa tidak untuk tidak mengagetkan?”
Adikku hanya tersenyum nyengir, lalu tiba – tiba menarik salah satu lenganku, mencoba membuatku berdiri.
“Yah, daripada itu lebih baik kita dansa saja yuk!”
“He-hey! Siapa bilang aku setuju denganmu!”
Tarikan tangannya berhenti, dan wajahnya yang ceria kini menatapku dengan wajah masam, seolah – olah aku adalah orang paling kejam di dunia.
“O-OK, OK! Kakak akan dansa denganmu!”
Dia kembali tersenyum dan kami langsung ikut berdansa bersama pasangan yang lain di karpet lebar.
Meski awalnya aku tidak setuju untuk berdansa bersamanya, kupikir aku menjadi menikmatinya sekarang, bukan hanya suasana saja, tapi... Juga dirinya.
Adikku terlihat sangat manis, meski dia terlihat hanya memakai sedikit tata rias di wajahnya, atau mungkin itulah alasan kenapa dia menjadi seperti itu.
Gaunnya yang berwarna merah terang memberikan kesan agak elegan, sangat cocok dengan warna matanya. Sedangkan untuk rambutnya, kini terhias oleh sebuah penjepit rambut berbentuk seperti kelinci. Aneh tapi, terlihat sangat serasi dengan penampilan lainnya yang terlihat elegan.
Oh tidak... Sepertinya wajahku juga ikutan menjadi merah.
“Huh? Wajah kakak kenapa memerah?”
Untuk kedua kalinya... Oh tidak.
“A... Err.. I-ini hanya karena efek... A-alkohol, ya, hanya alkohol.”
Dia terdiam sebentar, lalu berkata dengan nada yang kebingungan.
“Umm... Kak? Sejak kapan ada sekolah yang menyuguhkan alkohol pada anak muridnya?”
Sialan... Sepertinya otakku mengalami malfungsi, walaupun memang benar aku sedikit mabuk. Mabuk karena betapa manisnya dia sekarang.
Akupun langsung mengalihkan topik, bertanya mengapa dia bersamaku sekarang, padahal tadi kulihat dia sedang asik berdansa dengan anak sekelasnya.
Ekspresinya yang daritadi ceria kini berubah seperti sudah memainkan Game yang sama selama berhari – hari.
Dan ternyata, alasannya ternyata karena dia merasa kesal, pada pasangan sebelum diriku yang selalu menginjak kakinya.
Aku tertawa mendengar ucapannya, namun kemudian bertanya lagi dengan cemas teringat kecelakaannya dulu.
“Serius? Kakimu tidak kenapa – napa, kan?”
“Yah, tidak sampai terkilir sih... Memangnya kenapa kakak bertanya?”
Aku menghela nafas bersyukur, sambil menjaga langkahku agar tak sama dengan orang bodoh tersebut.
“Tidak, hanya saja akan merepotkan jika kau harus berbaring di kasur untuk waktu yang lama lagi.”
Dia mengerutkan dahinya lagi, merasa aneh sementara aku hanya tersenyum kecil pada dirinya.
Tapi selain hal tersebut, jawabannya membuat seolah – olah hanya dirikulah yang dapat serasi dengannya, yah, dan... Aku harap dia bisa menganggapku serasi bukan hanya sebagai kakak.
Fin
Diubah oleh lacie. 16-04-2013 18:37
0
Kutip
Balas