[Thread ini hanya untuk yang serius ingin benar-benar bersama-sama belajar. Karena thread ini terus di-update supaya informasinya lengkap, jadi mohon maaf sebelumnya kalau thread ini sangat panjang.]
Spoiler for Perhatian Sebelumnya, Bung Juragan!!!:
kalau Bung Juraganberkenan, saya menerima pengisi kulkas:
dan saya tidak mengharapkan Bung Juragan meneror rumah saya dengan: cukup -nya untuk para saja
dan jangan lupa juga Bung Juragan, supaya thread saya ini diberi:
Terima Kasih Sebelumnya, Bung Juragan Sekalian...
Spoiler for Terima Kasih untuk Bung Juragan yang Sudah Berbaik Hati Mengirim ke Kulkas Saya:
Salam sehat Bung Juragansemua! Selamat datang di thread ketiga ane. Salam sehat Bung Juragan semua. Ini thread pertama saya yang akan mengupas tentang seorang penyair, seniman, dan tokoh nasional yang pribadi, pemikiran, dan karya-karyanya wajib kita tahu. Ia berani menyuarakan penindasan serta ketidakadilan sewaktu Orde Baru Soeharto berkuasa. Wiji Thukul, salah satu dari tiga belas orang yang kemudian hilang demi sebuah perubahan sosial bernama Reformasi. Bung, ayo Bung! Langsung saja kita mulai berdiskusi!
Original Posted By Sumber: Buku Kumpulan Puisi Wiji Thukul Aku Ingin Jadi Peluru, Indonesiatera Magelang, April 2004
Wiji Thukul, foto: jakker.blogspot.com
Wiji Thukul, yang bernama asli Wiji Widodo, lahir pada 26 Agustus 1963 di kampung Sorogenen, Solo, yang mayoritas penduduknya tukang becak dan buruh. Dia sendiri datang dari keluarga tukang becak. Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara dia berhasil menamatkan SMP (1979), lalu masuk SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari, tetapi tidak tamat alias drop-out (1982).
Selanjutnya Wiji Thukul berjualan koran, kemudian oleh tetangganya dia diajak bekerja di sebuah perusahaan meubel antik menjadi tukang pelitur. Pada waktu bekerja sebagai tukang pelitur itu, Wiji Thukul yang dikenal sebagai penyair pelo (cadel) sering mendeklamasikan puisinya untuk teman-teman sekerjanya.
Menulis puisi dimulai oleh Wiji Thukul sejak masih duduk di bangku SD, pada dunia teater dia mulai tertarik ketika di SMP. Lewat seorang teman sekolah dia berhasil ikut sebuah kelompok teater, yaitu Teater JAGAT (singkatan Jagalan Tengah). Bersama-sama rekan Teater JAGAT itulah dia pernah keluar masuk kampung ngamen puisi dengan iringan berbagai instrumen musik: rebana, gong, suling, kentongan, gitar, dan sebagainya. Ngamen seperti itu tidak hanya dilakukan di wilayah Solo, tetapi juga sampai ke Yogya, Klaten, bahkan juga Surabaya. Tahun 1988 pernah menjadi wartawan MASA KINI, meski cuma tiga bulan. Puisi-puisinya diterbitkan dalam media cetak dalam dan luar negeri; Suara Pembaharuan, Bernas, Suara Merdeka, Surabaya Post, Merdeka, Inside Indonesia (Australia), Tanah Air (Belanda), dan juga di penerbitan-penerbitan mahasiswa seperti Politik (UNAS), Imbas (UKWS), Pijar (UGM), Keadilan (UJJ), begitu pun berbagai buletin LSM-LSM. Dibandingkan dengan yang dimuat dalam media cetak, lebih banyak lagi sajak-sajak Wiji Thukul tersebar dalam bentuk fotokopi oleh dan di antara teman-temannya dan orang-orang yang mengaguminya. Selain menulis puisi, Wiji Thukul juga menulis cerpen, esai, dan resensi puisi.
Wiji Thukul menikah dengan Dyah Sujirah (Sipon) dan dikaruniai dua anak, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, semasa masih berada di sisi keluarganya, di samping membantu istrinya yang membuka usaha jahitan pakaian, Wiji Thukul juga menerima pesanan sablonan kaos, tas, dan lain-lain. Ia bersama anak dan istrinya pernah mengontrak rumah di kampung Kalangan Solo. Bersama anak-anak sekampung dia menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis untuk anak-anak. Dia pun pernah menjadi fasilitator workshop teater untuk buruh-buruh perkebunan di Sukabumi, buruh di Bandung, Jakarta, dan di kampung-kampung.
Dua kumpulan puisinya, Puisi Pelo dan Darman dan Lain-Lain, telah diterbitkan oleh Taman Budaya Surakarta (TBS). Tahun 1989, dia diundang membaca puisi oleh Goethe Institut di aula Kedutaan Besar Jerman di Jakarta; tahun 1991, dia tampil di Pasar Malam Puisi yang diselenggarakan Erasmus Huis, di pusat kebudayaan Belanda di Jakarta itu dia ngamen.
Tahun 1992, sebagai penduduk Jagalan-Pucangsawit, ia bergabung bersama masyarakat sekampungnya, di sekitar pabrik tekstil PT Sariwarna Asli, untuk ikut memprotes pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh pabrik tekstil itu. Wiji juga ikut bergabung dengan aksi perjuangan petani di Ngawi (1994), ia memimpin pemogokan buruh di PT Sritex (1995). Hak petani dan hak buruh adalah hak asasi manusia yang harus dibela dan diperjuangkan. Selanjutnya, dengan kalangan mahasiswa dan orang muda yang kritis, Wiji terlibat untuk memperjuangkan kebebasan sipil melalui aksi-aksi di jalan di berbagai kota di Pulau Jawa.
Wiji Thukul di tahun 1991 menerima WERTHEIM ENCOURAGE AWARD yang diberikan oleh Wertheim Stichting di negeri Belanda. Bersama W.S. Rendra, Wiji Thukul adalah penerima award pertama sejak yayasan itu didirikan untuk menghormati sosiolog dan ilmuwan Belanda WE Wertheim. Selain itu, pada tahun 2002 ia memperoleh YAP THIAM HIEN AWARD ke-10 atas jasanya dalam pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia.
Sejak peristiwa 27 Juli 1996 yang menghebohkan, Wiji Thukul menjadi salah seorang korban dari 'asap' politik Orde Baru. Hingga sekarang belum juga diketahui di mana Wiji Thukul berada.
Wiji Thukul, woodcut style by swarakarumput
Diubah oleh swarakarumput 14-04-2014 10:55
grg. memberi reputasi
1
36.3K
Kutip
108
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kaukokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
[url=https://S E N S O Rdimanuga/homicide-sajak-suara]Musikalisasi Puisi "Sajak Suara"[/url]
Spoiler for Teka-teki yang Ganjil:
Teka-teki yang Ganjil
Pada malam itu kami berkumpul dan berbicara
Dari mulut kami tidak keluar hal-hal yang besar
Masing-masing berbicara tentang keinginannya
yang sederhana dan masuk akal
Ada yang sudah lama sekali ingin bikin dapur
di rumah kontraknya
Dan itu mengingatkan yang lain
bahwa mereka juga belum punya panci, kompor,
gelas minum dan wajan penggoreng
Mereka jadi ingat bahwa mereka pernah
ingin membeli barang-barang itu
Tetapi keinginan itu dengan cepat terkubur
oleh keletihan kami
Dan upah kami dalam waktu singkat telah berubah
menjadi odol-shampo-sewa rumah
dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi
Ternyata banyak di antara kami yang masih susah
menikamati teh hangat
Karena kami masih pusing bagaimana mengatur
letak tempat tidur dan gantungan pakaian
Ada yang sudah lama ingin mempunyai kamar mandi sendiri
Dari situ pembicaraan meloncat ke soal harga semen
dan juga cat tembok yang harganya tak pernah turun
Kami juga berbicara tentang kampanye pemiihan umum
yang sudah berlalu
Tiga partai politik yang ada kami simpulkan
Tak ada hubungannya sama sekali dengan kami: buruh
Mereka hanya memanfaatkan suara kami
demi kedudukan mereka
Kami tertawa karena menyadari
Bertahun-tahun kami dikibuli
dan diperlakukan seperti kerbau
Akhirnya kami bertanya
Mengapa sedemikian sulitnya buruh membeli sekaleng cat
padahal tiap hari ia bekerja tak kurang dari 8 jam
Mengapa sedemikian sulitnya bagi buruh
untuk menyekolahkan anak-anaknya
Padahal mereka tiap hari menghasilkan
berton-ton barang
Lalu salah seorang di antara kami berdiri
Memandang kami satu-persatu kemudian bertanya:
'Adakah barang-barang yang kalian pakai
yang tidak dibikin oleh buruh?'
Pertanyaan itu mendorong kami untuk mengamati
barang-barang yang ada di sekitar kami:
neon, televisi, radio, baju, buku...
Sejak itu kami selalu merasa seperti
sedang menghadapi teka-teki yang ganjil
Dan teka-teki itu selalu muncul
ketika kami berbicara tentang panci-kompor-
gelas minum-wajan penggoreng
Juga di saat kami menghitung upah kami
yang dalam waktu singkat telah berubah
menjadi odol-shampo-sewa rumah
dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi
Kami selalu heran dan bertanya-tanya
Kekuatan macam apakah yang telah menghisap
tenaga dan hasil kerja kami?
Kalangan, Solo, 21 september '93
Spoiler for Reportase dari Puskesmas:
Reportase dari Puskesmas
barangkali karena ikan laut yang kumakan ya
barangkali karena ikan laut, seminggu ini
tubuhku gatal-gatal ya gatal-gatal
karena itu dengan lima ratus rupiah aku daftarkan
diri ke loket, ternyata cuma seratus lima puluh
murah sekali o murah sekali! lalu aku menunggu
berdiri. bukan aku saja. tapi berpuluh-puluh
bayi digendong. orang-orang batuk
kursi-kursi tak cukup maka berdirilah aku.
"sakit apa pak?"
aku bertanya kepada seorang bapak berkaos lorek
kurus. bersandal jepit dan yang kemudian mengaku
sebagai penjual kaos celana pakaian rombeng
di pasar johar.
"batuk pilek pusing sesek napas
wah! campur jadi satu nak!"
bayangkan tiga hari menggigil panas tak tidur
ceritanya kepadaku. mendengar cerita lelaki itu
seorang ibu (40 th) menjerit gembira:
"ya ampun rupanya bukan aku saja!"
di ruang tunggu terjejal yang sakit pagi itu
sakit gigi mules mencret demam semua bersatu.
jadi satu. menunggu.
o ya pagi itu seorang tukang kayu sudah tiga
hari tak kerja. kakinya merah bengkak gemetar
"menginjak paku!" katanya, meringis.
puskesmas itu demokratis sekali, pikirku
sakit gigi, sakit mata, mencret, kurapan, demam,
tak bisa tidur, semua disuntik dengan obat yang sama.
ya semua disuntik dengan obat yang sama.
ini namanya sama rata sama rasa.
ini namanya setiap warganegara mendapatkan haknya
semua yang sakit diberi obat yang sama!
Semarang '86
Spoiler for Kuburan Purwoloyo:
Kuburan Purwoloyo
di sini terbaring
mbok Cip
yang mati di rumah
karena ke rumah sakit
tak ada biaya
di sini terbaring
pak Pin
yang mati terkejut
karena rumahnya tergusur
di tanah ini
terkubur orang-orang yang
sepanjang hidupnya memburuh
terhisap dan menanggung hutang
di sini
gali-gali
tukang becak
orang-orang kampung
yang berjasa dalam setiap Pemilu
terbaring
dan keadilan masih saja hanya janji
di sini
kubaca kembali
: sejarah kita belum berubah!
Jagalan, Kalangan Solo, 25 Oktober '88
Spoiler for Jalan Slamet Riyadi Solo:
Jalan Slamet Riyadi Solo
dulu kanan dan kiri jalan ini
pohon-pohon asam besar melulu
saban lebaran dengan teman sekampung
jalan berombongan
ke taman sriwedari nonton gajah
banyak yang berubah kini
ada holland bakery
ada diskotik ada taksi
gajahnya juga sudah dipindah
loteng-loteng arsitektur cina
kepangkas jadi gedung tegak lurus
hanya kereta api itu
masih hitam legam
dan terus mengerang
memberi peringatan pak-pak becak
yang nekat potong jalan
"hei hati-hati
cepat menepi ada polisi
banmu digembos lagi nanti!"
Solo, Mei-Juni 1991
Spoiler for Ayolah Warsini:
Ayolah Warsini
Warsini! Warsini!
apa kamu sudah pulang kerja Warsini
apa kamu tidak letih
seharian berdiri di pabrik Warsini
ini sudah malam Warsini
apa celana dan kutangmu digeledah lagi
karena majikanmu curiga
kamu menyelipkan moto
ini malam minggu Warsini
berapa utangmu minggu ini
apa kamu bingung hendak membagi gaji
apakah kamu masuk salon
potong rambut lagi
ayolah Warsini
kawan-kawan sudah datang
kita sudah berkumpul di sini
kita akan latihan sandiwara lagi
kamu nanti jadi mbok Bodong
si Joko biar jadi rentenirnya
jangan malu Warsini
jangan takut dikatakan kemayu
kamu tak perlu minder dengan pekerjaanmu
sebab mas Yanto juga tidak sekolah Warsini
ia pun cuma tukang plitur
Mami juga tidak sekolah
kerjanya cuma mbordir sapu tangan di rumah
Wahyuni juga tidak sekolah
bapaknya tak kuat mbayar uang pangkal SMA
Partini? ia pun penjahit pakaian jadi
di perusahaan konveksi milik tante Lili
ayolah Warsini
ini malam minggu Warsini
kami menunggumu di sini
kita akan latihan sandiwara lagi
Spoiler for Peringatan:
Peringatan
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
Solo, 1986
Spoiler for Tentang Sebuah Gerakan:
Tentang Sebuah Gerakan
Poster Tanah Untuk Rakyat (TUR) karya Yayak "Kencrit" Yatmaka
tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!
aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?
aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku
aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?
Original Posted By tandukrusa.►korban 1998 ya gan ini?
iya gan...
salah satu orang hilang saat geger '98. aktivis PRD yang dijadikan kambing hitam oleh Orde Baru dalam peristiwa penyerangan kantor PDI di Jakarta.
Quote:
Original Posted By fakhrul.coy►wih banyak amat yg reserved
kayak panjang nih cerita
iya gan, mari kita mengupas (kalo bisa selengkap-lengkapnya) sosok Wiji Thukul yang sepertinya belum banyak agan-agan yang tahu. tentang pribadinya, karya-karyanya (tulisan, terutama puisi-puisinya), juga pemikirannya yang dinilai subversif oleh Orde baru.
mari agan-agan kita sama-sama berdiskusi membahasnya biar memahami "perjuangan-perjuangan" Wiji Thukul melawan tirani.
Quote:
Original Posted By gravebehold►baru tau ane ni gan
pejuang ya gan
mari gan, belajar dan berdiskusi. nanti saya update terus tulisannya. yang luar biasa dari Wiji Thukul itu puisi-puisinya yang berani melawan tirani Soeharto. silakan subscribe kalo suka. menambah wawasan kita, gan...