TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7.2K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#39
Gigantic Silhoutte
Spoiler for Gigantic Silhoutte:
Sekarang adalah malam.
Ya, keadaan dimana sang surya tergantikan oleh rembulan, keadaan dimana bintang menampakkan dirinya di langit yang gelap, ya, dan tidak lupa juga sebagai penanda beristirahat manusia yang beraktifitas siang hari seperti anak sekolahan.
Namun sayangnya, aku tidak bisa beristirahat. Lebih jelasnya, sekarang aku sedang terombang – ambing diantara dunia nyata dan dunia mimpi.
Badanku terasa sangat panas, walaupun hawa dingin Falltengah memenuhi ruangan ini dan aku yang tidak memakai selimut. Sedangkan nafasku terasa sangat sesak, seperti ditindih sesuatu.
Anehnya, mataku terbuka lebar dan langit – langit kamar sangat jelas, namun juga... Sebuah bayangan besar samar – samar, yang muncul dan kian mendekat dari langit – langit kamar ke arahku.
Halooo...
Sebuah suara bergema terngiang di kepalaku. Akupun sebetulnya ingin berteriak, namun mulutku tetap tidak bergerak, seperti sedang dibungkus oleh lakban.
Dan ketika aku ingin kabur darinya, badanku ternyata tidak bisa digerakkan juga, seperti telah dirantai sangat kuat.
Ini lebih buruk dari kegelapan yang kubenci. Aku merasa seperti ingin dibunuh, oleh bayangan tersebut.
Tapi lalu, aku teringat sesuatu yang penting. Yang membuatku teringat bagaimana cara keluar dari keadaan ini.
Tenang... Tenang... Tenang... SEKARANG!
BUKK
Aku menggulingkan tubuh tiba – tiba hingga terjatuh dari kasur, yah meski terasa agak sakit juga kepala terasa pusing, kupikir sekarang aku sudah berada di dunia nyata.
“Hah... Hah...”
Aku bangun, duduk di lantai sambil menghela nafas dalam – dalam agar tenang. Dan sehabis merentangkan tangan, aku berdiri, lalu berjalan keluar kamar sambil menguap. Hendak meminum susu atau semacamnya.
Tertangkap di telingaku suara TV, ketika aku menuruni tangga. Berpikir bahwa lupa mematikan benda kotak tersebut, aku segera melangkah agak cepat ke arah ruang tengah.
Di ruang tengah.
“Huh? Elza?”
Seorang gadis yang berwajah serta rambut sepertiku menengok ke arah diriku dari sofa yang berada di depan TV yang menyala. Memasang ekspresi kaget sepertiku.
“Kakak? Sedang apa kakak disini?”
Aku berjalan menghampirinya.
“Uhh... Semestinya kakak yang bertanya. Kau mengapa masih disini?
Bukankah kau ada kegiatan OSIS besok?”
Dia menggeleng.
“Tidak ada kok.”
“Hah?”
“Emm... bagaimana ya? Kalau itu sih... Aku sudah mengundurkan diri. Aku sudah bukan anggota OSIS lagi.”
“Serius? memangnya kenapa?”
Setelah menghela nafas, dia menjawab.
“Yah, seperti yang kakak bilang. Ternyata memang cukup lelah bekerja sebagai anggota OSIS sambil melakukan kerja paruh waktu.”
Aku tertawa.
“Hahaha! Makanya, pikirkan dulu baik – baik sebelum melakukan sesuatu.”
Dan dia mengerutkan dahinya.
“Ehh? Tapikan ini untuk kita berdua, meski kakak juga kerja sambilan.”
“Dan memaksa fisikmu?”
Elza langsung terdiam mendengar ucapanku yang agak ketus, dan aku melanjutkan perkataanku lagi.
“Hmm... Yah, daripada itu. Kau sedang nonton apa?”
“Semacam film drama, jarang – jarang film seperti ini ditayangkan malam hari.”
“Tidak keberatan, kan... bila aku gabung?”
Huh? Bukannya aku tadi ingin bilang “Jangan sampai malam – malam ya”? Tapi untuk kedua kalinya dia menggeleng, lalu menjawab dengan suara yang seperti merasa beruntung.
“Tidak, malah kupikir akan lebih menyenangkan bila menonton bersama.”
Walaupun aku tiba – tiba mengatakan sesuatu yang aneh, kupikir ini cukup menyenangkan, mengingat bagaimana pertama kali kami begadang. Merasakan waktu yang cukup mewah.
Tapi lalu suasana menjadi aneh, ya, sangat aneh seperti waktu aku berjalan pulang dengannya sehabis berbelanja dengannya. Pandanganku tidak bisa fokus ke layar TV, malah selalu mencoba melirik ke arah dirinya yang menonton dengan serius.
Dan malam itu, aku merasa lebih menikmati dirinya daripada menikmati film drama yang kami nonton.
Oh ya, kupikir... Aku harus berterima kasih pada bayangan raksasa tersebut. Karena telah membuatku terbangun, yang berakhir bisa berdekatan dengan dirinya.
Ya, keadaan dimana sang surya tergantikan oleh rembulan, keadaan dimana bintang menampakkan dirinya di langit yang gelap, ya, dan tidak lupa juga sebagai penanda beristirahat manusia yang beraktifitas siang hari seperti anak sekolahan.
Namun sayangnya, aku tidak bisa beristirahat. Lebih jelasnya, sekarang aku sedang terombang – ambing diantara dunia nyata dan dunia mimpi.
Badanku terasa sangat panas, walaupun hawa dingin Falltengah memenuhi ruangan ini dan aku yang tidak memakai selimut. Sedangkan nafasku terasa sangat sesak, seperti ditindih sesuatu.
Anehnya, mataku terbuka lebar dan langit – langit kamar sangat jelas, namun juga... Sebuah bayangan besar samar – samar, yang muncul dan kian mendekat dari langit – langit kamar ke arahku.
Halooo...
Sebuah suara bergema terngiang di kepalaku. Akupun sebetulnya ingin berteriak, namun mulutku tetap tidak bergerak, seperti sedang dibungkus oleh lakban.
Dan ketika aku ingin kabur darinya, badanku ternyata tidak bisa digerakkan juga, seperti telah dirantai sangat kuat.
Ini lebih buruk dari kegelapan yang kubenci. Aku merasa seperti ingin dibunuh, oleh bayangan tersebut.
Tapi lalu, aku teringat sesuatu yang penting. Yang membuatku teringat bagaimana cara keluar dari keadaan ini.
Tenang... Tenang... Tenang... SEKARANG!
BUKK
Aku menggulingkan tubuh tiba – tiba hingga terjatuh dari kasur, yah meski terasa agak sakit juga kepala terasa pusing, kupikir sekarang aku sudah berada di dunia nyata.
“Hah... Hah...”
Aku bangun, duduk di lantai sambil menghela nafas dalam – dalam agar tenang. Dan sehabis merentangkan tangan, aku berdiri, lalu berjalan keluar kamar sambil menguap. Hendak meminum susu atau semacamnya.
Tertangkap di telingaku suara TV, ketika aku menuruni tangga. Berpikir bahwa lupa mematikan benda kotak tersebut, aku segera melangkah agak cepat ke arah ruang tengah.
Di ruang tengah.
“Huh? Elza?”
Seorang gadis yang berwajah serta rambut sepertiku menengok ke arah diriku dari sofa yang berada di depan TV yang menyala. Memasang ekspresi kaget sepertiku.
“Kakak? Sedang apa kakak disini?”
Aku berjalan menghampirinya.
“Uhh... Semestinya kakak yang bertanya. Kau mengapa masih disini?
Bukankah kau ada kegiatan OSIS besok?”
Dia menggeleng.
“Tidak ada kok.”
“Hah?”
“Emm... bagaimana ya? Kalau itu sih... Aku sudah mengundurkan diri. Aku sudah bukan anggota OSIS lagi.”
“Serius? memangnya kenapa?”
Setelah menghela nafas, dia menjawab.
“Yah, seperti yang kakak bilang. Ternyata memang cukup lelah bekerja sebagai anggota OSIS sambil melakukan kerja paruh waktu.”
Aku tertawa.
“Hahaha! Makanya, pikirkan dulu baik – baik sebelum melakukan sesuatu.”
Dan dia mengerutkan dahinya.
“Ehh? Tapikan ini untuk kita berdua, meski kakak juga kerja sambilan.”
“Dan memaksa fisikmu?”
Elza langsung terdiam mendengar ucapanku yang agak ketus, dan aku melanjutkan perkataanku lagi.
“Hmm... Yah, daripada itu. Kau sedang nonton apa?”
“Semacam film drama, jarang – jarang film seperti ini ditayangkan malam hari.”
“Tidak keberatan, kan... bila aku gabung?”
Huh? Bukannya aku tadi ingin bilang “Jangan sampai malam – malam ya”? Tapi untuk kedua kalinya dia menggeleng, lalu menjawab dengan suara yang seperti merasa beruntung.
“Tidak, malah kupikir akan lebih menyenangkan bila menonton bersama.”
Walaupun aku tiba – tiba mengatakan sesuatu yang aneh, kupikir ini cukup menyenangkan, mengingat bagaimana pertama kali kami begadang. Merasakan waktu yang cukup mewah.
Tapi lalu suasana menjadi aneh, ya, sangat aneh seperti waktu aku berjalan pulang dengannya sehabis berbelanja dengannya. Pandanganku tidak bisa fokus ke layar TV, malah selalu mencoba melirik ke arah dirinya yang menonton dengan serius.
Dan malam itu, aku merasa lebih menikmati dirinya daripada menikmati film drama yang kami nonton.
Oh ya, kupikir... Aku harus berterima kasih pada bayangan raksasa tersebut. Karena telah membuatku terbangun, yang berakhir bisa berdekatan dengan dirinya.
Fin
Diubah oleh lacie. 17-04-2013 09:12
0
Kutip
Balas