TS
st_illumina
[Anthology] March to War - Fanstuff War Fiction Compilation Thread
All is fair in love and war
---
---
Spoiler for Sekapur Sirih:
Perang adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia, karena demi perang teknologi diciptakan, dan dari perang teknologi maju,
perang memajukan bangsa, sekaligus memusnahkan bangsa lain,
tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin merasakan kerasnya perang dan penderitaan karenanya,
tetapi, tetap saja perang terjadi,
karena hal hal remeh seperti wilayah, agama, ideologi,
karena perbedaan, antara dua individu yang independen,
konflik, tak bisa dihindarkan,
Perang tak bisa dihindarkan,
Karena, dari pengorbanan pejuang, di perang sebelumnya,
kita bisa merasakan kedamaian.
perang memajukan bangsa, sekaligus memusnahkan bangsa lain,
tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin merasakan kerasnya perang dan penderitaan karenanya,
tetapi, tetap saja perang terjadi,
karena hal hal remeh seperti wilayah, agama, ideologi,
karena perbedaan, antara dua individu yang independen,
konflik, tak bisa dihindarkan,
Perang tak bisa dihindarkan,
Karena, dari pengorbanan pejuang, di perang sebelumnya,
kita bisa merasakan kedamaian.
Spoiler for War:
![[Anthology] March to War - Fanstuff War Fiction Compilation Thread](https://dl.kaskus.id/dl.dropbox.com/u/108710157/Fullscreen%20capture%203192013%2090419%20PM.jpg)
Spoiler for rule of war:
All is Fair in Love and War
War End : 20th April
Maximum War Entry : 4 Post
Spoiler for War Journal Entry Index:
The Fiery Rom - Lacie
Its Urdoom
Red Zone - ElfQiwil
Maret Datang Bersama Topan - Andesko
AKB0048 Liberation of Metrostar - Make.A.Train
Laye 13.5 - Vermilionhelix
Kasur - Giande
Spoiler for War Prize:
-t.b.a-
Diubah oleh st_illumina 20-04-2013 23:34
0
7.8K
Kutip
138
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
mca_trane
#92
[Fanfic] AKB0048 - Liberation of Metrostar
Spoiler for 2:
Aku memandang Victor, dan dia mengangukkan kepalanya. Tanpa ragu, aku menekan pemicu bom. Bunyi ledakan teredam oleh air laut, tapi gelombangnya bisa kami rasakan. Ledakan yang aku picu juga diikuti oleh tiga ledakan lainnya.
“Sekarang!”
Kami berenang lagi menuju pilar, lalu kami berusaha naik ke permukaan. Memang lebih enak bernafas tanpa alat bantu.
Yang aku lihat pertama kali adalah langit malam yang berhias garis-garis merah, oranye, dan hijau dari peluru-peluru traceryang ditembakkan. Ada juga berondongan misil yang meninggalkan jejak asap gelap.
Ini adalah pemandangan perang di sebuah planet yang netral dari hukum Entertainment Ban. Perang untuk memperjuangkan hak asasi manusia.
Setelah naik ke sebuah platform, kami menanggalkan peralatan selam kami dan menyiapkan senapan masing-masing. Aku dan Victor menggunakan senapan AK-48, namun punyaku memiliki teropong ACOG, sementara milik Victor terpasang teropong hologram dan peluncur granat. G9 membawa RPK-48M dengan drum mag dan bipod terlipat, dan Perfume menyiapkan AKS-48U dengan teropong red dot.
“Kita selesaikan ini dalam waktu kurang dari 20 menit, sebelum efek EMPnya habis. Mako 2 dan Orca 2 akan membersihkan platform utama. Mako 1 akan mensterilkan ruang senjata, dan kita akan mengambil alih control room di puncak menara. Jangan sampai tertahan di satu area lebih dari dua menit. Setiap detik yang bisa kita hemat akan sangat berarti bagi pasukan yang bertarung di garis depan. Mengerti?”
Kami tak bisa meminta penjelasan yang lebih rinci lagi dari Victor. Tanpa basa-basi kami bergegas menuju platform utama.
Di atas, Mako 2 dan Orca 2 sudah melancarkan serangan mereka. Victor melihat ada satu kelompok musuh yang masuk dari sebuah hatch. Victor lalu menembak dengan peluncur granat. Peluru 40 mm melambung masuk kedalam hatch dan meledak di dalam sana.
“Musuh arah jam lima, di atas atap, dekat misil SAM!”
Sekilas aku menangkap beberapa sosok yang bergerak di platform penyangga misil SAM yang tak bisa ditembakkan karena gangguan EMP ini. Dengan cepat aku membidik dari teropong dan menembak. Aku tak menyia-nyiakan setengah detikpun setelah menembak untuk berganti sasaran.
Tiba-tiba, dari balik misil SAM yang besar itu muncul sebuah drone VTOL yang mulai mengarahkan minigunnya ke arah kami.
“Cepat menghindar!”
Tanpa perlu diberitahu Perfume, kami sudah tahu tugas kami selanjutnya: menghindari area terbuka. Perfume dengan cepat berlari di sisi sebuah gudang kecil dan terus berputar-putar. Ah, rupanya Perfume hendak menjadikan dirinya sebagai umpan. Dia memang punya kecepatan lari yang lebih kencang dari rekan laki-lakinya.
“Oh, aku tahu apa yang ingin kau lakukan.”
G9 menangkap umpan Perfume dengan baik, dan begitu drone itu memunggunginya, G9 tak ragu untuk memuntahkan peluru dari senapannya. Drone itu jadi sasaran empuk dan akhirnya jatuh.
“Ayo cepat masuk ke menara.”
Perintah absolut Victor akhirnya membuat kami terus maju ke pintu masuk menara sambil mengalahkan musuh yang berusaha menghalangi kami. Victor tiba lebih dulu di pintu menera yang tertutup rapat. Dia mendobrak pintu itu dengan menendangnya. Satu kali hentakan di gagangnya dapat membuka pintu itu. Ternyata ada satu musuh di balik pintu itu. Victor tak ragu menyarangkan satu peluru di kepalanya.
“Aku butuh shotgun untuk ini.”
Victor mengganti AKnya dengan shotgun otomatis Saiga-12 048. Bersamaan dengan itu, dua tentara DES muncul menuruni tangga utama. Victor merespon cepat dengan menembak mereka berdua, hanya dengan satu kali tarikan pelatuk.
“Tunggu apa lagi?! Ayo naik!”
Menara setinggi 10 meter harus kami daki dengan tangga berputar. Secepat mungkin kami meniti setiap anak tangganya. Dan di puncak menara kami berhasil masuk ke control room.
“Berhenti sampai disana!”
Kami dikejutkan oleh suara seorang tentara DES. Dia menodongkan senjatanya kepada seorang kru control room yang diikat di sebuah kursi. Kami juga menyadari bahwa dia tak sendirian. Beberapa orang berseragam sama juga terlihat menyandera setidaknya satu orang kru yang semuanya duduk terikat.
“Jangan mendekat jika kalian tak mau orang-orang ini mati sia-sia!”
Cih, akhirnya mereka pakai taktik pengecut seperti ini.
“Sorority, sekarang giliranmu.”
Aku mengangguk, menjawab perintah Victor.
“Apa yang kalian inginkan?!”
“Jatuhkan senjata kalian!”
Aku berusaha berkomunikasi dengan anggota tim lainnya tanpa menggunakan suara. Mereka terlihat cukup tegang, apakah mereka belum pernah menghadapi situasi seperti ini? Victor mengangguk, namun sepertinya G9 dan Perfume agak takut.
Aku memutuskan untuk tetap mengikuti perintah para penyandera.
“Sorority! Apa kamu gila?!”
“Ikuti saja perintahmya, Perfume.”
Victor juga meletakkan shotgun serta senapan AKnya.
“Kita tak bisa mengorbankan warga sipil.”
“Tapi mereka bekerja untuk DES!”
“Ini perintah langsung, Perfume! Jatuhkan senjatamu! G9, kamu juga!”
Hei, kita tak perlu bertengkar seperti ini. Tapi Perfume akhirnya menjatuhkan senjatanya. G9 juga mengikuti, meski dia adalah orang yang paling tidak ingin kau rebut senjatanya.
Dengan ini, aku kembali melanjutkan negosiasi.
“Baiklah, kami sudah menjatuhkan senjata kami. Lalu apa?”
“Perintahkan unit kalian untuk mundur.”
“Sayangnya kami tidak bisa, kami tak punya wewenang untuk itu.”
“Jadi kalian tak peduli jika mereka semua mati?!”
Seisi ruangan dipenuhi suara-suara penuh rasa ketakutan.
“Victor, kamu punya pendapat?”
Victor, sang team leader yang lebih tua dari kami berusaha memikirkan sesuatu. Jika keadaannya jadi seperti ini, aku juga bisa gugup.
“Orca 1 ke Overlord.”
“He-hei!”
Victor, kamu serius ingin mundur?
“Siapkan mobil van, untuk…”
Sembari berkomunikasi dengan markas pusat, Victor mengambil pistol dari sarungnya dengan cepat. Gerakan tangannya cepat sekali, begitu aku menyadarinya, dia sudah menembak si penyandera. Perfume dan G9 juga tidak ketinggalan dan ikut mengambil pistol mereka.
Seorang tentara mencoba menembakku. Namun aku berguling dengan cepat sembari mengambil AK milikku. Begitu mendarat dalam posisi jongkok, aku menembaknya. Musuh yang mencoba menembakkan pistol mereka tak ketinggalan aku habisi.
“Apa sudah semuanya?”
“Berhenti!”
Kami berbalik, dan ternyata kami salah. Masih ada satu tentara lagi, dan tanganya berada di atas sebuah tombol merah di konsol.
“Jika aku menekan tombol ini, seluruh fasilitas pertahanan udara ini akan hancur! Beruntung Zodiac menciptakan mekanisme penghancuran ini agar senjata kami tak jatuh ke tangan kalian!”
“Zodiac?!”
Aku memang mendengar rumor tak sedap tentang perusahaan pertambangan itu. Namun kali ini buktinya ada didepan mataku. Zodiac telah membantu DGTO dalam rezim Entertainment Ban!
Sial…apa yang bisa kita lakukan?!
Terdengar suara pecahan kaca. Meski samar, kami tahu dari mana arahnya. Ada bekas peluru di salah satu kaca. Dan peluru itu ternyata mengenai kepala tentara DES itu. Tubuhnya jatuh ke lantai.
“Phew…kita beruntung.”
G9 pun duduk untuk melepaskan ketegangan di tubuhnya. Perfume, sebagai seorang medic, pergi untuk mengecek luka para sandera.
“Mako 1, disini Orca 1. Control room berhasil kami rebut.”
“Kerja bagus. Ruang senjata dan exterior juga sudah bersih. Misi selesai. Helikopter akan mengangkut kalian ke rendezvous point.”
“Baiklah.”
“Tapi sebelum itu, Orca 1, ada seseorang yang ingin menemui kalian. Mereka dari…WOTA cabang Jakarta.”
“Siap.”
Victor mengambil senjatanya di lantai. Dia bersiap-siap untuk pergi.
“Ayo, kita masih punya banyak pekerjaan.”
***
Kami tiba di helipad dan siap diangkut oleh helikopter. Namun ada yang aneh dengan helikopter ini. Kenapa helikopternya dicat warna-warni? Dan kenapa ada stiker gadis yang ditempel di tubuhnya?
Pertanyaanku terjawab setelah melihat dua orang yang keluar dari helikopter itu. Salah satunya adalah laki-laki dengan kulit gelap dan rambut kribo. Dia mengenakan trench coat gelap yang menutupi seragam militernya. Rekannya adalah perempuan langsing berkulit putih dengan rambut ungu gelap terikat, mengenakan tank-top hitam dan celana baggy.
“Kalian pasti tim Orca 1 kan? Kenalkan, namaku Denis, dan temanku ini adalah Maya. Kami dari WOTA cabang Jakarta diberi tugas untuk membantu kalian selama satu minggu ini.”
Victor terlihat tidak senang. Butuh usaha untuk meyakinkannya agar mau berjabat tangan dengan Denis.
“Jadi, bantuan apa yang kalian tawarkan?”
“Seperti tadi, aku lihat kalian kesulitan dalam situasi tadi. Akulah yang menembak musuh kalian.”
Mendengar Denis yang menyelamatkan tim kami, Victor pun agak melunak.
“Lalu…apa lagi?”
“Kami punya intel yang mungkin bisa membantu dalam misi kalian. Jangan khawatir, kami mengenal setiap jengkal di kota Jakarta ini. Nah, sekarang kita akan pergi ke rendezvous point. Mohon maklumi helikopternya, semua kendaraan milik WOTA dicat seperrti ini."
Kami akhirnya masuk ke dalam helikopter dan dibawa ke rendezvous point.
***
17 Agustus, Star Calendar 0048, jam 1543.
Keadaan di Jakarta sudah cukup membaik. Pasukan MEB dari luar kota mulai masuk dan merebut titik-titik penting yang dikuasai DES.
“Sorority…”
Di dalam ruangan kamar sebuah barak, Victor tengah berbincang denganku.
“Aku heran.”
“Heran kenapa?”
“Kamu lihat sendiri kan, bagaimana Jakarta bisa dengan mudahnya direbut kembali. Operasi ini direncanakan dengan sangat berantakan, tapi ternyata perkembangannya sangat mencengangkan.”
Sedari tadi dia terus menghisap rokok. Aku tak tahu lagi berapa batang yang ia habiskan.
“Sementara itu… kita sudah diduduki DGTO selama 40 tahun. Usaha apapun, setiap misi, operasi, semuanya tidak menghasilkan apapun. Semuanya adalah zero-sum game. Tapi, hanya menyediakan tempat untuk konser bintang pop…”
Batang rokok yang ada di mulutnya diambil. Lalu rokok itu dia lempar ke luar jendela.
“Apa yang tak kita miliki di masa lalu?”
“Sekarang!”
Kami berenang lagi menuju pilar, lalu kami berusaha naik ke permukaan. Memang lebih enak bernafas tanpa alat bantu.
Yang aku lihat pertama kali adalah langit malam yang berhias garis-garis merah, oranye, dan hijau dari peluru-peluru traceryang ditembakkan. Ada juga berondongan misil yang meninggalkan jejak asap gelap.
Ini adalah pemandangan perang di sebuah planet yang netral dari hukum Entertainment Ban. Perang untuk memperjuangkan hak asasi manusia.
Setelah naik ke sebuah platform, kami menanggalkan peralatan selam kami dan menyiapkan senapan masing-masing. Aku dan Victor menggunakan senapan AK-48, namun punyaku memiliki teropong ACOG, sementara milik Victor terpasang teropong hologram dan peluncur granat. G9 membawa RPK-48M dengan drum mag dan bipod terlipat, dan Perfume menyiapkan AKS-48U dengan teropong red dot.
“Kita selesaikan ini dalam waktu kurang dari 20 menit, sebelum efek EMPnya habis. Mako 2 dan Orca 2 akan membersihkan platform utama. Mako 1 akan mensterilkan ruang senjata, dan kita akan mengambil alih control room di puncak menara. Jangan sampai tertahan di satu area lebih dari dua menit. Setiap detik yang bisa kita hemat akan sangat berarti bagi pasukan yang bertarung di garis depan. Mengerti?”
Kami tak bisa meminta penjelasan yang lebih rinci lagi dari Victor. Tanpa basa-basi kami bergegas menuju platform utama.
Di atas, Mako 2 dan Orca 2 sudah melancarkan serangan mereka. Victor melihat ada satu kelompok musuh yang masuk dari sebuah hatch. Victor lalu menembak dengan peluncur granat. Peluru 40 mm melambung masuk kedalam hatch dan meledak di dalam sana.
“Musuh arah jam lima, di atas atap, dekat misil SAM!”
Sekilas aku menangkap beberapa sosok yang bergerak di platform penyangga misil SAM yang tak bisa ditembakkan karena gangguan EMP ini. Dengan cepat aku membidik dari teropong dan menembak. Aku tak menyia-nyiakan setengah detikpun setelah menembak untuk berganti sasaran.
Tiba-tiba, dari balik misil SAM yang besar itu muncul sebuah drone VTOL yang mulai mengarahkan minigunnya ke arah kami.
“Cepat menghindar!”
Tanpa perlu diberitahu Perfume, kami sudah tahu tugas kami selanjutnya: menghindari area terbuka. Perfume dengan cepat berlari di sisi sebuah gudang kecil dan terus berputar-putar. Ah, rupanya Perfume hendak menjadikan dirinya sebagai umpan. Dia memang punya kecepatan lari yang lebih kencang dari rekan laki-lakinya.
“Oh, aku tahu apa yang ingin kau lakukan.”
G9 menangkap umpan Perfume dengan baik, dan begitu drone itu memunggunginya, G9 tak ragu untuk memuntahkan peluru dari senapannya. Drone itu jadi sasaran empuk dan akhirnya jatuh.
“Ayo cepat masuk ke menara.”
Perintah absolut Victor akhirnya membuat kami terus maju ke pintu masuk menara sambil mengalahkan musuh yang berusaha menghalangi kami. Victor tiba lebih dulu di pintu menera yang tertutup rapat. Dia mendobrak pintu itu dengan menendangnya. Satu kali hentakan di gagangnya dapat membuka pintu itu. Ternyata ada satu musuh di balik pintu itu. Victor tak ragu menyarangkan satu peluru di kepalanya.
“Aku butuh shotgun untuk ini.”
Victor mengganti AKnya dengan shotgun otomatis Saiga-12 048. Bersamaan dengan itu, dua tentara DES muncul menuruni tangga utama. Victor merespon cepat dengan menembak mereka berdua, hanya dengan satu kali tarikan pelatuk.
“Tunggu apa lagi?! Ayo naik!”
Menara setinggi 10 meter harus kami daki dengan tangga berputar. Secepat mungkin kami meniti setiap anak tangganya. Dan di puncak menara kami berhasil masuk ke control room.
“Berhenti sampai disana!”
Kami dikejutkan oleh suara seorang tentara DES. Dia menodongkan senjatanya kepada seorang kru control room yang diikat di sebuah kursi. Kami juga menyadari bahwa dia tak sendirian. Beberapa orang berseragam sama juga terlihat menyandera setidaknya satu orang kru yang semuanya duduk terikat.
“Jangan mendekat jika kalian tak mau orang-orang ini mati sia-sia!”
Cih, akhirnya mereka pakai taktik pengecut seperti ini.
“Sorority, sekarang giliranmu.”
Aku mengangguk, menjawab perintah Victor.
“Apa yang kalian inginkan?!”
“Jatuhkan senjata kalian!”
Aku berusaha berkomunikasi dengan anggota tim lainnya tanpa menggunakan suara. Mereka terlihat cukup tegang, apakah mereka belum pernah menghadapi situasi seperti ini? Victor mengangguk, namun sepertinya G9 dan Perfume agak takut.
Aku memutuskan untuk tetap mengikuti perintah para penyandera.
“Sorority! Apa kamu gila?!”
“Ikuti saja perintahmya, Perfume.”
Victor juga meletakkan shotgun serta senapan AKnya.
“Kita tak bisa mengorbankan warga sipil.”
“Tapi mereka bekerja untuk DES!”
“Ini perintah langsung, Perfume! Jatuhkan senjatamu! G9, kamu juga!”
Hei, kita tak perlu bertengkar seperti ini. Tapi Perfume akhirnya menjatuhkan senjatanya. G9 juga mengikuti, meski dia adalah orang yang paling tidak ingin kau rebut senjatanya.
Dengan ini, aku kembali melanjutkan negosiasi.
“Baiklah, kami sudah menjatuhkan senjata kami. Lalu apa?”
“Perintahkan unit kalian untuk mundur.”
“Sayangnya kami tidak bisa, kami tak punya wewenang untuk itu.”
“Jadi kalian tak peduli jika mereka semua mati?!”
Seisi ruangan dipenuhi suara-suara penuh rasa ketakutan.
“Victor, kamu punya pendapat?”
Victor, sang team leader yang lebih tua dari kami berusaha memikirkan sesuatu. Jika keadaannya jadi seperti ini, aku juga bisa gugup.
“Orca 1 ke Overlord.”
“He-hei!”
Victor, kamu serius ingin mundur?
“Siapkan mobil van, untuk…”
Sembari berkomunikasi dengan markas pusat, Victor mengambil pistol dari sarungnya dengan cepat. Gerakan tangannya cepat sekali, begitu aku menyadarinya, dia sudah menembak si penyandera. Perfume dan G9 juga tidak ketinggalan dan ikut mengambil pistol mereka.
Seorang tentara mencoba menembakku. Namun aku berguling dengan cepat sembari mengambil AK milikku. Begitu mendarat dalam posisi jongkok, aku menembaknya. Musuh yang mencoba menembakkan pistol mereka tak ketinggalan aku habisi.
“Apa sudah semuanya?”
“Berhenti!”
Kami berbalik, dan ternyata kami salah. Masih ada satu tentara lagi, dan tanganya berada di atas sebuah tombol merah di konsol.
“Jika aku menekan tombol ini, seluruh fasilitas pertahanan udara ini akan hancur! Beruntung Zodiac menciptakan mekanisme penghancuran ini agar senjata kami tak jatuh ke tangan kalian!”
“Zodiac?!”
Aku memang mendengar rumor tak sedap tentang perusahaan pertambangan itu. Namun kali ini buktinya ada didepan mataku. Zodiac telah membantu DGTO dalam rezim Entertainment Ban!
Sial…apa yang bisa kita lakukan?!
Terdengar suara pecahan kaca. Meski samar, kami tahu dari mana arahnya. Ada bekas peluru di salah satu kaca. Dan peluru itu ternyata mengenai kepala tentara DES itu. Tubuhnya jatuh ke lantai.
“Phew…kita beruntung.”
G9 pun duduk untuk melepaskan ketegangan di tubuhnya. Perfume, sebagai seorang medic, pergi untuk mengecek luka para sandera.
“Mako 1, disini Orca 1. Control room berhasil kami rebut.”
“Kerja bagus. Ruang senjata dan exterior juga sudah bersih. Misi selesai. Helikopter akan mengangkut kalian ke rendezvous point.”
“Baiklah.”
“Tapi sebelum itu, Orca 1, ada seseorang yang ingin menemui kalian. Mereka dari…WOTA cabang Jakarta.”
“Siap.”
Victor mengambil senjatanya di lantai. Dia bersiap-siap untuk pergi.
“Ayo, kita masih punya banyak pekerjaan.”
***
Kami tiba di helipad dan siap diangkut oleh helikopter. Namun ada yang aneh dengan helikopter ini. Kenapa helikopternya dicat warna-warni? Dan kenapa ada stiker gadis yang ditempel di tubuhnya?
Pertanyaanku terjawab setelah melihat dua orang yang keluar dari helikopter itu. Salah satunya adalah laki-laki dengan kulit gelap dan rambut kribo. Dia mengenakan trench coat gelap yang menutupi seragam militernya. Rekannya adalah perempuan langsing berkulit putih dengan rambut ungu gelap terikat, mengenakan tank-top hitam dan celana baggy.
“Kalian pasti tim Orca 1 kan? Kenalkan, namaku Denis, dan temanku ini adalah Maya. Kami dari WOTA cabang Jakarta diberi tugas untuk membantu kalian selama satu minggu ini.”
Victor terlihat tidak senang. Butuh usaha untuk meyakinkannya agar mau berjabat tangan dengan Denis.
“Jadi, bantuan apa yang kalian tawarkan?”
“Seperti tadi, aku lihat kalian kesulitan dalam situasi tadi. Akulah yang menembak musuh kalian.”
Mendengar Denis yang menyelamatkan tim kami, Victor pun agak melunak.
“Lalu…apa lagi?”
“Kami punya intel yang mungkin bisa membantu dalam misi kalian. Jangan khawatir, kami mengenal setiap jengkal di kota Jakarta ini. Nah, sekarang kita akan pergi ke rendezvous point. Mohon maklumi helikopternya, semua kendaraan milik WOTA dicat seperrti ini."
Kami akhirnya masuk ke dalam helikopter dan dibawa ke rendezvous point.
***
17 Agustus, Star Calendar 0048, jam 1543.
Keadaan di Jakarta sudah cukup membaik. Pasukan MEB dari luar kota mulai masuk dan merebut titik-titik penting yang dikuasai DES.
“Sorority…”
Di dalam ruangan kamar sebuah barak, Victor tengah berbincang denganku.
“Aku heran.”
“Heran kenapa?”
“Kamu lihat sendiri kan, bagaimana Jakarta bisa dengan mudahnya direbut kembali. Operasi ini direncanakan dengan sangat berantakan, tapi ternyata perkembangannya sangat mencengangkan.”
Sedari tadi dia terus menghisap rokok. Aku tak tahu lagi berapa batang yang ia habiskan.
“Sementara itu… kita sudah diduduki DGTO selama 40 tahun. Usaha apapun, setiap misi, operasi, semuanya tidak menghasilkan apapun. Semuanya adalah zero-sum game. Tapi, hanya menyediakan tempat untuk konser bintang pop…”
Batang rokok yang ada di mulutnya diambil. Lalu rokok itu dia lempar ke luar jendela.
“Apa yang tak kita miliki di masa lalu?”
0
Kutip
Balas