TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7.1K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#34
To You
Spoiler for To You:
Aku berjalan mondar – mandir di ruang tengah merasa cemas, bukan karena langit seperti akan runtuh, namun karena sampai sekarang adikku belum pulang – pulang juga, padahal hari ini bukanlah hari dia mengajar.
Aku sudah beberapa kali mencoba SMS ke Handphonemiliknya, dan dia hanya menjawabku bahwa dia sebentar lagi akan pulang, yang aku sudah membacanya dari tiga puluh menit yang lalu.
Handphone kulempar ke sofa, kesal karena adikku sepertinya sudah mulai memberontak pada omonganku.
Namun alasan sesungguhnya bukanlah hal tersebut...
Ahh sudahlah, semakin dipikirkan malah akan membuat keadaan makin buruk, lebih baik aku mulai memasak makan malam.
Kalau dipikir lagi, sepertinya ini adalah kegiatan memasak pertamaku, karena adikku selalu yang menangani sebagian besar pekerjaan rumah, ini bukan sesuatu yang kurencanakan, tapi karena dia sedang pergi, kupikir ini dapat mengejutkannya ketika dia kembali.
Aku memulainya dengan memotong sayuran, yang kupikir adalah hal paling mudah. Hampir setiap pagi aku selalu melihat bagaimana adikku memasak, dan itu membuatku sedikit percaya diri.
Namun ternyata memasak bukanlah hal yang semudah membalikkan telapak tangan.
Hal tersebut terbukti bagaimana aku memotong telunjuk kiriku, yang membuatku berlari menuju toilet sekarang, mencari kotak P3K.
Huh? Tunggu, Ini membuatku berpikir, selama ini... Bagaimana perasaan adikku yah? Meski terkadang aku membantunya, aku tersadar bahwa dialah yang selalu bekerja lebih keras.
Seperti bangun lebih pagi dan pulang cepat untuk memasak meski dirinya salah satu anggota OSIS, selalu berbelanja bahan makanan, serta membersihkan sebagian rumah ini.
Dan apa yang sudah kulakukan? Mengantarnya ke sekolah naik sepeda? Menjadi teman bercandanya di sini? Memberikan materi pelajaran yang kadang tertinggal olehnya? Meski aku membantu di pekerjaan rumah, dilihat dari sisi mana pun, itu tidak akan sebanding.
Aku merasa seperti... Tidak berguna.
Tok, tok, tok!!
Tertangkap oleh telingaku suara ketokan pintu, dan setelah menempelkan Bandage di tempat luka, aku segera berjalan menuju pintu.
“Hey, dari mana saja kau?”
Adikku kini berdiri di hadapanku, memakai kaos yang dilapisi jaket serta celana Jeans, sambil tersenyum nyengir.
“Hehe... Habis bermain di rumah Noel.”
Aku menghela nafas mendengar kelakuannya, aku tahu kami memang berada di masa yang ingin bersenang – senang dengan teman, namun bukan berarti kita harus terlarut dengannya, apalagi malam adalah waktu yang ideal untuk kejahatan.
Yah, yang penting aku masih bisa melihatnya kembali sekarang.
“Lain kali jangan pulang malam yah.”
Adikku mengangguk, namun tiba – tiba dia berkata dengan nada heran.
“Itu... Kenapa?”
“Huh?”
Aku mengikuti arah matanya, yang ternyata tertuju pada jariku yang
terbungkus oleh Bandage.
“Oh ini, tadi kakak tidak sengaja saat memotongnya saat memotong sayuran.”
Ekspresinya kini berubah kaget.
“Kakak... Memasak? Sejak kapan?”
“Sejak sekarang, yaitu hari kelahiran kita berdua.”
Dan ekspresinya sekarang bertambah menjadi panik, dan langsung meminta maaf.
“Ma-maaf, kak, aku lupa k-kalau sekarang...”
“Tidak usah minta maaf. Kakak tahu kok kalau kamu pasti lupa, jadi lebih baik sekarang kita menyiapkan makan malam.”
Meski aku sudah memaafkannya, ekspresi dirinya masih menunjukkan rasa bersalah, dan itu dapat merusak Mood di hari yang semestinya terkesan bahagia.
Karena itulah, aku mengambil sesuatu di kantong celana, sebuah benda kecil yang mungkin adalah penangkalnya.
“Elza?”
“Ada apa lagi kak?”
Genggaman tanganku kubuka, memperlihatkan sebuah gantungan Handphone yang kusimpan tadi, berbentuk kelinci yang sangat dia suka.
“Untukmu, adikku tersayang.”
Aku tahu dia sangat menginginkannya, karena kepunyaannya yang lalu menghilang yang alasannya aku tidak tahu, dan juga salah satu kesempatanku untuk membalas sedikit perbuatannya.
Dia pun langsung meloncat ke arahku, memelukku sambil mengatakan diriku adalah saudara terbaik di dunia.
Aku hanya tersenyum melihat reaksinya, meski ini bukanlah sesuatu yang kuinginkan, karena aku ingin dia menganggap hadiah ini bukan sebagai kasih sayang kakak, karena...
Aku sudah tidak bisa melihatnya sebagai saudara lagi.
Aku sudah beberapa kali mencoba SMS ke Handphonemiliknya, dan dia hanya menjawabku bahwa dia sebentar lagi akan pulang, yang aku sudah membacanya dari tiga puluh menit yang lalu.
Handphone kulempar ke sofa, kesal karena adikku sepertinya sudah mulai memberontak pada omonganku.
Namun alasan sesungguhnya bukanlah hal tersebut...
Ahh sudahlah, semakin dipikirkan malah akan membuat keadaan makin buruk, lebih baik aku mulai memasak makan malam.
Kalau dipikir lagi, sepertinya ini adalah kegiatan memasak pertamaku, karena adikku selalu yang menangani sebagian besar pekerjaan rumah, ini bukan sesuatu yang kurencanakan, tapi karena dia sedang pergi, kupikir ini dapat mengejutkannya ketika dia kembali.
Aku memulainya dengan memotong sayuran, yang kupikir adalah hal paling mudah. Hampir setiap pagi aku selalu melihat bagaimana adikku memasak, dan itu membuatku sedikit percaya diri.
Namun ternyata memasak bukanlah hal yang semudah membalikkan telapak tangan.
Hal tersebut terbukti bagaimana aku memotong telunjuk kiriku, yang membuatku berlari menuju toilet sekarang, mencari kotak P3K.
Huh? Tunggu, Ini membuatku berpikir, selama ini... Bagaimana perasaan adikku yah? Meski terkadang aku membantunya, aku tersadar bahwa dialah yang selalu bekerja lebih keras.
Seperti bangun lebih pagi dan pulang cepat untuk memasak meski dirinya salah satu anggota OSIS, selalu berbelanja bahan makanan, serta membersihkan sebagian rumah ini.
Dan apa yang sudah kulakukan? Mengantarnya ke sekolah naik sepeda? Menjadi teman bercandanya di sini? Memberikan materi pelajaran yang kadang tertinggal olehnya? Meski aku membantu di pekerjaan rumah, dilihat dari sisi mana pun, itu tidak akan sebanding.
Aku merasa seperti... Tidak berguna.
Tok, tok, tok!!
Tertangkap oleh telingaku suara ketokan pintu, dan setelah menempelkan Bandage di tempat luka, aku segera berjalan menuju pintu.
“Hey, dari mana saja kau?”
Adikku kini berdiri di hadapanku, memakai kaos yang dilapisi jaket serta celana Jeans, sambil tersenyum nyengir.
“Hehe... Habis bermain di rumah Noel.”
Aku menghela nafas mendengar kelakuannya, aku tahu kami memang berada di masa yang ingin bersenang – senang dengan teman, namun bukan berarti kita harus terlarut dengannya, apalagi malam adalah waktu yang ideal untuk kejahatan.
Yah, yang penting aku masih bisa melihatnya kembali sekarang.
“Lain kali jangan pulang malam yah.”
Adikku mengangguk, namun tiba – tiba dia berkata dengan nada heran.
“Itu... Kenapa?”
“Huh?”
Aku mengikuti arah matanya, yang ternyata tertuju pada jariku yang
terbungkus oleh Bandage.
“Oh ini, tadi kakak tidak sengaja saat memotongnya saat memotong sayuran.”
Ekspresinya kini berubah kaget.
“Kakak... Memasak? Sejak kapan?”
“Sejak sekarang, yaitu hari kelahiran kita berdua.”
Dan ekspresinya sekarang bertambah menjadi panik, dan langsung meminta maaf.
“Ma-maaf, kak, aku lupa k-kalau sekarang...”
“Tidak usah minta maaf. Kakak tahu kok kalau kamu pasti lupa, jadi lebih baik sekarang kita menyiapkan makan malam.”
Meski aku sudah memaafkannya, ekspresi dirinya masih menunjukkan rasa bersalah, dan itu dapat merusak Mood di hari yang semestinya terkesan bahagia.
Karena itulah, aku mengambil sesuatu di kantong celana, sebuah benda kecil yang mungkin adalah penangkalnya.
“Elza?”
“Ada apa lagi kak?”
Genggaman tanganku kubuka, memperlihatkan sebuah gantungan Handphone yang kusimpan tadi, berbentuk kelinci yang sangat dia suka.
“Untukmu, adikku tersayang.”
Aku tahu dia sangat menginginkannya, karena kepunyaannya yang lalu menghilang yang alasannya aku tidak tahu, dan juga salah satu kesempatanku untuk membalas sedikit perbuatannya.
Dia pun langsung meloncat ke arahku, memelukku sambil mengatakan diriku adalah saudara terbaik di dunia.
Aku hanya tersenyum melihat reaksinya, meski ini bukanlah sesuatu yang kuinginkan, karena aku ingin dia menganggap hadiah ini bukan sebagai kasih sayang kakak, karena...
Aku sudah tidak bisa melihatnya sebagai saudara lagi.
Fin
Diubah oleh lacie. 13-04-2013 20:45
0
Kutip
Balas