- Beranda
- Berita dan Politik
Busyet, Dokter Gunting Jari Bayi
...
TS
Rizier
Busyet, Dokter Gunting Jari Bayi
Diduga Malapraktik, Dokter Gunting Jari Bayi
Rabu, 10 April 2013 | 06:42 WIB

Edwin Timothy Sihombing (2,5 bulan) terpaksa kehilangan separuh jari telunjuk kanannya setelah digunting oleh dokter rumah sakit, tempat bayi malang itu dirawat. Ia diduga menjadi korban malpraktik.
Rabu, 10 April 2013 | 06:42 WIB

Edwin Timothy Sihombing (2,5 bulan) terpaksa kehilangan separuh jari telunjuk kanannya setelah digunting oleh dokter rumah sakit, tempat bayi malang itu dirawat. Ia diduga menjadi korban malpraktik.
Quote:
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasangan suami istri muda Gonti Laurel Sihombing (34) dengan Romauli Manurung (28) tampak gusar. Putra pertama mereka, Edwin Timothy Sihombing (2,5 bulan) terpaksa kehilangan separuh jari telunjuk kanannya setelah digunting oleh dokter rumah sakit, tempat bayi itu dirawat.
Gonti menuturkan, peristiwa itu berawal pada 20 Februari 2013. Saat itu Edwin baru berusia 28 hari, mengalami demam tinggi. Edwin pun dibawa oleh kedua orangtua ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Harapan Bunda, Jalan Raya Bogor, Ciracas, Jakarta Timur.
Di IGD, lanjut Gonti, sang anak ditangani dokter jaga IGD dengan memberikan sejumlah obat, mulai dari infus di punggung tangan kanan, obat antikejang yang dimasukkan melalui dubur hingga peralatan bantu pernafasan. Edwin pun masuk ke ruang Emergency Room khusus bagi pasien anak-anak.
"Tanggal 22 Februari 2013 saya lihat jari telunjuk anak saya bengkak. Setelah saya buka perbannya, ternyata bengkaknya parah, bahkan sudah sampai keluar air," ujar Gonti saat ditemui wartawan di dekat RS, Selasa (9/4/2013). Dia melanjutkan, pada 23 Februari 2013 ia melakukan protes kepada dokter rumah sakit atas kondisi jari telunjuk putranya yang semakin lama tampak semakin membusuk.
Gonti dan sang istri pun meminta pertanggungjawaban rumah sakit atas hal itu. Namun rumah sakit malah menyuruh Edwin diperiksa syarafnya di RSUD Pasar Rebo. Keesokan harinya, hasil pemeriksaan itu keluar. Tak ada penyakit membahayakan di tubuh Edwin, meski jari telunjuknya bengkak serta membusuk.
Dari hari ke hari, kondisi jari telunjuk bocah itu kian memprihatinkan. Jari mungilnya mendadak menghitam seperti terkena luka bakar dan lama kelamaan kulitnya mengelupas hingga mengeluarkan banyak nanah. "Tanggal 2 Maret 2013 saya balik lagi ke RS Harapan Bunda, saya minta rumah sakit merawat tangan Edwin sampai sembuh. Katanya mereka bisa mengembalikan ke normal," lanjut Gonti.
Cacat anak saya
Tepat di hari kenaikan Isa Almasih, Minggu (31/3/2013) sekitar pukul 07.00 WIB, Romauli yang tengah mencuci wajahnya terkejut mendengar jeritan tak biasa dari putranya di kamar rawat. Usai ditengok, Romauli yang berjaga bersama adiknya terkejut melihat tetesan darah mengalir dari jari Edwin. Dokter bedah tulang rumah sakit tersebut diketahui menggunting dua ruas jari Edwin.
"Saya baru tahu jam 11.00 WIB saat istri saya telepon. Kenapa dipotong nggak bilang-bilang orang tua dulu? Cacat anak saya," sesal Gonti. Pada 2 April 2013, Gonti melayangkan surat somasi kepada manajemen rumah sakit atas dugaan salah penanganan pada putranya.
Rumah sakit pun mengakui melakukan kesalahan meski, kata Gonti, tetapi kepadanya para petinggi rumah sakit menolak jika kasus itu dikatakan malapraktik. Edwin dirawat dan diobati lagi di RS Harapan Bunda bebas dari biaya dengan janji kesembuhan oleh para dokter.
Kini, putranya tak lagi mengalami demam, namun jari telunjuk kanannya hilang dua ruas berbalut perban. Pasangan suami istri tersebut pun hanya bisa pasrah atas insiden itu. Mereka berharap manajemen rumah sakit menepati janjinya untuk mengobati jari putranya hingga sembuh. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pejabat RS Harapan Bunda yang dapat diminta konfirmasi terkait kasus ini.
Editor : Palupi Annisa Auliani
Sumber
Turut berduka cita. 
Sebenarnya yang dikategorikan malpraktik itu yang macam gimana sih?

Sebenarnya yang dikategorikan malpraktik itu yang macam gimana sih?
Diubah oleh Rizier 12-04-2013 11:53
0
9.8K
Kutip
138
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
693.7KThread•58.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Rizier
#110
Detik-detik Dokter Menggunting Jari Edwin
Jumat, 12 April 2013 | 09:39 WIB
Jumat, 12 April 2013 | 09:39 WIB
Quote:
JAKARTA, KOMPAS.com — Pagi itu, Minggu, 31 Maret 2013, adalah hari raya Paskah. Namun, tak tampak kegembiraan di hati pasangan suami istri muda, Gonti Laurel Sihombing (34) dan Romauli Manurung (28). Sudah sekitar sebulan lamanya, Edwin Timothy Sihombing (2,5 bulan), bayi mungil keduanya, dirawat di Rumah Sakit Harapan Bunda karena jari telunjuk kanan bengkak dan bernanah.
Kala itu, Romauli menjaga Edwin berdua saja dengan adiknya karena sang suami pergi ke gereja. Sekitar pukul 07.00 WIB, Romauli terbangun. Seorang dokter ahli bedah tulang dan dua orang suster datang ke ruang perawatan sang bayi. Ia mengira kedatangan dokter yang dikenalnya bernama dokter Zainal Abidin tersebut hendak melakukan pemeriksaan rutin telunjuk bayinya.
"Oh, silakan dok," ujar Romauli sambil bangun dan menggeser tempat tidur kecilnya agar sang dokter bisa mendekat ke tempat tidur Edwin.
Romauli kemudian bergegas menuju wastafel dan membasuh mukanya. "Ambil gunting sus," ujar sang dokter sependengaran Romauli. Wanita yang bekerja sebagai konsultan nutrisi di salah satu perusahaan swasta di Jakarta tersebut mendekati sang dokter dan suster yang dilihat tengah membuka perban jari telunjuk bayinya. Keanehan mulai dirasakan Romauli. Kedua tangan dokter dengan lihai membuka balutan perban jari telunjuk sang bayi. Sementara seorang suster menaruh mangkuk kecil di bawah tangan bayinya.
"Kemudian lukanya disiram pakai antiseptik. Dia ambil guntingnya. Saya pikir untuk menggunting kulit mati di sekitarnya, tapi enggak. Hampir dua ruas tangan anak saya digunting," kenangnya.
Darah segar yang keluar dari telunjuk bersamaan jeritan putra pertamanya itu membuat dengkul dan jantung Romauli serasa mau copot. Air mata pun tak terbendung di matanya. Kekalutan hati Romauli tak mampu menggerakkan tangan untuk mendokumentasikan proses perawatan Edwin seperti hari-hari biasanya. Romauli menjerit.
"Dia langsung cepat-cepat membalutnya lagi pakai perban. Saya sudah menangis di sana, enggak kuat lagi saya melihatnya. Saya langsung telepon suami saya, memberitahu," kenang Romauli.
Pertanyaan alasan pengguntingan itu sempat dilontarkannya kepada sang dokter yang dikenal sebagai dokter berpengalaman tersebut. Namun, sang dokter menenangkan Romauli. Menurut si dokter, itu tidaklah mengkhawatirkan. Bagian jari yang dipotongnya adalah jaringan yang telah mati hingga harus dibuang agar jaringan baru muncul.
Berawal dari bengkak dan nanah
Insiden yang diduga pengguntingan itu berawal dari 20 Februari 2013 silam. Edwin yang kala itu berusia 28 hari masuk RS Harapan Bunda atas keluhan flu dan demam. Sebagai pemegang garis keturunan di adat Batak, Gonti mengaku ingin memberikan yang terbaik bagi sang bayi meski hanya mengalami sakit kecil pada umumnya.
Di Instalasi Gawat Darurat RS Harapan Bunda, sang bayi diberi penanganan pertama, mulai dari pemasukan obat antikejang melalui dubur, alat bantu pernapasan, hingga pemasangan cairan infus. Edwin kemudian dipindah ke Emergency Room khusus anak-anak. Namun, kegusaran mulai melanda orangtua beberapa hari kemudian.
"Tanggal 22 Februari 2013 saya lihat jari telunjuk anak saya bengkak. Setelah saya buka perbannya, ternyata bengkaknya parah, bahkan sudah sampai keluar air," ujar Gonti saat ditemui wartawan, Selasa (9/4/2013) malam.
Tanggal 23 Februari 2013, keluhan atas kondisi itu disampaikan orangtua ke pihak rumah sakit. Namun, rumah sakit malah menyuruh Edwin diperiksa sarafnya di RSUD Pasar Rebo. Itu pun tak terbukti Edwin mengalami gangguan saraf. Edwin terbukti sehat secara umumnya. Sejak saat itu, penyakitnya beralih dari hanya sekadar flu dan demam menjadi infeksi telunjuk.
Tanggal 2 Maret 2013, orangtua Edwin datang ke rumah sakit untuk meminta tanggung jawab dari manajemen terhadap kondisi jari Edwin yang kian memprihatinkan. Direksi rumah sakit yang ditemuinya pun mengakui melakukan kesalahan meski, kepada Gonti, para petinggi menolak jika kasus itu dikatakan malapraktik. Edwin dirawat dan diobati lagi di RS Harapan Bunda bebas dari biaya dengan janji kesembuhan oleh para dokter.
Bukan digunting, lepas sendiri
Setelah sempat bungkam, pihak RS Harapan Bunda membantah bahwa salah satu dokternya menggunting telunjuk kanan Edwin. Pihak rumah sakit mengatakan, jaringan ujung telunjuk Edwin telah mati dan terlepas dengan sendirinya sehingga harus diambil dokter.
"Tidak ada pemotongan jari, yang benar yaitu jaringan mati sudah terlepas dengan sendiri di dalam kasa sehingga perlu diambil," ujar Dian Kristiana, Marketing dan Humas RS Harapan Bunda, di kantornya, Kamis (11/4/2013) siang.
Adapun soal pembengkakan di jari Edwin, rumah sakit berkilah hal itu terjadi lantaran orangtua tak kooperatif. Rumah sakit menilai orangtua lalai terhadap rekomendasi rumah sakit untuk segera memindahkan Edwin ke dokter spesialis bedah anak, tetapi tak dilakukan.
Kini, Edwin masih dirawat di Lantai III RS Harapan Bunda. Kondisinya telah stabil meski dia lebih gelisah dari biasanya. Orangtua tengah berjuang agar Edwin bisa sembuh dan pihak rumah sakit bertanggung jawab atas kesembuhan sang bayi.
sumber
0
Kutip
Balas
